Kurikulum Mental Ala Truman Capote; Kunci-Kunci Vital Sebuah Buku Mahakarya

in Esai by
Philip Seymour Hoffman - Truman Capote
Sumber gambar adefautdusilence.wordpress.com

Sekitar sepuluh tahun lalu, ada sebuah film yang mengantarkan Philip Seymour Hoffman meraih penghargaan impian dalam ajang bergengsi di Amerika, Academy Award alias Oscar, sebagai Aktor Pemeran Utama Terbaik. Judulnya Capote. Hoffman memerankan seorang novelis terkenal, Truman Capote, yang secara terbuka mengakui dirinya gay saat Amerika masih menganggap itu sebuah hal tabu.

Sutradara Bennett Miller tidak terlalu banyak menyoroti kehidupan seksual Capote untuk karyanya ini, meskipun film-film bertema LGBT semakin kerap merebut perhatian publik di samping tema perbudakan Amerika dan bandar narkotika. Dia justru mengambil periode kehidupan Capote di tahun 1959 hingga empat tahun kemudian. Di tahun itulah, sang novelis menjalani proses penulisan buku In Cold Blood yang kemudian menjadi best-seller. Novel nonfiksi tersebut—demikian Capote menyebut karyanya—berawal dari sebuah berita pembantaian keluarga Clutter di sebuah pedesaan di Kansas. Empat orang ditemukan tewas sementara pelakunya masih diselidiki oleh FBI.

Sisi menarik film Capote ada pada bagaimana si sutradara memastikan sosok penulis kenamaan ini terejawantahkan secara tepat sesuai buku karangan Gerald Clarke berjudul Capote (1988), menggiring pembaca untuk ikut larut dalam keteguhan hati seorang penulis yang hendak mengungkap sebuah kebenaran yang orang lain pun ingin tahu tapi tak senekat Capote yang menghabiskan empat tahun demi sebuah karya.

Film berdurasi satu setengah jam ini kemudian membuat saya berpikir lama, memiliki satu karya besar, tentunya dibutuhkan energi berkali-kali lipat lebih besar. Sebuah mahakarya tidaklah bisa ditulis secara ceroboh dan lemah secara fondasi. Memang bisa saja—bahkan kerap kita temui di toko-toko buku—karya-karya ditulis dengan sepintas lalu, tanpa meninggalkan makna mendalam bagi para pembaca, sekadar bercerita tentang sesuatu yang di dunia ini sudah menjadi hal yang jamak. Karya instan memang dibuat tanpa komposisi serumit karya yang bakal bertahan sepanjang masa. Penulisnya karya-karya instan pun tidak memerlukan proses godaan “ingin berhenti di tengah jalan” yang akan datang bertubi-tubi karena hadirnya setan licik bernama kebuntuan dalam kepala.

Sosok Capote adalah sebuah pembelajaran bagi seorang penulis jika ingin memiliki ketahanan mental lebih keras dari baja sekalipun. Menurut catatan Wikipedia, Amerika Serikat di tahun 2013 diperkirakan setiap tahunnya dirilis 304 ribu judul baru, yah masih di bawah Cina dengan 440 ribu judul baru sih. Kalau ingin tahu, Indonesia berada di urutan 18, dengan hanya 24 ribu judul di tahun 2009. Tradisi menulis di luar negeri sana memang sudah kuat, profesi penulis tidak kalah terhormat dengan dokter maupun arsitek. Hanya dengan berbekal royalti, seorang penulis menghapus kekhawatiran besok harus makan apa. Mereka—sebutlah penulis—yang demikian concern dengan sesuatu hal, akan menelusuri sampai ke pelosok sekalipun, memuaskan rasa keingintahuan hingga sampai ke akar. Jika pun teman-temannya sesama penulis bisa membanggakan begitu banyak judul yang bisa diterbitkan dalam setahun, dia tetap berjalan di track yang satu. Oscar Wilde hanya punya satu novel, tapi universitas mana yang kampus jurusan sastra Inggris-nya tidak pernah membedah The Picture of Dorian Gray yang sarat nilai filosofi kehidupan?

Capote punya sejumlah kunci penting yang dipegangnya sampai akhir hayat. Begitu benar bahwa manusia mati meninggalkan nama. Gajah dan harimau memang bisa diberi nama, tapi ketika mati, manusia tidak akan terlalu mengingatnya. Nama manusia ibarat folder dalam komputer, yang ketika kita klik, maka akan muncul ratusan bahkan ribuan dokumen di dalamnya. Segala hal yang terkait dengan nama itu. Karya-karyanya, perilakunya, kerabat, dan semuanya.

Capote menyadari bahwa dirinya bukanlah satu-satunya penulis hebat di Amerika. Maka demi mempertahankan eksistensi diri, kunci pertama yang dimilikinya adalah kedekatan dengan lingkungan sosial. Makhluk sosial akan butuh manusia lain di sampingnya. Butuh orang-orang untuk mengeluarkan isi kepala. Butuh orang-orang untuk mengisi kepalanya. Seorang penulis adalah pembicara yang fasih, pendengar yang setia, pengamat yang jitu. Jangan kira ketika berada di dekat seorang penulis maka sama halnya dengan berada di dekat orang kebanyakan. Jangan kaget jika suatu hari Anda merasa, suatu kejadian yang pernah Anda alami masuk ke dalam sebuah buku. Pasti karena Anda pernah menceritakan pada seorang penulis yang ternyata diam-diam mengamati Anda. Jika Anda berhadapan dengan orang yang lebih banyak porsi diamnya ketimbang bicara, mungkin dia seorang penulis yang sedang meriset Anda.

