Manusia Binatang Jalang

in Esai by
tjerkotten.com

Mana yang lebih mulia: binatang atau manusia? Jujur, pertanyaan ini sukar dijawab. Entahlah hanya saya yang merasakannya. Binatang punya “tata-krama” dan selalu takut pada hukumnya. Seekor kancil, misalnya, tak akan pernah melawan rajanya. Meski pada berbagai literatur diceritakan bahwa kancil adalah binatang cilik yang licik yang bahkan bisa menipu petani, kancil sejujurnya tetaplah bukan binatang yang bebal. Kancil masih tunduk pada rasa takutnya. Rasa takut itulah aturan.

Mari bertanya lagi, mana yang lebih sportif: manusia atau binatang? Ini mudah sekali dijawab, tetapi susah mengakuinya. Rocky Gerung menyesalkan dan menasihati bahwa hidup kita bukan sabung ayam, tunggu ada yang keok, lalu kita gembira. Rocky Gerung mau mengatakan hidup ini bukan perkelahian dan pembantaian. Begitu pun, hidup kita lebih sering mengadakan pertunjukan perkelahian. Demokrasi adalah bentuk aktualnya. Tetapi, demokrasi bukanlah sabung ayam biasa. Demokrasi lebih sadis daripada sabung ayam.

Jika pada sabung ayam, ayam lain yang keok akan langsung lari dan menjauh. Manusia? Tidak. Manusia akan selalu mencari cara untuk membalaskan dendam dan kesumat. Demokrasi meniscayakan kemenangan dan kekalahan, itu sudah pasti. Tetapi, manusia yang melakukan demokrasi tak pernah bersiap menerima kekalahan. Mereka selalu ingin menang sendiri. Berbagai cara selalu saja dilakukan untuk menang. Tuhan bisa ditarik-tarik, manusia kecil bisa dibayari, bahkan hukum bisa dikelabui. Agama, oh, apalagi!

Benar-Benar Kalah

Demokrasi sangat tidak sportif. Justru sabung ayam yang jauh lebih sportif. Maksud saya, manusia benar-benar kalah sportif dari ayam. Barangkali, karena itulah Chairil Anwar berteriak: aku binatang jalang. Teriakan ini adalah teriakan kebanggaan yang kelak menjadi teriakan legendaris. Semua kita terkagum-kagum mendengarnya. Mengapa? Apakah karena manusia Chairil Anwar sudah melewati fasenya sebagai manusia yang kotor lalu masuk pada fase binatang jalang yang suci? Apakah karena Chairil bebas dari pikiran dan nalurinya?

Entahlah, yang pasti, Aristoteles juga pernah mengatakan man is by nature a social animal; an individual who is unsocial naturally and not accidentally is either beneath our notice or more than human. Mungkin maksudnya, manusia sinonim dengan binatang. Atau, binatang adalah pucuk dari peradaban. Atau, jangan-jangan, memelintir Charles Darwin, binatang pada masanya juga akan menjadi manusia: merasakan cinta, merasakan benci, merasakan masa depan, merasakan agama, merasakan adat, dan terakhir, karena itu semua, dia jadi babak belur lalu kembali menjadi binatang? Dengan kata lain, fase tubuh sebagai manusia adalah fase di mana manusia terpenjara pada akal dan hatinya?

Sekali lagi, entahlah. Yang pasti, kita tak bisa memastikan bahwa binatang adalah bukan manusia. Jika ada binatang yang rakus, suka mencuri, manusia pun ada. Malah, manusia tidak hanya rakus, tidak hanya mencuri, tetapi juga menimbun agar orang lain tak mendapatkan jatah. Dan, mungkin, karena itulah mengapa manusia dulunya pernah berhala pada binatang. Ini ibarat bagaimana manusia sungkem pada “nenek moyangnya” karena dianggap bahwa bintang lebih kuat dan memiliki roh.

Lihatlah, misalnya, bagaimana orang Mesir menyembah Spinx, makhluk berkepala singa, bersayap garuda dan berekor ular, dan Orang Yunani pada Centaurus, yaitu manusia yang bertubuh kuda. Dalam Perjanjian Lama bahkan dikisahkan bagaimana mereka yang sudah dibebaskan oleh Musa malah mensyukurinya dengan menyembah patung anak lembu. Binatang adalah nenek moyang yang sakral dan harus dihormati, begitu kira-kira.

Zaman lalu berubah. Zaman di mana binatang sebagai yang punya roh perlahan memudar. Manusia mulai menganggap binatang sebagai makhluk hidup biasa, bahkan lebih rendah. Maka, jadilah pemburuan secara massal. Tidak cukup! Binatang dipandang bukan lagi sekadar alat pemuas kebutuhan biologis, melainkan juga sebagai komoditas untuk ekonomi, termasuk gengsi. Praktis, binatang yang dulu masih ada dianggap sakral mendadak sirna. Semua dipandang rata sebagai alat pemuas hawa nafsu.

