Madura Dinilai, Madura Menilai

in Rehal by

Judul               : Tanjung Kemarau

Penulis             : Royyan Julian

Penerbit           : Grasindo, Jakarta

Tahun Terbit    : Oktober, 2017

Tebal               : 254 halaman

ISBN               : 978-602-452-352-7

Dalam Cengkeraman Stereotip

Menempati posisi sebagai suku terbesar keempat di Indonesia, tidak serta-merta membuat Madura berada di zona yang menyenangkan. Hal ini terbukti dengan masih menguatnya stereotip negatif atas orang Madura. Pada saat yang sama, jarang sekali terdengar stereotip positif tentang orang Madura, kecuali kesan jenaka dan pekerja keras.

Stereotip adalah perkara politis. Sebagaimana diakui Elias N. (1976), apabila menyangkut stereotip orang luar, ciri-ciri “jelek” sering dibentuk dengan mengambil contoh individu “terburuk” dalam kelompok tersebut, sedangkan stereotip mengenai kelompok sendiri, ciri-ciri baik dipetik dari orang dalam yang “terbaik”.

Hal senada juga diakui oleh Huub de Jonge (2011); bahwa stereotip bukanlah pengamatan yang bebas nilai, melainkan ciptaan akal, suatu kreasi yang secara sadar maupun tidak sadar dikonstruksi. Dengan kata lain, stereotip sarat akan kepentingan dan karena itu cenderung subjektif.

Apabila menoleh pada sejarah masa kolonial, kita mendapati fakta betapa orang Eropa (penjajah) mengaku sebagai manusia yang lebih mulia daripada “rakyat pribumi”, yang mereka bedakan derajatnya berdasarkan suku. Politik citra dan pembedaan ini sengaja dilakukan untuk mengerdilkan mental (menjajah pikiran) rakyat pribumi.

Stereotip negatif terhadap orang Madura, sebagaimana dibenarkan Huub de Jonge, telah dibentuk oleh Belanda saat menjajah nusantara. Mereka selalu menilai orang Madura berdasarkan perbandingan (baca: pembedaan) dengan kelompok-kelompok suku di sekitar, terutama orang Jawa dan Sunda. Alhasil, orang Madura digambarkan kasar, kaku, berani, dan keji. Hal ini dilakukan demi memecah belah Madura dengan suku lain di nusantara.

Ironisnya, berbagai stereotip atas Madura dewasa ini tidak banyak bergeser dari citra yang ada pada zaman penjajahan. Kendati tindakan diskriminatif kesukuan yang berbau rasisme cenderung kehilangan tempat di Indonesia, masih banyak media yang me(re)produksi stereotip kekerasan orang Madura. Misalnya, pemberitaan carok dan fenomena premanisme di Madura yang dibesar-besarkan. Padahal, perkelahian dan fenomena premanisme tidak hanya terjadi di Madura.

Bahkan, penelitian yang sering kali mengaku menjunjung tinggi objektivitas sekalipun, ternyata gagal melepaskan diri dari stereotip kekerasan yang kadung dilekatkan kepada orang Madura, sebagaimana dilakukan Elly Touwen-Bouwsma (1989). Akibatnya, stereotip kekerasan ini tampak sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan. Fakta bahwa orang Madura menjunjung etika andhap asor (sopan santun) pun luput dari pembahasan.

Menurut A. Dardiri Zubairi (2013), setidaknya ada dua hal yang menyebabkan orang Madura belum bisa lepas dari cengkeraman stereotip kekerasan. Pertama, orang Madura terperangkap dalam cara pandang untuk bersikap keras dan berani, seperti yang dicitrakan “pihak luar”. Citra keras dan berani segera meledak ketika menghadapi masalah. Dengan demikian, orang Madura yang low profile dan santun, terkadang dipertanyakan ke-Madura-annya.

Kedua, orang luar memerangkap orang Madura untuk tetap terpenjara dalam citra keras yang sudah terbentuk. Orang Madura yang sudah telanjur dicap keras, nama etnisnya dicatut oleh “pihak luar”, untuk menakut-nakuti atau bahkan untuk berbuat kejahatan. Misal, celurit sebagai salah satu ikon senjata orang Madura, sengaja dipakai untuk tindak kriminal. Hal ini jelas memperkeruh citra orang Madura.

Terlepas dari penyematan stereotip secara tidak fair tersebut, tidak berarti bahwa “dunia keras” di tengah-tengah masyarakat Madura menjadi ternafikan. Sebagai pemerhati budaya dari Madura, A. Dardiri Zubairi tidak menampik keberadaan dunia abu-abu bajing (semacam preman) yang memang dekat dengan kekerasan dan kriminalitas. Tetapi, sekali lagi, bukankah preman tidak hanya ada di Madura?

 

Kompleksitas Manusia Madura

Kompleksitas manusia Madura dikisahkan secara baik oleh Royyan Julian dalam novel Tanjung Kemarau. Penulis kelahiran Pamekasan ini memanfaatkan olah imajinasi, kelihaian menganyam bahasa, dan kepekaan membaca serta membubuhkan simbol, untuk mengingatkan pembaca supaya tidak terburu-buru menilai manusia Madura. Sebab, ketergesa-gesaan hanya akan menghasilkan kesimpulan yang parsial.

