Kutukan Perempuan Celaka

in Cerita Pendek by
Pinterest.com

Malam sebelum disunat, saya ketakutan dan tidak bisa terlelap barang sedetik. Anjing menggonggong dan angin lembut melagukan pengantar tidur. Tapi saya tetap terjaga. Bukan tajamnya silet yang membuat saya takut, bukan pula kenyataan bahwa beberapa jam lagi kulup burung saya akan dipotong tanpa obat bius. Bukan itu. Saya takut, sebab sesudah kulup itu dipotong, saya akan mati. Saya telah dikutuk untuk mati sesudah disunat.

Itu musim hujan tahun 1999. Pohon-pohon dadap berbunga, merah merekah seperti bibir perempuan Pulau Sabu. Sapi-sapi jantan berahi, dan tiap laki-laki Dawan yang mulai tumbuh bulu dadanya, mempersiapkan dirinya untuk disunat. Mempersiapkan dirinya sebaik-sebaiknya.

Bagi laki-laki Dawan, bersunat bukan hanya proses memotong kulup burung. Ada dua ritual lain yang harus kami penuhi. Ritual nain fatu mengharuskan kami mengakui dosa, ritual sifon mengharuskan kami menyetubuhi perempuan tua.

Seperti umum-umumnya perihal persetubuhan, ritual sifon adalah hal yang menyenangkan untuk diceritakan. Tetapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Saya tidak akan memuaskan hasratmu untuk membaca cerita persetubuhan. Yang ingin saya ceritakan adalah ritual lain yang harus dilakukan sebelum sunat; ritual yang membuat saya ketakutan setengah mati dan tidak bisa lelap di malam sebelum saya disunat itu. Nain fatu.

Sebelum kulup burung kami dipotong, kami harus memilih beberapa batu kerikil di tepi sungai, yaitu sesuai jumlah perempuan yang pernah ia setubuhi sebelumnya. Jika pernah menyetubuhi empat perempuan, kami memilih empat batu. Jika lima perempuan, lima batu, dan seterusnya. Batu-batu itu kami tunjukkan pada tukang sunat dan semua orang yang hadir, lalu kami lemparkan jauh-jauh ke tengah sungai. Kelihatannya sederhana, namun jumlah kerikil harus dihitung dengan cermat. Jika salah menghitung, atau dengan sengaja mengurangkan atau melebih-lebihkan jumlah yang sebenarnya, maka kutukan alam dan leluhur akan turun, dan kemalangan akan membunuh kami.

Siub Sufnoni, laki-laki muda yang bekerja sebagai tukang potong rumput di karantina sapi dekat pelabuhan Tenau, yang tiap akhir minggu main perempuan di Pelacuran Karang Dempel, lupa berapa banyak perempuan yang telah ia setubuhi  saking banyaknya. Ia hanya mengira-ngira jumlahnya, dan perkiraannya meleset. Seharusnya tiga puluh delapan, ia hanya menghitung tiga puluh dua. Sesudah kulup burungnya dipotong, luka sunatnya tidak pernah sembuh, meskipun telah diremas dengan segala ramuan dan mantra kuno. Seminggu sesudah disunat, burungnya yang malang itu berubah kebiruan, bernanah, berbau busuk, dan penuh ulat. Ia mati dan dikuburkan di Naija Fafi, bersama orang-orang terkutuk dan para pengkhianat negara.

Neon Panpelo, anak guru agama dari kampung Bitofiukbalu, hanya memilih dua buah kerikil kecil dan melemparkannya ke sungai. Padahal, telah menjadi rahasia umum, bahwa ia-lah laki-laki yang menerobos selaput dara tiga per empat nona muda di kampungnya, sebab ia mempunyai motor RX King dengan knalpot gempar, ia jago berkelahi, dan dagunya sedikit mirip Primus Yustisio. Namun karena takut pada kesalehan orang tuanya, ia bermain curang di hadapan leluhurnya. Setelah kulupnya dipotong, darah mengalir tak mau berhenti. Tukang sunat berusaha keras membalut kemaluannya dengan mamahan dan mantra, tapi sia-sia saja. Empat jam kemudian ia mati, tergeletak pasi di tepi sungai.

