Melihat Dunia Melalui Lubang Kunci

in Esai by

Bukan Tanya

 

Seorang berkisah

atau berkeluh kesah

tentang bangunan yang runtuh

tentang tanah yang terbelah

 

“Nuh, di mana perahu kayumu

di mana sekoci

juga mimpi-mimpi kami?”

Itu puisi terpendek di antara puisi-puisi lain ada di Kawitan (2016) garapan Ni Made Purnama Sari dan ada di bagian “Kampung Halaman”. Puisi belum pernah termaktub ataupun termuat di media cetak, seperti majalah, jurnal, dan koran. Dan, itu salah satu puisi pilihan mampu menarik perhatian pembaca dengan asumsi sederhana, yakni puisi pendek biasanya memiliki daya energi, esensi, atau daya magnet besar sekaligus misteri, layaknya haiku ataupun puisi Sitor Situmorang berjudul “Bulan di Atas Kuburan”.

Dan, ketika puisi itu hadir di buku puisi Kawitan, horizon pembaca mengarah pada ungkapan terkenal dari Umar Junus terdapat dalam buku Dari Peristiwa Ke Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia (1985), yakni: “Orang tak mungkin berimajinasi tanpa pengetahuan suatu realitas. Karena itu, imajinasi selalu terikat kepada realitas sedangkan realitas tak mungkin lepas dari imajinasi.”

Tentunya, hal ini menjadi fondasi bagi pembaca bahwa seimajinatif maupun sefiktif apa pun sebuah karya sastra (dalam hal ini, puisi), hal itu tak bisa lekas dianggap suatu fiksi, imajinasi belaka. Atau, berlebihan bila dianggap suatu kebohongan.

Memang dua pernyataan dalam realitas pengetahuan kita itu tak bisa dihindari. Entah, apa yang melatarbelakangi semua itu, pembaca tak mumpuni dalam mengurai benang kusut itu. Hanya saja, saat dua pernyataan terlontar, ada celah yang cukup untuk menjelaskan kenapa karya sastra ada di antara fakta dan fiksi. Dan, penjelasan itu datang dari Aart van Zoest dalam Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik (1992), dapat kita ketahui sebagai berikut.

“Pikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan,” kata Tyutcev, seorang penyair Rusia. Ucapan ini sangat tajam, tetapi mengandung sesuatu. Karena memang sesungguhnyalah demikian bahwa kita harus membuat pilihan dari berbagai alat bahasa yang tersedia dan membuat pilihan dari berbagai cara pengelompokannya bila kita ingin menceritakan hal yang hidup dalam diri kita. Dan memilih mengandung arti menyisihkan sehingga di satu pihak ada kebenaran yang hilang antara pikiran, perasaan, pengalaman yang diungkapkan; di lain pihak ada pula kebenaran yang hilang dalam pengungkapannya. Kebocoran semacam itu juga timbul waktu melaporkan kejadian-kejadian di luar diri kita. Peristiwa-peristiwa tersebut juga tak dapat dilukiskan (atau difilmkan, atau difoto) sedemikian rupa sehingga kita dapat mengatakan: inilah kebenarannya, seratus persen, tidak kurang sedikit pun.

Kesadaran akan kekurangan cara berekspresi yang dapat kita gunakan dapat mengakibatkan sikap skeptis yang berlebihan mengenai nilai-nilai kebenaran teks. “Berbohong secara terang-terangan, seperti dicetak saja,” kata orang. Namun, segala sesuatu yang dicetak tentu bukan kebohongan. Ada bohong dan bohong. Ada teks-teks yang ditulis dengan usaha sungguh-sungguh untuk mengatakan apa adanya. Dalam teks semacam itu pembaca diberi kesempatan untuk membandingkan informasi yang disajikan dengan informasi lain, dan bila perlu melengkapinya tanpa prasangka. Akan tetapi, ada juga teks-teks ketika pembaca dihadapkan pada fakta-fakta, yang disajikan sedemikian rupa sehingga yang diutarakan dengan sengaja telah disesuaikan dengan tujuan yang tersembunyi. Dengan demikian, pembaca dimanipulasi. Seandainya si pembaca tahu, dia akan berpikir: “Memang sungguh terjadi, tetapi dusta belaka.”

Dari pernyataan sekaligus pengetahuan Aart van Zoest, pembaca mafhum bahwa karya sastra selalu ada dalam dunia fakta dan fiksi, sekalipun sastrawan (penyair, cerpenis, atau novelis) mengatakan bahwa karyanya tak terlepas dari realitas sebenarnya atau “berdasarkan kisah nyata”. Meminjam ungkapan dari Zoest lagi, semua itu diibaratkan ketika kita (pembaca) “…melihat lubang kunci” sebuah pintu. Di situ, “…di baliknya kita melihat kenyataan yang sekaligus bukan kenyataan. Sesuatu yang kabur, dengan gemerlap, dengan suara yang teredam.”

