Membumikan yang Di Langit, Melangitkan yang Di Bumi, dan X

in Rehal by

Judul                 : Saya Tidak Boleh Berbicara Sejak Bayi Demi Kebaikan-Kebaikan

Pengarang         : Edi AH Iyubenu

Pengantar         : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit            : Penerbit Basabasi

Tahun Terbit    : Cetakan 1, Mei 2017

Ketebalan         : 190 hal; 14×20 cm

“Saya tidak bisu. Tidak. Saya pun paham arti kata-kata yang Tuan dan orang-orang hamburkan untuk menampung riuh hati dan pikiran pada sebuah wadah yang rentan ruah.”—Saya Tidak Boleh Berbicara Sejak Bayi Demi Kebaikan-Kebaikan, hal. 44.

Kita dapati kontradiksi hidup. Ada ajaran diam di dalam lautan cerita dan lautan kehidupan kita di Abad 21 yang semakin berisik secara oral dan tekstual, terlebih dengan terbukanya mulut-mulut media sosial. Ini karena, di paragraf sebelumnya, Edi AH Iyubenu berbisik: “Semakin banyak bicara, semakin miskin maknalah hidupmu”.

Kutipan tersebut hanya satu dari sekian banyak kabut-makna, yang disublimasi oleh penulis kelahiran 1977 ini, di dalam teks kumpulan cerpen yang kalau diselami terasa “sastrawi”.

Ada baiknya mengingat kembali bahwa kata “sastra”—bedakan dengan “sastrawi”—pada mulanya hadir ke dalam bahasa Indonesia, menurut para pakar, melalui kosakata dari bahasa Sanskerta. Jika demikian, maka ia mengacu pada shastra; “teks yang mengandung instruksi; pedoman; ajaran”. Berasal dari kata dasar śās: yang mengandung makna seputar “ajaran”. Demikian, kurang lebih, yang dapat akar diperoleh dari A Sanskrit Primer, E.D. Perry.

Membumikan yang Di Langit, Melangitkan yang Di Bumi

Desakan pemberian ajaran ini, terasa keberadaannya dalam cerpen-cerpen yang di bawahnya ditarikh pada kisaran produksi sebelum tahun 2000.

Di sana, ada pesan di antara jalin-pilin yang sastra dan sastrawi. Di sana, ada gagasan di sela tipak-tipung gema yang ganjil dan yang riil, yang suci dan yang profan, yang di langit dan di bumi, yang megah dan yang bubrah, dan seterusnya.

Pembaca, misalnya, akan menemukan gairah keajaiban, gagasan, dan realitas emosional di cerpen “Columbarium”. Edi AH Iyubenu memainkan perangkat gagasan dari psikoanalisis Freudian, oedipus complex, dengan perangkat pembuka kisah yang ajaib dan alusif terhadap beberapa tokoh Ifrid, Fir’aun, Hitler, Aidit, Salman Rushdie, Pinochet, dan Qorun—dalam satu dialog tokohnya. “Columbarium” menyajikan kompleksitas jerat sakral kematian, seksualitas, dan emosional. Abu kematian yang suci diluluh lantas, bahkan dengan air mani sebagai antitesis akan kematian yang tidak disesali.

Kekokohan motif semacam ini terdapat dalam cerpen “Menanam Khuldi di Bumi”. Isyaratnya jelas, membumikan di langit, melangitkan yang di bumi. Sebuah gejala, menurut sementara pakar, bagian dari gairah posmodernisme, ketika yang suci bertaburan debu, ketika debu-debu juga menyucikan.

Namun, bukankah sudah sejak lama dipahami dalam tasawuf, serta di dalam Wirid Hidayat Jati, bahwa yang di bumi hanya bayang dari yang di langit? Bahkan, pemahaman itu sebelum modernitas mengada, mampat sebagai mesin, kemudian manusia mempertanyakan ke-mesinan-diri-nya sendiri.

Cerpen-cerpen yang seamsal dengan gairah sastra tersebut didesain dengan dorongan pesan untuk merembeskan yang suci, yang gaib, dan hantu-hantu, dan menertawakan yang fana, yang teraba.