Rius Bakase, seorang mantan frater, mengaku masih perjaka dan melewatkan ritual itu. Darahnya memang berhenti mengalir, dan puji Tuhan ia hidup. Tapi ketika tiba saatnya melakukan sifon, ia tidak mendapatkan satu pun perempuan untuk diajak bersetubuh. Neeta si lonte kampung sedang melayani tentara-tentara di lereng Gunung Fatukilo dekat perbatasan, dan Tina  lonte lain yang lebih senior  baru saja mati kena HIV. Karena putus asa, mantan frater itu mencegat Sinta Alekot di rimbun kebun jagung, di hari bolong ketika perempuan itu hendak menyusul ayahnya ke persawahan dekat Bukit Fatbason-na. Tapi Sinta Alekot sungguh licik seperti politisi. Ia menurut saja, malah menawarkan bibirnya untuk menyenangkan dahulu burung kecil malang Bakase.

“Sini kulahap. Sini kumakan.”

Begitu lelaki muda itu memejam-mejam keenakan, Sinta mengeluarkan sabit gerigi yang terselip di keranjang nasi, dan memenggal burung itu, tepat di pangkalnya. Rius mati kehabisan darah, Sinta mati di dalam penjara.

Masih banyak laki-laki lain lagi yang terkena kutuk dan mati mengenaskan sebab kesalahan melakukan nain fatu. Mereka bisa membohongi orang-orang hidup, tapi leluhur punya banyak cara untuk menghukum para pendusta. Tentu, saya juga tidak ingin kena hukuman dan mati mengenaskan.

Masalahnya adalah, sampai malam itu, malam sebelum disunat itu, saya masih tidak tahu, apakah saya pernah menyetubuhi Neeta atau tidak.

Sejak Tina si lonte senior itu mati, Neeta adalah lonte favorit di seluruh perkampungan yang dilewati Sungai Koknaba. Tentu saja ia menjadi favorit, sebab ia satu-satunya lonte dari Tanah Jawa yang mau beroperasi keluar-masuk kampung, melewati sungai dan lembah, setapak dan kandang sapi. Lonte yang lain malas bekerja, dan mereka jauh-jauh datang dari Tanah Jawa hanya untuk tiduran menunggu pelanggan di Pelacuran Karang Dempel. Jika di masa lampau misionaris asing keluar-masuk kampung menjanjikan surga, di hari-hari itu, Neeta keluar-masuk kampung menawarkan surga yang sesungguhnya. Ia memanjakan tiap-tiap lelaki yang membutuhkan jasanya. Meski, kata orang, kemaluannya berbau seperti kutu busuk, goyangannya yang fenomenal menjadi buah bibir para lelaki. Tentara di pos perbatasan sering memakainya. Bocah-bocah ingusan suka mencocokkan burung kecil mereka ke vaginanya. Anak-anak muda menungganginya untuk memenuhi ritual sifon. Dan orang-orang tua yang menginginkan petualangan, sering kelayapan di malam buta hanya untuk menetek sampai orgasme.

Meski diam-diam ingin, saya tidak pernah menghampiri Neeta. Saya sangat takut kepada Tuhan Yesus, dan mempunyai seorang adik perempuan yang masih belia, yang hidup di panti asuhan sejak Bapak mati tersambar petir, dan Mama mati menggantung diri. Tiap kali saya diajak sebaya mendatangi Neeta, wajah Eta, adik perempuan saya itu, terbayang-bayang. Bagaimana rasanya bila adik saya itu yang menjadi lonte, dan ramai-ramai didatangi laki-laki? Itu membuat saya tidak pernah mau menghampiri Neeta.

Tapi suatu malam di bulan Agustus, di pesta pernikahan Unu Taeklele, yaitu anak laki-laki Usi Kininbad saudara Usi Taesleko yang perwira polisi itu, kutukan saya bermula.

Bulan Agustus adalah bulan ketika padang sabana mulai terbakar, ternak mati kehausan dan laki-laki muda meminang kekasihnya. Ada banyak pesta pernikahan di seluruh perkampungan sepanjang Sungai Koknaba, tapi pesta pernikahan Unu Taeklele adalah yang paling meriah.

