Melankolia Pencerita dan Hal-Hal yang Terasa Menggantung (Membaca Sungging Raga)

in Esai by
artlimited.net

Membaca sastra merupakan laku hening namun penuh konflik mengisi ruang-ruang gelap kemungkinan. Setiap pembaca pun dengan caranya masing-masing menemukannya dalam keadaan yang bisa jadi berbeda: selarik retakan memanjang, celah sempit yang tidak terlalu dalam, lubang seluas bola mata dengan kedalaman tidak terbayangkan, dan labirin menyesatkan sekaligus membuat siapa pun nyaman berlama-lama menyusuri bahkan mendiaminya. Realitas ini dalam perkembangannya seolah diamini sebagai sesuatu yang subjektif, sesuatu yang ada dan tiadanya ditentukan sepenuhnya oleh si pembaca. Teks seolah dilupakan, dan kuasa teks atas penciptaan makna pun terpinggirkan. Padahal, diakui atau tidak, tekslah yang membentangkan titian, jalan setapak, ataupun jalan raya bebas hambatan bagi pembacanya.

Membaca kumpulan cerpen Reruntuhan Musim Dingin saya langsung diterjang oleh sejumlah citra yang kurang lebih berada pada satu bingkai bahkan ketika saya baru menamatkan daftar isinya. Betapa tidak, judul-judul macam “Selebrasi Perpisahan”, “Dermaga Patah Hati”, “Melankolia Laba-Laba”, Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis”, “Reruntuhan Musim Dingin”, “Abnormaphobia”, “Turbulensi Kenangan”, “Kompor Kenangan”, “Sepasang Semut dan Gadis Kecil yang Sedih”, “Tak Ada Kematian di Alaska”, “Aku Berjalan Sendirian”, dan “Biografi Sepasang Rangka” mau tidak mau membangun sebuah konstruksi bayangan di dalam pikiran saya terkait yang akan saya jumpai ketika benar-benar membaca dan menamatkan cerpen-cerpen tersebut. Sebuah konstruksi yang di dalamnya tidak ada kelegaan terlebih lagi kebahagiaan konvensional. Dan memang demikianlah adanya.

Semesta ciptaan Sungging Raga ini dengan nada yang kurang-lebih sama menghadirkan fragmen hidup sejumlah tokoh yang bertempat pada semesta yang mungkin telah begitu kita akrabi: urban, kini, generasi baru. Mereka memang memiliki problematikanya masing-masing namun berkisar pada serangkaian tindakan menyikapi satu-dua hal yang sama. Hal ini semakin terasa ketika dalam sejumlah cerita muncul tokoh-tokoh dengan nama sama yang tidak mengacu pada sosok tunggal. Mereka juga hadir sebagai manusia periferi dalam hal perasaan, ada yang secara terus-menerus ditepikan sedemikian rupa bahkan tidak diperkenankan untuk mereka rasakan sehingga mereka tidak mengalami kerusakan atau semakin parah. Saya pun mau tidak mau membayangkan semesta paralel yang dihuni oleh orang-orang berbeda sekaligus sama.

Kesan keparalelan tersebut tentu tidak tanpa alasan mengingat sebagian cerpen-cerpen menceritakan perpisahan, penantian, dan tanpa pertemuan. Jika pun ada pertemuan, ia justru menjadi titik awal perpisahan. Seperti kata salah satu tokoh, “Kita tidak gagal, kita hanya selesai melakukan perjalanan, dan kini sudah tiba di ujungnya. Setelah ini, kita melanjutkan perjalanan masing-masing ke arah yang berbeda.” Miris manis.

Meskipun demikian, sulit saya bagi saya untuk meraba nestapa pada cerpen-cerpen tersebut. Sebagai pembaca, saya seolah ditempatkan sebagai pemandang dari balik kaca, saya seolah ditahan sepanjang lengan. Sosok-sosok dan problematikanya yang terasa dekat dengan keseharian justru terasa jauh. Perpisahan ada untuk dirayakan alih-alih ditangisi. Kenangan ada sebagai bahan bakar yang menghidupi sosok yang mencinta. Keadaan ngelangut pun memperoleh asupan berkalori tinggi. Ada pola yang terasa nyata di dalam kumpulan cerpen ini yang tentu memerlukan pembacaan lebih lanjut untuk menggambar dan mengurainya lebih gamblang.

