Pertunjukan Los Bagados De Los Pencos, Seruan Rindu Kesederhanaan

in Hibernasi by
Pertunjukan Los Bagados De Los Pencos, Seruan Rindu Kesederhanaan
Pertunjukan Los Bagados De Los Pencos. Sumber gambar: Ardy Priyantoko

Los Bagados De Los Pencos merupakan karya Puntung C.M. Pudjadi yang diceritakan kembali oleh Teater JAB. Pertunjukan yang berlangsung kurang lebih 45 menit ini sukses membuat penonton terhibur. Ruang auditorium kampus 1 UAD pada Sabtu, 8 April 2017 lalu dipenuhi oleh penonton.

Anwar yang merupakan seorang linmas (lintas masyarakat)—semacam sie keamanan di kelurahan—berniat menemui Pak Lurah. Pintu kantor sudah berulang kali diketuk, tetapi tidak juga ada jawaban. Anwar akhirnya masuk ruangan dan menemui kekosongan di sana. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan untuk mengolok-olok tingkah lurah yang selama ini semena-mena terhadapnya.

Anwar duduk di meja Lurah sambil membuka dokumen dan mencicipi teh manis yang tersedia di meja. Ia berbicara seolah dirinyalah Lurah dan di depannya ada sosoknya—yang seperti biasanya, dibentak-bentak Lurah karena dianggap tidak becus menjalankan tugas sebagai linmas.

Saat sedang menikmati kedudukan sesaatnya, tiba-tiba Pak Lurah datang sambil membentak-bentak. Sontak Anwar kembali menjadi dirinya yang patuh di balik setelan baju hijau lengkap dengan topi yang ia kenakan.

dok. Ardy Priyantoko

Kemarahan Pak Lurah bukan tanpa sebab. Ia panik karena akan ada kunjungan dari anggota DPR. Pasti mereka akan marah-marah seperti biasanya. Belum juga menyiapkan mental, tetiba rombongan DPR itu sudah datang. Mereka terdiri atas 4 orang, yakni 2 laki-laki dan 2 perempuan.

Para DPR itu mempunyai penampilan yang sangat berbeda dengan Pak Lurah dan Anwar. Dandanan mereka serba “wah” dengan tingkah yang semena-mena. Ternyata, kedatangan mereka membawa sebuah misi. Diwakili oleh satu orang yang didaulat sebagai pemimpin, misi itu pun disampaikan. Mereka merasa lelah dengan kemewahan yang dimiliki. Mereka ingin hidup seperti dulu ketika masih menjadi rakyat biasa. Hidup penuh dengan kesederhanaan dan ramah tamah.

dok. Ardy Priyantoko 2

Akhirnya, sang pemimpin meminta untuk bertukar posisi dengan Pak Lurah. Pak Lurah dilantik agar menjadi anggota DPR, sementara si pemimpin akan menjadi rakyat biasa. Di sela-sela kegaduhan karena anggota DPR terlepas dari tugas, tiba-tiba datang seorang perempuan mengenakan jas berwarna putih. Di tangannya, ia membawa beberapa baju hijau dan map evaluasi.

Setiap orang dipanggil satu per satu, mulai dari pemimpin hingga Pak Lurah. Ia memberikan baju hijau itu kepada setiap orang, disusul dengan komentar tentang akting mereka. Perempuan berjas putih itu tak lain adalah dokter yang sedang mengawasi pasien rumah sakit jiwa. Ia meminta pasiennya untuk melakonkan sebuah drama berjudul Los Bagados De Los Pencos.

Menurut Afita Nur Isnaini selaku sutradara, tema politik diambil dalam pertunjukan ini karena dirasa cukup menarik, di samping mempunyai sisi pelik. Di antaranya terkait tingkatan dalam perbuatan semena-mena. Para DPR menindas Pak Lurah. Sementara yang dilakukan Pak Lurah yang selalu tertekan adalah menindas orang yang mempunyai jawatan lebih rendah darinya, yang tak lain adalah Anwar selaku linmas. Dalam kehidupan nyata, kejadian semacam ini tentu tidak asing bagi kita.

“Los Bagados De Los Pencos bukan dari bahasa mana pun, itu hanya sekadar celetukan. Dalam pertunjukan ini, istilah tersebut memiliki sebuah arti kemakmuran dan kedamaian,” kata Afita.

Lebih lanjut Afita menuturkan, para pemain dalam pertunjukan tersebut merupakan calon anggota baru Teater JAB (Jaringan Anak Bahasa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Agar dinyatakan sah sebagai anggota, mereka harus mengikuti tiga kali proses dalam satu periode, salah satunya adalah pertunjukan ini.

“Aktor dipilih melalui casting. Dari situ bisa dilihat bakat-bakat yang memungkinkan untuk menjadi pemain. Peran mereka dibentuk pada saat latihan,” tambah Afita.

Untuk pertunjukan kali ini, proses latihan dibutuhkan selama kurang lebih satu bulan. Terkait kendala yang dihadapi, Afita menuturkan bahwa pembentukan karakter pemain cukup membutuhkan kesabaran. Namun di sisi lain, untuk sebuah pertunjukan calon anggota baru, akting para pemain sudah cukup bagus. Maka, tidak heran bila sang sutradara berharap pertunjukan ini dapat memberikan pengalaman baru bagi para pemain dan memotivasi untuk terus berkarya dengan lebih baik.

Gelak tawa juga tidak lepas sepanjang pertunjukan. Sebab, siapa yang sangka bahwa adegan yang sudah dibangun sedemikian rupa, ternyata berujung pada pasien rumah sakit jiwa.

————————————