Lampu Pujaan dan Asmara Picisan

in Memorabilia by

Pada suatu hari tercantum di novel lama, lelaki menanggung asmara semakin bingung mengurusi perasaan dan lampu. Ia bernama Sumarno, lelaki necis dari keluarga pengusaha batik dan pemimpin pergerakan “kaoem moeda” di Solo, masa pendudukan Jepang. Bersepeda dari rumah, ia sejenak berhenti di muka rumah kekasih. Kejadian membingungkan: “Matanja memandang tadjam kerumah kekasihnja, seperti mentjari-tjari apakah jang terdjadi dalam rumah itu. Lampu diruangan muka tidak dinjalakan. Biasanja lampu itu pasti menjala sungguhpun ditutup karena waktu penggelapan. Entah apakah sebenarnja jang terdjadi, mengapa lampu itu tidak menjala. Kiranja karena soal biasa belaka, bola lampunja putus atau stroom listriknja tidak tjukup karena semua lampu didalam dinjalakan.” Di depan rumah gelap, menular pada perasaan lelaki bertambah gelap. Solo telah malam. Hati gelap akibat tak melihat lampu memberi terang.

Rumah si kekasih bernama Hermien tentu dihuni kalangan elite. Pada masa pendudukan Jepang, rumah berlampu menandai kesanggupan mengalami malam tanpa gelap. Lampu mengusir gelap. Ketakjuban atas modernitas berlangsung dengan listrik mengaliri lampu agar rumah-rumah mendefinisikan malam tak melulu hitam, sempat menerima putih dan kuning. Sejak akhir abad XIX, listrik mengalir di Batavia dan pelbagai kota menghasilkan terang. Lampu-lampu bertambah di tanah jajahan. Nasib bumiputra mungkin masih gelap tapi mereka dikejutkan dengan lampu-lampu berbeda dari alat-alat penerang tradisional. Lampu menerangi negeri kepulauan berlakon penjajahan. Pada awal abad XX, lampu pun perlambang bagi bumiputra ingin mulia dan maju. Pendirian Boedi Oetomo (1908) menghasilkan anggapan zaman baru ditandai “tjahaja-tjahaja”. Lampu-lampu terus terpasang dan memberi terang: ide dan suasana. Lampu turut dalam selebrasi “kemadjoean” di Hindia-Belanda (Rudolf Mrazek, Engineers of Happyland: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni, 2006).

Puluhan tahun berlalu dari Boedi Oetomo, tokoh bernama Soemarno dalam novel berjudul Solo Diwaktu Malam (1950) garapan Kamadjaja masih harus mengartikan nasib dan kota bereferensi lampu. Semula, kota-kota modern saat malam terceritakan indah dengan segala penghiburan dan terang lampu di pelbagai tempat atau sepanjang jalan. Pada hari tak untung, Sumarno malah mengerti lakon asmara bakal meredup. Hari-hari pun gelap. Berpisah dari kekasih “menggelapkan” misi pergerakan politik dan menjalankan perusahaan batik. Lelaki dirundung gelap memilih mencari kesenangan ke tempat-tempat berlampu “berahi” berbeda makna dari lampu-lampu di rumah atau tempat-tempat kaum pergerakan mengadakan rapat politik.

Malam tanpa lampu di serambi rumah Hermien seperti keberakhiran asmara. Nasib buruk disempurnakan peristiwa pidato “terakhir” bersama kaum pergerakan di gedung moncer bernama Habiprojo. Kamadjaja menceritakan dengan imajinasi penglihatan: “Penerangan diruangan muka Habiprojo jang hendak dipakai oleh rapat pada malam itu sajup-sajup, ditutup oleh karton bundar, sehingga sinarnja hanja kebawah sadja. Diruangan jang selebar itu penerangannja tidak lebih dari lima buah sadja, sedang jang sebuah tepat diatas podium, dimana pembitjara dapat membatja naskah pidatonja dengan terang.” Di mata Sumarno, lampu mati di rumah kekasih dan lampu di gedung untuk rapat politik mengarah ke nasib apes. Malam buruk berlalu, Marno mulai menjadi lelaki berpikiran dan berperasaan gelap. Lampu telah padam.