Usi Taesleko, kerabat Unu Taeklele itu, mendatangkan tiga truk minuman keras bermacam-macam jenis. Mulai dari tuak manis sampai sopi, anggur Kakek Tani sampai wiski Johnnie Walker. Konon katanya, ia telah merazia semua minuman dari tempat-tempat penjualan alkohol terbaik di Pulau Timor, khusus untuk dihidangkan di pesta pernikahan itu.

Tentu saja saya dan semua laki-laki yang datang ke pesta itu merasa bahagia. Berlomba-lomba kami menenggak minuman beraneka jenis itu.

Baru pukul sebelas saya telah teler. Saya menceritakan satu kisah horor yang tidak masuk akal, bertengkar empat kali dengan lima orang yang juga mabuk, dan menangis tujuh kali; dua kali untuk Bapak, satu kali untuk Mama, dan empat kali untuk Eta adik saya yang malang.

Pukul dua dini hari saya kencing di dekat kandang babi Am Teutfatu, mantan Lurah yang membangun bendungan mubazir di dekat Bukit Faotbubu. Saya kencing sambil berbincang-bincang dengan seekor babi gemuk, yang wajahnya tiba-tiba sangat mirip dengan tuan presiden. Entah apa yang kami perbincangkan; saya hanya ingat bagian ketika ia ingin berbagi makan malamnya dengan saya.

Saya kekenyangan, katanya.

Saya kemabukan, jawab saya.

Selebihnya saya tidak ingat apa-apa, sampai terbangun pukul enam pagi, di sisi Neeta.

Saya terbangun pukul enam pagi, di sisi Neeta.

Neeta telanjang bulat di samping saya. Saya telanjang setengah di tempat tidur. Baju saya ada di dekat jendela yang terbuka, dan penis saya mengintip lemas dari balik kulupnya. Saya kedip-kedipkan mata, berusaha mengingat di mana kira-kira saya berada, dan apa yang telah terjadi.

Tapi saya tidak ingat apa-apa, juga sama sekali tidak mengenal kamar itu.

Kamar itu punya tempat tidur yang luas, dengan dinding dari tembok dan plafon bermotif bunga anggrek. Itu jelas bukan kamar saya, sebab saya seorang yatim-piatu miskin, dan rumah kecil saya berdindingkan pelepah gewang tanpa plafon. Tapi kamar ini sangat luas, hampir seluas ruang kelas sekolah dasar. Lukisan dan pernak-pernik dengan warna perempuan tergantung di setiap temboknya yang bercat hijau. Di sisi kiri dekat pintu, terletak sebuah lemari jati besar, dengan beraneka bentuk piala tersusun di atasnya. Di samping lemari itu, ada sebuah meja belajar dengan lampu baca bertudung merah muda, tumpukan novel Marga T., satu buku catatan, dan kamus bahasa Latin.

Saya bangun dan duduk. Kerongkongan saya kering dan lidah saya kaku tak terasa. Kepala saya terasa berputar-putar dan pandangan saya mengabur. Saya menelan-nelan ludah dan menggoyang-goyangkan kepala untuk menghilangkan pusing, dan saat itulah pintu terbuka. Seorang perempuan kecil dengan payudara baru membusung berdiri di pintu. Ia memegang sepatu hak tinggi yang ia pakai berdansa sampai lecet. Dandanan pestanya telah rusak oleh larik-larik keringat dan mata kami bertemu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik dan ia berteriak.

Ia berteriak dan lari sekencang-kencangnya, sengeri-ngerinya seperti baru saja melihat hantu berseragam tentara.

Saya mengangkat celana dan meloncat dari tempat tidur, mencomot baju dan memakainya serampangan. Neeta kaget dan membuka matanya, dan sebagaimana lonte profesional yang telah sering berada dalam kondisi kena sergap, ia meloncat dari tempat tidur dan mengenakan celananya secepat kuda sumba di arena pacu. Tapi baru saja ia ingin mengambil bajunya, satu rombongan besar orang telah menyergap masuk. Teriakan perempuan kecil itu telah mendatangkan mereka dari tenda pesta di seberang rumahnya.

Kami diseret keluar dari kamar. Melintasi ruang tamu, baru saya sadar, bahwa kami sedang berada di rumah Om Kailakus.

