Road to Maratua Island, Elegi yang Tidak Perlu Disesali

in Hibernasi by
Road to Maratua Island, Elegi yang Tidak Perlu Disesali
Road to Maratua Island. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Kepulauan Derawan, mendengar nama itu disebut otakku selalu membayangkan tiga hal: laut, langit, dan biru. Pulau ini memang dikenal dengan wisata bahari dan pesona taman bawah lautnya. Terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Kepulauan Derawan meliputi tiga kecamatan: yaitu, Pulau Derawan, Maratua, dan Biduk Biduk. Sudah lama aku menantikan kesempatan untuk menjejakkan kaki di surga para penyelam dunia itu.

Otakku tidak berhenti membayangkan bersantai di tepian pantai yang biru jernih, berenang mengejar ikan, atau berjemur santai di atas giant floats. Aku tidak mengejar target untuk bergerilya ke sana-kemari, bangun pagi-pagi berburu boat untuk mengantarku ke Labuan Cermin, Danau Kakaban, melihat penyu di Sangalaki, atau spot-spot underwater. Bepergian sendiri membuatku nyaman menentukan apa pun yang kumau. Bersantai di Maratua Paradise Resort—impianku saja, sudah membuat jantungku berdegup kencang karena senang.

Aku sudah melihat foto-foto resort luar biasa itu melalui dunia maya. Sebuah resort yang berdiri di atas tiang-tiang kayu tinggi yang dipancang di tepian pantai berair biru jernih berpasir putih bersih. Barisan balok kayu ditata sepanjang jalan sebagai penghubung antar hunian. Lorong-lorong panjang khas dermaga malang melintang bersisian dengan bangku dan tanaman. Kalau bosan bermain air, aku bisa duduk bersantai sambil memesan kopi atau soft drink sambil membaca di restorannya. Ah! Tidak sabar menjejakkan kaki di sana!

Mungkin aku kelewat excited malam harinya hingga susah tidur dan bangun terlambat. Sambil merutuki kebodohanku, aku bersiap-siap ekstra kilat, memesan taksi online yang salah arah, lalu berlari ke counter check-in sambil mengatur napas. Perjalananku dimulai dengan penerbangan Garuda pukul 05.35 WIB menuju Sepinggan, Balikpapan, dilanjutkan dengan 50 menit penerbangan menuju Bandara Kalimarau di Berau.

Tiba di Berau, aku ternganga. Kupikir bandara ini mungil, layaknya Temindung di Samarinda yang hanya dibatasi pagar setinggi dada orang dewasa dengan rumah penduduk. Tapi aku salah, Berau ternyata punya satu bandara yang cukup akomodatif dengan desain bangunan yang serupa dengan Sepinggan.

Dari Berau aku masih harus menempuh perjalanan darat selama satu jam menuju Pelabuhan Batu. Awalnya, jalanan berkelok namun mulus, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Baru beberapa blok terlewati, terlihat sungai membentang di kiri kanan jalan. Jarang-jarang, terlihat satu-dua rumah penduduk yang berimpit sempit dengan bahu jalan, seolah hutan membentang di belakang sana bisa melalapnya jika terlalu jauh dari jalan. Tanaman rambat tumbuh tinggi menyelimuti pohon-pohon besar hingga membentuk kanopi-kanopi pohon raksasa. Ibarat rumah-rumah rimba dengan makhluk purba penghuninya.

Perjalanan berlanjut, dan mobil terus mengebut. Ceruk-ceruk air keruh di kiri kanan jalan dan lubang-lubang jalan mulai bermunculan. Di tepian jalan, pohon-pohon mulai mengerang hilang dahan dan batang. Meranggas seperti jati hendak mati. Tapi bukan jati, bukan juga hendak menuju kematian sejati. Mereka dibakar dengan api persembahan bagi para manusia yang tak tahu diri. Semak belukar turut bunuh diri.

