Manuskrip Nusantara Saat Ini, Terlupakan oleh Orang-Orang Modern

in Hibernasi by
Manuskrip Nusantara Saat Ini, Terlupakan oleh Orang-Orang Modern
Jpeg

“There is no loss bigger than losing your manuscript, not even love.”

-Himanshu Chhabra (Pemuda India)

Di sudut ruangan yang gelap. Aku (kita) melihat sesuatu yang berdebu dan tua. Wajahnya hampir sama seperti orang tua pada umumnya yang disingkirkan. Dahulunya ia dibanggakan, ya begitulah manuskrip nusantara saat ini. Begitu menyedihkan. Apalagi sudah hampir berabad-abad lalu kita menciptakan sebuah budaya baru. Kita mengingat-ingat proses atau ciptaannya dalam waktu ratusan tahun. Dalam proses puluhan tahun kemudian semuanya telah menghilang. Terutama untuk kekayaan utama nusantara atau yang disebut sastra lisan. Sastra lisan nusantara tidak lagi berada dalam hati, hanya dalam ingatan. Kita hanya mengingat bahwa itu pernah ada.

Sastra lisan adalah hal berharga yang dibicarakan oleh masyarakat secara turun-temurun untuk dapat memberikan kehidupan lebih baik. Akan tetapi, hanya orang-orang tua saja yang melestarikannya. Bagi manusia abad modern, hal yang berbau kuno harus ditinggalkan. Padahal percampuran Tionghoa-Melayu, Arab-Melayu, masa penjajahan, serta masuknya Islam ke Nusantara tercatat di sumber-sumber tersebut.

Inilah yang menggerakkan Festival Naskah Nusantara tahun lalu. Kepala Perpusnas, Muh. Syarif Bando, mengatakan bahwa pelestarian manuskrip penting untuk melihat bagaimana menciptakan sejarah hari ini untuk kita bisa pelajari pada hari esok. Tidak ada yang bisa menceritakan tentang perjalanan panjang sejarah, kecuali melalui naskah yang tercipta pada zamannya. Jadi filosofinya, bahwa kalau Anda mau berdiri tegak hari ini, maka Anda tidak bisa tak ditopang dengan sejarah masa lalu. Begitu juga kalau Anda mau sukses pada masa datang, Anda tidak akan melupakan hari ini.

Secara data, Perpustakaan Nasional memiliki 10.334 naskah kuno dari seluruh aksara di Indonesia. Sementara, Perpustakaan Leiden memiliki hampir 2,5 kali banyaknya. Di British Library, London, dikatakan ada sekitar 500-600 naskah kuno Nusantara dan separuhnya berasal dari Jawa. Pernah 30 tahun lalu, Inggris ingin menyerahkan seluruh naskah kuno kepada Indonesia, namun ditolak karena alasan dana. Dalam catatan Tempo, naskah-naskah seperti Hikayat Raja Pasai, umpamanya, hanya ada dua salinan di dunia, salah satunya tersimpan di British Library. Naskah asli I la Galigo, sebuah epik mitologi dari Sulawesi Selatan, tersimpan di Universitas Leiden, Belanda. Salinan naskah Babad Diponegoro dalam bahasa Jawa tersimpan di Belanda. Manuskrip Babad Diponegoro dalam huruf Arab dengan tulisan tangan Pangeran Diponegoro juga disimpan di Belanda. Melihat fakta-fakta tersebut, tidak salah dipertanyakan mau melangkah ke mana kita?

Saya teringat ketika kecil, otak saya masih disuguhkan cerita-cerita Si Pahit Lidah, Dayang Rindu, Pak Pandir dan Harimau, dan Pak Pandir Pergi Memancing. Saya teringat ketika mengunjungi Perpustakaan Sumatra Selatan dan mencari data terkait naskah-naskah kuno. Sepanjang mata memandang di sekitar ruangan, tidak ada satu pun anak seusia saya. Kenyataan ini didukung oleh jarangnya bacaan mengenai cerita-cerita kuno di perpustakaan sekolah (Palembang, daerah asal). Bacaan novel remaja, ekonomi, politik, biografi, atau sejenisnya yang malahan ada. Kalaupun ada, terletak di sudut dan tidak terjangkau sehingga menimbulkan sikap ketidaktahuan. Sikap asing juga terasa ketika mereka mendengar wayang Palembang. Hampir seluruh masyarakat Palembang beranggapan tidak ada wayang Palembang, yang ada hanya wayang Jawa.