Om Kailakus adalah saudara-sepupu-tingkat-delapan Usi Taesleko, seorang pensiunan tentara yang mengurusi penebangan kayu di hutan jati dekat Bukit Tafeantob. Om Kailakus tinggal bertetangga dengan Usi Kininbad, dan tidak hanya mempunyai banyak anjing tapi juga bergudang-gudang kehormatan. Ia juga sangat mematuhi Tuhan dan negara. Ia bahkan hanya mempunyai dua anak saja, sesuai anjuran bapak presiden. Anak sulungnya seorang tentara Resimen Tim Pertempuran 18, yang mati di Hutan Matabian saat bertempur melawan gerilyawan fretilin. Kini tinggal anak bungsunya, perempuan kecil yang baru saja melihat kami telanjang dan berteriak seperti babi.

Dengan kata lain, kami—saya dan Neeta—baru saja terbangun sebagai tamu tak diundang di rumah orang yang sangat dihormati di kampung itu. Jikapun perbuatan masuk tanpa izin ke rumah itu bisa dimaafkan, mustahil tua rumah itu mau memaafkan saya yang telanjang di depan putri tunggal belengnya.

Di halaman rumahnya yang seluas lapangan voli, sebelum berkata apa-apa, wajah saya telah ditinju berulang-ulang kali oleh enam orang laki-laki besar. Empat orang dari mereka bercincin batu akik, sehingga tiap kali mereka meninju, rasanya seperti tengkorak saya kena tumbuk dari alu.

Sementara tengkorak saya kena tumbuk, Tanta Marta, seorang janda yang mengajar agama di SMP Negeri Koknaba, menampar-nampar wajah Neeta sambil meludahi dan memakinya.

“Lonte! Tidak tahu malu! Perempuan gatal!”

Neeta diam saja tanpa bicara. Rambutnya kusut kena ludah dan gamparan, dan susunya melela ke sana kemari. Jika bukan karena hardik Am Teutfatu sang Mantan Lurah, susu itu telah terbang lepas dari dadanya.

“Jangan asal pukul!” hardik Am Teutfatu dalam bahasa Dawan. “Bahkan Usi Yesus tidak memukul pelacur!”

Tanta Marta berhenti menggampar Neeta, dan orang-orang yang meninju saya mundur dua langkah. Saya menggoyang-goyangkan kepala dan melihat sekeliling. Orang-orang banyak mulai berkerumun. Perempuan dan anak-anak berdiri dalam jarak yang cukup tidak terlibat, dan orang-orang muda berjongkok di depan mereka. Perempuan kecil yang tadi histeris di pintu kamar, kini tersenggak-sengguk ketakutan di pelukan ibunya. Ibunya berdiri di antara orang-orang itu sambil menatap saya dan Neeta dengan jijik dan amarah.

Nenek Yo, bidan yang menarik keluar saya dan semua anak kampung dari dalam rahim, membuka sarung tenunnya dan menutupi tubuh Neeta yang setengah telanjang. Sesudah Am Teutfatu, Om Kailakus, dan beberapa orang tua berkumpul dan berbisik-bisik sebentar, mereka membawa saya dan Neeta ke lopo besar milik Meo Naek Aisan, sang mantan kesatria kerajaan, yaitu lopo besar tempat membicarakan masalah-masalah kampung.

Itu hari terpanjang dalam hidup saya. Orang-orang menatap saya dengan jijik. Bahkan anak-anak muda yang suka menunggangi Neeta, membuang mukanya begitu melihat saya, seolah sayalah pendosa yang baru saja menyalibkan Yesus. Lama-lama saya ikut jijik pada diri saya sendiri. Perut saya berkerocok ingin muntah, dan tubuh saya bergetaran. Rasa-rasanya, saya ingin berlari ke hutan, berbelok ke tebing curam dan terjun tanpa mantra.

Lebih dari tujuh jam kami didudukkan di lopo Meo Naek Aisan, dikerumuni oleh tua-tua yang bijak dan anak-anak muda yang mendadak suci dan membenci yang lacur. Mereka menperdebatkan hukuman apa yang pantas diberikan kepada kami, tapi lebih banyak menggunakan hak bicaranya untuk menghina Neeta dan semua lonte di atas bumi. Baru ketika matahari meninggi dan orang-orang harus ke sabana untuk menggiring sapinya turun minum, dua keputusan dihasilkan.

