Maaf, Tapi Kamu Harus Musnah

in Cerita Pendek by
tate.org.uk

Siapa itu Tukang Parkir?

 Budi kecil sedang membidik, dia siap-siap melepaskan peluru kelerengnya dari jemari tangan yang membentuk menyerupai pistol. Ketika sudah mantap hatinya, ditembak peluru kelereng itu dengan kekuatan yang dia pikir cukup untuk mengenai sasaran. Kelereng yang ditata paling ujung dan bersender uang kertas 5000 di depannya. Namun malang, kelereng yang dia tembak bukannya kena kelereng bulat malah kena kepala Botak. Budi salah mengira, dia pikir Botak adalah sahabatnya yang tak akan marah karena perkara kelereng yang terbang tidak ke sasarannya. Botak mendorongnya hingga terjatuh dan menuduhnya sengaja. Budi hanya cengengesan karena kepala Botak lebih besar dari kepalanya. Botak mengusir dia dari permainan itu. Budi yang sudah kehabisan uang tidak bisa menolak dan pergi. Masih dengan senyum cengengesan, tanda tak berani melawan

Budi berjalan menuju toko RAMADANI di seberang tempatnya bermain kelereng. Dia duduk di atas motor matic khas emak-emak, lalu terlihat kecewa karena uang untuk membeli bahan prakarya sekolah sudah habis tak tersisa.

Di lain sisi terlihat beberapa anak kecil yang lain tampak bermain lebih sehat. Kejar-kejaran tanpa tahu apa yang mereka perebutkan. Sambil melihat Budi berpikir, kasihan sekali hidup mereka, tanpa tujuan hanya berlari-lari. Budi merasa bangga ketika melihat teman-temannya di depan, secara kompetitif bermain kejuaraan kelereng yang hadiahnya disandarkan di depan setiap kelereng yang sudah ditata membujur sedemikian rupa.

Tapi kebanggaan Budi tidak menghilangkan fakta akan kekecewaannya telah kalah telak hari ini dan persahabatannya dengan si Botak mungkin renggang kemudian. Dalam semua lamunan penyesalan ada sebuah tangan yang menepak bahu Budi. Seorang ibu-ibu berkerudung meminta Budi untuk turun dari motornya. Budi yang kaget merasa tak enak langsung turun dari motor. Dia berusaha membantu ibu-ibu itu untuk mengeluarkan motor dari pelataran toko. Ketika ingin pergi, ibu-ibu berkerudung itu memberikan uang pecahan 2000 kepada Budi. Budi menerimanya dengan kebingungan. Belum sempat dia bertanya, ibu itu sudah melenggang pergi menuju kehidupan yang fana.

Budi melihat uang itu lagi, dia melihat di seberang jalan teman-temannya masih kompetitif bermain kelereng dan si Botak yang sinis melihatnya. Dia melihat di sisi lain anak anak sedang berlari-lari tidak jelas di depan toko Pak Haji Maman. Di sana harusnya Budi membeli bahan bahan prakarya.

Budi melihat uang 2000 itu, lalu memutuskan untuk pergi ketempat teman temannya bermain kelereng, mencoba peruntungannya lagi hari ini. Siapa tahu menang dan dapat mobil, dia bisa membuat bangga keluarga.

Apa yang dilakukan Tukang Parkir?

 Kamu terlalu liar untuk aku sebut sebagai manusia. Terlalu liar jika aku menceritakannya sebagai manusia. Supaya lucu dan terlihat menjual kamu kubinatangkan saja. Selanjutnya aku akan sebut kamu itu binatang. Diriku akan kubinatangkan juga tapi hanya sebagai metafora. Sementara kamu memang binatang.

Pagi-pagi ketika aku bangun kuberanikan diri. Meskipun aku takut ketinggian tetaplah aku harus terbang. Aku takut menghadapi dunia luar yang luas. Saking luasnya aku takut tersesat. Jika tersesat aku tidak bisa pulang, lalu kehilangan tujuan.

Kuberanikan membuka jendela, lalu kulihat matahari sudah melambai, tanda dia akan pergi mungkin selamanya. Aku harus segera pergi, karena tidak bisa aku tidak pergi sama sekali, bisa-bisa aku kekurangan vitamin D dan mungkin kemudian sakit dan mati. Tanpa meninggalkan apa-apa.

Tapi bagaimana jika aku pergi tiba-tiba sayapku rontok? Bagaimana jika aku pergi tiba-tiba angin terlalu kencang dan aku masuk angin? Bagaimana jika aku tidak bisa terbang dan ternyata aku burung yang tidak bisa terbang? Apakah aku hanya ayam? Ayam yang hanya enak untuk digoreng.

