Legenda yang Menangis; Cerita dari Iker Casillas

in Esai by
iker casilas
Sumber gambar eurosport.com

I started to joke it started the world crying

but I didn’t see that the joke was on me

I started to cry which started the whole world laughing

Oh if I’d only seen that the joke was on me

Penggalan lirik di atas mempunyai makna sangat dalam. Bahwa apa yang kita lakukan kadang berseberangan dengan apa yang orang lain (the world) lihat atau rasakan. Tinggal bagaimana kita menanggapinya. Hanya saja seorang aku di lirik tersebut tidak kunjung paham apa yang terjadi.

Andai kata aku di lirik tadi paham apa yang terjadi pada dirinya, apa yang akan dilakukannya? Andai aku adalah seorang lelaki yang punya titel legenda dan apa yang dilakukannya sudah salah terus di mata dunia, akankah air mata keluar dari lelaki itu?

Jawabannya adalah ya.

Sangat jarang melihat seorang lelaki menangis, bukan berarti itu tiada. Tengoklah momen yang membuat lelaki menangis justru karena hal sepele. Mata kena debu misalnya. Atau tahu gebetan ternyata lebih memilih untuk menjadi teman. Bukan saat dunia tidak mengakui kejantanannya, tapi justru ketika dunia tak melihat dirinya sebagai lelaki pada umumnya. Kodrat lelaki adalah sosok kuat, primer, alpa. Sosok yang diciptakan pertama kali setelah dunia terbentuk. Melihatnya menangis menjadikan dirinya terlihat lemah. Ini bukan efek ilmiah bahwa menangis mempunyai khasiat bagus untuk tubuh. Apa pun alasannya, jelas itu membuat dunia melihatnya dengan cara yang salah.

Legenda itu bernama Iker Casillas. Kapten dari sebuah klub sepak bola terbesar di dunia yang berharga €2,980M. Seorang kapten adalah sosok tangguh di tengah lapangan—tepatnya di depan gawang. Menyandang ban kapten di lengan menjadikannya disegani oleh sepuluh kawannya. Apa yang diucapkannya menjadi pedoman. Dia menjadi orang yang pertama kali disalahkan apabila tim bermain buruk. Dia yang akan merasa kecewa bila timnya kalah dan tidak kunjung bangkit sementara waktu masih bergulir di lapangan. Dia akan membela timnya bila wasit memberikan keputusan yang merugikan. Dia harus menjadi sosok yang tegar karena dia tidak mau terlihat loyo saat teman-temannya butuh motivasi. Seorang pemimpin sejati di dalam lapangan sekaligus tangan kanan pelatih.

Kini legenda itu duduk menangis saat menjalani wawancara terakhirnya karena memutuskan pergi dari klub yang sudah dia bela 25 tahun. Santo Iker menangisi kepergiannya karena dia masih mencintai klub yang membesarkan namanya dan menahbiskannya sebagai legenda hidup.

Mata itu berkaca-kaca sebelum akhirnya kepalanya tertekuk. Para wartawan takkan pernah melewatkan momen langka ini. Momen di saat legenda menahan tangisnya dengan ibu jari dan telunjuk sembari menekan kelopak mata. Momen sentimental ini tak berlangsung lama karena Casillas harus membuat pernyataan terkait kepindahannya.

Apa yang membuatmu dicintai, yang membuatmu merasa berada di rumah, yang membuatmu dianggap sebagai orang yang spesial kini tak lagi membutuhkanmu.

Semua cinta yang kau abdikan kepadanya sudah berakhir. Ini sudah bukan lagi terasa seperti diputuskan oleh pacar atau cerai saat masih ada kesanggupan untuk mengutuhkan hubungan. Jauh lebih sakit saat dianggap teman oleh orang yang disayangi tanpa tahu kapan dipacari.

Biang kerok semua ini adalah sosok bernama Perez. Orang yang masih menjabat presiden klub ini sungguh menakutkan. Kekayaannya begitu menakutkan; seolah uang yang dihasilkannya takkan pernah habis; buah kepiawaiannya mengelus bokong iblis. Dia mampu membeli pemain semahal apa pun, bahkan dengan harga yang mampu membuat seluruh rakyat Yunani merdeka dari resesi. Tapi peduli setan dengan Yunani—toh Ronaldo sudah membantu dengan membeli salah satu pulau untuk hadiah ulang tahun pernikahan agennya. Perez, pendek kata, adalah budak iblis yang lebih suka bermasturbasi dengan piala yang diangkat oleh klub yang dia danai.

