Magrib

in Cerita Pendek by
4youimg.com

Allahuakbar.

Aku harus fokus. Khusyuk dalam salat itu penting. Jika sedikit saja aku kehilangan fokus, salatku habis. Tuhan akan marah. Dan malaikat tidak akan mencatatnya sebagai amal baik.

Amin.

Eh. Kenapa aku ini? Bukankah berniat ingin fokus pada saat salat ialah salah satu ketidakfokusan salat? Oh Tuhan, ampuni hamba! Aku janji. Setelah ini, aku bakal khusyuk.

Allahuakbar.

Ya Tuhan, betapa panjangnya kuku bapak sebelah kiriku ini. Tuhan kan sudah bilang kalau kita harus bersih ketika menghadapkan wajah ke kiblat. Kalau kuku panjang dan menyimpan sejuta kuman, ini bukan bersih namanya. Bapak ini harus mencontoh kuku-kukuku. Aku memotong kuku setiap Jumat, sesuai sunah.

Samiallahu liman hamida.

Loh, kenapa bapak sebelah kananku ini malah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri sebagaimana sedekap sebelum rukuk? Ini aneh. Ini benar-benar aneh. Dia harusnya melepaskan kedua tangannya ke samping, seperti yang kulakukan.

Allahuakbar.

Ponsel di kantongku bergetar. Siapa kira-kira yang menelepon? Apa orang-orang tidak tahu kalau ini waktu salat dan orang yang salat tidak mungkin mengangkat telepon? Untung aku hanya mengaktifkan mode getar pada ponselku. Kalau ponsel sampai berdering, itu akan mengganggu seluruh jamaah dan bisa membuyarkan kekhusyukan ibadah. Untung saja.

Allahuakbar.

Kenapa masjid ini gerah sekali? Punya kipas angin tapi embusannya tidak terasa. Pengurus masjid harusnya mencontoh masjid-masjid lain yang sudah menggunakan pendingin ruangan. Ibadah akan lebih khusyuk jika masjid juga nyaman.

Allahuakbar.

Oh Tuhan, aku lupa. Apa aku sudah mematikan kompor sebelum ke masjid tadi atau belum? Bagaimana kalau belum? Kompor akan meledak dan rumahku pasti terbakar. Kenapa bisa seceroboh ini?

Allahuakbar.

Astaga! Kenapa Pak Imam membaca Al Fatihah pelan sekali? Aku benar-benar takut kalau kompor ternyata belum kumatikan. Ibu sama Bapak pasti akan mengomel ketika mereka pulang dan menemukan rumah sudah rata dengan tanah.

Amin.

Syukurlah. Pak Imam membaca surah Al Ikhlas. Ini surah yang pendek. Kalau salat selesai, aku akan berdoa sebentar, lalu pergi. Rumahku terancam akibat kecerobohanku.

Allahuakbar.

Ya Tuhan, itu rumah kami satu-satunya. Semua aset berada di rumah kayu itu. Kalau Engkau membiarkannya terbakar, ke mana kami akan pergi? Bukankah salat itu doa? Aku akan berdoa pada-Mu, Tuhan, semoga komporku sudah benar-benar kumatikan.

Samiallahu liman hamida.

Aku seharusnya tidak memasak mi sebelum ke masjid tadi. Kalau begini, aku jadi cemas sendiri. Tapi, aku kelaparan. Kenapa pula Ibu sama Bapak harus keluar sore-sore dan meninggalkanku sendirian? Mereka, kan, bisa keluar saat malam, saat aku sudah makan.

Allahuakbar.

Aduh! Ponselku bergetar lagi. Apa mungkin Bapak, atau Ibu yang menelepon? Mereka mungkin sudah pulang. Semoga saja mereka betul-betul sudah pulang. Terus, kenapa mereka menelepon?

Allahuakbar.