* * *

Kamadjaja tak gamblang mengurusi lampu dari masa lalu, berkaitan bahasa dan pemodernan kota-kota di Jawa. Pengarang enggan memberi keterangan ke pembaca untuk memastikan lampu datang dulu ke tanah jajahan sebagai kata atau benda. Lampu itu kata ajaib bagi bumiputra jika pembaca membuka kamus-kamus lawas. Di Hollandsch-Maleisch Woordenboek susunan Badings tercantum kata “lamp” di halaman 141. “Lamp” diartikan “palita”. Di tanah jajahan, kata itu diambil dari bahasa Belanda lazim diucapkan “lampoe”. Kata itu berterima di kalangan Jawa dengan pencatatan di kamus.

Sasrasoeganda dalam Baoesastra Melajoe-Djawa (1916) mengartikan lampu adalah “dimar” atau “dian”. Lampu mendapat pengertian dari benda dan kata-kata sudah akrab bagi bumiputra. Semula, kata lampu terasa asing tapi perlahan berterima dengan mendapatkan sejenis sinonim digunakan dalam lakon politik, sastra, industri, pers, identitas, dan asmara. Dulu, pembaca sastra tentu mengingat pengarang memuja Barat menulis novel dijuduli Dian jang Tak Koendjoeng Padam (1932). Sutan Takdir Alisjahbana memilih perlambang dian, bukan lampu. Pilihan itu tetap mengarah ke makna terang dan ide-imajinasi perubahan ke arah mulia dan maju.

Lampu-lampu sebagai benda menerangi membuat kota-kota di tanah jajahan (agak) bermusuhan dengan gelap. Orang-orang menghasrati terang, dari pagi sampai malam. Terang itu impian terbesar melakoni zaman “kemadjoean”. Teknologi dan listrik merangsang perubahan tata hidup di Indonesia. Perlambang dan pengisahan baru bersumber lampu cepat menggoda ketimbang keinginan bersandar ke perlambang lama. Lampu tentu tak menghilangkan semua cara bercerita mengenai manusia dan dunia.

Hamidah (1915-1953) menggubah puisi mengenai bulan, belum terpikat ke lampu. Di Pandji Poestaka, 8 Januari 1932, Hamidah sajikan puisi berjudul “O, Boelan”. Puisi asmara boleh dicap picisan: O, boelan, jang menerangi!/ Memboeat terang lorong dan pekan;/ Katakan pesan, pada jang koesajangi!/ Wadjah dirinja, tak dapat koeloepkan. Penanggung asmara di masa 1930-an memilih bulan, berbeda dengan selera dan nasib Sumarno dalam novel gubahan  Kamadjaja saat tergantung pada lampu. Ketakjuban pada lampu belum menamatkan para pujangga berbahasa Indonesia menuliskan bulan dan menceritakan terang dari langit teranggap ampuh ketimbang terang dari lampu asal negeri-negeri asing.

* * *

Pada tahun-tahun sebelum Sumarno merana dipengaruhi lampu, orang-orang di Jawa mendapat bujukan agar hidup berlampu melalui iklan-iklan di Kadjawen, majalah berbahasa Jawa terbitan Bale Poestaka. Lampu keluaran pabrik kondang ditawarkan ke pembaca. Lampu bermerek Philips. Lampu memerlukan listrik. Lampu bagi keluarga berduit dan melek modernitas. Di majalah Kadjawen edisi 5 September 1941, iklan berukuran besar dan “berlebihan” dalam pemberian keterangan. Lampu itu mengejutkan bagi orang-orang di rumah saat malam: “Terang seperti siang.” Lampu diimajinasikan pengganti matahari. Terang lampu mungkin menandingi terang bulan jika mejeng di langit. Terang diciptakan oleh benda kecil. Iklan semakin berlebihan dengan menghadirkan keluarga telat berlampu.