Dua jam aku menggelung diri di jok belakang mobil dan berkali-kali hendak jatuh. Kami tiba di Pelabuhan Batu. Sebuah speedboat mengantarku menuju Maratua. Hanya berdua, aku dan ‘Ju’ tua—panggilan bagi pria setempat—yang membawa speedboat. Langit tak tenang, boat kami terpontal-pontal ombak nakal yang terus menerkam. Dua puluh menit berlalu, kami melintasi tepian pulau impian, Derawan. Mungil namun jelas, eksklusif penuh harapan tentang karang, ikan, dan segala rupa kehidupan bawah laut. Aku ingin ke sana, menjejakkan kaki ke pasirnya yang tampak lembut dan putih dengan air biru bening transparan. Tapi Maratua-lah yang akan menampungku selama beberapa hari ke depan. Ya, aku memilih tinggal di Maratua alih-alih Derawan. Pertama, karena Maratua relatif lebih sepi. Kedua, berjaga-jaga kalau aku bosan hanya bersantai di seputaran resort, destinasi-destinasi wajib seperti yang kusebutkan di atas lebih dekat jika ditempuh dari Maratua daripada Derawan.

Dua jam berlalu. Aku tiba di dermaga sederhana penuh pesona. Dermaga kayu panjang beralaskan air biru dan pasir putih. Kampung-kampung dengan rumah sederhana berjejer rapi. Batang pohon mati dan deretan pohon kelapa membentuk siluet artistik. Deretan homestay tanpa nama menampung siapa saja yang tiba. Tapi aku sudah bilang kan, bahwa aku mengincar Maratua Paradise Resort sebagai persinggahan. Jadi aku meminta Ju Tua mengantarku ke sana.

Sambil menunggu resepsionis, aku duduk di salah satu bangku yang bersisian dengan laut. Tempat ini bahkan jauh lebih mengagumkan aslinya daripada yang orang imajinasikan lewat mata kamera. Airnya benar-benar bening, Ikan-ikan menari di bawah sana. Aku duduk, berfoto dan berucap syukur.

Matahari mulai redup, beberapa jam lagi sebelum senja. Resepsionis itu menghampiriku. Aku tersenyum lebar, tidak sabar untuk mendapatkan kamar yang nyaman, segera mandi dari keringat yang lengket sepanjang jalan sebelum merebahkan diri di kasur yang empuk. Namun, alih-alih kamar, resepsionis bilang resort full booked hingga akhir masa kunjungan. Mendadak aku lemas tak bergairah. Kutarik napas dalam mengisi paru-paru dengan udara laut yang mendadak terasa asin ini. Menyeret ranselku yang tidak seberapa menuju homestay terdekat atau homestay mana pun yang mau menampungku. Sepertinya, aku mendadak jadi melankolis.

Saat mendapatkan kamar, aku segera rebahan. Sungguh, homestay ini tidak seburuk yang kubayangkan. Kamarnya dilengkapi dengan AC, kasurnya nyaman dan ruangannya bersih. Airnya juga tawar saat aku mencuci kaki tadi. Baiklah, tidak apa-apa singgah saja di sini dan mari kita pikirkan akan ke mana besok.

Mungkin aku akan menghubungi Ju Tua untuk mengantarku ke Dermaga Payung-payung. Hanya lima belas menit dari Maratua dan aku bisa ber-free dive di sana. Atau berenang bersama ubur-ubur tidak menyengat di Danau Kakaban yang berair tawar meski begitu dekat dengan laut. Atau mungkin, merasakan jernihnya danau dua rasa Labuan Cermin? Bisa jadi pertimbangan. Tidak ada yang perlu disesali, Kepulauan Derawan terlalu sayang untuk dinikmati hanya dengan duduk diam tanpa menjelajah. Aku mulai kembali bergairah.

Aya Wijaya

Aya Wijaya

Penulis yang tidak pernah setia pada satu medium. Puisi, fiksi, artikel, script, scenario sampai persuratan resmi pernah dicicipi. Dan hasil icip-icip itu kadang membuatnya mati gaya.
Aya Wijaya

Latest posts by Aya Wijaya (see all)

  • Ocyid Al Bahrawi

    Wah,
    Pulau itu tidak asing untuk orang yang sudah setahun tinggal di Berau.