Tokoh-tokoh yang memainkan peranan penting dalam novel Royyan Julian tidak bisa dinilai secara sepintas lalu. Karena, selalu terselip kejutan di balik tampilan tokoh. Menarasikan konflik politik yang penuh intrik, konspirasi, dan pengkhianatan—yang dibumbui kisah sihir, dunia perbanditan, kerusakan ekologi, dan pengalaman ilahiah yang memabukkan—Tanjung Kemarau mengabarkan kompleksitas kehidupan budaya dan keberagamaan manusia Madura.

Tanjung Kemarau merekam segala peristiwa dan persoalan yang terjadi selama Walid harus pulang kampung setelah sebelumnya merantau ke Yogyakarta. Di kota pelajar, Walid sempat terlibat kisah asmara dengan Risti, mahasiswa Teologi di Universitas Sanata Dharma yang memuja kebebasan. Berdiskusi dengan Risti memaksa Walid untuk berpikir ulang tentang makna keberagamaan.

 

“Aku melihat banyak orang beragama dijangkiti penyakit obsesif-kompulsif. Mereka beribadah dengan rutin dan merasa cemas jika meninggalkannya… Akhirnya, beribadah bukan karena digerakkan oleh perasaan tulus dan cinta. Beribadah karena rasa takut dan mengharap sesuatu.” (hlm. 144-145).

Walid mengaku mendapat pelajaran berharga dari Risti. Dari Risti pula ia kemudian mengenal cinta, tidak takut bercita-cita hidup secara bebas, hingga berujung patah hati setelah menjalin hubungan yang rumit. Meski demikian, kerumitan hubungan dengan Risti masih belum ada apa-apanya dibandingkan peliknya persoalan yang harus dihadapi Walid sesampainya di kampung. Apalagi, orang-orang di kampung itu bermulut ember. Berita dapat merambat melebihi kecepatan setan. (hlm. 18).

Mula-mula, Walid terperangkap dalam hubungan serong dengan Ria (nama aslinya Raudah), mantan biduan yang merupakan istri Gopar, bekas bajing. Siapa pun tidak akan menyangka kalau Walid akan bertindak sejauh itu. Mengingat Walid merupakan putra seorang ustadz, yang juga mengajari anak-anak membaca al-Qur’an di langgar (surau) Hujan Tempias.

Selain itu, Gopar terkenal sebagai seorang bajing sakti yang telah malang melintang di dunia hitam. Bajing adalah dunia yang kejam, berbahaya, penuh risiko, dan mematikan. (hlm. 77). Maka, Walid hanya menceritakan perselingkuhan itu kepada Kholidi, sahabatnya sejak kecil yang diam-diam menaruh cinta kepadanya.

Persoalan Walid kian runcing manakala ia terperosok ke dalam pusaran politik desa. Ra Amir, putra kiai yang menjadi kepala desa, meminta Walid untuk menjadi tim sukses menghadapi kubu Gopar di ajang pemilihan kepada desa. Ra Amir sepenuhnya sadar betapa tingginya “nilai tawar” Walid sebagai sarjana lulusan Universitas Gajah Mada. Masyarakat Madura menilai orang dari pendidikan dan titel akademiknya, menggeser gelar kebangsawanan. (hlm. 130).

Terbukti, keberadaan Walid di antara tim sukses berhasil menerangkan kembali pamor Ra Amir yang sebelumnya sempat redup. Sejak awal, Ra Amir sadar bahwa status sosialnya sebagai putra kiai tidak cukup ampuh untuk menyaingi karisma Gopar. Ra Amir ragu, apakah zaman sekarang kiai masih dianggap sakral? Sebab telah banyak kiai terjerat kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme. (hlm. 129). Ditambah, masyarakat telah mengetahui rekam jejaknya sebagai koruptor kelas desa.

Saya lalu teringat Friedrich Nietzche, filsuf yang terkenal sebagai pemikir naturalistis (naturalistic thinker). Ia berpendapat bahwa manusia dan alam semesta didorong oleh suatu kekuatan purba, yakni kehendak untuk berkuasa (the will to power). Kehendak untuk berkuasa mendorong manusia untuk menjadi subjek yang aktif dalam menjalani hidup sekaligus menjadi penafsir atasnya.

Kehendak untuk berkuasa, pada tahap berikutnya, menjadi akar dari semua proses destruksi dan kreasi yang dilakukan manusia. Segala jenis kekacauan hidup seperti perang, pelanggaran HAM dan intrik politik, tidak segan dilakoni manusia demi merengkuh kekuasaan. Untuk memperoleh kuasa, manusia bahkan bersedia melakukan apa saja, termasuk merugikan orang lain dan atau merusak alam.

Ra Amir merupakan potret manusia yang terbuai kuasa, dahaga harta, dan menghalalkan segala cara. Dibesarkan di lingkungan keluarga kiai, dengan pemahaman keagamaan yang mumpuni, tidak menjamin Ra Amir menjadi pribadi yang “suci”. Alih-alih memberikan teladan sebagai tokoh masyarakat, Ra Amir justru menghamba pada kapitalisme, menjadi kaki tangan cukong.

