Kupu-Kupu yang Menyerbu Angkasa

in Cerita Pendek by
kupu-kupu menyerbu angkasa
Sumber gambar team-lab.net

Jutaan kupu-kupu berkejaran di udara. Jutaan kupu-kupu berkepak menuju angkasa. Lihatlah, sayap-sayap warna-warni. Indah, bukan?

Beberapa ekor kupu-kupu bersayap gelap, punggungnya berwarna kuning keemasan. Beberapa ekor kupu-kupu lain berkepak dengan sayap kanan berwarna merah dan kuning, sayap kirinya hijau daun dan hitam.

Beberapa ekor kupu-kupu yang lain lagi berkepak dengan sayap kiri berwarna biru bercampur putih dan sayap kanannya berwarna merah bercampur ungu. Masih banyak lagi jenis kupu-kupu dengan warna yang berbeda-beda.

Aku adalah seekor dari jutaan kupu-kupu itu. Punggungku berwarna merah darah, sayap kananku berwarna hitam bercampur putih dan sayap kiriku berwarna biru muda dan kuning.

Seperti yang lain, aku juga ingin terbang tinggi. Tentu aku sudah bosan terbang di antara bunga-bunga. Aku ingin terbang ke langit. Aku ingin menembus kapas-kapas awan yang putih bersih. Aku ingin melihat rumah-rumah dari ketinggian. Aku ingin melihat petak-petak sawah yang hijau. Aku ingin melihat orang-orang di bumi yang jauh; aku ingin menyaksikan orang-orang yang diberkahi dan dimurkai.

Kau mungkin heran, mengapa rombongan kami begitu banyak? Mengapa kupu-kupu keluar menyerbu angkasa? Mungkin kau membayangkan jutaan kepompong telah pecah, penghuninya telah pergi menjadi kupu-kupu, dan terbang tinggi seperti diriku. Tidak. Kami tidak berawal-mula dari kepompong. Kami adalah kupu-kupu ruh.

Kami adalah ruh-ruh dari kambing-kambing yang telah dikurbankan. Kami adalah ruh-ruh gentayangan yang gelisah dan berupaya mengubah diri menjadi kupu-kupu.

Kau tahu, sebagian kecil dari kami senang menjadi kupu-kupu ruh ini. Dan sebagian besar dari kami sangatlah sedih. Tak terkecuali aku. Ya, aku sedih menjadi ruh-ruh kambing-kambing yang dikurbankan ini. Dan kumpulan kupu-kupu yang sedih ini sepakat bahwa kami akan mengutuk celaka sampai akhir masa.

Terbang tinggi ke angkasa adalah cara kami membuang duka dan derita. Terbang tinggi adalah cara kami menghibur diri. Terbang tinggi adalah cara kami berupaya melupakan segala luka. Bila malam tiba, kami menyaksikan bulan dan bintang-bintang. Bila siang datang, kami turun ke pohon-pohon. Kami adalah kupu-kupu yang tidak pernah tidur sampai akhir dunia ini.

***

Bulan bertandang begitu terang. Jutaan kupu-kupu berkepak bagai ingin meraih bintang-bintang. Kami berkelompok-kelompok. Kami memang tidak saling mengenal. Tapi kami tahu bagaimana cara kami membuang kesal. Suara-suara kami begitu ramai. Kudengar segerombol kupu-kupu kecil sedu-sedan bagai melanggam caci-maki dan kutukan.

Kudengar juga suara ratapan. Suara itu muncul dari segerombol kupu-kupu berpunggung hitam, sayap kanan berwarna ungu bercampur putih, dan sayap kiri hijau bercampur merah. Ratapan-ratapan itu seolah-olah menyebut nama-nama orang. Sesekali pula terdengar seperti senandung penuh kebencian.

Ula’ika..ula’ika..uuuulaaaa’ikaaaa humul khaaasiruuuuuuuun! Tabbat..tabbat..tabbaatttt ma’ak Maroooosssss!” Begitulah yang kudengar. Entah apa artinya. Aku juga tidak mengerti. Aku pun tidak tahu, berasal dari negara atau kota mana kupu-kupu itu.

Segerombolan kupu-kupu lain sangat ceria. Mereka bagai menyanyikan lagu bahagia dan harapan-harapan masa depan yang membanggakan. Kupu-kupu berwarna putih polos sebesar kelelawar ini memang terlihat sangat senang. Mereka menari-nari di angkasa dengan sayap-sayap cinta.

Sedangkan segerombol kupu-kupu yang bergabung denganku juga menghentak-hentakkan kecemasan. Kami meneriakkan kebencian. Ya, seperti langgam teatrikal. “Muuusnaaaahlaaaah seluruh hiiiiduuupnyaa!!” berulang-ulang. Begitu pula dengan gerombolan-gerombolan kupu-kupu yang lain.

Buummmmmmmm!! Terdengar sebuah deguman dari gumpalan awan putih bersih. Gumpalan awan putih yang mirip batu gunung itu seolah-olah pecah. Kemudian muncullah seekor kupu-kupu raksasa. Kulihat kupu-kupu raksasa itu begitu besar. Sayap kanannya seolah-olah menyentuh puncak ujung selatan dan sayap kirinya seolah-olah menyentuh ujung utara. Sementara belalainya melilit ke ufuk barat. Dan bagian ekornya seolah-olah menyentuh ufuk timur.

Langgam-langgam kami terhenti seketika. Gerombolan kupu-kupu terlihat kaget dan terkesima melihat kupu-kupu raksasa ini. Kedua matanya seperti dua bola bara. Pelan-pelan kupu-kupu raksasa itu mengecilkan tubuhnya. Ya, kami benar-benar melihat sendiri, bagaimana kupu-kupu itu mengecilkan tubuhnya? Ia berkepak-kepak terus mengecil hingga besarnya mirip kuda terbang.