Inilah yang terjadi dalam puisi pendek Ni Made Purnama Sari. Secara sekilas, puisi itu berjudul “Bukan Tanya”, tapi ketika kita membaca puisinya, terutama di bait akhir, ia melontarkan tanda tanya:

“Nuh, di mana perahu kayumu

di mana sekoci

juga mimpi-mimpi kami?”

Apakah ini berarti tanda tanya telah dihadirkan Purnama Sari itu juga indikasi dari suatu tanda per-nyata-an, ataukah malah tanda seru untuk diri dan pembacanya (kita)?

Simpulan tentu tak semudah itu, meski bisa saja, dikatakan dengan mudah. Puisi paling pendek dan irit kata dibandingkan puisi-puisi lain di buku Kawitan ini, memang seperti melihat dunia melalui sebuah lubang kunci pintu. Sehingga, apa yang dilihat, belum bisa dijadikan kesimpulan paling benar dan lengkap. Sebab, di baliknya ada kenyataan-kenyataan lain yang masih tertutupi. Dan, untuk itu, dalam pembacaan kali ini, pembaca berusaha untuk mencari, mengetahui, dan menafsir dalam rangka pemahaman dan memahami suatu realitas yang sebenarnya.

***

Puisi “Bukan Tanya” ditulis dengan penanda waktu: 2008 (hal. 75). Dalam hal ini, penyair menulis puisi tak abai dengan segala realitas dan semesta di sekitarnya. Ia tak abai dengan pikiran, imajinasi, pengetahuan, dan pengalamannya. Semua itu tertumpahkan dalam buku puisi ini. Ia menulis puisi-puisi yang “menyuarakan” atau memiliki kandungan pelbagai hal, meliputi religiositas, sosial, sejarah, budaya, sastra, psikologi, dan ekologi. Dan, itu tak terlepas dari dunia teks tertulis-tercetak (seperti buku bacaan) maupun dunia teks tak tertulis-tak tercetak (realitas sosial), dengan salah satu buktinya, direpresentasikan lewat beberapa nukilan puisi “Perpustakaan Kampus” (hal. 40), sebagai berikut.

“Apakah bahagianya jadi penyair, oh, Walt Whitman/Rumi, Khayyam, Paz, Mistral!/Inginku menandingimu tiap kali usai membacamu”/Kuyakin mudah tulis puisi tentang anggur/ membayang bulan padang gurun/Kisah dua taman, patung singa menghilang ke ujung petang”; lalu, di bait 2 dan 3, berikut: “Aku bisa lampaui ketakterdugaan itu/Hidupku, orang sekitarku, tak pernah bisa kukira:/Di terminal pagi hari aku berjejal bersama para pencuri yang rupa dan namanya tak pernah kusadari/mereka mencopet, memaki, sembunyi/ tanpa pernah kusadari/Di jemariku kuntum bunga tumbuh merimbun pohon.”

Dari ketidakterlepasan dunia teks tertulis-tercetak dan tak tertulis-tak tercetak itu, maka horizon pembaca ketika menyimak teks puisi “Bukan Tanya”, Purnama Sari dalam hal ini berikhtiar menyampaikan realitas yang diketahui, yakni tertuju pada manusia (meminjam penyebutan Jean Couteau dalam buku puisi ini, yakni; si “lian”) sedang menyatakan adanya suatu musibah: “tentang bangunan yang runtuh” dan “tentang tanah yang terbelah”.

Dan, dalam upaya penyampaiannya itu, ia masih belum sanggup menyatakan apakah si lian itu berkisah atau berkeluh kesah. Artinya, penyair dalam hal ini masih memiliki jarak dengan si “lian”. Meskipun ada jarak, memang, dalam puisi ini, penyair seperti hanya ingin menyampaikan sesuatu telah dilihat atau dibacanya.

Dan, apa yang dibacanya itu, sebenarnya bukan sekadar musibah kecil—meski, penyair menyampaikan dengan bahasa yang tampak sederhana dan kecil. Sebab, penyair, dalam bait selanjutnya (terakhir) langsung menuliskan suatu tanda tanya sekaligus tanda per-nyata-an dan tanda seru (jika menilik konteks judul: Bukan Tanya). Pembaca akan menukilkan kembali bait terakhir tersebut.

“Nuh, di mana perahu kayumu

di mana sekoci

juga mimpi-mimpi kami?”