Satu, kami harus bersumpah di depan Alkitab dan tiang utama rumah adat, bahwa kami akan meninggalkan kampung. Kami boleh berputar-putar di sekitar pagar terluar kampung, tapi tidak boleh menjejakkan kaki bahkan hanya satu kaki ke dalam wilayah kampung ini. Jika berani melanggar, maka kutukan akan diturunkan oleh Usi Yesus dan para leluhur.

Dua, karena saya adalah cucu kandung Uis Toestua keluarga Amauf Koto generasi keduabelas dari Kerajaan Tepon Kenat, yaitu kerajaan besar di Timor yang dibubarkan Belanda di abad ke-16, maka saya mendapatkan keringanan. Saya boleh tetap tinggal di kampung ini, dengan syarat harus menjadi pelayan dan penjaga di rumah Ain Liko, selama empat musim kemarau.

Ain Liko seorang janda tua renta, yang hidup dua batang kara bersama cucu perempuannya yang berusia enam tahun. Ia punya empat orang anak, tapi keempat anak itu telah menjadi tenaga kerja di luar negeri. Tiga di antaranya sudah pulang sebagai mayat yang penuh jahitan di tubuh; jahitan yang memanjang dari bawah perut sampai ke tenggorokan. Sekarang, tinggal satu anaknya yang masih hidup, masih hidup di Malaysia. Kami semua tahu, bahwa sebentar lagi anak itu juga akan pulang sebagai mayat, sebab konon bisnis organ tubuh sedang membaik.

Intinya, tanpa seorang laki-laki di rumah Ain Liko, ia dan cucu kecilnya itu akan mati sebelum dipanggil Tuhan. Entah mati kelaparan atau mati dipotong perampok (pohon cendana di depan rumahnya telah berkambium, dan perampok suka membunuh sebelum menebang).

Karena itu adalah kampung kelahiran saya, dan tanah bekas kerajaan nenek moyang saya, saya mengiyakan syarat itu. Dua puluh empat jam kemudian, sesudah Neeta meninggalkan kampung, saya meninggalkan rumah kecil saya, dan pindah ke rumah Ain Liko.

Perempuan itu sudah sangat renta dan keriput. Kebijaksanaan telah melekat padanya, dan ia suka mendendangkan pantun-pantun lama. Ia tidak memandang saya sebagai orang terhukum, tetapi menawarkan sirih-pinang. Ia tidak membiarkan saya tidur di tiris rumah, tetapi membukakan pintu rumahnya untuk saya.

Begitulah saya mulai tinggal di rumah itu dan mengerjakan hal-hal tanpa upah. Memelihara sapi dan babi, memasak, mencuci, sampai memandikan cucunya.

Tidak sampai dua musim kemarau, orang-orang sekampung telah melupakan kejadian yang menimpa saya. Kekacauan di Timor Timur meluas dan para pengungsi dari negeri itu memenuhi kampung-kampung di Timor Barat. Penghuni kampung semakin banyak, dan lebih banyak lagi masalah yang jauh lebih pelik daripada masalah saya dan Neeta.

Orang-orang sangat sering berkelahi dan kematian bukan hal yang aneh. Setiap hari, selalu ada orang yang mati, entah karena berkelahi, kelaparan, atau kena tabrak truk tentara. Pun, telah lebih banyak lonte berkeliaran. Ratusan lonte yang dahulu melacur di Dili pindah ke Pelacuran Karang Dempel di Kupang, dan persaingan yang ketat membuat banyak lonte terbuang ke jalan-jalan, ke kampung-kampung.

Itu membuat orang-orang mempunyai hiburan baru dan melupakan kasus yang pernah menimpa saya. Saya sendiri sudah menganggap rumah Ain Liko sebagai rumah sendiri, dan hampir melupakan kekacauan yang saya buat di malam pernikahan Unu Taeklele. Hampir, hampir melupakannya, jika saja saya tidak harus disunatkan dan menjalani ritual nain fatu.

