Membaca Nizar: Persoalan Cinta, Senjata, dan Wanita di Tanah Arab

in Rehal by

Judul               : Yerusalem, Setiap Aku Menciummu

Penulis             : Nizar Qabbani

Penerjemah      : Irfan Zakki Ibrahim

Cetakan           : 1, November 2016

Penerbit           : Akar Indonesia

Tebal               : xii + 96 halaman

ISBN               : 978-602-714-218-9

 

Di dalam pengantar buku Puisi Arab Modern, Hartodjo Andangdjaja pernah memaparkan secara ringkas perkembangan perpuisian di tanah Arab setelah mengalami beberapa kali periode keterang-redupan. Seandainya boleh disebut sebagai aliran, beberapa (aliran) yang pernah menghiasi perpuisian di Arab secara garis besar adalah aliran klasik, neo-klasik, romantik, dan aliran sajak bebas.

Aliran klasik, kita ketahui adalah masa-masa perpuisian Arab didominasi tema-tema sekitar selangkangan (masa jahiliah), sampai Islam datang sebagaimana kita mafhumi dengan rahmatan lil ‘alamiin, tak terkecuali bagi sastra. Neo-klasik yang digawangi Ahmad Shawqi (sebelumnya ada al-Barudi) bisa dibilang generasi yang coba melepaskan keterkekangan diri dari pengaruh puisi Barat, atau singkatnya mencoba kembali kepada puisi besar di zaman Abbasiyah dan tradisi puisi Arab klasik yang tak asing baginya, bukan malah berpatokan pada puisi-puisi Barat. Selanjutnya, Mutran, penyair Lebanon dengan aliran romantik yang dibawanya, tak bisa dilepaskan dari pengaruh puisi romantik Prancis (salah satunya Hugo). Mutran berprinsip “menghalalkan” pola-pola berbeda dalam perpuisian Arab guna mencapai kemajuan sebagaimana yang dicapai perpuisian di Barat (Andangdjaja, 1983).

Setelah aliran romantik, lahirlah aliran sajak bebas yang “mengutuk” aliran romantik sebagai seni berpuisi yang “steril”. Di samping nama-nama seperti Lewis ‘Awad, Adonis, Hawi, dan lain-lain, salah satu nama yang muncul dalam aliran ini adalah Nizar Qabbani.

Nizar dilahirkan di Damaskus, Suriah, pada 23 Maret 1923. Dalam penggarapan puisinya—sebagaimana aliran sajak bebas Arab yang dikatakan Andangdjaja–berusaha memulihkan kembali bagi kesenian mereka, vitalitas dan peranan puisi yang penting bagi kehidupan masyarakat (khususnya setempat). Hal itu, disetujui oleh Irfan Zakki Ibrahim selaku penerjemah puisi-puisi Nizar ke dalam bahasa Indonesia, yang selanjutnya (tahun 2016) diterbitkan menjadi buku kumpulan sajak Yerusalem, Setiap Aku Menciummu dengan dua tema besar di dalamnya: cinta dan politik.

 

Sajak-sajak Cinta

Bagaimana aku bisa mencintaimu, kekasihku

Jika agen keamanan nasional

Memenjarakan impian

Dan mengirim

Orang-orang yang dipenuhi gairah

Ke pengasingan

Sajak di atas adalah pijak utama sekaligus cerminan idealisme Nizar dalam memandang persoalan cinta. Bagaimana tidak? Hidup Nizar (dalam persoalan cinta) benar-benar diteror dan dibombardir oleh peristiwa-peristiwa kurang mengenakkan seputar cinta: istrinya terbunuh ketika Perang Sipil di Libanon (1981), anak lelakinya meninggal ketika kuliah kedokteran di Mesir, dan yang paling menekan diri Nizar ialah peristiwa bunuh diri yang dilakukan kakak perempuannya, tersebab dipaksa menikah dengan pria yang tak dicintainya. Cinta (bagi Nizar), tak akan pernah tumbuh di lingkungan yang dihiruk-pikuki segala macam tekanan.

Membaca sajak-sajak cinta dalam kumpulan sajak Yerusalem, Setiap Aku Menciummu, barangkali kita selaku pembaca akan langsung setuju dengan pernyataan Irfan Zakki Ibrahim pada pengantar singkat yang ditulisnya, bahwa yang membedakan tema cinta dari Nizar dengan para penyair klasik di Arab adalah sisi sederhananya, pengungkapan yang langsung, jelas, dan kadang sedikit erotis namun tetap menyimpan kedalaman emosi. Ditambah—bagi saya pribadi—sesederhana apa pun puisi yang ditulis, pembaca yang baik akan cenderung melewati apa yang diingin-sampaikan oleh penyair, juga melewati batas-batas wajar sebuah penafsiran. Begitulah puisi, sebagaimana kita mafhumi bukan menjadi rahasia umum lagi. Sajak “Setiap Aku Menciummu” salah satu contohnya:

Setiap Aku Menciummu

setiap kali aku menciummu

setelah perpisahan yang panjang

aku merasa tengah meletakkan

surat cinta pendek

dalam kotak surat berwarna merah.