Penghadiran Nuh oleh penyair, secara implisit mengajak pembaca untuk mengingat dan memaknai, bahwa realitas yang diketahui dan disampaikan penyair adalah narasi sebuah musibah besar, tapi belum disadari atau masih tak kasatmata bagi pembaca (kita). Di sisi lain, ia meneroka akan hal paling purba, berkaitan sejarah. Yakni, suatu sejarah manusia, sejarah kenabian (dalam hal ini: Nabi Nuh).

Ketika hal itu berurusan dengan waktu begitu purba (sejarah), penyair seakan mengajak pembaca untuk menilik lagi sejarahnya dengan pembukaan referensi. Dan, referensi pertama, datang dari Irving Finkel dalam buku Bahtera Sebelum Nabi Nuh (The Ark Before Noah), terbit 2014.

Di situ, Finkel memaparkan bahwa Kisah Nuh merupakan kisah yang ikonis dalam Kitab Kejadian, dan sebagai konsekuensinya, sebuah motif penting dalam Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam ketiga kitab suci, Air Bah datang sebagai hukuman atas kesalahan yang dilakukan manusia, bagian dari sebuah resolusi “hentikan-takdir-ini-dan-mulai-dari-awal-lagi” yang mengatur hubungan ilahiah dengan dunia manusia (hal. 101). Dan, halaman selanjutnya (hal. 119), Finkel menyatakan bahwa Nuh adalah seorang nabi yang diutus untuk memberi peringatan kepada umat manusia dan mendorong masyarakat untuk mengubah cara hidup mereka.

Sehingga, ketika bait terakhir ini mengundang imaji pembaca ke ranah sejarah-sosial-budaya manusia dahulu tanpa lupa referensinya, maka, sekali lagi, puisi yang tampak sederhana ini, bukan sekadar puisi merepresentasikan realitas sederhana atau sepele. Justru sebaliknya, dalam pembungkusan atau pelapisan dengan kehalusan dan kesederhanaan cukup lirih ini, mengandung teriakan, disebabkan suatu pengendapan penyair yang dalam, ketika memandang, menyerap, dan merespons realitas sosialnya.

Dan, ini yang memutar kembali pembaca untuk menyimak teks pada bait pertama lagi. Bahwa bait itu lahir tak lepas dari realitas yang telah kita ketahui bersama. Realitas tersebut adalah mengenai pembangunan, perkembangan, dan kemajuan teknologi yang meski memiliki sisi positif, juga  memiliki sisi negatif.

Malahan, bila menyimak pernyataan M. Dawam Rahardjo dalam Pembangunan Pascamodernis: esai-esai ekonomi politik (2012), pembangunan di Indonesia ternyata justru menyulut krisis, yaitu berupa ketergantungan finansial, teknologi, perdagangan, serta krisis pangan, energi, dan lingkungan hidup. Jika penanda waktu penulisan puisi Ni Made Purnama Sari itu dikaitkan dengan pandangan Dawam Rahardjo, ternyata, pada tahun itu (2008) juga telah terjadi krisis perekonomian regional dan global, setelah yang terjadi pada tahun 1997.

Artinya, dari pernyataan tersebut, bait pertama dari puisi “Bukan Tanya” itu, ‘bangunan yang runtuh’ dalam konteks realitas pembangunan pascamodern di ranah ekonomi, adalah runtuhnya bangunan-bangunan lain, tak hanya bersifat material. Begitu pula dengan diksi ‘tanah yang terbelah’. Diksi tersebut mulai menampakkan makna konotatifnya. Kata ‘tanah’ menjadi kata kunci dari makna tersebut, yang artinya mengarah ke: asal manusia, pijakan, ataupun jati diri. Sehingga, bila dilanjutkan, berarti apa yang dikisahkan atau dikeluhkesahkan oleh ‘seorang’ dalam lirik puisi Purnama Sari, salah satunya ‘tentang tanah yang terbelah’, bisa mengarah pada persoalan keterbelahan jati diri manusia yang terjadi sampai kini.

Di lain hal, pembaca tahu diri bahwa pembesaran atau adanya keruntuhan di skala besar itu bertitik mula dari ‘seorang berkisah atau berkeluh kesah’. Dan, ‘seorang berkisah’ itu secara harfiah memiliki pengertian seorang yang menceritakan tentang kejadian dalam kehidupan. Dan, tentunya, cerita itu bisa berasal dari realitas sosial yang dipandang oleh orang tersebut atau pembacaannya berdasarkan rekaan (karya sastra), kitab suci, atau teks lain—notabene, ‘orang berkisah’, berarti mengarah ke wacana panjang ataupun besar, memiliki waktu, dan pesan tak sedikit.

