Kurma Karma

in Cerita Pendek by
squarespace.com

Waktu Karma lahir, pohon pepaya di belakang rumah orang tuanya tiba-tiba tumbang. Saat itu hari sedang terang, angin tak kencang, dan sebelum tumbang pohon pepaya itu tampak kokoh dan sehat-sehat saja. Suara gedebum membuat para tetangga terkejut lalu ramai-ramai melongok melalui pagar halaman. Rumah sedang kosong sebab semua penghuninya berada di rumah bersalin. Buah-buah pepaya yang masih hijau bertahan di tangkai. Sebagian pecah lantaran tergencet ke tanah. Para tetangga lega, suara gedebum tadi bukan berasal dari sesuatu yang dapat mengancam keselamatan mereka. Hanya pohon pepaya, dan pohon pepaya tak berpengaruh apa-apa bagi hidup mereka.

Karma lahir ke dunia dan seketika itu juga dunia berpaling darinya. Dimulai dari paras ayahnya—yang berubah dari senyum bahagia menjadi kusut tak terkira—hingga jeritan ibunya yang membahana sampai ke luar jendela. Bidan yang membantu kelahirannya bahkan tidak berkata apa-apa, seperti berusaha secepat mungkin menyelesaikan urusannya. Supaya Karma kecil segera dibawa keluar dari rumah bersalin miliknya.

Ketika pulang dari rumah bersalin dan menemukan pohon pepaya yang tumbang, orang tua Karma yakin bahwa kelahiran anak mereka akan mengawali rentetan nasib buruk. Mereka segera menemui seseorang yang dipercaya dapat memberi saran. Orang ini sudah cukup tua, tetapi masih selalu kelihatan sehat. Pekerjaan sehari-harinya adalah berdoa. Dia seperti kurir yang mengantarkan harapan dan permintaan orang-orang langsung kepada Tuhan. Dialah yang memberi nama Karma bagi bayi malang dalam cerita ini. Menurutnya, segala sesuatu yang terjadi sekarang, baik maupun buruk, adalah akibat dari perbuatan di masa lalu. Tak bisa diubah dan harus diterima apa adanya. Ayah Karma lalu teringat ketika remaja ia pernah menendang seekor anak kucing hingga tulang-tulangnya patah. Sementara ibu Karma teringat secara sembarangan pernah melangkahi kuburan tanpa permisi.

Pulang dari rumah kurir itu, keduanya sepakat dalam waktu yang tak terlalu lama mereka harus punya anak lagi. Tapi sampai Karma melewati masa balita mereka tak kunjung mendapatkannya. Keduanya semakin yakin bahwa kelahiran Karma merupakan awal dari rentetan nasib buruk.

Ketika anak-anak sepantarannya bermain, Karma hampir tak pernah dilibatkan. Bukan lantaran anak-anak itu benci padanya. Anak-anak itu tahu, sekalipun dilibatkan, Karma takkan mengerti atau takkan bisa memainkan permainan. Air liur Karma juga selalu menetes, meleleh dari bibirnya yang tampak seperti salah tempat. Seakan-akan bibir itu kepunyaan orang lain yang dipasang sembarangan di wajahnya. Bibir itu tertarik ke bawah seperti mengikuti hukum gravitasi. Kepalanya kecil dan telinganya seperti kol yang diremas-remas. Bila Karma mengatakan sesuatu, orang harus bertanya lagi apa yang dikatakannya, lantaran artikulasi dan intonasinya tidak mengarah ke kalimat yang jelas. Lebih mirip suara dengus binatang. Dengan kondisi itu siapa pun yang melihat dengan teliti dapat menemukan kilatan-kilatan kekecewaan (atau kebencian?) di mata kedua orang tua Karma ketika menyaksikan bagaimana para tetangga menatap anak mereka dengan jenis tatapan yang terbuat dari pecahan beling.

Tetapi dugaan mereka perihal nasib buruk ternyata keliru. Begitu lepas usia balita, Karma justru terus-menerus membawa keberuntungan bagi orang tuanya. Dalam waktu singkat bisnis properti yang dijalankan ayah Karma berkembang pesat hingga ia berhasil membangun kantor sendiri, memiliki banyak karyawan, dan mempunyai uang lebih dari cukup untuk hidup sejahtera dan bahkan pergi berhaji. Sementara ibunya, secara kebetulan, dipercaya memegang suatu jabatan penting di perusahaan milik rekan suaminya. Di tengah peningkatan taraf hidup itu, siapa pun yang melihat dengan teliti dapat memastikan bahwa kilatan kekecewaan (mungkin kebencian?) itu masih ada di mata kedua orang tua Karma. Alhasil, Karma tetap saja menanggung karma yang entah kepunyaan siapa.

Waktu ayah Karma pulang dari Mekah, ia membawa banyak buah tangan; sajadah, tasbih, air zamzam, dan kurma. Semua anggota keluarga turut gembira menyambutnya. Sementara Karma hanya duduk sendirian di pojok ruangan. Sebelumnya, Karma sempat mondar-mandir di tengah kegembiraan itu. Kadang-kadang ia berdiri di dekat bibinya yang tambun. Waktu si bibi menceritakan satu kisah lucu, semua orang tertawa, dan Karma ikut tertawa, meskipun tidak mengerti apa yang diceritakan bibinya. Suara tawa Karma terdengar paling beda dari suara tawa lainnya, bagaikan alat musik yang tiba-tiba masuk tanpa direncanakan. Sekali-dua dia mencoba mendekati Farid, sepupunya. Sebenarnya Karma sedikit takut pada Farid. Bukan karena sosok Farid sendiri, melainkan karena di tengah keluarga, Farid seperti sesuatu yang tidak boleh disentuh sembarangan.

