Mediocre dan Sebuah Label Bagi Penghujat

in Esai by
Mediocre dan Sebuah Label Bagi Penghujat
Sumber gambar thepreachersword.com

Saya akan awali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana. Begini, apakah menghujat itu ada rumus dan teorinya? Saya merasa perlu menghadirkan pertanyaan ini setidaknya untuk mengetahui seperti apa hakikat dari menghujat itu.

Saat ini, sungguh tak sulit menemukan bahasa-bahasa hujatan, bukan? Bila akhi dan ukhti berselancar di media sosial, maka dengan begitu mudahnya antum wa antunna menemukan betapa menghujat seakan merupakan camilan yang teramat guruh untuk dikunyah lalu disemburkan.

Untuk lebih mudahnya, mari ambil satu contoh. Bila saat ini Anda sedang online, coba saja ketik misalnya nama Ulil Abshar Abdallah dan Habib Rizieq atau JIL dan FPI di laman Google. Maka Anda akan disuguhi segala macam “rasa” hujatan di situ, baik di halaman-halaman tulisan maupun di kolom komentarnya. Siapa yang doyan menghujat di situ? Tak perlu saya sebutkan. Terlalu banyak, terlalu sering. Jadi Anda bisa baca sendiri saja.

Lalu bagaimana caranya menghentikan kebiasaan menghujat?

Sesungguhnya tak pernah ada cara yang sistematis apalagi praktis untuk menghentikan kebiasaan orang menghujat. Yang mampu mengerem godaan untuk menghujat itu hanyalah kematangan iman, kedewasaan intelektual, keluasan wawasan, ketawadhuan hati, dan juga rasa malu. Faktor-faktor itulah yang dapat menjadi kendali bagi seseorang untuk tidak gampang menghujat, mengutuk, melaknat, men-takfir, dan sebagainya. Dan selanjutnya, yang bisa kita lakukan pada mereka yang biasa dan hobi menghujat itu barangkali bukanlah menghujat balik, tapi menyikapinya secara ilmiah.

Untuk itu, dengarkanlah fatwa almukarram Albert Einstein. Qála Einstein, “Great minds have always encountered violent opposition from mediocre minds.” Pemikiran-pemikiran besar itu akan selalu dihadapi dengan keras oleh pikiran-pikiran yang justru (terkadang) biasa-biasa saja.

Poin yang menurut saya penting dijabarkan di sini adalah konsep mediocre itu sendiri, yang karenanya, Richard Claproth merasa perlu mengulasnya dalam sebuah buku khusus.

Agar lebih mudah memahami seperti apa kinerja dari kata mediocre itu, mari kita petakan seperti ini. Pertama, secara psikologis, jarang ada orang yang rela dirinya, ilmunya atau pemikirannya, dianggap biasa-biasa saja. Kalaupun ada, itu bisa dihitung pakai jari. Itu pun jari kodok, hehe. Justru yang ada malah sebaliknya. Orang secara tidak langsung menghendaki agar ia dianggap lebih keren dari orang lain, dianggap lebih paham akan sesuatu dibanding pihak lain, dianggap lebih punya kapasitas untuk berbicara sebuah persoalan dari yang lain, dianggap lebih agamis, dianggap lebih… ah, macam-macam, lah. Pokoknya mereka tidak rela dianggap manusia biasa-biasa saja, apalagi di bawah yang biasa-biasa itu. Dorongan inilah kemudian yang sering kali mengantarkan dia untuk menghujat ketika ada orang lain berbeda tajam pendapatnya dengan dirinya, mengkritisi pemikirannya atau justru menganggap biasa pemikirannya.

Kedua, sering kali pemikiran-pemikiran besar dihadapi secara keras oleh pemikiran yang terkadang justru sangat biasa-biasa saja. So, bagaimana membuktikan sebuah pemikiran itu sangat keren, sangat besar dan sangat hebat? Tentu saja dengan mengkajinya, mempelajari, dan menelitinya, yang hal demikian baru bisa tercapai bila kita berendah hati menerima pemikiran itu terlebih dahulu. Catat, terima dulu pemikiran orang lain, baru kemudian diteliti. Kalau benar diambil, tapi kalau salah dikritik, diajak diskusi bareng. Bukan sebaliknya. Jangan menolak seluruh isi pemikiran dengan tergesa-gesa. Apalagi ditingkahi hujatan. “Pemikiranmu sudah menyimpang dari ajaran Tuhan. Itu bid’ah. Itu pemikiran terlaknat. Dasar bodoh, dasar liberal….”

Lebih parah lagi kalau kita menolak dan menghujat pemikiran seseorang hanya karena orang itu bernaung di bawah organisasi tertentu. “Wah! Kalau pemikiran si dia pasti menggiring kita pada kekufuran. Dia kan orang ini-itu. Pemikirannya sudah ditunggangi setan. Sudah menyimpang jauh dari tuntunan agama yang benar.”

Ketiga, sering kali kita menghujat orang lain karena menganggap pemikiran orang itu sebagai sebuah masalah, tapi pada saat yang bersamaan kita justru tidak menyadari bahwa pemikiran kita sendiri sebenarnya juga merupakan masalah. Kalau kita meyakini bahwa kebodohan dan orang bodoh itu sebagai keadaan yang buruk, sebagai problem dan ujian dalam hidup seseorang, kita seyogianya juga menyadari bahwa kepandaian dan orang pandai itu juga mengandung problem yang sama. Kalau saya menghujat dan menganggap Anda bodoh karena tidak mengetahui apa yang saya pahami atau karena tidak berbuat sebagaimana yang saya perbuat, aslinya problem demikian bukan sekadar ada pada Anda. Tapi juga pada saya, pada pengetahuan saya; kenapa saya justru bersikap demikian seandainya saya memang merasa lebih pandai dari Anda yang saya anggap bodoh itu?

Einstein dulu juga sering dihujat karena pemikirannya dianggap nyleneh dan menyimpang. Tetapi Einstein diam saja, merenungi hujatan-hujatan yang dilontarkan orang lain kepadanya sambil lutisan dan minum teh tubruk. Sampai akhirnya tercetuslah istilah mediocre itu, yang bila dijabarkan akan berbunyi sejenis ini:

“Orang yang menghujat pemikiran dan perbuatan orang lain terkadang menjadi jalan bagi pelakunya untuk menutupi pemikiran-pemikirannya yang biasa-biasa saja (mediocre). Karena pemikirannya hanya biasa-biasa saja, ia tidak mampu mempelajari lebih jauh dan lebih bijak pemikiran orang lain yang sedang dihujatnya. Mereka akan tetap memaksakan diri menunjukkan kekuatannya agar tidak dianggap memiliki pemikiran yang biasa-biasa saja. Dan kekuatan yang mereka tunjukkan itu adalah kekuatan menghujat….”

Dari situ, saya akan jawab pertanyaan di paragraf awal tadi. Bahwa ternyata menghujat pun ada teorinya. Dan yang paham betul teori menghujat ini hanyalah mereka yang tergolong ke dalam ashhabul mediocre. Termasuk saya tentunya. Heu heu.

Maka hujatlah terus orang lain yang pemikiran dan tindakannya tidak sesuai dengan pemikiran maupun amalan Anda jika ingin tahu betapa mediocre-nya Anda.

Salman Rusydie Anwar
Add Me

Salman Rusydie Anwar

Guru ngaji mushala kecil di desa. Sela-sela waktunya mengajari ngaji digunakan untuk menulis cerpen dan puisi. Sekarang tinggal di sana, di Kebumen.
Salman Rusydie Anwar
Add Me

Latest posts by Salman Rusydie Anwar (see all)