Lukisan Sungging dan Peti yang Terbang Bersama Layang-Layang Raksasa

in Cerita Pendek by
art-mine.com

Pemuda tersebut kondang namanya di seluruh penjuru negeri lantaran kemahirannya dalam melukis. Jelaslah, ia bukan pelukis sembarangan karena pernah berjasa besar pada sang raja beserta rakyat yang dipimpinnya. Berkat lukisannya yang memiliki khasiat tersendiri, hujan kembali membasahi wilayah kerajaan yang telah lama dilanda kemarau panjang. Lukisannya mampu menghadirkan keajaiban dari langit. Berkat jasanya, pemuda tersebut ditawari jabatan sebagai punggawa tinggi oleh sang raja. Ia menolaknya dengan halus, namun kemudian ia mendapatkan tugas baru untuk melukis sesuatu yang berbeda.

Nama aslinya Udrasana atau Udrasengsana. Sejatinya ia adalah putra bungsu Prabu Parikesit, raja Hastinapura yang merupakan putra Abimanyu. Parikesit adalah cucu Arjuna dari Pandawa yang telah melegenda. Udrasana memiliki dua kakak kandung yang bernama Udrayana dan Udrayaka. Beberapa tahun silam, Udrasana—yang masih bocah—terpisah dari kedua kakaknya ketika terjadi kerusuhan berupa mengamuknya para satwa penghuni kebun binatang di negerinya. Ada konspirasi jahat antara seorang pertapa sakti dengan para jin yang membuat peristiwa tersebut berlangsung, namun tak seorang pun yang tahu saat itu. Udrasana bersama kedua kakaknya yang dikawal prajurit kerajaan sedang dalam perjalanan menuju istana, sesudah melakukan rekreasi di luar ibu kota. Di tengah jalan, mereka dihadang rombongan hewan yang mendadak liar lantaran kerasukan. Udrasana dan kedua kakaknya meninggalkan kereta kudanya menyelamatkan diri, namun mereka berlari ke arah yang tak sama. Pengawal mereka berakhir riwayat hidupnya diserbu kawanan binatang tersebut. Udrayana selamat kembali sampai di istana, sedangkan Udrayaka sempat berguru pada seorang pertapa tua bijaksana, yang pernah menjadi guru kakek buyutnya. Sekian tahun kemudian, Udrayaka kembali bersatu dengan kakaknya yang akhirnya menjadi raja menggantikan Prabu Parikesit yang padam nyawa.

Sementara itu, Udrasana sendiri melangkah gontai tanpa arah. Selama berbilang hari, putra bungsu raja Hastinapura sebatas makan dedaunan. Hingga akhirnya Udrasana menemukan kebun semangka yang begitu luas. Saking laparnya, bocah itu mengambil sebuah semangka dan memakannya dengan lahap. Tengah asyik menikmati makanan istimewanya, seseorang berkuda mendekatinya. Udrasana mengira sang pemilik kebun mengetahui buahnya dicuri dan ingin menangkapnya, namun orang tersebut justru bersikap lembut terhadapnya. Ia berhasrat mengenal bocah itu dengan baik. Udrasana berterus terang tentang dirinya. Lelaki bernama Indrabahu itu bersimpati terhadap sang bocah. Udrasana kemudian diangkat sebagai anaknya dan diberi nama baru. Indrabahu dan istrinya telah lama berumah tangga tanpa dikaruniai keturunan. Mereka berdua bersukacita akhirnya memiliki anak angkat yang dinamai Sungging.

***

Sungging telah sepuluh tahun lebih tinggal bersama orang tua angkatnya. Melukis merupakan keahliannya. Indrabahu adalah patih kerajaan Miantipura yang dipimpin Prabu Sulangkara, yang juga saudara sepupunya. Perintah sang raja bukanlah hal yang ringan bagi Sungging. Melalui Indrabahu, pemuda tersebut diminta membuat lukisan istana raja dengan segenap penghuninya. Lukisan itu mesti sama persis dengan wujud aslinya, namun penguasa Miantipura melarang sang pelukis melihat langsung rupa istana. Sungging menyanggupinya, hanya memang perlu waktu mengejawantahkannya.

