Le Tangiya Le

in Cerita Pendek by
mymomsfridge.com

Di depan Gedung Agung.

Seorang lelaki menggenggam gulungan koran. Hilir mudik mengamati istana dari balik pagar sambil berkata sendirian. Ia berhenti sebentar di depan patung raksasa dan bergumam,

“Ini jangan-jangan anak keturunan berhala yang dulu dibiarkan oleh Nabi Ibrahim.”

Ia berteriak-teriak pada patung itu, tetapi tidak mendapat jawaban. Ia pergunakan gulungan koran untuk meneropong ke dalam istana, katanya, “Sialan, istana ini kosong. Padahal tadi kudengar ada suara mirip gubernur jenderal yang baru sedang merancang cara menjajah kota ini kembali. Wah kalau gitu, lagu ‘Yogya Kembali’ itu benar.”

Ia menyanyikan lagu itu, menyeberang jalan di depan BNI, menuju Alun-alun.

* * * 

Di tengah jalur Alun-Alun Utara yang mengarah ke Pagelaran.

Lelaki itu duduk ke arah selatan. Matanya tajam menatap ke arah Sitinggil di belakang Pagelaran. Ketika ada seorang perempuan muda semok bertanya, “Sedang apa, Lik?” Jawabnya, “Pepe.”[1]

Pepe kok siang malam. Kalau garing tenan piye?[2]

Ia pepe di situ selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa mendapat tanggapan. Satu wartawan pun tidak ada yang menengok aksi tanpa sponsor dan tanpa donor ini. Akibatnya, aksi spektakuler pepe 40 hari 40 malam itu tidak mendapat pemberitaan, tidak jadi berita, dan tidak jadi isu nasional. Koran dan teve lebih sibuk memberitakan artis yang baru operasi bisul di ketiaknya.

Dengan wajah dan jiwa penuh amarah karena tidak mendapat respons dari para bangsawan dan pengelola media massa, ia pun berjalan meninggalkan Alun-Alun Utara, menuju Selatan, ke arah Imogiri. Lalu ke selatan lagi melewati kali Oya, naik ke Guwo Cerme.

* * *         

Di dalam Guwo Cerme.

Ia minta izin kepada juru kunci untuk bertapa di dalam gua selama 99 hari.

“Untuk apa sampean bertapa, Nak?” tanya juru kunci.

“Untuk ketemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Malaikat Jibril.”

Juru kunci itu meminta anak lelakinya untuk menemani lelaki yang mau bertapa.

Selama bertapa lelaki itu bertemu dengan Sunan Kalijaga, dan dengan Malaikat Jibril. Di depan lelaki itu terhidang bunga mawar, melati, kenanga. “Makanlah,” kata Malaikat Jibril.

Di depan anak juru kunci terhidang ketela, ubi, ganyong, dan kimpul mentah.

“Makanlah,” kata Sunan Kalijaga. Setelah keduanya makan apa yang terhidang, Malaikat Jibril dan Sunan Kalijaga toast, lalu ketawa-ketawa, “Sukses.”

“Kenapa Kanjeng berdua ketawa-ketawa ketika perut kami berdua mules tidak keruan?”

“Sebab kamu berdua telah kami kecoh agar kau yang berwatak Musa ini mau dimasuki ruh Wisanggeni, Antasena-Antareja, dan Baladewa. Sedang kau anak juru kunci yang berwatak Harun itu sehabis makan pala kependem mentah berarti sudah kemasukan ruh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Kalian berdua sudah siap kan untuk menyelamatkan isi dunia yang nyaris hancur ini?”

            “Siap, tapi kalau saya berwatak Musa, kenapa tidak dilengkapi dengan tongkat gembala sakti?”

            “Baik, ini tongkatnya. Tongkat yang hanya keluar setiap lima ratus tahun sekali ini, beberapa tahun lalu malahan ditolak oleh seorang manusia yang juga bertapa seperti engkau. Oke? Terimalah dan tangiya, Le.[3] Keluar dari gua ini dan selamatkan dunia.”

* * *

Di halaman tempat upacara di Rumah Sakit Jiwa.