Seharusnya, nain fatu adalah ritual gampang. Kau tinggal memilih kerikil sesuai jumlah perempuan yang pernah kau tunggangi, dan melemparkan kerikil itu ke sungai. Masalah biasanya muncul, jika kau adalah seorang pemain perempuan, yang telah keluar-masuk tempat pelacuran dan tidur dengan banyak perempuan, tapi lupa menghitung jumlahnya. Atau satu dan dua hal memaksamu untuk berbohong, untuk menyangkal bahwa kau pernah menyetubuhi satu atau sepuluh orang pelacur.

Meski setengah laki-laki kampung ini mengalami kesulitan saat nain fatu, tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa saya akan mengalami kesulitan itu juga. Bagi mereka jelas, bahwa saya tidak pernah ikut menggilir pelacur. Hanya satu kali saya tidur dengan Neeta, dan saya tidak akan kesulitan untuk mengakuinya, sebab semua orang sudah mengetahuinya. Bagi mereka, saya hanya perlu memungut satu kerikil, satu kerikil kecil untuk mewakili Neeta.

Tanpa mereka ketahui, betapa tidak mudahnya saya berusaha menentukan jumlah kerikil saya. Untuk menentukan jumlah kerikil, tentu saja saya harus tahu dengan pasti, berapa perempuan yang pernah saya setubuhi. Setubuhi dalam artian yang sesungguhnya, yaitu memasukkan burung yang berdiri ke dalam vaginanya dan menggoyang-goyangkan hingga orgasme.

Saya telah menghitung-hitung, dalam seluruh hidup saya, baru dua perempuan yang positif masuk dalam kategori pernah-saya-setubuhi. Ain Liko, janda tua itu, serta Lita, cucunya yang berusia enam tahun. Saya sangat sering menyetubuhi mereka, di malam-malam ketika jangkrik mengerik dan anjing melolong di kejauhan. Kadang, dalam satu malam, saya bisa bergantian menyetubuhi mereka berdua, sebab Ain Liko tidur di balai-balai di dapur, sedangkan Lita tidur di samping kamar saya di rumah induk. Kadang saya memilih ingin menggarap yang mana. Vagina tua yang keriput, vagina kecil yang sempit, atau membuka dengan yang tua dan menutupnya dengan yang muda atau sebaliknya. Ain Liko kelihatannya enggan dan kadang suka menolak, tetapi Lita selalu bersemangat. Sering kali, ia sendiri yang mendatangi kamar saya dan menyelinap ke dalam sarung saya tanpa saya panggil. Ia cepat belajar bagaimana caranya menyenangkan burung saya, dengan tangan ataupun lidahnya, dan kemaluan kecilnya yang tak berbulu itu sangat cepat menjadi becek.

Hanya mereka berdua, Ain Liko dan Lita, yang masuk dalam kategori pernah-saya-setubuhi. Perempuan yang lain tidak.

Memanglah dahulu, Tanta Marta—guru agama di SMP Negeri Koknaba itu, hanya suka memainkan burung saya dengan jari maupun lidahnya. Meski ia selalu memainkannya sampai burung itu muntah-muntah kelelahan, itu tetap bukan persetubuhan. Saya tidak perlu menghitungnya. Saya juga pernah beberapa kali memasukkan burung saya ke dalam dubur Bleki yang berbau. Tapi tentu saja itu juga tidak masuk dalam hitungan, sebab ia bukan manusia dan bukan betina. Juga berbatang-batang pisang yang dahulu suka saya setubuhi… mereka bukan manusia dan tak perlulah saya memikirkannya.

Tapi saya benar-benar tidak ingat, apa yang terjadi pada saya dan Neeta di malam pernikahan Unu Taeklele itu. Semua orang percaya, bahwa kami memang bersetubuh, bersetubuh semalam-malaman di rumah Om Kailakus, di tempat tidur luas milik putri tunggalnya. Tapi, saya benar-benar tidak bisa mengingat apa pun, kecuali senyum babi jenderal di kandang, dan deretan piala yang menyapa saat saya terbangun. Saya tidak bisa menyimpulkan, apakah saya memang memasukkan burung saya ke dalam kemaluannya, atau kami hanya saling raba sebentar kemudian jatuh tertidur. Atau bisa jadi saya membongkar jendela itu dan dahulu menyelinap untuk tidur, sementara ia masuk belakangan dan hanya tertidur di samping saya.