“Sungguh pekerjaan yang berat, Ayah. Saya mesti melukis sesuatu yang belum pernah saya lihat dengan saksama. Namun percayalah, saya sanggup memenuhi permintaan itu.”

Sungging menjawab pertanyaan Indrabahu yang ditegur sang raja soal lukisan pesanannya. Selain melukis, pemuda tersebut tekun melakukan tirakat pula. Maka ia pun memperoleh ilham yang membuatnya mampu membuat lukisan yang dikehendaki Prabu Sulangkara. Yang aneh, salah satu lukisannya yang berupa seorang perempuan rupawan begitu mirip dengan Putri Setyawati, putri sang raja. Raut muka dan tubuh indahnya tergambar tanpa cela, sehingga tahi lalat di pipi dan di dekat buah dadanya pun terlihat jelas. Indrabahu dan istrinya takjub sekali menyaksikan hasil karya Sungging.

Semula Prabu Sulangkara mengagumi lukisan Sungging, namun ia lantas curiga, jangan-jangan sang pelukis pernah datang ke istananya. Apalagi ketika ia melihat lukisan putrinya yang persis dengan sosok sebenarnya.

“Adik Patih, bukankah anakmu belum pernah kemari?” tanya Prabu Sulangkara.

“Belum, Kakak Prabu. Ia hanya pernah melihat istana ini dari luar,” sahut Patih Indrabahu.

“Tidak mungkin ia mampu melukis sesempurna itu. Bagaimana bisa ia mencipta wajah putriku hingga tahi lalatnya segala? Bawa anakmu kemari selekasnya!”

Indrabahu kalut menghadapi reaksi sepupunya. Ia segera pulang dan memberitahukan masalah yang ada. Ibu angkat Sungging pilu membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa putra kesayangannya. Sungging sendiri tidak terkejut dengan kecurigaan sang raja.

“Memang saya yang bersalah. Demi menggembirakan hati sang raja, saya melakukan tirakat sekian lama. Dan hasilnya justru sebuah fitnah yang tak beralasan,” kata Sungging pahit. Indrabahu dan istrinya tak mampu berkata-kata, kesedihan mendalam tampak dari wajah mereka.

“Baiklah, saya bersedia datang sendiri menghadap Prabu Sulangkara. Ayah tak perlu mengantarkan saya,” ucap Sungging yang kemudian berpamitan menuju istana.

Setibanya di hadapan pemimpinnya, Sungging bergeming belaka ketika sang raja menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan yang tak masuk akal. Ia memilih menutup mulutnya karena sadar yang dikatakannya tak bakal dipercaya. Hal itu membuat sang raja murka dan memerintahkan Sungging dipenjara. Ia berhasrat memberi hukuman kejam bagi si pelukis.

Tak lama kemudian, ada sebuah perintah aneh dari penguasa Miantipura. Ia memerintahkan pembuatan layang-layang raksasa. Mereka yang membuatnya tidak diberi tahu untuk apa. Beberapa pekan berselang, jadilah layang-layang raksasa siap diterbangkan. Prabu Sulangkara datang mengemudikan kereta kudanya sendiri. Ia memerintahkan para prajurit agar mengangkat sebuah peti dari dalam keretanya. Peti tersebut diikatkan kuat-kuat pada ekor layang-layang raksasa. Tujuh ekor kuda tangguh disiapkan untuk menarik layang-layang agar bisa terbang. Begitu kuda dipacu, mengudaralah benda besar itu. Rakyat bersorak gembira melihatnya dan mengira penerbangan layang-layang raksasa sekadar hiburan bagi mereka. Ternyata peti yang terikat di ekornya membuat layang-layang rada susah mengangkasa. Prabu Sulangkara pun mengeluarkan kesaktiannya. Angin pun bertiup kencang membuat layang-layang raksasa terbang meninggi menjauhi wilayah Miantipura.