Tidak untuk hari ini, tekadku sudah bulat aku harus berubah. 1… 2… 3…. Aku melompat beranjak pergi dari kamarku. Tidak terlalu buruk, dunia luar tidak terlalu buruk seperti yang diceritakan di film. Perasaanku sangat senang karena kekhawatiranku tidak terjadi.

Lalu aku mendarat untuk sedikit merasakan jalanan. Kulihat sekitar banyak sekali yang hilir mudik. Aku tidak berani bertanya pada mereka. Aku hanya penakut di antara pemberani yang lainnya.

Tiba-tiba ada yang menyentuhku. Mukanya seperti Kecoa. memang dia Kecoa. Dia meminta makan kepadaku. Padahal aku sendiri belum makan dari pagi. Aku menolak permintaanya. Tiba-tiba dia marah. “Ya kalo lo nggak mau ngasih jangan parkir di sini!” Siapa yang parkir pikirku, wong aku cuma berhenti. Entah apa yang merasuki binatang ini. Padahal sedetik sebelumnya dia tersenyum, sekarang dia marah-marah. Sungguh bagaikan pemeran film profesional, bisa bergonta-ganti emosi sepersekian detik melebihi kecepatan cahaya.

Karena takut aku pun ingin beranjak pergi dari tempat itu, tapi dia memegang sayapku, kemudian mendorongku. Apa salahku hingga dia berbuat seperti ini? Lalu dia memperkosaku sedemikian rupa. Dalam kejadian ini aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku hanya diam, hanya bisa memberi apa yang dia mau.

Aku pulang berjalan kaki. Sayapku sudah hilang semua. Sayap yang indah, harapanku satu-satunya untuk bertahan hidup berpura-pura untuk bisa terbang. Selamat, Kecoa, kau telah membuatku lebih takut kepada dunia ini. Aku tidak kan lupa, yang kutahu nama Kecoa ini adalah Budi. Selamat!

Kenapa Ada Tukang Parkir?

 Ellysa sedang dilanda kemalangan tiada tara, beberapa kali mengajukan tapi semua judul skripsi ditolak pembimbingnya. Dia makin ragu apakah pilihannnya untuk bersekolah film dulu tepat di kehidupannya sekarang. Dia mulai menyesal lebih memilih seni daripada ilmu pasti. Dia berpikir apakah judul “Studi banding kehidupan masyarakat suku pedalaman dalam karakter drama ANYONGHASEO” belum cukup bagus? Belum cukup memuaskan pembimbing? Padahal dalam kehidupan ini kekerasan yang dipadukan kelembutan pastilah oke.

Karena pusing saat panas panas, Ellysa berpikir untuk pergi keluar mencari minuman dingin di tengah siang bolong. Daripada nitip teman yang mau keluar, dia berpikir untuk jalan sendiri siapa tahu dapat inspirasi.

Ellysa mengeluarkan motor dari kostan, dia mengendarai motor keluar gang. Melihat pemandangan pemukiman padat siang-siang banyak orang lalu-lalang. Yang perempuan sedang mencuci baju di pinggir jalan, yang laki-laki tanpa baju sedang judi di pinggir jalan.

Ellysa berhenti di minimarket langganannya, ya memang itu yang paling dekat. Ketika dia memarkirkan motornya dia melihat Bapak Budi sedang melamun melihat jalanan yang dilewati motor riwa-riwi. Padahal Ellysa hampir jatuh karena sedikit tak konsentrasi saat berhenti, tapi Bapak Budi seperti tidak peduli. Ellysa akhirnya tidak peduli juga dengan orang yang tidak peduli, dia lebih memilih masuk ke minimarket dan membeli minuman dingin.

Ellysa mengambil minuman dingin dan langsung meminumnya. Saat ingin membayar, kasir sedikit menegurnya karena meminum minumannya sebelum membayar. Ellysa sedikit terkejut tapi dia pikir dia tidak perlu balik menegur yang menegurnya. Dia harus sabar siapa tahu Tuhan melihat dan memberikannya inspirasi.

Ellysa keluar dari toko, dia masih melihat Bapak Budi melamun. Ketika ingin mengeluarkan motor dari pelataran tiba-tiba Bapak Budi bangkit terkaget dari lamunannya dan memasang senyum palsu, dia bantu Ellysa mengeluarkan motor. Ellysa sedikit kesal karena bantuan itu tidak diperlukannya. Ellysa menatap Bapak Budi yang sudah memasang senyum palsunya, seperti meminta sesuatu. Ellysa yang kasihan akhirnya memberi uang 2000 kepada Bapak Budi. Bapak Budi mengucapkan terima kasih dan membantu Ellysa menyebarang jalan. Sambil berlalu dalam berjalan pulang dia berpikir kasihan juga laki laki itu seperti tidak punya tujuan hidup. Masih mending dirinya jika keterima judul skripsi, dia akan segara wisuda.