 

Sajak tersebut, andai objek “mu” ditujukan kepada wanita, maka ia membicarakan pernyataan cinta dengan cara meletakkan / surat cinta pendek / dalam kotak surat berwarna merah (milikmu), setelah perpisahan yang panjang. Sesederhana itu. Tapi, bagaimana jika objek “mu” di situ ialah tanah kelahiran Nizar? Saya rasa, yang akan pembaca dapati adalah kondisi setiap kali aku menciummu atau mendengar kabar-kabar tentangmu, setelah perpisahan yang panjang (karena keterasingan panjang dan tekanan dari tahan kelahiran), “aku” (Nizar) merasa tengah menuliskan puisi (surat cinta) pendek untukmu yang kini dalam keadaan gaduh, riuh, dan rusuh (berwarna merah). Bagi kalian (Gamal Abdul Nasser dan pemimpin Arab lain yang menjadi objek kritikan Nizar), “aku” hanya akan tambah mengacau dan akhirnya menjadi daftar buronan dan sasaran tekanan.

Sajak-sajak Politik

Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku

dan memintaku menggambar tangkai gandum.

Aku meraih pensil

dan menggambar sebuah pistol.

 

Anakku mencelaku,

sambil berseru,

“Tidakkah kau tahu, Ayah, beda antara

tangkai gandum dan sebuah pistol?”

 

Sajak di atas adalah penggalan dari sajak “Pelajaran Menggambar” (halaman 47-49), salah satu sajak politik yang ditulis Nizar. Terbayangkah bagaimana kacaunya politik di tanah Arab yang disorot oleh Nizar, sampai akhirnya–sebagaimana lanjutan sajak tersebut—di masa ketika gagang gandum menjadi senjata / ketika burung-burung dipersenjatai / budaya dipersenjatai / dan agama dipersenjatai, maka kau tak bisa membeli sepotong roti / tanpa menemukan sebuah pistol di dalamnya?

Kekacauan politik di tanah Arab yang disorot Nizar, pada akhirnya merambat ke ranah budaya, agama, ekonomi, dan ranah lainnya. Inilah yang diungkapkan Nizar lewat metafor pada sajak di atas, ketika orang-orang sulit (bahkan tak lagi mampu) membedakan tangkai gandum dengan sebuah pistol. Memang—sebagaimana sajak-sajak cintanya—sederhana, tetapi tetap menyimpan kedalaman emosi. Dan kritikan tersebut tak lepas dari pengamatan Nizar terhadap kekalahan negara-negara Arab pada perang Arab-Israel tahun 1967, kunjungan Presiden Anwar Sadat ke Israel, pembantaian orang-orang sipil Palestina di Amman oleh Raja Husain dari Yordania, dan kritikan terhadap Yasser Arafat (Palestina) yang bersedia menandatangani Perjanjian Olso.

***

Sajak-sajak Cinta dan sajak-sajak Politik karya Nizar Qabbani yang termuat di dalam kumpulan sajak Yerusalem, Setiap Aku Menciummu seperti mengajak kita, para pembaca, untuk menengok lebih ke tanah Arab. Seperti kita tahu, persoalan-persoalan di sana kian hari kian mengerucut. Tak tanggung-tanggung, konflik-konflik yang terjadi akhirnya memakan ribuan (bahkan jutaan) korban. Inilah—bagi saya—yang ingin disuarakan Nizar: politik yang dibumbui cinta. Mengapa? Pada akhirnya yang menjadi korban adalah masyarakat sipil, terutama wanita dan anak-anak.

Tak heran ketika membaca kumpulan sajak Yerusalem, Setiap Aku Menciummu, antara sajak-sajak cinta dan sajak-sajak politik seperti dijembatani oleh kehadiran kaum wanita. Hampir sebagian besar sajak-sajak di dalamnya menyuarakan perkara wanita. Mencintai wanita, dan sedikit lebih memperhitungkan hati wanita dalam urusan politik.

Terakhir, mengenai kumpulan sajak Yerusalem, Setiap Aku Menciummu ini, beruntung Irfan Zakki Ibrahim (selaku penerjemah) konsisten dengan gaya penerjemahan puisinya. Hal yang benar-benar patut “disyukuri”, meski “kontaminasi” gaya berpuisi pribadi mungkin sulit untuk dihindari.

IR Rabbani

IR Rabbani

Aktif menulis di kelompok belajar sastra Jejak Imaji, juga sebagai ketua Forum Apresiasi Sastra (FAS) UAD dan “mahasantri” Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman (MJS) Yogyakarta.
IR Rabbani