Lalim

in Tajalli by
freepik.com

Leluhur seluruh umat manusia, Nabi Adam, pernah terperosok ke dalam dosa ketika tergoda oleh rayuan Iblis untuk mendekati pohon terlarang di surga. Tapi dosa itu tidak sampai menjeratnya. Dia merasa bersalah dengan ketergelincirannya itu. Karena itu, dengan penuh penyesalan dia lantas mengungkapkan kalimat pertobatan yang kemudian direkam di dalam Qur’an dan hingga hari ini menjadi wiridan yang ditekuni oleh keturunannya yang beriman: “Wahai Tuhan kami, kami telah lalim terhadap diri kami sendiri,” (QS. Al-A’raf: 23).

Lalim terhadap diri sendiri? Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah setiap orang sayang pada dirinya sendiri? Kalau lalim pada orang lain mungkin lebih masuk akal. Mungkin lantaran digerakkan oleh rasa iri dan dengki atau alasan apa pun yang lebih rasional. Nah, bagaimana rasionalisasinya seseorang bisa menganiaya dirinya sendiri?

Bercermin pada ketergelinciran Nabi Adam oleh suatu dosa, kita kemudian bisa paham bahwa lalim kepada diri sendiri itu adalah bertindak atau mengambil posisi yang berseberangan, baik dengan perintah maupun larangan Allah Ta’ala. Tindakan ini akan “merugikan” siapa pun yang telah dengan sengaja memilihnya. Karena jelas bahwa memilih jalan ini berarti sama saja dengan memilih jurusan yang tidak tertuju kepada ridaNya.

Menurut Imam Ibn ‘Ajibah, seseorang disebut lalim ketika dia meletakkan diri di lintasan kemaksiatan dan pada saat yang bersamaan dia menjauhkan dirinya dari “gravitasi” jamaliahNya. Dampaknya adalah cahaya akal semakin memudar dan kekuatannya semakin lunglai. Pada saat itu, nafsu amarah dan Iblis semakin tegar untuk terus membelokkan rute perjalanan rohani seseorang.

Mula-mula hanya lalai, lalu serong sedikit sekali, kemudian semakin bertambah banyak, terus semakin menjadi-jadi, selanjutnya muncullah pengingkaran yang semakin hari volumenya semakin bertambah garang. Dan kelaliman seseorang yang terus menumpuk dosa semacam itu semakin menimpuk dirinya sendiri.

Secara substansial, segala sesuatu yang dilarang itu sesungguhnya merupakan pohon Adam yang dulu, pada awal mula sejarah kehidupan manusia merangkak, telah menjadi sandungan yang cukup serius bagi khalifah pertama di muka bumi itu. Dan pohon Adam itu tersebar di seluruh kehidupan umat manusia yang tak lain merupakan anak-cucunya sendiri dengan jumlah yang sedemikian banyaknya.

Akan tetapi tragedi kelaliman terhadap diri sendiri itu tidak selamanya menjerumuskan seseorang pada jurang nista dan kehancuran. Di antara sekian kelaliman itu ternyata ada yang diberkati. Yaitu ketika menjadi starting point bagi siapa pun untuk terus menyusuri lorong pertobatan dengan terus menimbun dosa itu dengan berbagai macam kebaikan dan tindakan yang terpuji. Satu dosa “melahirkan” berlaksa-laksa pahala.

Menurut Syaikh Abu Bakar asy-Syibli, dosa para nabi mengantarkan mereka pada kemuliaan dan derajat yang tinggi sebagaimana yang dialami Nabi Adam, dosa para wali mengantarkan mereka pada penebusan terus-menerus dengan berbagai macam kebaikan, dan hanya dosa orang-orang “awam” yang akan mengantarkan mereka pada kehinaan.

Moga Allah Ta’ala tidak bosan untuk selalu mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan menjadikan diri kita sebagai burung-burung rohani yang selalu dilecut rindu untuk menjumpai hadiratNya. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.