Farid adalah anak tunggal dari kakak ayah Karma. Ia lebih muda dari Karma. Wajahnya bersih dengan bibir tipis dan rambut serta alis tebal. Pernah suatu hari Farid menangis tiba-tiba meskipun Karma tak melakukan apa-apa padanya. Ayah Karma menampakkan sikap tak enak atas kejadian itu, ia banyak minta maaf pada kakaknya sebanyak ia memarahi Karma. Sejak itu Karma tak berani mendekati Farid meskipun kadang-kadang mereka bertemu secara tak sengaja. Dalam pertemuan-pertemuan itu sebenarnya Farid yang lebih banyak mengganggu Karma.

Tapi kali ini Karma memberanikan diri, pelan-pelan beringsut mendekati Farid. Tidak mungkin mendekati sosok ini dari samping, sebab setidaknya di kiri-kanannya dua orang mengapit laksana pengawal yang sangat waspada. Untuk mendekati sosok ini dari depan, Karma sudah membayangkan satu telapak tangan yang kuat akan menggampar kepalanya. Entah itu tangan ayahnya, atau tangan keluarga lainnya. Sepertinya setiap anggota keluarga punya hak yang sama untuk menggampar Karma.

Karena merasa putus asa, Karma akhirnya memilih duduk di pojok. Jauh di dalam dirinya, dia tahu, duduk di pojok atau di mana saja tak ada bedanya. Takkan ada yang memperhatikan.

Sampai semua tamu pulang dan suasana ruangan berangsur-angsur sepi, Karma masih duduk di pojok. Bahkan sampai sisa-sisa makanan dibawa masuk, Karma masih duduk di tempat yang sama, memandang ke sekeliling ruang.

Pada saat itulah, dia melihat sebutir kurma tergeletak di bawah meja.

Dengan hati-hati Karma mengambil kurma itu. Diperhatikannya kulit kurma yang hitam dan kencang. Pasti tadi seseorang sudah menjatuhkan dan lalu mengabaikannya. Karma nyaris terlonjak ketika di permukaan kurma itu muncul garis bagaikan bibir manusia. “ Halo, Karma. Aku Kurma,” katanya. Karma ingin melepaskan kurma itu, tapi ketika muncul hidung dan sepasang mata, Karma justru tertawa-tawa senang. Kurma itu kelihatannya lucu.

Kurma itulah yang kemudian menjadi temannya melewati hari-hari. Kurma mengerti semua yang dikatakan Karma. Sering kali Kurma menghibur Karma bila perasaannya sedang ruwet. Kurma itu berkata kalau Karma sebenarnya anak yang tampan. Tentu saja Karma tidak percaya, “Coba ambil cermin di kamar,” saran Kurma. Karma menurut dan diam-diam mengambil cermin kecil yang biasa dipakai ibunya. Di dalam cermin Karma melihat satu wajah tampan dengan bibir tipis serta rambut dan alis tebal. Lebih tampan dari Farid. Karma tercengang. “Lihat kan, Karma anak yang tampan. Jangan percaya mereka yang bilang Karma jelek,” kata Kurma.

Selain menunjukkan ketampanan paras Karma, Kurma juga menunjukkan bahwa Fadil sebenarnya seekor kecoak yang menyamar. Ketika pada suatu hari Fadil mengganggu Karma, dari dalam kantung celana, Kurma meminta Karma memejamkan mata sesaat lalu membukanya lagi. Ketika membuka mata, Karma heran melihat Fadil sudah tidak ada di hadapannya. Yang ada hanya seekor kecoak merayap-rayap ke sana kemari. “Karma tidak usah takut sama kecoak. Pukul saja kepalanya pakai batu,” saran Kurma setelah Karma mengatakan kalau dirinya takut kecoak.

Karena tidak menemukan batu yang cukup besar, Kurma berkata pada Karma, “ Di rumah ada palu. Pakai palu saja.” Karma senang dengan ide itu. Lalu diambilnya palu kepunyaan ayahnya. Karma menunggu-nunggu saat kecoak itu mengganggunya. Tapi kecoak itu tampaknya tidak berminat lagi. Ia bahkan jarang terlihat. Ketika sesekali Karma melihatnya, kecoak itu sudah semakin besar dan lebih senang bermain dengan teman-temannya. Bahkan setelah semakin besar, konon kecoak itu terbang entah ke mana.

Suatu hari Kurma berkata, “Aku tidak mau main sama Karma, kalau kecoak itu belum dipukul palu.” Setelah itu Kurma membisu.

Karma berusaha membujuknya, tapi Kurma tidak mempan bujukan. Tubuhnya bahkan mulai keriput dan mengering. Sementara, seperti juga kecoak itu, tubuh Karma tumbuh makin besar. Karma sedih melihat teman satu-satunya menjadi seperti itu. Dia lantas mengambil palu dan bertekad takkan kembali sebelum memukul kepala kecoak itu.(*)

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015), dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas nonsanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya. Email: pohonkata@gmail.com
Kiki Sulistyo

Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)