Butuh bukti kalau Perez “hanya” budak iblis? Tengok logo klub Real Madrid. Logo tersebut terus berubah sejak tahun 1902 sampai 2001, tapi ada yang mencolok dari perjalanan logo itu sampai saat ini. Di logo tersebut kau tidak menemukan salib di atas mahkotanya! Spanyol merupakan tempat religius dengan mayoritas penganut Kristen. Lalu apa alasannya tidak ada mahkota atau setidaknya bulan sabit dan bintang di atas logo klub?

Tentu saja iblis yang diasuh Perez ini harus diberi sesaji setiap tahun. Jadi saat satu tahun tak mendapatkan gelar, maka pelatih klub harus segera angkat kaki, lalu dijuallah semua pemainnya, dibelilah pemain lain yang disangka lebih bagus dari pemainnya sendiri, kendati pemainnya sendiri belum tentu benar-benar jelek.

Pangeran Bernabeu, Raul Gonzalez, terpaksa turun tahta saat Perez mendatangkan mega bintang Cristiano Ronaldo dengan harga yang bisa membiayai resepsi pernikahan selama 29 hari berturut-turut dan sisanya disantunkan kepada anak yatim piatu. Iker Casillas pun didepak demi mendapatkan servis dari kiper muda yang sedang merantau ke Manchester United.

Menyinggung MU, mereka juga punya cerita menarik. Tanggal 16 Juli 1940, Hitler mengeluarkan surat perintah nomor 16 yang isinya mengadakan persiapan untuk invasi ke Inggris, meski belum memiliki rencana untuk menduduki kepulauan Inggris. Kini, tanggal 13 Juli 2015, Jerman berhasil menduduki Inggris! Tepatnya di kota Manchester, dan si Setan Merah adalah biang keroknya! Pemain baru mereka, Schweinsteiger—yang hampir seluruh fans medioker MU pasti tidak bisa menyebut atau menulisnya secara fasih—, resmi menjadi pemain Jerman pertama di MU. Lupakan Ӧzil yang juga pemain Jerman tapi blasteran Turki. Sekiranya Sweni hendak memuliakan rencana Hitler 75 tahun yang lalu, niscaya invasi ini akan berhasil karena beberapa faktor. Yang pertama adalah Setan Merah. Lagi-lagi seperti kisah Casillas tadi, setan selalu ada di mana pun. Jadi waspadalah.

Faktor kedua, Sweni tidak diberi nomor oleh MU saat memperkenalkannya. Dia lalu diberi angka 23 yang termasuk angka setan! Coba total berapa jumlah 23 ditambah 643? 666! Angka setan!

Lalu faktor terakhir adalah namanya. Karena susah dilafal, pemain ini sering dipanggil Sweni dan itu adalah kepanjangan Swastika en Nazi!!! Sungguh, ini cocoklogi yang menakutkan! Berhatilah-hatilah kalian warga Inggris terhadap serangan Neo Nazi yang baru!

Jadi terkuaklah kini kenapa Real Madrid dan Manchester United layak disebut tidak religius dan tidak memasang simbol keagamaan di logonya. Mereka berdua penyembah setan.

Kini legenda itu sudah melambaikan tangannya kepada mereka yang menganggapnya Santo. Publik mencibir bahwa pesta perpisahan legenda hidup klub kaya raya di galaksi ini begitu sederhana; bahkan terkesan tidak menghormati sang legenda hidup; seolah merelakannya untuk dicemooh dunia karena ia terlihat lemah dalam tangisan. Seperti yang dicontohkan oleh lirik di atas, bahwa apa yang kita lakukan sering diterima salah oleh dunia.

Menarik sekali saat penggalan lirik Bee Gees tadi juga dijadikan Warner Bros dan DC Comic sebagai musik latar trailer film yang akan muncul 2016 kelak, “Suicide Squad”. Titik menariknya ialah lirik ini tidak menggambarkan potongan film yang dipromosikan, tapi justru menampilkan tokoh Joker, musuh bebuyutan Batman. Di akhir trailer, Joker mengucapkan kalimat yang jauh lebih memotivasi daripada status Darwis Tere Liye; “I’m not gonna kill you. But I’m gonna hurt you … really … really … bad.”

Ya … dunia dan makhluk penghuninya tidak akan bisa membunuh kita. Tapi mereka akan menyiksa kita perlahan-lahan. Sampai kita tak pernah sadar bahwa kita sesungguhnya sudah mati.

Adios legenda.

Jangan mau bermain di Indonesia, ya. Lapangan sepak bolanya sekarang digunakan untuk angon kambing.

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian
  • heil hitler!

    • Jacob Julian

      HEIL … i gukgukguk … kemari gukgukguk… ayo lari-lari ….