Menurut Abd. A’la (2004), keberagamaan—yang sampai derajat tertentu— minimalis dan atau formalis mengantarkan sebagian masyarakat Madura kepada upaya untuk menjadikan agama sebagai alat kepentingan yang sarat dengan nuansa politik praktis. Agama dijadikan sebagai media merengkuh kekuasaan dan sejenisnya.

Keberagamaan Ra Amir tidak lebih dari keberagamaan minimalis dan atau formalis. Itu sebabnya, Ra Amir tidak segan menyusun konspirasi licik, bahkan membayar para penjual ayat untuk memengaruhi massa dan menghabisi sang lawan politik: Nyai Rasera dan Maulana Bulan Purnama (Haji Badruddin).

Selain stereotip kekerasan, citra lain yang sering ditempelkan terhadap orang Madura ialah kepatuhan total mereka terhadap kiai. Hal ini juga berimbas pada kesan seolah masyarakat Madura merupakan masyarakat yang lugu (subjek pasif) saat berhadapan dengan kiai. Masyarakat Madura memang menaruh hormat tinggi kepada kiai. Sebab, memuliakan guru termasuk salah satu falsafah hidup yang dipegang betul oleh orang Madura.

Namun demikian, kesimpulan bahwa masyarakat Madura merupakan subjek yang pasif di hadapan kiai patut dipertanyakan. Pasalnya, relasi sosial antara masyarakat dengan kiai bisa berlangsung secara kompleks. Dalam pengalaman keseharian, tidak jarang masyarakat berdiskusi (bahkan berdebat) dengan kiai sebelum memutuskan perkara yang menyangkut kenyamanan hidup bersama.

Kompleksitas hubungan kiai dengan masyarakat Madura diceritakan secara apik oleh Royyan Julian. Orang-orang Tanjung menaruh hormat tinggi terhadap Ra Amir sebagai putra kiai, termasuk juga Walid. Akan tetapi, Walid juga tidak segan mengkritik keputusan Ra Amir yang dianggap keliru. Bahkan, Walid tidak takut mengundurkan diri dari jajaran tim sukses Ra Amir pada pemilihan kepala desa. (hlm. 204-205).

 

Suara (dari) Madura

Apakah novel Tanjung Kemarau dimaksudkan untuk menghapus stereotip negatif atas Madura? Menurut penilaian saya tidak. Pertama, kendati penulis novel ini berdarah Madura, ternyata ia tidak berhasrat mempersolek Madura supaya terlihat “cantik”. Penulis tidak serta-merta menampilkan kesan baik dan gagah an sich. Penulis menggambarkan Madura yang seadanya, bukan Madura yang semestinya.

Kedua, penulis berani angkat suara sebagai autokritik mengenai hal-hal yang perlu dibenahi orang Madura. Misal, melalui tokoh Walid, penulis mengkritik minimnya kesadaran ekologis orang Madura. Bahwa orang Madura gampang mengeksploitasi alam karena etika mereka terhadap lingkungan didasari oleh pandangan antroposentrisme.

 Orang Madura mengeksploitasi alam untuk kepentingan mereka dan tidak mau tahu seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan. Orang Madura hanya akan menjaga alam jika bermanfaat baginya. Alam tidak dipandang sebagai entitas yang bernilai secara intrinsik. (hlm. 93).

Alhasil, tidak sedikit orang Madura (terutama di Sumenep) menjual tanah sangkolan (tanah warisan) kepada investor. Kesakralan tanah sebagai ruang yang mempertautkan antara yang hidup dengan leluhur pun mulai memudar. Karena uang telah dianggap lebih bernilai daripada tanah-tegal. Sumenep hari ini mengalami darurat agraria. Lebih dari 500 hektar tanah lepas ke tangan investor.

Miskinnya kesadaran ekologis orang Madura tidak hanya menyangkut urusan agraria, tetapi juga kemaritiman. Acara petik laut diselenggarakan dengan maksud mensyukuri karunia laut. Karena bertujuan berterima kasih, semestinya acara itu berguna untuk kelestarian laut: membersihkan sampah, menanam bakau, berhenti menggunakan pukat terlarang. Namun, bukannya introspeksi, mereka malah mencemari laut dengan sampah-sampah yang dihasilkan acara itu. (hlm. 88).

Kalau banyak orang luar mengkaji dan menilai kebudayaan Madura, kini tiba saatnya bagi orang Madura untuk memberikan suara atas kebudayaannya sendiri. Selain demi mengimbangi kesimpulan bias dari penilaian “pihak luar”, hal ini juga akan bermanfaat bagi kelestarian budaya Madura. Saya percaya, kehadiran novel Tanjung Kemarau ini akan menandai langkah penting dalam upaya jihad budaya tersebut. [*]

Wahyudi Kaha

Wahyudi Kaha

pembaca buku dan peminum kopi.
Wahyudi Kaha

Latest posts by Wahyudi Kaha (see all)