Maulid Nabi dan Irama Kosmis Tradisi

in Esai by
khazanahalquran.com

Sebagai sebuah bangsa yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, yang mengkhaskan umat Islam Indonesia dengan umat Islam di negara lain, termasuk Timur-Tengah, adalah tradisi. Tradisi, dalam konteks umat Islam Indonesia, merupakan perjumpaan sekaligus “pernikahan” antara ajaran Islam dengan budaya Nusantara yang kemudian menjelma ritual untuk meraih kesucian, kebeningan, keselarasan, atau kepulangan kembali pada Yang-Ilahi. Tradisi dalam pemaknaan ini pula yang pada akhirnya menjadi ciri khas utama dari Islam Indonesia.

Maulid atau kelahiran Nabi Muhammad Saw. adalah satu dari sekian tradisi yang sampai hari ini masih rutin digelar oleh umat Islam di Indonesia. Setiap tahun, setiap memasuki bulan Rabi’ul Awal pada hitungan tahun Hijriah, hampir sebagian besar umat Islam di Indonesia menggelarnya. Perayaan tahunan ini tak hanya digelar oleh institusi negara seperti istana negara, kantor gubernur, sampai ke kantor desa, melainkan diperingati pula oleh institusi lain seperti organisasi masyarakat, kelompok-kelompok usaha dari berbagai lapisan masyarakat, masjid, surau, sekolah, dan tentu saja pesantren.

Keluarga, yang menjadi institusi kebudayaan pertama sekaligus utama dalam tatanan masyarakat, tak ingin ketinggalan pula dalam merayakan kelahiran Nabi junjungan. Di desa-desa yang masyarakatnya beragama Islam, hampir setiap rumah menggelar Maulid; dari perayaan yang sederhana, sedang, hingga boleh dikata mewah untuk ukuran mata pencaharian atau penghasilan keluarganya.

Tradisi Maulid Masyakarat Kita

Di Banyuwangi, tradisi Maulid Nabi dirayakan dengan endhog-endhogan, yakni sebuah istilah lokal bagi butir-butir telur yang telah direbus dan ditusuk dengan tusukan bambu, lalu ditancapkan di batang pohon pisang (dhebok). Sebelum ditancapkan di batang pohon pisang, pada ujung tusukan juga biasanya dilengkapi dengan hiasan warna-warni dari kertas layang-layang. Hingga telur-telur itu pun seolah menjadi bunga telur warna-warni.

Telur, dalam tradisi endhog-endhogan ini, adalah simbol dari kelahiran yang senada dengan perayaan Maulid sebagai kelahiran Nabi. Telur yang digunakan pun biasanya telur bebek, yang bermakna seorang muslim harus taat pada perintah Tuhan dan ajaran Nabi Muhammad Saw., sebagaimana bebek taat pada gembalanya, agar ia selamat di dunia dan di akhirat. Tusuk bambu merupakan lambang dari sebatang pohon yang batangnya tegak lurus, yang di sini menjadi simbol seorang muslim agar senantiasa memiliki akidah yang kuat dan lurus penghambaannya kepada Allah Swt. sebagaimana tegak dan lurusnya batang-batang pohon bambu. Sedangkan pohon pisang merupakan gambaran bahwa seorang muslim harus senantiasa bercita-cita tinggi untuk menabur nilai-nilai luhur ajaran Islam meski rintangan menghalanginya, sebagaimana pohon pisang yang sebelum berbuah akan tetap tumbuh meski telah ditebas berkali-kali. Begitu pula hiasan kertas warna-warni, ialah gambaran kebahagiaan alam raya dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang diutus Allah ke muka bumi untuk membawa cinta dan kasih sayang. Tak jarang pula, hiasan warna-warni dari kertas layangan ini berwarna merah putih; sebuah ungkapan syukur masyarakat kita atas kehadiran Nabi Muhammad Saw. ke dalam kehidupan ini, yang meski dilahirkan di Jazirah Arab sana, namun ajaran-ajaran cinta kasih dan petunjuknya sampai dan terasa pula di Indonesia.