“Apa yang membuat kalian ada di sini, ha?” tanya kupu-kupu itu. Suaranya besar seperti suara monster.

Kami tak menyahut. Tak satu pun dari kami berkata-kata. Angin berdesir pelan. Sesekali batu-batu angkasa terlihat pecah.

“Bukankah kalian ruh-ruh yang diselamatkan?” tanyanya lebih lanjut. Gerombolan berjuta-juta kupu-kupu itu bergeming. Aku heran, mengapa kupu-kupu raksasa itu tahu bahwa kami adalah ruh-ruh? Apakah kupu-kupu raksasa itu sebenarnya bukan kupu-kupu? Atau kupu-kupu raksasa itu adalah malaikat yang menjelma menjadi kupu-kupu? Tak ada yang tahu pasti.

Kupu-kupu raksasa itu berkepak-kepak mendekati segerombolan kupu-kupu dengan sayap berwarna kuning dan punggungnya berwarna gelap. Mereka melipat belalainya.

“Tataplah mataku!” tegas kupu-kupu raksasa itu.

Segerombolan kupu-kupu itu menatap matanya.

“Bukankah kalian adalah ruh kambing yang berasal dari negara Iran?”

“Benar!” mereka menjawab serentak. Tentu dengan bahasa mereka. Aku hanya mengira-ngira. Dan begitulah kira-kira yang kumengerti.

“Mengapa kau terlihat bersedih dan ketakutan?”

“Karenaa…karenaaa…hmmm….” Seekor kupu-kupu yang menjadi juru bicara itu tersendat-sendat ingin menyampaikan pikirannya.

“Karena tuan kami telah menghina kami. Tuan kami mengurbankan kami atas dasar rampasan dari hak-hak karyawan yang telah ia pekerjakan. Jadi, kami sedih. Kami khawatir Tuhan akan menyiksa kami karena perbuatan tuan kami.”

Kupu-kupu raksasa itu terlihat sedikit tersenyum mendengar ungkapan kupu-kupu ruh dari Iran itu. Kemudian kupu-kupu raksasa itu berkepak ke arah gerombolanku. Ia melihat dengan bola matanya yang tajam. Tentu kami sangat takut melihat kupu-kupu itu.

“Ampuniii kamiii! Ampuniiii kamiiiiii!” kami melanggam bersama-sama di hadapan kupu-kupu raksasa itu.

“Bangkitlah dan tataplah aku baik-baik!”

Kami berusaha menatapnya.

“Bukankah kalian ruh-ruh kambing dari Indonesia?”

“Bebb..benar, Tuanku!” jawab kami tersendat.

“Mengapa muka kalian terlihat sangat sedih begitu?”

Kami terdiam. Kami sungguh tidak berani menjelaskan di hadapan kupu-kupu raksasa itu. Kami saling pandang.

“Jawab!” ia membentak kami. Kami kaget.

“Kami…kamii….” Seekor kupu-kupu di dekatku menyahut dengan gagap. “Kakkk..kami memang sangat sedih, Tuan. Mungkin Tuan telah tahu kekhawatiran yang kami hadapi.”

“Apa yang kalian khawatirkan?” Suaranya semakin tinggi. Angin terus berdesir. Tubuhku terasa berkeringat dingin. Kupu-kupu di dekatku itu dan teman-teman kami yang lain tak kuasa menyahut lagi.

“Kalian adalah hewan yang dibesarkan di kota Bantul, bukan?”

“Benar, Tuan!”

“Bukankah orang yang membesarkan kalian itu orang baik?”

“Benar, Tuan!”

“Lalu kenapa kalian bersedih?”

“Begini, Tuanku. Kami memang dibesarkan oleh orang baik, Tuanku. Tapi setelah itu, kami dijual kepada pedagang. Lalu oleh pedagang itu kami dibawa ke ibu kota Jakarta, Tuanku. Dan di ibu kota negara kami itu, kami dijual oleh seorang pengepul kepada seseorang, Tuanku. Nah, karena seseorang inilah yang membuat kami sangat sedih, Tuanku.”

“Apa yang terjadi pada kalian?”

“Kami dibeli oleh seorang hakim, Tuanku. Tentu Tuan tahu bahwa hakim yang membeli kami itu adalah seorang yang suka disuap. Ya, kami tahu bahwa uang yang dipakai untuk membeli kami berkurban ini adalah uang dari hasil suap, Tuanku. Bagaimana mungkin kami tidak akan cemas, Tuanku. Kami takut jika Tuhan akan memasukkan kami ke dalam siksa yang pedih.”

“Hmm, baiklah! Baiklah!” tukas kupu-kupu raksasa itu.

Kemudian kupu-kupu raksasa itu pelan-pelan membesarkan tubuhnya. Ia meminta jutaan kupu-kupu ruh itu mengikutinya.

“Kalian adalah kupu-kupu ruh yang tetap akan diselamatkan. Tidak perlu cemas. Mari kita terbang bersama. Ikuti aku!”

Kupu-kupu raksasa itu pelan-pelan terbang. Aku dan jutaan kupu-kupu ruh merayap terbang membuntutinya. Kami terbang bagai barisan tentara perang. Kami terbang menuju angkasa, menuju langit, menuju Tuhan.***

Yogyakarta/Sareman, 2014-2015

Ahmad Muchlish Amrin

Ahmad Muchlish Amrin

Lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan lain-lain.Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud, Bali. Kini mengelola Komunitas Tang Lebun di Yogyakarta.
Ahmad Muchlish Amrin

Latest posts by Ahmad Muchlish Amrin (see all)