Setelah 99 hari di dalam gua. Kedua orang itu keluar dari gua. Mereka menyampaikan pesan dari langit. Mengaku sebagai titisan Nabi Musa dan Harun. “Siapa pun Fir’aunnya, siapa pun Hamannya, siapa pun Qorunnya dan siapa pun Bal’amnya, akan kami sikat semua.”

Kota geger. Kedua orang itu menyampaikan kebenaran yang benar-benar ada sesuai dengan perintah yang mereka terima dari dalam gua. Semua orang, semua pemimpin, semua jenderal, semua pengusaha, semua pemodal, semua ulama atau pemimpin agama mereka telanjangi borok-borok kehidupannya, mereka delegitimasi kekuasaan dan kekuatan moral dan konstitusionalnya. Kecurangan lembaga pemilihan umum dan lembaga pemilihan kepala daerah mereka bongkar tandas. Bahkan borok kecurangan lembaga internasional yang menciptakan ketidakadilan dan penjajahan baru di dunia mereka bongkar dan mereka telanjangi setelanjang-telanjangnya. Dengan kekuatan tongkat warisan dari Nabi Musa, mereka mampu mengalahkan sihir media. Apa yang mereka sampaikan pun menjadi tersiar di seluruh dunia. Terjadilah kegemparan global. Negara adikuasa di Eropa dan Amerika panik.

“Kita sekarang berada pada abad the end of America and the end of Eropa. Akan datang abad benderang dari Asia,” teriak dua orang itu bergantian.

Dukun besar yang dibayar mahal sampai 17 triliun rupiah mempelajari perilaku dua orang itu. Dia lalu menyarankan agar Nabi Khidlir dan Dewaruci dipanggil merayu dua orang itu. “Hanya Nabi Khidlir dan Dewaruci yang dapat merayu keduanya agar mau mengatupkan mulutnya dan menghentikan misinya.”

Nabi Khidlir dan Dewaruci yang asli dipanggil, tetapi tidak mau datang. Dicarilah Nabi Khidlir dan Dewaruci buatan, alias palsu. Mereka berlatih akting menjadi Nabi Khidlir dan Dewaruci di sebuah ruang bawah tanah di Broadway selama tiga puluh tiga hari. Kemudian, dengan pesawat paling cepat mereka dibawa ke Yogya dan disuruh merayu dua orang itu. Dua orang itu terkecoh dan mau diajak ke dalam rumah sakit jiwa.

“Istana keberhasilan Kanjeng berdua ada di dalam gedung sana. Tapi sebelum masuk harus disuntik dulu, agar kebal terhadap semua penyakit,” bujuk Nabi Khidlir dan Dewaruci palsu.

Setelah disuntik bius, kedua orang itu tidak sadar, dimasukkan ke dalam sel berlapis tempat orang gila berstadium tinggi dirawat. Dua orang itu ditelanjangi. Tongkat saktinya disita.

* * *

Di ruang kontrol komando Impossible Mission Force Amerika.

Setelah penangkapan atas dua orang yang hampir merobohkan kekuatan adidaya itu, markas IMF Amerika menempatkan satelit khusus dan pemancar khusus untuk memantau keadaan dua orang yang dirawat di RSJ itu. Mereka takut kalau keduanya tersadar, berontak dan bisa lolos dari rumah sakit lalu berbuat onar lagi.

* * *

Di ruang komando malaikat Jibril dan Mikail.

Kedua malaikat ini mencari akal untuk menyadarkan dua orang itu. Mereka juga menempatkan instrumen cahaya untuk memantau dua orang itu. Setiap malam laporan dari bumi dipelajari.

“Kurang ajar, Nabi Khidlir dan Dewaruci Palsu itu selalu merayu dokter jiwa di sana agar setiap hari memberikan suntikan bius dengan dosis makin tinggi agar keduanya tidak bisa sadar. Ruh Wisanggeni, Antasena-Antarareja, Baladewo, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sudah teriak-teriak dan misuh-misuh tapi tidak didengarkan oleh dokter itu.”