Apakah ini masa di mana manusia menjadi makhluk durhaka, Malin Kundang atau Mardan dalam cerita Bataknya? Bisa jadi karena zaman selalu bergerak. Manusia mencari jalan tertinggi untuk kelak turun gunung. Maka, ketika binatang pelan-pelan habis, dengan rasionya, manusia kemudian berpikir untuk mengatasinya. Jadilah masalah reproduksi binatang yang dulunya alami dan lambat direkayasa sedemikian rupa. Dalam hal ini, selain rasio, manusia menjadikan dirinya sebagai “Tuhan” yang dapat merekayasa genetika, mengatur siklus lahir, mengatur kapan panen, dan sebagainya.

Barangkali, inilah penjelas paling mutakhir melihat peradaban kita saat ini, terlebih di negeri ini ketika manusia dengan suka mewakili dirinya sebagai Tuhan. Sebagai Tuhan, kita tentu bisa melakukan apa saja: benar-benar sesuka kita, termasuk “membunuh” Tuhan dengan cara menyebut-Nya sebagai manusia yang gampang terhina. Jelas saja, bentuk konkretnya dapat terlihat dari ulah kita yang dulunya pernah tahu cara berbagi mendadak tidak. Lihatlah DPR kita. Mereka mencari kesepahaman, tiba-tiba berseteru sehingga meja terguling. Mereka mencari keputusan, tiba-tiba keluar dari rapat, ketika diputuskan malah bertanya balik, kok begitu? Ini tidak adil! Mereka yang dibayar mestinya memperjuangkan rakyat, tiba-tiba hanya berdebat dan berdebat yang tidak ada pangkal ujungnya.

Sampai Kapan?

Sastra pun dibawa-bawa masuk sehingga puisi yang adalah mata menjadi senjata. Sastra yang mestinya bermula dari kejernihan dan kewarasan justru diseruduk dari kedengkian dan kebencian. Mereka mengatakan ini sebagai kerja sama, pada praktiknya hanyalah demi kelompok untuk tidak menyebut demi gerombolan. Sebagaimana perilaku hewan, yang kini dominan mengendap dalam tubuh kita adalah naluri untuk memuaskan syahwat. Otak, apalagi perasaan tidak menemui tempatnya. Kalaupun ada otak, gunanya hanya mengatur strategi bagaimana mencari, bahkan mencuri kekuasaan.

Di sini, kita tidak usah lagi melihat perasaan, apalagi hati sanubari. Itu sudah “pingsan”, bahkan mungkin sudah menemui kiamatnya. Sastra hampir tak berdaya menyingkap, bahkan sering, seperti tadi, malah diperalat dan menjadi barang pesanan. Mestinya, inilah menurut saya salah satu terjemahan aku binatang jalang karya Chairil Anwar, yaitu ketika kita hidup tak lagi dunia nalar, tetapi dunia rimba. Ini harusnya menjadi kritik tajam bagi kita untuk tetap berjuang melawan peluru kebencian. Tetapi, sungguhkah ini kritik tajam, atau malah, ucapan kemenangan?

Lagi-lagi, entahlah. Barangkali hanya aku yang merasa bahwa kita ini hanya binatang jalang. Binatang yang hidup di sebuah dagelan pertunjukan para binatang. Pelakonnya manusia berperilaku binatang. Penontonnya dibinatangkan. Mahbub Djunaidi bahkan sempat ibarat kebingungan menamai binatang Indonesia. Apakah marmut, apakah babi? Teruskan, terserahmu. Apakah monyet dengan kelucuannya, bekicot dengan kelambanannya? Yang pasti, inilah evolusi manusia Indonesia. Yang dulu takut pada binatang, lalu membunuh binatang, mengatur hidup-matinya, lalu berakhir pada manusia “berhati” binatang.

Hehehe, negeri ini rupanya kebun binatang, Kawan. Kita ini manusia-manusia binatang. Mungkin beberapa dari kita masih ada manusia benaran, tetapi elite di negeri ini akan membinatangkannya. Jadi meski Anda yakin masih manusia benaran, manusia-manusia binatang itu telah memperlakukan kita secara binatang. Para elite akan membuat kita pada sebuah sabung ayam. Mereka akan mengadu kita. Bedanya, kita tidak sportif. Kita akan selalu menyimpan dendam.

Ah, sudahlah, mari merawat kebun binatang kita ini dengan baik. Kita sedang hidup pada arena sabung ayam. Sayangnya, kita masih binatang bertubuh manusia. Karena itu, kita tak mengenal rasa kalah. Ingin kuteriakkan lagi kata-kata Chairil Anwar ini sebagai teriakan kritikan, melepas belenggu kemanusiaan kalau tidak bisa melepas belenggu kebinatangan. Tetapi, manusia lain menularkan penyakit agar aku tetap menjadi binatang dan manusia lain menularkan agar aku tetap manusia. Jadinya, lahirlah sebagai manusia binatang. Sampai kapan ini? Oh, saya tak tahu….

Riduan Situmorang

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)