Lelaki Pencari Kerja di Taman Kota

in Cerita Pendek by
dangiskai.lt

Jangan malu, bila kisah ini kau banget. Kisah tentang seorang lelaki muda berkemeja putih dan bercelana panjang yang kelelahan setelah berjalan kaki memasuki gedung-gedung sambil menenteng stopmap merah berisi ijazah dan beragam lampiran. Ia memasuki sebuah masjid untuk memanjatkan doa. Di ujung doa, lelaki muda itu menagih: “Mana keajaiban yang Kau janjikan, Tuhan?”

Kemudian ia duduk di bangku beton di sudut taman kota. Menenggak air mineral yang tersisa sedikit. Wajahnya mengilat dan kain di bawah kedua ketiaknya basah oleh keringat.

Tak lama kemudian, seorang perempuan setengah baya berkebaya lusuh datang mendekat dan menengadahkan tangan. Lelaki muda itu tertegun sejenak, lalu mengeluarkan uang seribu perak dari kantong kemeja.

“Terima kasih, Mas. Saya doakan semoga Mas cepat naik haji. Amin,” kata perempuan pengemis, hendak pergi.

“Tunggu,” sergah lelaki muda.

“Ada apa, Mas?”

“Ini uang lima ribu. Tolong doakan saya, tetapi doa yang lain,” kata lelaki muda.

“Doa apa, Mas?” tanya perempuan pengemis, sigap meraih uang dari tangan lelaki muda.

“Begini doanya: ‘Ya, Tuhan, berilah Mas ini pekerjaan yang bagus dan gaji yang gede.’ Begitu. Bisa, kan?”

Perempuan pengemis diam dan berpikir, lalu mengangguk.

“Saya doakan semoga Mas cepat naik haji,” kata perempuan pengemis.

“Kok doa itu lagi?”

“Hanya itu doa yang saya hafal, Mas,” kata perempuan pengemis, lalu ngeloyor pergi.

Lelaki muda itu kesal, mengomel, tetapi membiarkan perempuan pengemis itu pergi. Ia menenggak lagi air mineral yang nyaris habis.

Tak lama kemudian, seorang anak lelaki kecil datang menghampirinya. Anak itu bertubuh dekil, rambut acak-acakan, membawa gitar kecil, ukelele, atau apalah namanya, yang jelas alat musik petik berbentuk mungil.

Anak itu, setelah bilang permisi, memetik dawai yang tak jelas nadanya dan menyanyikan lagu yang tak tepat waktu: Begadang. Suaranya cempreng, membuat lelaki muda sigap mengeluarkan uang seribu perak dari kantong kemeja, sebelum lagu dangdut itu rampung.

“Terima kasih, Om,” kata pengamen kecil, hendak pergi.

“Tunggu,” sergah lelaki muda.

“Ada apa, Om?”

“Ini uang lima ribu. Bisa kau berdoa untukku?”

“Berdoa, Om?” tanya pengamen kecil, sigap meraih uang dari tangan lelaki muda.

“Ya, berdoa.”

“Doa apa, Om?”

“Begini doanya: ‘Ya, Tuhan, berilah Om ini pekerjaan yang bagus dan gaji yang gede.’ Begitu. Bisa, kan?”

Pengamen kecil tertawa.

“Om sudah berdoa. Tugas saya selesai. Makasih uangnya, Om,” kata pengamen kecil, lalu berlari bagai anak kijang.

Kesal lagi. Mengomel lagi. Lelaki muda membanting botol air mineral. Botol mental lalu menggelinding dan berhenti di dekat kaki seorang bapak. Si Bapak mengamati lelaki muda beberapa saat, tersenyum, lalu melangkah mendekat.

“Maaf, Mas bisa bantu saya?” tanya Si Bapak.

“Bantu apa?”

“Begini, Mas,” kata Si Bapak, lalu duduk di samping lelaki muda. “Perusahaan saya sedang butuh karyawan. Mungkin Mas punya teman, keluarga, atau mungkin Mas sendiri yang bisa mengisi lowongan pekerjaan ini.”

“Pekerjaan apa?”

“Ini, Mas,” kata Si Bapak, lalu menyerahkan selebaran. Lelaki muda membaca selebaran itu.

“Sopir truk tinja?” ujar lelaki muda mengernyitkan dahi.

“Ya, Mas. Ini profesi yang langka.”

“Tapi, saya ini lulusan D3 Akuntansi,” sergah lelaki muda.

“Tidak masalah, Mas. Untuk profesi yang langka, bagi kami, ijazah tidaklah mutlak.”

“Sopir truk tinja? Gila!”

“Tak perlu putuskan sekarang, Mas,” kata Si Bapak, lalu menyerahkan kartu nama. “Hubungi saya. Ini kesempatan emas untuk profesi yang langka,” lanjutnya tersenyum, lalu melangkah pergi.

Kesal berulang. Mengomel berulang. Lelaki muda meremas kartu nama itu, lalu membantingnya. Beberapa lama ia memandang kartu nama yang telah lecek dan tergeletak di rerumputan taman itu. Perlahan matanya yang garang berpendar harapan. Ia memungut kartu nama itu, merentangkannya, lalu membaca sederet nomor. Ia mengambil ponsel, menghubungi deret nomor itu.

“Ya, Pak. Siap, Pak. Sekarang? Baiklah.”

Lelaki muda memasukkan ponsel ke kantong kemeja, berdiri, berdoa sejenak, lalu melangkah pergi.

Tak lama kemudian, seorang lelaki muda bertubuh gemuk, berkemeja putih dan bercelana hitam, melangkah berat menuju kursi beton di sudut taman itu. Wajahnya berminyak, kain di bawah kedua ketiaknya basah oleh keringat. Lelaki muda gemuk itu membuka tas selempang, mengeluarkan stopmap merah, lalu mengipaskan ke wajah dan ketiaknya. Jangan malu, itu kau, bukan?

Sulistiyo Suparno

Sulistiyo Suparno

cerpenis kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Selain menulis cerpen, juga menulis dongeng dan cerpen anak. Karya-karyanya tersiar di berbagai media seperti Kawanku, Cempaka, Wawasan, Kompas Anak, Suara Muhammadiyah. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.
Sulistiyo Suparno

Latest posts by Sulistiyo Suparno (see all)