Jika, ‘seorang’ itu ‘berkeluh kesah’, berarti keluh kesah itu pun berasal dari penglihatan, pencerapan, pengalaman, dan pengendapan dari realitas memancarkan masalah atau krisis yang menekan diri ‘seorang’.

Lebih lanjut, pembaca memberi pernyataan hampir sama dengan pembacaan awal-awal tadi, bahwa krisis yang menekan seorang, dalam wacana maupun ruang besar, maka, krisis dialami yang lain pula (ini yang pada nantinya, ditandaskan lewat larik akhir puisi, tertulis: ‘di mana sekoci/juga mimpi-mimpi kami?’). Apalagi bila menyimak lanjut bait terakhir dari puisi tersebut, maka apa yang disampaikan Purnama Sari merupakan suatu wacana kehidupan yang begitu esensial. Sebab, penghadiran ‘Nuh’ sudah mengarah pada hubungan manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Atau dalam kata lain, meliputi ranah religi, teologi, psikologi, sosial, sejarah, budaya, ekologi, sampai dengan ekonomi.

Sebuah tanya dari ‘seorang’ yang mewakili orang banyak (ditandai frasa ‘mimpi-mimpi kami’), tapi bukan mengarah ‘kita’ itu menanyakan tentang perahu Nuh. Pertanyaan yang tiba-tiba menghadirkan pada ‘Nuh’ dan menanyai tentang keberadaan, lewat ‘di mana perahu kayumu’, seperti pertanyaan, di baliknya ada pengharapan agar selamat dari banjir; selamat dari krisis yang dihadapi oleh ‘kami’, dan bisa saja merepresentasikan ‘kita’.

Penghadiran ‘Nuh’ dan perahunya, tentu saja, mengindikasikan adanya pengharapan, ketakterlepasan, dan ingatan akan masa lalu, berkenaan dengan masa kini yang dihadapi, guna menyongsong masa depan. Kata ulang ‘mimpi-mimpi’ memiliki pengertian secara umum, yakni cita-cita, harapan, ataupun gambaran masa depan.

Di satu sisi, ketika pembaca menyimak pada larik selanjutnya, yakni ‘di mana sekoci/ juga mimpi-mimpi kami?’, seakan ‘kami’ merasa bahwa ‘sekoci’ dan ‘mimpi-mimpi’—dapat berarti alat transportasi guna terhindar dari masalah, banjir, krisis, dan yang dapat mengantarkan pada harapan, pada masa depan—tersebut, yang tahu adalah Nuh. Dan, malahan, pertanyaan kedua itu seperti menyiratkan penagihan terhadap Nuh, dan lebih dari itu, pertanyaan tersebut, di baliknya, secara sadar atau tidak disadari adalah bukti ada kelemahan, kerapuhan, kekurangan dimiliki ‘kami’ sehingga penghadiran ‘Nuh’, berarti pula, pengingatan masa lalu begitu diperlukan guna melewati atau mengatasi krisis, sehingga bisa melanjutkan ‘mimpi-mimpi’ yang telah hilang atau tersembunyi.

Inilah yang membuat dua pertanyaan itu memiliki dwimakna atau lebih; menjadi suatu pertanyaan yang bukan lagi pertanyaan; dan suatu percikan kesadaran akan masa lalu. Dan, pembaca ingat bahwa itu (puisi dan di balik puisi) ada di ‘kampung halaman’. Yakni, suatu ruang, yang menarasikan tentang keberakaran jati diri, masa lalu, dan barangkali masa-masa indah, telah berubah seiring waktu. Tapi, siapa sangka, di ‘kampung halaman’, semua itu masih bisa dijumpai, diingat, dan dirasakan, meski tak bisa kembali atau dikembalikan, seperti tanya ‘bukan tanya’: “Nuh, di mana perahu kayumu/di mana sekoci/ juga mimpi-mimpi kami?”

Referensi:

Abdillah, Mujiyono. 2001. Agama Ramah Lingkungan: Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Finkel, Irving. 2014. Bahtera Sebelum Nabi Nuh: Kisah Menakjubkan tentang Misteri Bencana Banjir di Zaman Kuno. Tangerang: Pustaka Alvabet.

Junus, Umar. 1985. Dari Peristiwa Ke Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Moeliono, Anton M., dkk. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Cetakan Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahardjo, M. Dawam. 2012. Pembangunan Pascamodernis: esai-esai ekonomi politik. INFID dan INSISTPress: Jakarta & Yogyakarta.

Sari, Ni Made Purnama. 2016. Kawitan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zoest, Aart van. 1991. Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik. Jakarta: Intermasa.

Budiawan Dwi Santoso

Budiawan Dwi Santoso

Penulis, tinggal di Solo.
Budiawan Dwi Santoso

Latest posts by Budiawan Dwi Santoso (see all)