Di mana Tukang Parkir Bekerja?

 Kakak Budi sedang bediri di atas mobil jip, menyapa para pejalan kaki yang menyapanya dengan kegirangan. Banyak ibu-ibu minta foto kepadanya. Lalu dia berdiri di atas panggung dangdut, seraya ikut bergoyang bersama penyanyinya. Kemudian dia ikut bernyanyi, suaranya membuat orang-orang menangis. Kemenangan ada di tangannya. Sekarang dia menjadi nomor satu di kota itu, kemenangan politik ini menjadikannya seperti raja. Lelah dia bersenang-senang dengan para masyarakat pulanglah dia membawa penyanyi yang sudah dia bayar untuk pekerjaan ekstra. Di rumah dia memainkan jari jemarinya di tengah selangkangan penyanyi. Lalu mereka berhubungan badan. Sudah bosan dia dengan penyanyi, dia panggil anak pembantunya yang cantik jelita, lalu berhubungan badan bersama, bertiga. Istrinya yang melihat hanya mampu bergabung dalam kesenangan itu. Mereka jadi berempat. Senang sekali hidup Kakak Budi.

Suara motor ingin keluar dari pelataran toko melesak di telinga Kakak Budi. Dia bubarkan sedemikian rupa angan-angannya. Lalu mencegat motor itu dan tersenyum dengan pikiran, “Ayo beri aku uang, supaya nanti bisa mabok dan mimpi yang indah indah.” Budi menerima 2000 keseratus kalinya. Dia pulang dengan senang tapi istri dan anaknya belum pulang.

Kapan Tukang Parkir Lahir?

 Rani bangun dari tidurnya, untuk mengumpulkan nyawa dia pegang hp lalu membuka media sosial untuk mengintip kehidupan teman-teman. Betapa kasihan dia terhadap Juliet yang sedang bersedih karena habis putus cinta dengan Romeo. Karena Rani sangat merasa kasihan, tergerak hati untuk membantu sahabatnya ini. Lalu nyawanya terkumpul dengan segala niat yang dia pikir baik.

Dia datang ke rumah Juliet lalu segera izin masuk ke dalam dan mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. Dia melihat Juliet sedang melakukan selfie dalam berbagai gaya tapi yang pasti semua diekspresikan dengan bahagia. Rani berpikir sahabatnya ini sudah gila, dia langsung memeluk.

Ketika dalam pelukan setiap manusia merasakan kenyamanan. Dalam kenyamanan ini Rani teringat mempunyai sahabat bernama Budi. Bukankah Budi juga sedang lajang sekarang? Sehabis lulus kuliah bukankah dia ini tidak ada tujuan? Kasihan sekali dia. Rani berpikir bukankah begitu indah jika Juliet dia pertemukan dengan Budi? Juliet akan senang karena hatinya ada yang mengisi. Budi akan mempunyai tujuan hidup karena Juliet suka menyuruh-nyuruh.

Rani mengajak Juliet untuk pergi dari rumahnya. Juliet sedikit kebingungan tapi dia iyakan saja. Dalam perjalanan dia menghubungi Budi, bahwa dia akan main ke rumahnya. Tiba di sana Budi sedang bermain judi kartu bersama teman-teman, di ruang keluarga. Juliet merasa terkesima karena saat itu tampak Budi sedang dalam keadaan kacau, sedikit marah dengan sebatang rokok menyangkut di mulut, membalas salam Rani sekadarnya. Rani mengenalkan mereka berdua.

Tak lama beberapa bulan akhirnya Budi dan Juliet menikah. Dalam pernikahan itu terlihat wajah Budi dan Juliet yang tidak percaya bahwa mereka sudah duduk berdua dan berjanji untuk hidup semati Bersama. Juliet masih tidak percaya akhirnya dia akan menjadi ibu rumah tangga, tidak perlu bekerja tinggal minta uang bulanan kepada suaminya. Budi sedang berpikir, berarti mulai sekarang dia harus menghasilkan duit secara halal. Ngerampok kali, ya. Eh, dia kan punya bakat jadi tukang parkir. Kenapa tidak?