Saya telah berusaha mengingat-ingat, berusaha mengingat sebaik-baiknya, tapi selalu gagal. Selalu ada jeda kosong, ingatan yang hilang. Ingatan antara senyum babi jenderal dengan lemari besar penuh piala di dalam kamar itu. Saya bahkan sama sekali tidak ingat, bagaimana saya bisa masuk ke dalam rumah yang dikelilingi tujuh ekor anjing itu.

Jika saya benar-benar lupa, maka satu-satunya orang yang tahu apa yang terjadi, adalah Neeta sendiri. Saya ingin mencarinya untuk bertanya, tapi Neeta telah lama menghilang tanpa kabar. Saya telah berkeliling dari kampung ke kampung dan mencari tahu di manakah lonte yang dahulu sangat populer itu berada. Saya mendatangi Pelacuran Karang Dempel, jangan-jangan ia telah menghuni salah satu kamarnya. Saya mendatangi tiap gereja, jangan-jangan ia telah bertobat dan sering mengakukan dosa. Saya juga mendatangi tiap rumah sakit, jangan-jangan ia pernah datang sebagai mayat. Tapi ia seperti menghilang begitu saja, seperti ditelan bumi.

Padahal, saya perlu memastikan hitungan saya. Saya tidak ingin salah memilih jumlah batu, dan bernasib mengenaskan seperti laki-laki lain yang salah menghitung.

Sesudah saya berusaha mengingat dan tak mengingat apa-apa, sesudah saya bersusah menemukan Neeta dan tidak menemukannya, tahulah saya, bahwa saya memang telah kena kutuk. Saya telah kena kutuk, dan harus mati sesudah disunat. Saat itulah saya ingat kembali kutukan yang keluar dari mulut Mama sebelum ia menggantung dirinya. Ia menggantung dirinya sesudah saya mengobok-obok vaginanya dengan kepalan tangan saya. Saya mengobok-obok vaginanya dengan kepalan tangan saya, sesudah memergoki ia memberi diri untuk diobok-obok oleh Am Teutfatu  hanya dua minggu sesudah Bapak mati kena sambar petir.

Sebelum menggantung dirinya, pastilah perempuan celaka itu telah mengutuk saya dengan mantra dari Teuftuka: Paleo mhe nesan napau naijan, paleo mhe fula isubai manas*.

Maka malam itu, malam sebelum disunat, saya sangat ketakutan dan tidak bisa tidur. Bahkan sesudah tiang listrik dipukul tiga kali, saya masih ketakutan dan tidak bisa tidur.

Begitu ayam jantan pertama berkokok, kain pintu tersibak dan seorang perempuan kecil melangkah masuk. Perempuan enam tahun yang sangat pendek dan hampir tidak kelihatan. Tanpa bicara, ia mengangkat ujung selimut di kaki saya, dan merangkak ke dalamnya.

Ia mulai bergerak-gerak di situ: menggigit dan mengulum.

Tapi burung saya tetap mengerut: kecil dan ketakutan.

Keterangan:

* Salah satu mantra Dawan kuno, ditulis kembali dengan bahasa Dawan sehari-hari sebab pamali/pantang untuk ditulis/diucapkan dalam frasa aslinya. Terjemahan harfiah: Biarkan akar menikam tanah dan ujung bunga meruntuhkan matahari.

Felix K Nesi

Felix K Nesi

Lahir di Nesam, Nusa Tenggara Timur. Karyanya pernah tersebar di Bali Post, Koran Tempo, Harian Kompas, dll. Buku kumpulan cerpennya berjudul Usaha Membunuh Sepi (PSM, 2016). Bergiat di Komunitas Leko Kupang.
Felix K Nesi

Latest posts by Felix K Nesi (see all)

4 Comments

  1. Wahaha, saya begitu puas membaca cerpen ini. Cerpen yang sangat jujur dan apa adanya. Tapi sangat bahaya sekali bila anak sekolah membaca cerpen ini.

  2. Cara bercerita seperti ini lagi trend ya?
    Bermula dari suatu kejadian lalu maju mundur cantik
    Tapi saya benar benar tidak menyangka kalau perempuan celaka itu ibunya sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published.