Mala dan Seseorang dari Selangor

in Hibernasi by
img_20160620_103200
instagram: @avifahve

“Bulan depan, dia ingin menemui Bapak. Izinkan kami menikah, Pak….” Ada gugup beserta degup tak keruan menggedor hebat di balik tulang igaku. Sejak lama sekali, tepatnya ketika mulai memikirkan tentang pernikahan, aku membayangkan kata-kata ini terucap dari bibirku dengan senyum yang merekah serupa bunga di pertengahan musim semi. Seharusnya ini menjadi kabar yang paling ingin didengar oleh Bapak, selain kabar tentang Ibu, seandainya pria yang akan meminangku itu bukan dia.

“Bapak tidak bisa.” Suara Bapak terdengar datar namun tajam menusuk. Jawaban Bapak masih sama, ketika lagi-lagi aku meminta restunya untuk menikah dengan laki-laki yang tak diinginkannya.

Rekaman itu terputar kembali di kepalaku. Saat pertama kali aku mengenalkan dia ke Bapak. Senyum ramah Bapak seketika lenyap saat tahu dia berasal dari Selangor, Malaysia. Waktu seperti berhenti berjalan. Kami bertiga membeku di kursi masing-masing. Kemudian Bapak beranjak ke dalam kamar dan tidak pernah mau bertatap muka dengannya lagi.

“Tidak apa-apa. Bapak mungkin butuh waktu,” ucapnya sembari mengusap punggung tanganku.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan pelan dan air mata.

“Suatu hari nanti, Bapak pasti mau menerimaku. Percayalah,” katanya.

Aku dan dia menjalani hubungan jarak jauh, dan Bapak tidak pernah bertanya apa pun tentang kami. Bahkan ketika aku menyampaikan rencana pernikahan kami, Bapak menunjukkan penolakannya secara halus, selebihnya hanya diam.

Sudah satu tahun lebih, dan pintu itu tetap tertutup. Bapak masih enggan membukanya untuk kami. Kupikir, dengan menjadi satu-satunya permata hati Bapak, akan lebih mudah membuatnya yakin dengan pilihanku. Namun sampai sejauh ini, Bapak masih sekokoh karang dan kami tetap bersabar menjadi sepasang ombak yang tak menyerah menghantam. Cinta dan segalanya yang menjadi syarat terjadinya pernikahan sudah kami punya, kecuali restu Bapak. Di sana, di masa lalu, ada tembok tak terlihat yang sudah berdiri sangat kuat jauh sebelum takdir mempertemukan kami berdua.

“Ibumu tak pernah pulang. Bapak masih terluka, Nak.” Pandangan Bapak menerawang, seperti mengharap sosok Ibu muncul dari balik cahaya lampu di langit-langit rumah. Genangan penuh duka dan rindu itu meluncur membelah garis-garis kerutan di wajah tuanya. Setiap tetes air mata Bapak selalu meminta pertanggungjawaban atas kepergian Ibu.

Dua puluh lima tahun berlalu, trauma dan kabut itu masih sangat tebal menyelimuti. Kehilangan itu telah menancap kuat serupa paku beton yang tertanam di semua bagian jiwa dan raga Bapak. Sendirian Bapak membesarkan aku, putri semata wayangnya, sejak usiaku baru menginjak empat tahun. Ibu terpaksa menjadi TKW ke Malaysia karena masalah ekonomi keluarga. Dan Bapak tidak punya pilihan selain mengizinkannya pergi. Belum genap setahun merantau, Ibu dikabarkan meninggal di rumah majikannya di Selangor. Tidak adanya laporan yang jelas perihal penyebab meninggalnya Ibu serta jenazahnya yang tidak bisa dipulangkan ke Indonesia, sudah lebih dari cukup untuk membuat Bapak hancur lebur hingga hari ini. Seperti jantung yang tiba-tiba tercabut dari tubuh padahal sedetik lalu masih berdetak di tempatnya, begitulah kira-kira sebuah kehilangan yang Bapak rasakan ketika mendengar berita kematian Ibu.

“Begitu banyak kemungkinan, kenapa harus dari Malaysia?” Ucapan Bapak nyaris tak terdengar ditelan emosi. Kedua bibirnya lalu saling menekan. Mengatup rapat. Aku tahu Bapak sedang bersusah payah menahan tangis, tapi tak berhasil. “Bapak tidak ingin kejadian itu terulang.” Pelupuk mata Bapak serupa dinding bendungan yang tak mampu menahan ledakan, air mata itu terus tumpah menenggelamkan restu yang telah lama kupinta. “Cuma kamu yang Bapak miliki, Mala….”

Kuraih tangan Bapak yang permukaan kulitnya terasa kasar lalu menggenggamnya. Tangan itu yang dulu setia menyuapiku dan mengucir rambutku sebelum berangkat sekolah. “Mala sayang sama Bapak, tapi juga cinta sama dia, Pak.” Kini giliran tangisku yang pecah. Napasku sesak. Kepalaku terkulai jatuh di bahu Bapak yang naik-turun. Di luar, malam semakin pekat dan hening.