Di tengah tengah pernikahan itu Rani sedang berdiri membawa minum melihat di ujung kiri Ellysa sedang berdiri sendiri dan Botak di ujung kanan juga sedang berdiri sendiri. Dia berpikir betapa bahagianya mereka jika menikah. Tanggung jawab kan dipikul berdua.

Jika tidak ada Tukang Parkir?

 Budi memilih kabur dari pekerjaan yang dia senangi. Karena mulai terdengar desus bahwa pemerintah membuat gerakan Petrus Part II. Gerakan ini disasarkan khusus kepada para tukang parkir liar yang sering minta uang 2000 kepada para pengendara motor. Gerakan ini sudah menewaskan beberapa rekan Budi. Setelah sekian lama bekerja sesuai passion yang dia punya, akhirnya Budi merelakannya. Budi yang tidak punya bakat sedikit kebingungan di awal, karena dia harus menghidupi anak dan istrinya.

Sembari naik motor dia mencari ide, tapi ide tidak akan ketemu jika dia berjalan terus. Dia putuskan untuk berhenti siapa tahu ide menghampiri. Budi berhenti di sebuah minimarket, di situ masih ada temannya, Susanto, yang masih berani menjadi tukang parkir. Dia melihat Susanto dengan gemulai memandu masyarakat berparkir di pelataran minimarket. Susanto yang melihat Budi merasa senang karena sudah jarang bertemu.

Mereka pun berbincang-bincang. Susanto bercerita bahwa dia bangga terhadap pekerjaannya ini, bahkan mati pun dia tidak keberatan. Budi merasa iri dengan keberanian Susanto. Budi bercerita bahwa dirinya sedang dilanda kemurungan, di rumah istrinya cerewet sekali karena setiap hari selalu bertanya-tanya kapan beli motor baru. Anaknya juga sering rewel karena tidak makan steak lagi. Susanto mengelus-ngelus pundak Budi. Budi harus bersabar, karena dalam kehidupan ini tidaklah selalu adil, setiap manusia pasti— “DWAARRR!!!” Susonto tersungkur. Budi kaget, tapi tidak teriak, hanya diam. Kepala Susanto berlubang, berdarah. Budi berdiri mundur ke belakang, sekalian masuk ke minimarket. Lalu terlihat orang berpakaian merah-merah dengan senjata laras panjang datang, mereka membungkus tubuh Susanto dengan karung goni. Mereka bawa tubuh itu dan dilemparakan ke dalam bak pick up, di situ sudah ada beberapa karung yang berisi tubuh lain juga.

Di dalam toko Budi masih tidak percaya, tapi hanya bisa pura-pura. Ketika dia ingin mengambil minum, dari kejauhan dia melihat kasir sedang dirampok oleh seseorang. Dia pikir rampok ini berani sekali merampok siang hari begini. Di depan sana juga pasukan Petrus Part II belum pergi melakukan patroli. Perampok itu pergi dengan segenggam uang yang banyak. Budi berpikir, “Mati dia”.

Perampok keluar dari toko kemudian dia berpapasan dengan pasukan Petrus Part II. Perampok saling pandang dengan salah satu anggota pasukan. Anggota pasukan yang saling pandang mengalihkan pandangannya ke salah satu anggota yang lain juga. Dalam persekian detik perampok itu pun pergi lari leluasa. Sementara pasukan khusus Petrus Part II naik mobil ingin berkeliling lagi. Budi seperti tersentak kaget, dia mendapatkan ide!

Solusi?

 Ketegangan antara Korea Utara dan Amerika semakin memuncak, seperti gunung yang akan meletus, sedikit ditekan maka perang dunia ketiga pasti akan terjadi. “Kami tidak bisa tinggal diam jika dilecehkan terus-menerus,” kata Kim Su Ju, juru bicara Korea Utara ketika sedang berkunjung ke Korea Selatan. Sementara saat ini militer Amerika sudah bersiap-siap menginvasi Korea Utara. “Jika ditekan terus kami tidak bisa tinggal diam,” kata William Canada, Perdana Menteri AS, di kediamannya. Masing-masing negara sudah menetapkan target nuklir mereka.

Dalam beberapa pekan ini persitegangan kedua negara makin hebat. Hal ini disebabkan, ketika pertandingan bola persahabatan antara kedua negara adidaya ini berakhir dengan kericuhan. Pertandingan yang tadinya berjalan lancar dan khusyuk mulai terlihat aneh ketika pemain dari Amerika mengolok-ngolok salah satu pemain Korea Utara dengan sebutan “Dasar Komunis”. Tak lama setelah itu terjadi kerusuhan hingga akhirnya sekarang kedua negara memutuskan untuk perang.

