Kreativitas Gunawan Melawakkan Sastra

in Rehal by
13346499_10206497529626912_8736893989901424396_n (1)
Instagram @penerbitdivapress

Judul: Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya

Pengarang: Gunawan Tri Atmodjo

Penyunting: Tia Setiadi

Sampul: Ong Hari Wahyu

Cetakan: Pertama, Mei 2016

Penerbit: DIVA Press

Peresensi: Dion Yulianto

Tidak selamanya sastra muncul dalam bentuknya yang melulu berat, dipenuhi deretan kata-kata tinggi namun awam asing mendengarnya. Sastra juga tidak lagi wajib mendayu-dayu dengan bahasa berbunga-bunga ala karya angkatan Balai Pustaka. Pun, sastra bukanlah buku agama yang semata berisi petuah-petuah kebajikan. Tiga mitos sastra dari Seno Gumira Ajidarma di atas kiranya tepat disematkan untuk buku kumpulan cerpen karya Gunawan Tri Atmodjo ini. Sebagaimana dijelaskan Seno, sastra ditulis oleh manusia dan ditujukan oleh manusia, kepada awamlah sastra dituliskan, sehingga sastra sendiri seharusnya tidak boleh menjauh dari kemanusiaan itu sendiri. Manusia, seperti aneka cerita di kumcer ini, kadang serius, kadang berani, sering suram, tidak jarang penuh sukacita. Gunawan dengan caranya yang khas telah menghadirkan sastra yang manusiawi di buku ini. Salah satunya, kisah-kisah yang membuat kita tertawa sebagai manusia dan menertawakan diri kita sebagai manusia.

            Walau mengancam membuat pembacanya terbahak, tidak kemudian buku ini jatuh sebagai buku kumpulan cerita humor—padahal semestinya ia adalah bagian dari sastra perjuangan (meskipun tidak selalu yang harus diperjuangkan itu serba serius. Kadang humor juga perlu diperjuangkan sebagaimana sastra). Seperti disebutkan oleh sastrawan Triyanto Triwikromo dalam pengantarnya untuk buku ini, penulis mampu menempatkan cerita-cerita kocaknya dalam bangun tulisan yang tetap cerpen sastra. Dengan hati-hati, Gunawan menata cerita-ceritanya dengan perhitungan yang tepat: kapan sebuah paragraf akan membuat pembaca meledak dalam tawa dan kapan kalimat-kalimat itu seperti menahan dirinya sendiri untuk tidak melucu.

Hujan yang ini terasa melankonis sekali.”

“Hujan yang ini?”

“Ya, karena bagiku hujan tak pernah sama.”

“Hujannya sama, masih air juga, tapi mungkin perasaanmu yang berbeda ketika menerimanya.”

“Kamu masih logis dan itu tidak puitis.”

“Biarin.”

(Peduli Setan dengan Hujan, hlm. 182)

            Ibarat sebuah rute jalan yang seru, buku ini menghadirkan permata-permata kelucuan di sejumlah titik sehingga pembaca yang menelusuri lembar-lembarnya akan mendapatkan selang-seling antara hiburan yang membuatnya meledak dalam tawa dan runtutan deskripsi yang sarat akan tanda-tanda kelucuan tanpa harus membuat pembaca terkikik. Dengan kata lain, buku-buku ini memancing tawa pembaca sekadarnya saja, sebelum kemudian meledakkan simpanan tawa itu dalam sebuah paragraf yang tak terbayangkan letaknya. Setelah larut dalam cerita, tiba-tiba paragraf kunci itu muncul di belakang, sesekali di depan, dan beberapa kali di tengah-tengah, menyelip dengan tanpa rasa berdosa.