Kunci keduanya adalah mudah tersentuh oleh sebuah kontroversi. Berita pembunuhan yang menarik perhatian Capote bukanlah berita di halaman depan dengan headline besar. Hanya berita kecil di halaman sekian, karena korbannya bukan orang terkenal. Berita itu menggerakkannya untuk mendatangi petinggi FBI di Kansas bersama Harper Lee. Juga menemui si tersangka pembunuh kejam, mengajaknya bicara demi mengetahui, benarkah sosok laki-laki yang begitu kalem melakukan tindakan yang tidak masuk akal?

Sekarang, banyak buku yang ditulis sekadar ikut-ikutan. Si penulis bahkan sebenarnya tidak berminat untuk menulis tema tersebut. Berkat The Power of Terpaksa, maka jadilah buku tersebut. Sayangnya, tidak mendapat respons yang positif dari publik. Niat si penulis hanya selevel: Apa Pun Agar Menjadi Penulis. Semakin lazim penulis dipandang keren, hingga mengabaikan fakta bahwa banyak penulis yang gagal karena ulah dirinya sendiri.

Ada sebuah paragraf menarik yang saya kutip dari tulisan Joni Ariadinata di buku Aku Bisa Nulis Cerpen 1 (2006):

Dari setiap periode, kita selalu menolak embusan para pemikir teori hedonisme estetis dengan jargon “seni untuk hiburan” atau “seni untuk seni” (l’art pour l’art). Bagi kita, sastra adalah komunikasi. Dan komunikasi—pemahaman, memperoleh penilaian, dan menggerakkan tindakan—adalah tujuan akhir seni sastra.

Kunci ketiga Capote adalah punya teman sesama penulis terkenal. In Cold Blood yang mengukuhkan nama Capote ke dalam jajaran penulis kondang Amerika diawali melalui proses riset panjang bersama orang-orang terdekat yang juga sesama penulis. Adalah Harper Lee, penulis peraih Pulitzer Prize lewat karya To Kill a Mockingbird. Masih, kedua adalah pacar Capote sendiri, Jack Dunphy si penulis novel John Fury. Punya teman satu profesi sangat baik di kala berhadapan dengan titik kebuntuan, titik jenuh, dan titik-titik lainnya. Tidak semua orang paham bagaimana tingkatan stres seorang penulis yang tengah melalui proses kreatif, rasa depresi, bahkan keinginan untuk bunuh diri jika sudah merasa terlibat terlalu dalam di karyanya sendiri, bahkan psikiater sekalipun. Bahkan tenggakan Vodka sekalipun.

Kunci keempat yang dipegang Capote demi kesuksesan karyanya adalah mengasah kesabaran hingga mencapai tujuan. Empat tahun lamanya riset untuk penulisan In Cold Blood. Mulai dari munculnya berita kasus pembunuhan keluarga Clutter hingga si tersangka menjalani hukuman gantung. Novel ini sebagian besar ditulis berdasar hasil pengamatan dan pembicaraan Capote dengan Perry, salah satu dari dua tersangka pembantaian. Ketika saya menonton film ini, saya yakin seratus persen, Perry hanyalah orang yang sengaja dijebak untuk mengaku sebagai pelaku. Dia terlalu innocent! Terlalu ramah. Sama halnya dengan karakter Catherine Tramell yang diperankan Sharon Stone dalam “Basic Instinct”. Siapa sih yang bisa percaya kalau seorang perempuan seksi sanggup untuk membunuh orang?

Lagi-lagi, karya yang baik adalah mampu membuka pikiran para pembacanya dari “kegelapan” atau sebutlah ketidaktahuan. Capote melakukan penetrasi pengetahuan melalui tokoh-tokoh novelnya. Oscar Wilde melalui Dorian Gray. Leo Tolstoy melalui Anna Karenina.

Robert D. Hare, guru besar di Universitas British Columbia sekaligus peneliti perilaku psikopat selama seperempat abad, menguraikan definisi psikopat dalam buku Without Conscience: The Disturbing World of the Psychopaths Among Us (1993):

“Gangguan kepribadian yang merusak hubungan secara sosial, dilihat dari hubungan antarpribadi yang mencakup karakteristik perilaku. Egosentris, manipulatif, kebohongan, kurangnya rasa empati, rasa bersalah atau penyesalan, serta kecenderungan untuk melanggar norma dan pernyataan umum yang legal.”

Perry selalu bungkam seputar kejadian tragis malam itu, tapi sangat terbuka tentang kehidupan pribadi, termasuk kedua saudaranya yang bunuh diri. Jika Capote kehabisan kesabaran, sah saja dia memutuskan untuk menulis ending cerita sesuai dengan apa yang dia mau, toh itu hanya novel, bukan sebuah buku biografi seorang lelaki keturunan Indian bernama Perry Smith. Dan orang juga tidak akan mempermasalahkan jika ending novelnya berbeda dengan realitas. Tapi tentunya ketergesaan justru akan mengubah konsep dasar/fondasi penulisan novelnya. Capote sangat tertarik mengungkap misteri ini. Berbeda dengan pihak FBI yang begitu pelaku tertangkap, tinggal menunggu eksekusi hukum saja. Kesabaran akhirnya terbayar, meskipun ada rasa kesedihan yang mendalam. Relasi emosionalnya dengan Perry sangat kuat, bahkan dia mengatakan kepada Harper Lee di telepon setelah menyaksikan eksekusi mati Perry dengan kesedihan yang terlalu dalam, “Itu pengalaman yang sangat mengerikan, dan aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan mereka.”

In Cold Blood—menurut data Goodreads—telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa buku fenomenal ini memang layak dibaca oleh banyak orang dan Capote adalah bukan seorang penulis biasa, tapi penulis yang benar-benar bermental lebih kuat dari baja.