Kota Beragam Wajah; Puisi Iyut Fitra (Payakumbuh)

in Puisi by
Squares Of The City
Sumber gambar paintinghere.com
Tahun Lepas

 

desember. bulan tua itu datang lagi
di balik ranting dan daun ia intip perjalanan. serasa ada yang lepas
kupu-kupu bertengger di kuntum mawar. seolah menghitung-hitung waktu
dan seorang pejalan yang berhenti di sebuah simpang
berbisik perlahan. “ke mana bulan itu akan membawa kalau bukan pada usia…”
ia lihat kembang api bermekaran di udara. trumpet bersahutan
dan orang-orang bersalaman. sudahkah engkau tentukan tujuan?

sebagian ada yang bernyanyi-nyanyi. merayakan rusuh hati
bocah-bocah menyambut masa kanak-kanak. remaja kini telah dewasa
bulan itu terkadang tampak muda. desember
ia ingat ketika pertama kali jatuh cinta. cincin rumput
gelang mainan yang ia rangkai dari kain-kain perca. lalu ia berikan
sebelum hari terlanjur senja. “suatu kelak nanti, akan kuberikan
rasa yang sesungguhnya!”

desember. musim telah berganti-ganti
tapi cinta itu tak ditemuinya lagi

 

Payakumbuh 2013

 


Orang-Orang Sawah

 

tengah hari ketika matahari tegak tali. ibu-ibu ke sawah mengantar kawa
orang tani tengadah mengangkat wajah. keringat yang terbit kering perlahan
diseka aroma nasi dan kolak ubi. tapi tak ada burung-burung
hanya orang-orang sawah bergoyang kesepian. temali yang diam
dan suara kuai melengking pecah sendiri

“ke mana ruak-ruak, pipit dan segala unggas?”
“mereka terusir bersama pohon-pohon yang terbakar!”

di pematang ibu-ibu melenggang pulang
di dangau orang tani pun tertidur. lupa cara berkuai
tak ada burung-burung. tak ada burung-burung
hanya orang-orang sawah bergoyang kesepian. temali yang diam
diselimuti kabut yang kian tebal

 

Payakumbuh 2014

 


Kota Beragam Wajah

 

serupa ada yang tersangkut di punggung waktu
siapa pun yang ingin kembali, pulang tetap pada masa silam; sejarah
atau lembar-lembar silsilah. kota yang lahir dari potongan-potongan mimpi
yang seolah tak berlaut, tak berdanau, tak bersungai, tak juga telaga
barangkali hanya tumpukan gambar-gambar. potret dari perlombaan
kemenangan yang mencemaskan

ia lewat di kota itu
sebagai seorang buta. ia bayangkan gedung-gedung, tiang-tiang
pohon dan udara. ribuan slogan mengepung menyerbu cakrawala
ia tidak ingin melihat. ia ingin tetap buta

segala yang tersangkut di punggung waktu
apakah yang bernama sejarah atau silsilah. mungkin gelanggang serta tahta
kota kian riuh bahkan keruh. nama-nama dengan huruf kapital
nama-nama dengan bermacam gelar
ia ingin pulang saja. kembali ke rumah yang tenang
;kegelapan!

 

Payakumbuh 2013

 


Kusir Bendi

 

kuda merah dan bendi merah. sudah berapa jauh penumpang diantarkan
sedari pagi muncul matahari. siang sejenak rumput dan sagu
hingga jelang petang
di antara kleneng genta. ia kisahkan kesepian
tentang kota yang menjulang. laju pacu kendaraan
atau peluh yang kering di badan. ke mana kota ini akan dibawa?

kuda merah dan bendi merah. ia kusir yang sendirian
hidup tergantung pada penumpang. menghiba ketika pekan lengang
ia bayangkan sepuluh tahun nanti. di dalam kandang kuda-kuda mati
terkekang zaman. hilang daya ketika cemeti patah tiga di gelanggang pacuan
ke mana kota ini akan dibawa?

kuda merah dan bendi merah
betapa yang lamban akan tertinggal oleh setiap yang gegas

 

Payakumbuh 2013

 


Namaku Langit (1)

 

desember yang lusuh. suara hujan pecah ke jalan-jalan
angin menindih bunyi bangsi. penari itu menghapus sisa gincunya
telah seribu tarian kulenggokkan. telah seribu piring kupecahkan
bila perjalanan harus berlabuh. aku ingin pulang pada mimpi
lalu di cermin ia lihat bayangan melintas. ada warna kehidupan di sana
seperti sungai panjang. yang dilintasi rakit batang pisang

puisi-puisi yang rimbun. penyair itu terkepung kata-kata
ia lihat waktu menjadi usang. angan-angan bertambah panjang
ketika malam jauh di awang-awang. atau siang yang ruruh ke dalam petang
ia tuliskan kata pertamanya
penari, mendekatlah saat serunai telah berhenti. mari terbang menjadi
layang-layang

desember yang lusuh. berbilang bulan setelahnya
pada sebuah jumat sebelum beduk ditabuh. lahirlah laki-laki itu
; namaku langit!

 

Payakumbuh, 2013


 

Terkenang Pedati

 

petang turun di masa kanak, ia ingat tahun-tahun itu
kerbau-kerbau lewat membawa rumah-rumah
membawa goni padi, antara lenguh dan lecut cemeti
apakah namanya itu, ibu?
ia bertanya saat gerobak itu berderit-derit setiap hari
pedati, jawab ibunya seraya menutup jendela dan pintu
malam akan turun di dusun itu

ia ingat malamnya ada rasian yang singgah
bersama pedati ia menumpang sampai ke ujung jalan
sebuntal pakaian dan harapan ia pun sampai di perantauan
lalu lalang, simpang-simpang juga cahaya terang benderang
tak ada lenguh selain riuh, tak pula lecut cemeti selain mimpi
ia merasa terkepung dalam keasingan, ia ingin pulang

serupa gegas kota, betapa lajunya usia
sebagaimana petang-petang terus turun, ia kembali bertanya
masih adakah pedati itu, ibu?
tapi ibunya pun sudah teramat tua untuk menjawabnya

 

Payakumbuh 2014

Iyut Fitra

Iyut Fitra

Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 16 Februari. Karya-karyanya dalam bentuk cerpen dan puisi dipublikasikan di berbagai media, seperti Horison, Jurnal Puisi, Jurnal CAK, Kompas, Republika, Media Indonesia, Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Koran Tempo dan juga media di Malaysia dan Brunei Darussalam. Bukunya yang sudah terbit Musim Retak (Kumpulan Puisi/Yayasan Citra Pendidikan Indonesia bekerjasama dengan Majalah Sastra Horison, 2005), Dongeng-dongeng Tua (Kumpulan Puisi/AKAR Indonesia), Beri Aku Malam (Kumpulan Puisi/Intan Cendekia Yogyakarta), Orang-orang Berpayung Hitam (Kumpulan Cerpen/Halaman Indonesia Yogyakarta).
Kini aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.
Iyut Fitra

Latest posts by Iyut Fitra (see all)