“Kurang ajar lagi. Ini, lihat, berdasar laporan pemantau; lalu-lintas rekening antarbank, lihat datanya, dukun itu dan dua aktor palsu itu baru mendapat kiriman dana triliunan lagi sebagai bonus.”

“Kurang ajar bangeeeet, ini, ada data baru masuk. Ada uang dolar yang dikirim ke mereka secara tunai. Ini, dikirim dalam peti kemas, dan sekarang sudah dikapalkan dan sebulan lagi sampai pelabuhan yang dituju.”

* * *

Di Lapangan Rumput Rumah Sakit Jiwa

Endingnya, entah kapan, ketika ada penggembala kambing yang memainkan sulingnya melagukan shalawat di lapangan rumput di belakang RSJ Gracia. Suara seruling itu amat lembut. Selembut suara lantunan lagu Nabi Daud. Dengan suara lembut seruling gembala ini, dua orang itu tersadar dari biusnya. Keduanya berpandangan. Dengan kekuatan gabungan ruh-ruh wayang yang ada di dalam dirinya, mereka bisa menjebol terali besi.

Apa yang harus mereka lakukan? Mencari tongkat Nabi Musa yang telah disita? Ke mana harus mencari?

Ke mana?

“Kita harus bertanya kepada Kepala Rumah Sakit Jiwa ini.”

“Ya. Mari!”

Keduanya meloncat masuk ke ruang direktur Rumah Sakit.

“Hei! Di mana tongkat kami?”

“Di mana?”

Direktur rumah sakit itu gemetar. Pingsan setelah melihat dua lelaki telanjang tiba-tiba berada di depan hidungnya. Mata keduanya melotot. Mulut berteriak-teriak.

Wakil direktur rumah sakit menelepon Nabi Khidlir palsu dan Dewaruci palsu. Dua orang itu dengan senyum ramah merayu dua lelaki itu. Nabi Khidlir palsu dan Dewaruci palsu sudah membawa alat suntik berisi obat bius dengan dosis paling maksimum.

“Sini, sini Kanjeng berdua kami obati biar tambah kuat ya. Sini, sini.”

Dua lelaki itu pura-pura mau disuntik. Tetapi dengan cepat mereka merampas alat suntik itu. Dengan gemas mereka mencoblos lengan Nabi Khidlir palsu dan Dewaruci palsu dengan alat suntik. Mereka menekan kuat-kuat alat suntik itu.

Cairan dari alat suntik itu dengan deras menerobos ke dalam aliran darah dua orang palsu itu.

 

Yogyakarta, 2016.

[1] Berjemur.

[2] Kalau kering beneran gimana?

[3] Bangunlah, Nak.

Mustofa W Hasyim

Mustofa W Hasyim

Lahir di RS DKT Kotabaru 17 November 1954. Sejak tahun 1970an menulis puisi, cerpen, novel, esai, laporan, resensi, naskah drama, cerita anak-anak, dan tulisan humor. Beberapa bukunya yang sudah terbit di antaranya: Telunjuk Sunan Kalijaga, Musim Hujan Datang di Hari Jum’at, Bayi-bayi Bersayap, Perempuan yang Menolak Berdandan, Jangan Jatuh Cinta Padaku.

Di sela-sela kesibukannya saat ini, ia mengembangkan metode Quantum Training Penulisan untuk membantu pelajar, santri, guru-guru, relawan, wartawan agar bisa mulai menulis dan memelihara kemampuan serta semangat menulisnya. Metode pelatihan ini sudah diujicobakan ke berbagai kota di Jawa.
Mustofa W Hasyim

Latest posts by Mustofa W Hasyim (see all)

  • M Naufal Waliyuddin

    Saya kagum benar dg penyair kenamaan Mustofa W Hasyim, trutama dg puisi” humorisnya.. Akan ttpi dg membaca cerpen ini, saya jd ragu dg sepak terjangnya d bidang cerpen.. Krn jujur, tanpa terjebak kebutaan ideologi fans fanatik, scara objektif masih kalah dg cerpen” sblmnya yg pengarangnya justru tdk terlalu populer