Di sejumlah cerpen saya menjumpai aroma metafiksi. Tidak hanya pencerita, tokoh-tokohnya pun menyadari bahwa ia adalah bagian dari semesta fiksi. Pada awalnya, fakta ini menarik sekaligus membuka peluang untuk dicermati lebih lanjut. Namun, pada akhirnya, setidaknya dalam pembacaan perdana saya, hal tersebut justru menimbulkan tanda tanya terkait keberadaannya yang tampak sekadar sambil lalu, juga kebermaknaannya. Kesan yang demikian semakin kuat ketika di sejumlah cerpen muncul beberapa judul buku dan lagu lengkap dengan nama penyanyinya yang bagi saya terasa menggantung bahkan seandainya dilenyapkan tidak memengaruhi cerita secara keseluruhan karena pembaca tidak lagi memerlukan informasi tersebut sementara nuansa sudah terbangun dengan jelas.

Terkait dengan hal tersebut, saya jadi memikirkan tentang jarak yang terentang antara pengarang dan pencerita. Pada suatu waktu yang belum lama berlalu melalui salah satu media sosial saya menulis: Penggunaan kata ganti orang pertama tunggal dalam bercerita merupakan salah satu yang paling riskan dalam penulisan fiksi. Cerpen-cerpen di dalam kumpulan cerpen ini sebagian besar memanfaatkan kata ganti orang yang demikian: pencerita adalah tokoh, tokoh adalah pencerita.

Secara sepintas, teknik penceritaan yang demikian memang yang paling mudah karena si pengarang bisa dengan leluasa mencipta dengan mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh. Bagaimanapun, yang saya anggap riskan seperti tersebut di atas adalah adanya kemungkinan bahwa dalam menghadirkan cerita dengan kata ganti orang pertama tunggal terjadi rembesan yang bahkan tidak disadari dari segala sesuatu yang berasal dari si pengarang: dirinya, latar belakangnya, hal-hal yang disukainya, cara bertuturnya, cara berpikirnya, dan pandangan dunianya.

Penceritaan dengan aku, setidaknya bagi saya, justru yang paling sulit. Memang, pengarang memiliki hak penuh untuk mencipta semesta fiksinya, ia bisa keluar-masuk dengan sesuka hati, membelokkan yang lurus, membolak-balik yang telah tertata rapi. Bagaimanapun, ada nalar bersastra yang perlu dirawat. Salah satunya, setiap orang memiliki cara bertutur dan berpikir yang berbeda. Hal-hal di dalam kumpulan cerpen ini tampak disampaikan oleh pencerita tunggal. Karena sebagian besar penceritanya merangkap sebagai tokoh, hal-hal tersebut secara otomatis tampak disampaikan oleh tokoh tunggal. Padahal, tokoh-tokoh tersebut berbeda meskipun ada yang memiliki kesamaan nama. Belum lagi ungkapan-ungkapan bermuatan filosofis yang dengan enteng disampaikan oleh tokoh-tokoh yang tampaknya tidak memiliki latar belakang yang mendukung hal-hal yang diungkapkannya. Mungkin mereka memang hidup di semesta paralel yang betapa pun berbeda satu sama lain, sejatinya mereka satu. Mungkin juga tidak.

Sebagai sebuah kumpulan cerpen, Reruntuhan Musim Dingin impresif. Cerpen satu dengan cerpen lain memiliki kaitan yang tidak sekadar bayangan samar seseorang yang berjalan tengah malam di sebuah gang kecil. Kehadiran sejumlah hal yang berlawanan dengan yang sering kali kita jumpai di keseharian menjadikannya menarik untuk dibaca lagi dan lagi untuk mengubah benang merah menjadi tenunan merah.

Bramantio

Bramantio

Kritikus sastra dan dosen FIB Universitas Airlangga.
Bramantio