“Andai dulu Bapak tidak membiarkan ibumu pergi,” ujar Bapak lirih berbaur dengan isakanku yang diiringi detak jarum jam di tengah ruangan.

“Andai Mala juga bisa memilih kepada siapa akan jatuh cinta sedalam ini, Pak.”

“Saat itu kau terlalu kecil, kau tidak tahu bagaimana….”

“Mungkin Mala memang tidak pernah benar-benar mengenal Ibu, tapi bukan berarti Mala tidak memikirkan Ibu. Sampai kapan Bapak akan tinggal di masa lalu? Sampai kapan Bapak akan berpikir bahwa hanya Bapak yang sayang sama Ibu dan merasa paling terluka dengan kepergian Ibu? Sampai kapan Bapak juga akan menganggap semua orang yang ada di sana adalah penyebab kematian Ibu? Mala akan menikah, memulai hidup baru, bukan untuk mengakhiri hidup, Pak.” Kalimat panjang itu meluncur begitu saja dari bibirku seperti peluru yang tak dapat dicegah. Belum pernah aku berbicara seemosional itu di hadapan Bapak, karena selama ini Bapak juga tidak pernah bersikap keras kepadaku. “Sikap Bapak yang terus-menerus seperti ini juga tidak akan membuat Ibu hidup lagi, Pak!” tambahku histeris.

Plakkk!!!

Tangan Bapak mendarat di wajahku, menyisakan perih yang menjalar hingga hati yang terdalam. Kuangkat kepalaku yang terasa berdengung demi memandang mata Bapak dan menuntut penjelasan dari dalam sana. Mata kami beradu, bersimbah air mata yang sama derasnya. Tangan kanan Bapak masih mengambang di udara. Tangan yang baru saja menamparku adalah tangan yang sama, yang dulu pernah Bapak gunakan untuk mengelus lembut ubun-ubunku dan menangkap tubuhku saat hampir jatuh dari ayunan kayu di halaman rumah. Tangan yang selalu memberiku kehangatan, kini berganti dengan rasa panas yang menyentak pikiranku. Menyadarkanku bahwa kini aku bukan lagi putri kecil Bapak yang bisa merengek sepanjang malam meminta sesuatu, lalu besok siang dikabulkan. Ini perkara memohon restu ke pelaminan dan hidup bersamanya di negeri seberang, bukan memohon untuk dibelikan mainan di pasar malam.

***

Gemuruh terdengar bersahutan, namun hujan tak kunjung datang. Pagi ini, kepadanya kuceritakan semua kejadian tadi malam melalui telepon. Tentang Bapak dan aku yang mengakhiri pembicaran dengan air mata dan pipiku yang bengkak memerah.

“Perkara restu Bapak, aku tetap ingin memperjuangkan selama cinta di antara kita masih bisa diandalkan.”

“Aku akan datang lebih cepat. Kita akan memohon restu Bapak bersama-sama. Apa pun yang terjadi setelah itu, tangan kita harus tetap bergandengan. Kau bersedia?” tanyanya.

Aku tertegun, namun tak lama mengangguk mantap. Dia selalu punya berbagai cara untuk mencegahku berputus asa; salah satu alasan mengapa aku tak berhenti memperjuangkannya di hadapan Bapak. Ya, apa pun yang terjadi, tangan kami akan selalu bergandengan.

Yogyakarta, 3 Oktober 2016

Avifah Ve

Avifah Ve

Madridista akhir zaman.
Avifah Ve
  • Mentari

    Jdaaarrrrr, setelah serius baca dan tau siapa penulisnya, aku kok jadi ngebayangin di dalam sana adalah penulisnya sendiri. Maafkan aku mbak 😀 😀

    • Avifah Ve

      bukaaaaaaaaaannn 🙁 cinta tak direstui itu sereeem

      • Mentari

        jangan sampe deh mbak, oh ya, ditunggu cerpen lainnya mbak 😀

        • Avifah Ve

          semoga bisa bikin cerpen yang baguuuuuss ya. masih belajar niiihhh

  • Ocyid Al Bahrawi

    Selain karena ceritanya yang oke. Yang tak kalah mencuri kalimat “madridista akhir zaman.” Aku ingin bilang kita sama loh. Hehehe

    • Avifah Ve

      terima kasiihhh 🙂 semoga musim ini juara liga 😀

      • Ocyid Al Bahrawi

        Semogalah.
        Lumayan lama juga soalnya. Tropi liga 3 tahun hilang dari genggaman.

  • Syams Siddiq

    Salah satu perjuangan cinta yang berat :susah mendapat restu. Tapi, yang lebih berat jika penulis cerita ini pindah hati ke klub lain…!! hehe
    HALA MADRID…!