***

Prabu Udrayana tengah membonceng Udrayaka mengendarai kuda sakti peninggalan Arjuna, kakek buyut mereka. Sang kuda membawa kakak beradik tersebut sampai di hutan yang merupakan perbatasan Hastinapura dengan kerajaan tetangga. Tiba-tiba kuda sakti menghentikan langkahnya dan matanya terarah pada sesuatu yang bergelantungan di atas sebuah pohon yang tinggi. Ternyata benda itulah peti yang diikatkan pada layang-layang raksasa yang telah jatuh dari angkasa. Udrayaka memiliki firasat, sesuatu yang penting ada di dalam benda yang mereka temukan.  Ia menurunkan peti dengan hati-hati dan membukanya pelan-pelan. Betapa terperanjatnya Udrayaka maupun Udrayana menyaksikan sejumlah potongan tubuh manusia berada di dalam peti. Anehnya, tiada darah yang mengalir dari mayat tersebut.

“Kesalahan apa yang diperbuatnya hingga dihukum begitu keji? Semoga aku dijauhkan dari hal serupa itu,” ujar Udrayana pilu.

“Kita mesti menyelidiki hal ini hingga tuntas. Rada berat melakukannya, kecuali orang tersebut dapat hidup kembali,” jawab Udrayaka tetap dengan tenang hati.

“Bisakah ia hidup lagi?”

“Saya akan mengupayakannya. Semoga Dewata memperkenankannya.”

Udrayaka mengeluarkan tubuh korban mutilasi satu demi satu dari dalam peti dan mencoba menyusunnya sebagaimana tubuh manusia selayaknya. Ia mengeluarkan bunga Wijayakusuma pemberian gurunya dengan kesaktiannya, lantas mengusapkannya ke sekujur tubuh tersebut. Udrayaka dengan dibantu kakaknya kemudian berkonsentrasi memohon petunjuk Yang Mahakuasa. Keajaiban serta-merta turun dari langit. Tubuh itu menjadi utuh, lalu mulai bergerak-gerak. Udrayaka membuka matanya dan menghentikan semadinya begitu mendengar suara isak tangis.

“Hei, kau hidup kembali. Berterima kasihlah pada-Nya yang berkenan mengembalikan jiwa ragamu bersatu lagi. Siapa gerangan sesungguhnya dirimu, Anak muda?” kata Udrayaka. Pemuda tersebut menghentikan tangisnya dan menceritakan riwayat hidupnya secara panjang lebar hingga ia dimutilasi.

“Jadi, kau Udrasana? Tidakkah kau ingat, aku Udrayaka, kakakmu!”

“Oh, jadi ini Kak Udrayaka?” ucap pemuda tersebut sedikit ragu.

“Iya, Adikku. Dan inilah Kak Udrayana, kakak sulung kita yang telah menjadi raja Hastinapura.”

Udrayaka menanggapi keraguan adiknya seraya menunjuk ke arah Udrayana.

“Oh, betapa besar rasa syukurku hari ini. Akhirnya kita bisa berkumpul kini,” ujar Udrayana. Mereka bertiga saling berpelukan dengan rasa haru yang luar biasa. Setelah tercerai-berai sekian lamanya, takdir kembali mempersatukan Udrayana, Udrayaka, dan Udrasana. Sempat tebersit duka manakala mengingat ayah mereka telah tiada, namun tetaplah mereka bisa bersukacita pada gilirannya.

 

# Cerpen ini terinspirasi dan merupakan hasil adaptasi dari komik wayang Prabu Udrayana karya R.A. Kosasih.

Luhur Satya Pambudi

Luhur Satya Pambudi

Lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Tribun Jabar, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bali Post, dan sejumlah media lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).
Luhur Satya Pambudi

Latest posts by Luhur Satya Pambudi (see all)