“Trijoko menikah beberapa saat setelah seorang perempuan muda bernama Sundari jadi bulan-bulanan di media sosial karena menginjak-injak bunga amaryllis demi sebuah foto yang menurutnya artistik. Beberapa saat kemudian kejadian itu telah dilupakan termasuk oleh para penghujatnya. Konon Sundari telah memperbaiki sikap dan lantas sukses menjadi pelatih bulu tangkis.” (Ramalan)

            Namun, walau kaya akan humor, tidak kemudian buku kumcer ini adalah buku kumpulan cerita pendek humor yang nyastra. Tepat sekali yang dikatakan Triyanto Trwiwikromo dalam pengantarnya di buku ini, beberapa cerita “serius” sengaja disisipkan oleh Gunawan di buku ini sebagai jeda. Cerpen “Tuhan Tidak Makan Ikan” misalnya, yang lumayan serius dalam tema maupun pengisahan (meskipun jejak-jejak humor yang satire masih bisa kita rasakan di sana). Setelah rentetan cerita yang menyentuh saraf tawa, cerita ini seperti penyengar (kalaupun tawa yang menyenangkan itu butuh disegarkan) sehingga pembaca tidak keburu bosan dengan model cerita yang kesannya guyon. Pola yang digunakan Gunawan ini secara tidak langsung turut menyelamatkan kumpulan cerpen ini sehingga tidak jatuh sebagai buku sastra yang “tak serius” atau buku yang kesannya hanya main-main saja. Lagi pula, humor akan semakin lucu ketika dia didahului oleh ketidakhumoran yang kontras dengannya.

            Saat satu bukti Kecerdasan humoris dari Gunawan tampak pada cerita “Perjalanan ke Pacitan”. Cerita keempat belas ini dibuka dengan cerita-cerita khas kehidupan penulis: perjuangan meraih impian, pilihan hidup yang tidak popular, dan pekerjaan sebagai penulis yang tidak mapan. Kemudian, sekonyong-konyong, di tengah-tengah kisahnya berubah jadi beraroma mistis dan berpuncak di ending dengan paragraf penutup yang niscaya membuat pembaca terkikik karena humor yang entah.

“Yu Kariyem mengeluhkan mata kanannya yang terasa mengganjal dan agak perih. Kuminta ia tenang. Aku membuka mata kanannya perlahan-lahan dengan kemampuan terhalus yang dimiliki jari-jariku. Dan, betapa kagetnya aku ketika melihat ada benda hitam sebesar biji semangka menempel di bola mata kanannya. Ya Tuhan, ternyata Yu Kariyem kelilipan tahi lalatnya sendiri.” (Perjalanan ke Pacitan)

            Kreativitas Gunawan dalam melawakkan sastra tidak hanya tampak dalam tataran cerita. Dalam pemilihan kata-kata pun, jika pembaca menyimaknya dengan baik—sebagaimana telah diperingatkan oleh Triyanto Triwikromo dalam pengantarnya untuk buku ini—penulis mampu meramu istilah-istilah yang tampak biasa tapi ternyata meledakkan daya tawa. Lihatlah pada cerpen “Slimicinguk” (hlm. 106) ketika penulis dengan memunculkan nama-nama sok ke-Tiongkok-kan namun ternyata jawanisasi juga, seperti Ha Jingang yang merupakan plesetan dari (maaf) kata “bajingan” yang sejarah awalnya malah sebenarnya tidak vulgar itu.

            Lebih istimewa lagi, sampul buku ini dikerjakan oleh Ong Hari Wahyu, salah satu pembuat sampul buku terbaik di Indonesia. Karya-karyanya telah menghiasi  ratusan judul buku di Indonesia, dengan corak khas yang menyerupai lukisan, salah satunya buku Pramoedya Ananta Toer Gadis Pantai. Tentu, ini akan menjadi nilai tambah yang lebih di tangan para pembaca yang juga kolektor buku.

Akhirnya, selamat menikmati sastra dalam salah satu wujudnya yang tak biasanya.

Dion Yulianto

Dion Yulianto

Penulis dan penerjemah yang karena masih single sering menggenggam buku dengan kucing bergulung di kakinya.
Dion Yulianto