Oh iya, aku baru ingat kalau kunci rumah ada di kantongku. Dan mereka tidak membawa kunci saat pergi tadi. Ibu sama Bapak pasti sudah menunggu di luar rumah. Kalau kompor belum mati, habislah aku. Mereka mungkin saja akan mencoret namaku di Kartu Keluarga.

Allahuakbar.

Bapak, Ibu, maafkan aku! Setelahnya, aku tidak akan seceroboh dan sepelupa ini. Oh iya, ini sudah rakaat berapa? Tenang saja, aku hanya perlu mengikuti jamaah yang lain. Sekarang, aku tidak boleh lagi kehilangan fokus.

Allahuakbar.

Ternyata baru rakaat kedua. Loh, kenapa bapak sebelah kananku ini sudah mengangkat telunjuknya, terus digoyang-goyangkan? Itu maksudnya apa? Bapak ini memang aneh. Dia seharusnya mengangkat telunjuk saat bertepatan dengan bacaan syahadat.

Allahuakbar.

Mereka menelepon lagi. Apa Ibu sama Bapak lupa kalau aku selalu berjamaah di masjid? Atau, sesuatu yang gawat sebenarnya sudah terjadi? Kompor itu meledak. Rumahku sebagiannya telah terbakar. Tidak mungkin. Kalau itu sampai terjadi, orang-orang di luar masjid pasti berteriak heboh. Sirene pemadam kebakaran juga tentu meraung-raung dari tadi.

Allahuakbar.

Ibu sama Bapak mungkin cuma bosan menunggu di luar. Mereka jadi tidak sabaran begitu. Semoga saja. Orang-orang, jika dalam keadaan bosan, akan melakukan apa pun untuk menangani kebosanan mereka, termasuk mengganggu orang yang salat.

Samiallahu liman hamida.

Ya Tuhan, masjid ini benar-benar gerah. Aku sampai berkeringat. Akhir-akhir ini cuaca memang sedang sangat panas. Barangkali bumi bertambah panas karena makin banyak orang berdosa yang menghuninya. Mereka patut mencontohiku. Lima waktu berjamaah di masjid.

Allahuakbar.

Suara apa yang begitu ribut di luar sana? Apa rumahku sudah terbakar? Ya Tuhan, aku kira Engkau mendengar doaku tadi. Ibu sama Bapak tidak hanya akan mengomel setelah ini, tapi mereka akan membunuhku.

Allahuakbar.

Ya Tuhan, kenapa salat jadi begitu lama? Perasaanku sudah sangat tidak enak. Apalagi, Ibu sama Bapak kembali menelepon. Mereka pasti kelimpungan karena rumah tidak bisa dibuka.

Allahuakbar.

Tunggu dulu! Kenapa orang-orang di luar sana berteriak hore? Apa mereka senang rumahku terbakar? Ini pasti ada yang salah. Aku berharap Tuhan masih merestui doaku tadi dan orang-orang berteriak karena sesuatu yang lain, bukannya ada rumah yang terbakar.

Allahuakbar.

Loh, kenapa cuma aku yang berdiri, sementara yang lainnya malah duduk tasyahud? Astaga, aku lupa! Ini sudah rakaat terakhir. Aku harus segera duduk. Ya Tuhan, aku tidak khusyuk lagi. Fokusku sudah buyar. Tuhan pasti marah. Ampuni hamba, Tuhan! Ampuni hamba!

Asalamualaikum warahmatullah. Asalamualaikum warahmatullah. (*)

Watampone, 06/07/18

Justang Zealotous

Justang Zealotous

Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Karyanya sudah tersiar di berbagai media. Kelahiran Watampone, 17 Februari 1994. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone. Juara I Lomba Cerpen Pelajar dan Mahasiswa 2016 dengan cerpennya berjudul “Selepas Dia Pergi”. Juara III Lomba Cerpen Bersama Uda Agus 2017 dengan cerpennya berjudul “Anak Mallajang”.
Justang Zealotous

Latest posts by Justang Zealotous (see all)