(Philips, Kadjawen, 5 September 1941)

 Gambar mengandung ejekan bagi kebiasaan mengalami malam menggunakan alat penerang lama berjulukan teplok atau senthir. Benda itu dipegang ibu. Tangan kiri memegang alat penerang lama dan tangan kanan menghidupkan lampu berlistrik. Adegan ibu terlalu gamblang ingin membujuk pembaca lekas meninggalkan alat penerang lama. Pilihan mengganti dengan mesem dan ketakjuban tak terkira. Tugas dua bocah saat mengetahui lampu menerangi adalah bertepuk tangan. Adegan hampir memastikan berlangsung pesta terang di rumah. Lampu berkurungan itu mencipta kehebohan: raga dan kata.

Pokok di iklan ditampilkan berupa kata-kata diucapkan oleh bapak: “Kalau dari dahoeloe akoe memakai lampoe jang seterang ini, tentoe sekarang beloem perloe memakai katja mata.” Sesalan diucapkan akibat mengalami malam tanpa terang. Alat penerangan ada tapi belum seterang lampu listrik. Malam-malam belum terang memberi sakit ke mata. Bapak tampak menderita dan belum rela mengenakan kaca mata. Pilihan menggunakan lampu listrik dianggap bukti terang pujaan. Lampu itu sempat memberi sesalan dan kelegaan. Sesal memakai kacamata dan lega penciptaan terang di rumah. Lampu mengesahkan keluarga girang meski telah dipamiti matahari.

Pada masa 1940-an, sebelum keberakhirkan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, iklan lampu masih sempat mengabarkan keparlentean. Iklan lampu di Kadjawen, 25 April 1941, menghadirkan dua tokoh: lelaki dan perempuan berdandan parlente. Mereka penikmat modernitas atau tokoh-tokoh impian di zaman “kemadjoean”. Tokoh perempuan tetap penentu makna lampu. Perempuan itu memegang lampu di hadapan lelaki. Pembaca mengandaikan perempuan bicara: “Pasanglah lampu ini demi terang hidup kita.” Usulan berbeda: “Lampu ini bakal menerangi hatiku dan hatimu.” Tangan si lelaki mengenakan dasi kupu-kupu itu tanda bermufakat atau memberi tambahan penjelasan. Pembaca menduga ia berucap: “Aku pun ingin asmara kita selalu terang saat malam-malam menebus kerinduan.” Dugaan ucapan berbeda: “Lampu terang membuatmu tampak semakin molek.” Lampu memang keparlentean: busana dan asmara.

(Philips, Kadjawen, 25 April 1941)

* * *

Segala cerita dan iklan dari masa lalu telah (lama) menumpuk tanpa terang ingatan pada abad XXI. Jumlah lampu semakin berlimpah. Lampu pun berlebihan menghilangkan rupa dan makna malam. Lampu itu hiburan. Lampu itu toko. Lampu itu politik. Lampu itu pesta. Sejarah lampu di Indonesia belum sempurna. Lampu belum tiba di desa-desa pedalaman. Lampu sebagai kata atau benda. Kompas, 9 April 2018, memuat berita bahwa 2.500 desa belum teraliri listrik.

Berita mengandung sangkaan lampu-lampu belum menerangi desa-desa saat malam turun memberi gelap dan sepi. Alat penerang mungkin masih tradisional berupa api atau terang dari lampu pompa. Girang berlampu seantero Indonesia masih sisakan desa-desa memiliki malam tanpa listrik. Desa-desa tetap ingin terang meski belum terlalu memuja atau tergantung pada lampu-lampu berlistrik sering memberi terang-putih.

Di desa-desa belum berlampu listrik, puisi gubahan Hamidah berlaku bagi orang-orang kasmaran. Mereka memilih membahasakan perasaan dengan bulan. Alat penerang tradisional atau lampu tanpa listrik berhak mengesahkan keinginan mendapat terang meski tak seterang di iklan-iklan Kadjawen atau kelebihan terang di kota-kota besar. Lampu belum telanjur referensi asmara. Desa tanpa lampu listrik agak sulit ketularan asmara picisan bertokoh Sumarno atau dua sejoli di iklan lama saat perasaan mereka tergantung lampu. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)