Endhog-endhogan hanyalah satu contoh perayaan Maulid Nabi yang menjadi tradisi sebagian masyarakat kita di Banyuwangi. Di daerah lain di Nusantara, perayaan Maulid Nabi juga dirayakan dengan tradisinya masing-masing, sesuai kultur masing-masing, serta sesuai nilai-nilai filosofis yang disematkan dan diwariskan turun-temurun oleh para leluhur atau tetua adat.

Dalam masyarakat Madura, ada Molotan, yakni sebuah tradisi merayakan Maulid Nabi dengan ceramah seorang kiai tentang pribadi Nabi, kebaikan dan perjuangannya, juga penjabaran hadits atau ajaran-ajarannya untuk dijadikan pedoman hidup. Bila Molotan ini digelar di masjid atau surau, perempuan-perempuan Madura akan berduyun-duyun menuju masjid atau surau menyunggi talam berisi tumpeng. Di talam tersebut dipenuhi juga dengan beragam buah-buahan yang ditusuk dengan lidi dan dilekatkan pada tumpeng. Di akhir acara, tumpeng dan buah di talam akan dimakan bersama-sama, dan dijadikan berkat untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing untuk mendapatkan berkah.

Acara Molotan ini dimulai terlebih dahulu dengan menembangkan puisi-puisi cinta untuk Nabi Muhammad Saw. secara bersama-sama. Puisi yang dibacakan, lazimnya karangan para sufi-penyair seperti Diba’ (karya Abdurrahman ad-Diba’i), Burdah (karya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri), atau Simtud Durar (karya Ali bin Muhammad al-Habsyi). Pembacaan puisi-puisi cinta yang kerap disebut salawatan ini diiringi tabuhan rebana.

Dalam tradisi Molotan, puisi dan musik menyatu menjadi madah bumi terhadap Nabi agar berkenan menghaturkan keluh-kesahnya ke langit yang menjadi simbol tempat kesucian bersemayam. Puisi dan musik menjelma kidung harapan agar nilai-nilai luhur di langit diturunkan kembali ke muka bumi. Puisi yang ditembangkan dan rebana yang ditabuh meresap ke relung-relung batin jamaah, menjadi nada yang tak hanya mengalun, melainkan juga menuntun gerak dan diam mereka dalam menyusuri kehidupan.

Di Yogyakarta, ada Grebeg Maulud yang telah menjadi tradisi sejak Kesultanan Mataram. Kata Grebeg bermakna mengikuti, yakni mengikuti sultan atau pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk merayakan Maulid Nabi, lengkap dengan pernak-pernik upacara seperti nasi gunungan, aneka buah, dan hasil bumi lainnya. Puncak dari upacara ini adalah gunungan yang dibawa ke Masjid Gedhe Kauman. Setelah upacara dan doa ke hadirat Tuhan digelar di masjid, gunungan-gunungan makanan dan hasil bumi tersebut dibagi-bagikan ke masyarakat. Umumnya, masyarakat sudah menunggu upacara ini sejak pagi. Karena telah didoakan dan menjadi bagian dari upacara Maulid Nabi, masyarakat pun akan langsung memperebutkan gunungan-gunungan tersebut sebab diyakini banyak mengandung keberkahan. Bagian-bagian dari gunungan ini dianggap memiliki tuah dan keberkahan, terutama bagi para petani. Mereka akan menanamnya di ladang, di kebun, atau di persawahan untuk memperkuat doa agar lahannya subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Ritual ini meneguhkan keyakinan bahwa kelahiran Nabi tak hanya berkah bagi kemakmuran batin, tapi lebih dari itu juga memberi kemakmuran pada alam yang mereka olah sebagai mata pencaharian dan menjadi kebutuhan pangan sehari-hari.

Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Maulid Nabi dirayakan dengan tradisi Bungo Lado. Di Garut, Jawa Barat, dirayakan dengan tradisi Ngalungsur. Di Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah, dengan tradisi Ampyang. Di dusun Mengelo, Mojokerto, Jawa Timur, dengan tradisi Keresen. Di Keraton Cirebon dengan Panjang Jimat. Dan di Cikoang, Takalar, Sulawesi Selatan, dengan tradisi Maudu Lompoa. Di Kalimantan, di Maluku, di Aceh, di Nusa Tenggara Barat, di Riau, dan di daerah-daerah lain di Indonesia, Maulid Nabi dirayakan sesuai kultur dan tradisi masing-masing masyarakatnya, sesuai filosofi yang turun-temurun diyakininya.

 

Irama Kosmis Tradisi

Meski perayaan-perayaan Maulid ini berbeda bentuk secara seremonial, namun semua ini diikat oleh satu-kesatuan ruh spiritual: mendulang kembali kesucian serta keindahan yang melekat dan bersemayam dalam diri Nabi Muhammad Saw. Muhammad, oleh umat Islam Indonesia, tidak hanya dianggap sebagai da’i yang lahir di Jazirah Arab berabad-abad silam, lebih dari sekadar itu ia telah dijiwai sebagai pusat acuan bagi seluruh tatanan kosmos. Oleh karenanya, bersandar seraya menitipkan keluh-kesah pada Nabi, baik yang bersifat duniawi lebih-lebih yang ukhrawi, untuk disampaikan ke hadirat Tuhan adalah sebuah keniscayaan. Muhammad diamini sekaligus diimani sebagai agen penghubung antara “yang-bumi” dengan “yang-langit”.

Dengan menggelar Maulid Nabi, umat Islam Indonesia ingin mencecap kesucian, meraih keindahan, serta menadah seluruh dimensi kebaikan dalam diri Nabi yang selama ini telah dimusnahkan oleh apa pun yang bernama kapitalisme, materialisme, serta otonomi individu yang dari hari ke hari makin menguat pada batin personal dan batin kulturalnya. Dengan menembangkan madah-madah pujaan terhadap Nabi, mereka ingin menghubungkan dirinya kembali pada irama kosmos yang berpusat pada diri Muhammad Saw.

Penghayatan atau penjiwaan umat Islam Indonesia pada sosok Muhammad Saw. dengan merayakan Maulid akhirnya senada dengan pernyataan Syaikh ‘Abdul Karim al-Jilli, di dalam kitabnya, al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa’il. Dalam kitab tersebut, sufi sekaligus teolog kelahiran Baghdad ini menulis bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah al-quthbul ladzi yaduru ‘alayhi aflakul wujud, yakni sebuah kutub yang menjadi pusat atau titik tumpu bagi peredaran dan perputaran semesta.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa di Indonesia, kelahiran Nabi Muhammad Saw. bukan lagi sekadar seremonial, melainkan ritual: sebuah aktivitas rohani untuk mengikat kembali koneksi personal maupun kultural yang selama ini terputus pada pusat acuan dari seluruh gerak dan diam alam raya.

Dengan bermaulid, kesucian sekaligus keindahan yang dialirkan Allah Swt. terus-menerus pada diri Sang Nabi ditadah luapannya untuk diguyur sekaligus diteguk kembali sebagai bekal dalam menjalani kehidupan; agar diri yang-personal (manusia) dan diri yang-kultural (bangsa atau negara) tidak terlepas dari ikatan kesucian serta senantiasa kuyup oleh keberkahan, kemakmuran, juga cinta dan kasih-sayang.

Achmad Faqih Mahfudz

Achmad Faqih Mahfudz

lahir di Buleleng, Bali, 14 Maret 1987. Pernah numpang minum dan mandi di Pondok Pesantren Sumber Bunga, Situbondo, Jawa Timur; Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur; dan Pondok Pesantren Izzul Hasan, Tapin, Kalimantan Selatan.
Achmad Faqih Mahfudz

Latest posts by Achmad Faqih Mahfudz (see all)

  • Mohammad Faizi

    esai yang kaya referensi