Masa Lalu Melulu

in Rehal by

Judul               : Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu

Penulis                        : Kedung Darma Romansha

Penerbit          : Rumah Buku

Cetakan           : Pertama, Februari 2018

Tebal               : xx + 68 hlm; 13 x 19 cm

ISBN               : 978-602-6730-27-5

Masa lalu melulu ditengok entah lewat spion atau langsung melongok. Pada tahun 2018 ini, kita masih dipaksa bertemu masa lalu di puisi-puisi. Biangnya Kedung Darma Romansa, yang membukukan puisi-puisinya serentang tahun 2004-2017 di Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (2018). Judul buku terlampau wagu dan picisan untuk dipertarungkan di ranah puisi mutakhir. Protes ihwal judul tak cuma bergejolak di benak kita. Pemberi catatan, Suminto A. Sayuti, agaknya kecewa pada pemilihan judul dengan bilang, “betapapun judul antologi yang dipilih mengesankan suasana romantis.” Kedung mungkin percaya diri dan yakin frasa “masa lalu” masih puitis, alih-alih menjemukan, di ranah puisi mutakhir.

Kedung memungut masa lalu di rentang tahun 2004-2017. Kita menengok penyair lain yang juga bermasa lalu di rentang masa itu. Puisi Shinta Febriany, “Hati yang Pecah” (2005), pantas diingat: lagi, aku pecahkan hatimu./ siang itu, ketika kau terus/ mengutip masa lalu/ hingga kulit jemariku melepuh/ dan langit berlebihan berwarna kelabu. Pada puisi Shinta, masa lalu itu sengit. Masa lalu tak mesti romantis seperti tuduhan Suminto. Masa lalu di “Hati yang Pecah” itu konflik yang terus diungkit. Masa lalu barangkali dosa asali yang mustahil terampuni tapi dikutip melulu. Waktu semakin mengendapkan dosa-dosa masa lalu.

Kita menengok masa lalu yang lebih lalu. Masa itu tahun 1996, ketika Goenawan Mohamad menulis puisi “30 Tahun Kemudian”. Kata Goenawan: masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada/ marmar makam Cina. Akhir riwayat setiap orang ialah menjadi masa lalu. Maka, masa lalu pertama jelaslah manusia pertama. Kita menengok masa lalu yang lebih lalu lagi. Puisi Heru Emka, “Kidung Langit Biru” (1978), kita temui: Seniman Ulung mengamati hasil karyanya/ membiarkan berkembang sendiri, ah Penyulap Budiman/ rindu kami pada Mu adalah rindu kami pada Kebenaran/ sekaligus bagai sesal kain dan Adam, sebagai masa lalu dari kasih sayang.

Masa lalu bicara konflik, kematian, dan religiositas di puisi-puisi masa lalu. Kita lantas menilik masa lalu Kedung. Puisi paling bertanggung jawab tentu saja “Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu” (2012). Kedung berkidung: aku menyentuhmu dengan pandanganku/ siapakah itu yang berani mencuri pelukanku?// kalender kamarku jatuh ke dalam senyumanmu/ kemarau membuat malam jadi sedingin ciumanmu yang dulu./ bulan-bulan redup/ dan tahun-tahun berlubang di hatiku.// bisakah kita memutar alarm/ yang membangunkan mimpi semalam?/ tentang dongeng-dongeng menakutkan/ yang membuat kita meributkan lapar/ dan keinginan yang membakar.

Masa lalu Kedung terasa sangat personal. Kedung tidak ingin muluk-muluk bicara konflik, kematian, apalagi religiositas. Kedung memaknai masa lalu secara konservatif: sebagai kenangan. Tentu, kenangan itu personal, kenangan yang mengisah pengalaman dan penghayatan asmara. “Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu” memang pantas dipilih sebagai judul buku, “betapapun,” sekali lagi, “mengesankan suasana romantis.” Buku itu terasa sebentuk monumentasi pengalaman asmara Kedung, kemungkinan besar bersama Eka Nusa Pertiwi. Puisi pertama di buku Kedung bahkan dipersembahkan buat Eka: masihkah kausimpan karcis/ yang buat kita menunggu/ kapan kereta terakhir tiba?

Masa lalu semakin ditegaskan sebagai kenangan di puisi “Tentang Masa Lalu yang Mencair dan Catatan-catatan yang Dihanyutkan”. Kita membaca Kedung: jam rumahku melambat/ hari menekan dan cuaca memberat./ kamu pergi membawa hati orang lain/ aku pergi membawa masa lalu.// aku tak bisa menyentuhmu/ aku tak bisa menyentuh masa lalu./ aku menjaga malam/ yang terbuat dari kenangan. Aku di puisi Kedung tak sekadar pergi membawa masa lalu. Aku di situ lantas menjelma masa lalu: kenapa kau membelakangiku?/ kenapa tak kau tengok si masa lalu ini/ duduk melihat dapur yang kotor./ aku mencuci jamur-jamur yang mengerak di hatiku/ kakiku kutu air. hatiku kutu air/ dan mataku turun hujan/ mataku rendaman air cucian.

Di puisi mutakhir, pemilihan frasa masa lalu dan tematik asmara mestinya sudah menjemukan. Tapi, kita menemukan sedikit kenakalan Kedung di puisi-puisinya. Meski Kedung bermain dengan frasa menjemukan (masa lalu), bukan berarti tiada pertarungan kebahasaan di puisi-puisinya. Kedung nyatanya berani memilih kata/frasa tidak lazim di puisi-puisi asmara. Misal, ia telah membahasakan tangis dengan “mataku rendaman air cucian”. Di puisi lain, “Demi Waktu yang Berjatuhan di Dalam Tubuhku” (2017), Kedung berkidung: demi waktu yang menampol kesedihan demi kesedihan/ kucatat nama ibu yang perkasa./ demi burung-burung yang ditembak mati/ kusangkarkan burungku di dalam hati.

Kedung memutuskan memilih kata “menampol” ketimbang, misalkan, menampar. Padahal, kata itu untuk disandingkan dengan frasa bersumber kitab suci: demi waktu. Di awal puisi, Kedung pun telah bergelagat religius: demi waktu yang berjatuhan di dalam tubuhku/ telah kucatat nam Tuhan/ lebih dalam dari perigi perempuanku. Kita, sebagai pembaca yang banyak tuntutan, boleh lega mendapati pertarungan kebahasaan Kedung di Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu. Kita tentu ogah melulu dicekoki masa lalu sebagai frasa, serta asmara sebagai tematik, yang bikin jemu. Puisi, terutama kalau masih meminjam bahasa-bahasa lama, berkonsekuensi menjanjikan kebaruan. Kedung memilih bahasa-bahasa nakal nyaris tidak puitis sebagai kebaruan yang bisa ternikmati dari puisi-puisi masa lalunya. []

Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Sarjana rumah tangga alias pengangguran tersertifikasi.
Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Latest posts by Udji Kayang Aditya Supriyanto (see all)