Dalam kuliah singkat dengan Pramono, sikap skeptis itu bertambah. Dia mengatakan, bukan tidak mungkin tradisi-tradisi lisan tidak mendidik yang akan condong dekat dengan anak-anak Indonesia puluhan tahun kemudian. Sinetron-sinetron di televisi membuat generasi bodoh bertambah. Dalam kehidupan sehari-hari, tungku tidak akan dikenal lagi, tergantikan oleh rice cooker. Bendi dan delman menjadi nakhoda transportasi yang hilang sejarahnya. Mitos-mitos Cindaku (hutan Sumatra Barat dan Jambi) dan Puyang (Sumatra Selatan) yang memiliki tujuan untuk melindungi hutan, tidak diindahkan. Akibatnya, merebak penebangan liar.

Bacaan anak dipenuhi dengan kartun-kartun buatan luar negeri. Lihat saja “Sinchan”, “Doraemon”, “Dragon Ball”, dan “Naruto”. Cerita-cerita ini mendominasi di abad XXI. Secara konteks kebudayaan, kartun-kartun tersebut tidak sesuai dengan adat ketimuran. Pakaian yang dikenakan tokoh wanita sangat terbuka. Bahkan Crayon Sinchan terkesan amoral karena beberapa dialognya menyuguhkan sesuatu yang seharusnya dikonsumsi orang dewasa. Hal ini bukan salah anak-anak. Mengapa kita tidak peka terhadap khazanah kesusastraan sendiri untuk dijadikan kartun?

Belakangan ini, “Sapo Jarwo”, “Battle of Surabaya”, “Keluarga Somat”, dan beberapa animasi lainnya hadir, namun belum cukup banyak. Kita berharap sineas-sineas di Indonesia berani membuat film layar lebar berlatar belakang cerita-cerita kerakyatan sehingga muncul kembali kepercayaan terhadap identitas bangsa sendiri ketimbang bangsa asing. Film “Moana” produksi Walt Disney adalah salah satu bentuk baik. Di awal film, seorang nenek sedang mendongengkan cerita yang ada di tempat tersebut. Budaya perpindahan ke suatu wilayah ke wilayah lainnya dengan perahu juga digambarkan. Konsep film ini mengenalkan kepada anak-anak manis yang duduk di bioskop bahwa generasi nenek moyang dahulu adalah penjelajah.

Tulisan saya beberapa waktu lalu; Sastra Lisan dalam Mengasuh Anak (Padang Ekspres, 7 Februari 2016), sedikit memiliki korelasi menyangkut permasalahan antara dominasi pemikiran yang terdapat pada diri anak-anak. Dalam catatan sederhana itu, salah satu upaya untuk menggerakkan kembali rasa ingin tahu terhadap naskah-naskah kuno nusantara adalah keluarga atau sang ibu. Di Minangkabau, ada kebiasaan manjujai, satu tradisi pola asuh anak yang dilakukan sejak usia dini sampai anak pandai berbicara menggunakan kata-kata.  Dalam proses anak menuju kedewasaan, sang ibu akan memberikan petuah-petuah yang terkandung dalam naskah kuno atau kaba. Hal inilah yang terlihat dari pola pikir anak-anak yang masih dicekokin manjujai dengan yang tidak.

Semoga di awal tahun 2017, kita mulai sadar bahwa ada (sesuatu) yang mesti dikembalikan lagi bukan hanya sebuah resolusi untuk karier semata.

M Redho Ilahi

M Redho Ilahi

Kelahiran Palembang, 27 Juli 1996. Kini menetap di Padang. Bekerja sebagai wartawan, dan mahasiswa Sastra Indonesia Unand.
M Redho Ilahi

Latest posts by M Redho Ilahi (see all)

  • Maulani Al amin

    artikel yang mantap