Marilah Berbasa-basi

in Celoteh by

kuaibozz-dot-comJika Anda pembelajar filsafat serius, tak ada alasan bagi Anda untuk tak pernah kenal nama satu ini: Ludwig Wittgenstein.

Baiklah, anggap saja Anda kenal nama ini, yang amat popular dengan slogan filsafat bahasanya: language game. Krik. Ya, ya, di sini saya takkan bicara tentang filsafat teks dan konteks itu. Tidak, setidaknya biar kepala kita tidak kian berat memikul masalah hidup yang bertambah pelik setelah Dek Pamela Safitri memosting susunya.

Saya hanya ingin mengisahkan betapa filsuf sekaliber Wittgenstein dengan enteng berkata bahwa ia berfilsafat sekadar untuk mengatasi masalah depresinya. Bukan agar dicatat dalam kitab sejarah filsafat Barat, lho.

Iya, depresi alias stres, mungkin akibat spanengan.

Lupakan potensi tafsir ambigu yang merelasikan kegiatan berfilsafat dengan pemicu depresi itu. Kita bicara saja tentang betapa main-mainnya beliaunya ini kala meyakinkan diri memilih filsafat sebagai sarana untuk mengobati depresinya.

Sikap main-main ini mengandaikan, di tangan Wittgenstein, berfilsafat itu ndak usah serius-serius, ndakik-ndakik. Bila dijereng lebih jauh ke etimologi filsafat sebagai “sumber kebijaksanaan”, berarti bisa disimpulkan bahwa untuk berbijaksana itu ndak usah ndakik-ndakik alias mbulet bin njelimet kayak entut manja.

Eladalah, tentu saja ndak ada seorang pun di muka bumi, termasuk yang paling pekok sekalipun, baik yang pekok karena ndak pernah membaca atau pekok karena keras kepala keras hati, yang ndak pengen bijaksana. Sebab menjadi bijaksana itu memang menghadirkan kenyamanan, keenakan. Sialnya, jika dipikir, mencapai demikian ini menisbatkan cara bersikap yang kalem, woles, dan santai.

Ndak percaya?

Lihat aja fatwa motivator kaliber jutaan rupiah, betapa sering to mereka mengatakan bahwa amarah merupakan biang kerok segala masalah dalam hidup ini. Amarah adalah bangkai penderitaan.

Itulah makanya, jangan suka bersikap reaktif di kala emosi. Sebab itu situasi yang ndak kalem, woles, dan santai. Hasilnya pasti negatif.

Teruji, kan, bahwa bijaksana itu adalah woles? Orang yang ndak woles dalam hidupnya pasti ndak tenang. Itu tanda paling esensial ia tak bijaksana.

Sampai di sini, Wittgenstein akurat tokcer-moncer dengan kredonya itu. Wittgenstein mengajarkan kepada kita untuk nyantai saja menghadapi segala hal yang hadir ke dalam kehidupan kita.

Di sinilah letak pentingnya basa-basi. Celoteh. Celetukan. Pethakilan. Sebab segala yang berkarakter demikian pastilah bersumber dari hati yang ringan, kendati belum tentu masalah yang dihadapinya ringan beneran.

Anda pasti familiar dengan geguyonan Gus Dur yang satu ini: “Gitu aja kok repot….”

Nah, ini salah satu contoh cara berbasa-basi atas masalah apa pun. Temanya boleh saja tentang relasi Sunni-Syi’ah, pacaran-ta’aruf, nasionalisme-khilafah, jomblo-kesepian. Itu jelas tema-tema berat, yang tak kalah beratnya dengan kekalahan telak Manchester City di kandang Manchester United akibat ndak concern main bola sebab akan ikut UN keesokan harinya. Begitu kata Kang Maman yang menyebalkan itu. Tapi yang pokok bukanlah temanya, justru cara kita menyikapinya, cara kita menyantaikannya.

Ingat lho, santai ndak berarti klemak-klemik, lemot, kayak Pentium 4. Tidak. Santai itu sikap; santai itu kontji!

Maka patutlah bagi kita kini untuk meletakkan segala sesuatu dengan kontji itu. Lha wong buktinya Wittgenstein dengan santainya sukses mewariskan buku filsafat menakjubkan, Tractacus Logico-Philosophicus, yang kita akui kini sebagai salah satu kitab filsafat bahasa yang sangat penting.

Hal penting ndak kudu disikapi dengan spaneng. Sebaliknya, bila hal remeh didekati dengan spaneng, ya jadi begitu berat. Maka sekali lagi adalah caranya.

Nah, ternyata ya, dipikir-pikir, password untuk log-in ini diberikan dengan murah hati oleh pengertian bahwa hidup ini ming mampir ngombe. Numpang gemuyu. Numpang lewat. Numpang berbasa-basi.

Adatnya seseorang yang cuma numpang, mbokya santun bin kalem. Yang ndak kalem berarti ndak sadar bahwa ia cuma sekilas, untuk kemudian mati dengan cepat!

Sumber gambar: kuaibozz.com

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu
  • Mabrur

    Nice.. Kalau basi, dipanasin lagi yah mas…

  • turyono ari

    setuju pak, setuju urip iki numpang ngombe.:D

  • Alinea Paragraf

    Ahaha.. Like this much. Iya ya, don’t worry, be santai :-)) Toh masalah nggak bakalan lari kemana, diselesaikan dengan tarik urat terus-terusan, dijamin stroke menahun.