Yang fana terdiri dari puja-puji modernitas, kuasa yang menindas, dan drama-drama dunia lainnya.

Kesemua itu diolah dengan menakjubkannya menggunakan ungkapan yang tak terduga, umpatan yang mendobrak, dan keganjilan yang membumi; yang membawa sifat “sastrawi”. Pembaca bisa menemukannya di dalam, misalnya, “Welcome to the Jungle”, “Bayi-bayi Beterbangan”, “Wasiat Iblis Tua”, “Jenazah di Beranda”, “Menari Bersama Para Wali”, dan sejenisnya.

 

X

Yang menarik di kumpulan cerpen ini adalah cerpen-cerpen dengan karakteristik “x”. Cerpen-cerpen karakteristik “x” ditulis setelah tahun 2000, dengan jeda yang mencapai belasan tahun kemudian.

Pembaca dapat menduga, jangan-jangan, sebenarnya cerpen-cerpen karakteristik “x” inilah yang dimaksud oleh Edi AH Iyubenu: “menulis sastra seyogianya merupakan usaha-usaha membebaskan diri.” (hal.7).

Pembebasan semacam apa?

Apakah pembebasan diri dari “diri-yang-sebelumnya”? Atau pembebasan diri dari konsepsi bercerita sebelumnya? Atau pembebasan diri dari pola-pola berulang? Atau pembebasan diri dari ukuran berterima sebuah cerita bagi pembaca?

Mari kita lihat, walaupun tidak bisa sepenuhnya, tetapi karakteristik “x” ini menarik adanya.

Kita mulai dari kaidah Tai Chi. Di dalam Tai Chi, setelah tuntas belajar jurus, seseorang diminta “bepergian” dari jurus itu. Untuk apa? Untuk “melupakannya”. Pergilah sejauh-jauhnya, lalu kamu akan menemukannya kembali dalam bentuk dirimu sendiri. Demikian juga di dalam Kung Fu.

Kaidah ini sangat menakjubkan dan ternyata terdistribusi bukan hanya dalam Tai Chi, Kung Fu, atau seni bela diri lain, melainkan juga di dalam sains dan spiritualitas.

Di dalam proses kreatif, keberanian meninggalkan jurus mapan sebelumnya, akan memungkinkan “prahara” dalam teks, meski tidak semuanya berhasil.

Memang, diperlukan energi untuk membangun reaktor-reaktor kreatif. Namun, bagi mereka yang mau melakukannya, mereka akan menemukan “x” itu. Mereka tidak mampat sebagai unsur yang berhenti sebagai pusat puja-puji atas masa lalunya. Mereka bukan dihargai atas apa yang dihasilkannya di masa kini.

Dimulai dari tipikal judul yang kemudian digarap.

Bandingkan judul-judul ini dengan periode sebelumnya; 1) Kenikmatan-kenikmatan yang Belum Dijajal; 2) Perasaanku dan Perasaannya di Atas Meja, di Hadapan Sepasang Kecoak dan Sepasang Semut; 3) Saya Tidak Boleh Berbicara Sejak Bayi demi Kebaikan-kebaikan.

“Kenikmatan-kenikmatan yang Belum Dijajal” menyajikan perayaan atas intertekstualitas; jalin-pilin alusi dengan teks lain; ditulis melompati kaidahnya sendiri sebelum tahun 2000—dengan konsep lama, cerpen sekali peristiwa, sekali selesai—; cerpen ini ditulis bertahap; di mana penulisnya berubah menjadi intelektual gajah yang memasuki toko kristal peristiwa untuk mengacauakannya dan keluar begitu saja.

Pecahan kristal itu berhamburan menjadi peristiwa lain, instalasi lain, yang tidak bisa diulangi penyusunannya.

Di dalam dua cerpen berikutnya, manusia bertukar tangkap dengan semut, dan yang satunya bertukar tangkap dengan psikologi dan personifikasi atas kemanusiaannya sendiri. Ada dua hal yang bertentangan dibenturkan, ada kelebat yang diselipkan, dan ada molekul makna yang diledakkan semaunya.

(2017)

Eko Triono

Eko Triono

Menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (DIVA press, 2016).
Eko Triono