—————————————————————————————-

Ibu Budi sedang memasak di rumah dengan bahagia, senyumnya bagaikan perempuan yang telah hilang keperawanan tentu saja oleh si suami.

Dia kupas wortel dan kubis, dia pisahkan dari ayam yang sudah ia rebus, dicincang-cincang daging ayam, lalu disatukan dengan rebusan sayur. Dalam hatinya pasti ini akan menjadi sop ayam paaaaaling enak. Bapak Budi tiba-tiba pulang ke rumah dalam keadaan marah-marah, masuk tidak memakai salam langsung gebrak meja seolah meja manusia.

Dia marah-marah karena hari ini satpol PP datang ke tempat kerja dan memergokinya sedang bekerja sebagai tukang parkir. Ibu Budi yang tadinya masih dalam keadaan senang sedikit bingung. Dia beranikan diri untuk meradakan emosi suaminya. Tapi bukannya reda, Bapak Budi malah melampiaskan kemarahan kepadanya. Dia tuduh istrinya tidak becus, kerjanya hanya memasak, tidak membantu ekonomi keluarga. Mereka akhirnya cekcok. Ibu Budi juga tak kalah marah, apalagi Bapak Budi, segala yang bisa dia banting dipecahkan.

Bacot mulut mereka terdengar sampai luar. Adik Budi yang sedang bermain kelereng di luar rumah tertarik perhatiannya. Dia putuskan untuk mengakiri permainan itu dan pulang ke rumah. Di dalam rumah dia sudah melihat ibunya tersungkur. Bapaknya berdiri menyerupai setan. Bapaknya berteriak, “Lo Pikir Jadi Tukang Parkir Gampang???!!!” Ibu Budi hanya bisa menangis terisak-isak tanda kekalahan.

Adik Budi sangat-sangat murka dengan kelakuan bapaknya. Bukan kali ini saja dia melihat ibunya dikasari. Setiap hari ketika pulang bekerja bapaknya selalu marah marah. Satu-satunya yang bisa membuat ibunya bahagia adalah ketika dia berprestasi. Seperti hari ini, saking senangnya dia diizinkan untuk tidak belajar.

Adik Budi pergi dari rumah itu, dia berlari sembari sedikit mengeluarkan air mata. Dia masuk ke dalam warnet langganannya yang sudah penuh dengan para gamer warnet. Dia cari komputer yang sedang kosong, ketemu, dan lalu membuka halaman Google. Dia ketik “BAGAIMANA CARA MELAKUKAN HACK SATELIT NUKLIR”. Lalu dia mulai pelajari satu-satu artikel yang membahas itu. Dia terapkan salah satu cara. Ketika tinggal menekan tombol hack, tiba-tiba lampu mati. Para gamer pun kecewa.

———————————————————————————-

 Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un VI berdiri di hadapan para prajurit yang berbaris rapi. Tepat di depannya sudah ada tombol untuk meluncurkan nuklir ke Amerika. Sementara di gedung putih, Presiden Amerika Michael Bay dan jajarannya dalam keadaan saling diam, duduk memutari meja bulat yang di tengahnya terdapat tombol untuk meluncurkan nuklir juga. Dengan semangat yang hebat, Korea Utara meluncurkan nuklir. Pemimpin Amerika dengan sedikit ragu setelah dibantu akhinya menerkan tombol nuklir juga.

5……

4……

3……

2……

1……

Nuklir meluncur dari masing masing negara. Diperingatkan kepada masyrakat masing-masing negara untuk segera berdoa supaya masuk surga. Karena evakuasi sudah sangat tidak memungkinkan. Diperkirakan dalam waktu setengah menit kedua negara itu akan seperti neraka. Masing-masing warga hanya berdiri di tengah perjalanan, berdoa dalam keyakinannya masing-masing. Lima menit sudah berlalu, tapi tidak terjadi apa apa. Semua mulai bingung dan bertanya. “Di mana tempat laundry?”

Nuklir mendarat di Jakarta. Getarannya menggetarkan semua jiwa, hingga jiwa-jiwa itu langsung melesat keluar dari raganya. Jakarta lenyap dalam sekian detik. Nuklir Amerika meratakan tanahnya, nuklir Korea Utara membinasahkan manusianya, termasuk semua tukang parkir yang ada di jagat raya.

Lalu bagaimana dengan manusia-manusia lainnya? Ya tentu saja binasa juga, karena tukang parkir. Maka dari itu, ayo kerja!

Agus Edi Santoso

Agus Edi Santoso

Filmmaker, Daun Rantai Otak Studio.
idesuga@gmail.com
Agus Edi Santoso

Latest posts by Agus Edi Santoso (see all)