Memikirkan Karl Marx dan Foucault dalam “In Time”

in Esai by
googleusercontent.com

Kehidupan manusia abad ini menjadikan manusia sebagai produk pabrik, yang oleh Hemingway disebut “manusia yang pergi di jalan gelap tanpa tujuan dan tanpa ke mana-mana,” sehingga “manusia akan terbuang percuma,” kata George Orwell. Sebagaimana Nietzsche lewat Zarathustra, atau manusia ala Sisyphusnya Albert Camus, atau oleh Goethe dalam Faustnya, memberikan sampel menarik dalam kebingungan, ketololan arah tujuan hidup yang dilampaui, menggambarkan perburuan manusia akan kehidupan yang menyenangkan dan untuk mencari kepuasan hedonistik. Yang menentukan eksistensi seseorang bukan lagi subjektivitas (cogito ergo sum: saya berpikir, karenanya saya ada), melainkan pada kemampuan seseorang dalam melakukan tindakan konsumsi (emo ergo sum: saya berbelanja maka saya ada).

Selalu melirik jam karena takut terlambat, khawatir dijebak macet dan hujan, gelisah menjelang deadline paper dan artikel jurnal, dan beragam jenis cara menghadapi waktu merupakan satu-satunya indikator yang menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan waktu dalam hidupnya. Karena perkembangan teknologi, manusia yang sebelumnya dinilai dari aspek kesadarannya kini diukur dari aspek konsumsi. Maka yang terjadi adalah saya mengonsumsi maka saya ada dan salah satu objek konsumsi yang mendominasi kehidupan manusia adalah waktu. Jika demikian, muncul pertanyaan berikut, seberapa mahalkah waktu itu? Mengapa pada abad ini, waktu diberi harga dengan cara-cara yang begitu ekonomis?

 

Status Waktu dalam Film “In Time”

Dalam film In Time, yang dirilis pada 28 Oktober 2011 (disutradarai oleh Andrew Niccol), dibahas secara bagus mengenai posisi waktu dalam masyarakat dewasa ini. Film yang disebut fiksi ilmiah dengan durasi 109 menit ini bertema masa depan dan dibintangi oleh Justin Timberlake sebagai Will Salas dan Amanda Seyfried sebagai Sylvia Weis. Secara umum, film ini bercerita tentang masa depan (setting tahun 2169) ketika gen penuaan dimatikan. Orang-orang di masa depan telah direkayasa secara genetika agar berhenti menua pada usia 25 tahun, dan di lengan mereka terpasang jam digital yang menunjukkan sisa waktu untuk hidup mereka. Di masa depan, mata uang tunggal yang ada hanyalah waktu. Orang-orang membeli dan membayar sewa dengan menggunakan waktu, dan bekerja digaji dengan waktu.

Will Salas adalah seorang masyarakat kelas bawah (dari zona Ghetto) yang bekerja sebagai buruh pabrik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Will yang hanya tinggal dengan ibunya, Rachael Salas, sama-sama harus bekerja keras sampai pada suatu hari ia bertemu dengan Hanry Hamilton yang berasal dari kelas atas. Dari situlah awal konflik dari film ini terjadi. Alih-alih ingin menyelamatkan Hanry dari Fortis, si pencuri waktu, Will kemudian terlibat dalam masalah besar. Hanry yang telah hidup lebih dari 100 tahun sudah merasa bosan dan memberikan secara diam-diam waktunya kepada Will. Selanjutnya, Hanry membunuh diri dengan cara melemparkan tubuhnya dari atas sebuah jembatan. Dampak dari kematian Hanry yakni Will menjadi buronan time keeper (representasi polisi di masa depan) karena mengira kematian itu disebabkan oleh Will. Dengan waktu yang diberikan Henry, Will telah berencana untuk membawa ibunya ke New Greenwich (zona masyarakat kelas atas) namun rencana itu gagal karena Rachael meninggal akibat kehabisan waktu.

 

Instrumentalisasi Waktu

Meskipun ada begitu banyak definisi mengenai waktu, dalam film In Time, dengan mudah ditemukan tendensi utama yang pernah diungkapkan oleh Benjamin Franklin, “waktu adalah uang” dan identik dengan teori biaya peluang (opportunity cost) dalam ilmu ekonomi. Saya tidak menjelaskan secara mendetail mengenai teori tersebut. Sederhananya begini: jika pada malam hari pukul 23.00 WIB di mana semua kantor di Yogyakarta sudah tutup, dan orang-orang yang siangnya penat bekerja telah lelap karena lelah; pergilah ke salah satu angkringan dan lihatlah bagaimana seorang pedagang memanfaatkan waktunya. Pedagang ini, yang pada siang harinya bekerja di sektor lain, pada malam hari memanfaatkan waktu lebih untuk berdagang, ketimbang orang yang bekerja di kantor selama 8 jam sehari. Apakah waktu terlalu keras memperlakukan manusia?

Menjawabi pertanyaan di atas, ramalan Karl Marx berjalan sejajar dengan tendensi film ini, terutama berkaitan dengan penggunaan waktu kerja dalam sistem industrialisasi. Marx menguraikan bahwa yang menentukan nilai sebuah komoditas adalah kerja sedangkan yang membedakan nilai antara komoditas yang satu dan komoditas yang lainnya adalah waktu kerja. Artinya, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah komoditas, maka harganya lebih mahal dibandingkan dengan komoditas dengan waktu kerja yang lebih sedikit. Meskipun ramalan tersebut meleset karena adanya otomatisasi dalam dunia industri di mana sebuah komoditas dapat diproduksi dalam durasi waktu yang singkat, namun berpikirlah sejenak mengenai konteks pedagang angkringan yang sudah saya sebutkan di atas. Itulah alasannya mengapa Emile Durkheim memunculkan konsep mengenai waktu sosial. Menurut dia, waktu dapat digunakan sebagai pembanding antara satu kelompok sosial dan kelompok lainnya, keadaan internal suatu masyarakat tertentu dan unsur-unsur pembentukannya. Setiap kehidupan koletif (suku, komunitas, kelas sosial, golongan usia) menggunakan waktu dengan caranya masing-masing. Di sini, waktu menjadi begitu sempit, miskin, dan mekanis sifatnya. Seolah-olah makna waktu bisa diringkus sedemikian rupa dalam deret ukur dan diinvestasikan bahkan ditransfer sesuka hati. Sayangnya, memang demikianlah yang terjadi; seperti Will Salas dalam salah satu dialog internalnya pada film ini: “I don’t have time. I don’t have time to worry about how it happened.” Dibahasakan secara lain, manusia zaman ini seolah tidak punya waktu untuk menjelaskan bagaimana perubahan genetik yang telah terjadi dalam hidupnya. Orang terus bekerja, memperlakukan dirinya secara keras dan patuh, seakan tidak ada waktu untuk bertanya bagaimana sampai hidup berjalan dengan cara seperti ini.

 

Kalender: Sistem Panoptik Pengontrol Waktu

Merayakan Tahun Baru, misal, kadang tampak seperti sebuah omong kosong yang masih laku hingga sekarang, bahkan ketika artikel ini ditulis. Arnoldus Nota menulis bahwa ada paradoks waktu dalam sejarah hidup manusia yakni kita memiliki gedung-gedung yang tinggi namun tabiat dan perilaku kita semakin rendah. Jalan raya kita semakin lebar dan licin, namun kita memiliki sudut pandang yang sempit. Banyak yang kita habiskan tapi hanya sedikit yang kita peroleh. Banyak yang kita beli, tapi hanya sedikit yang kita nikmati. Kita memiliki rumah yang besar namun dengan anggota keluarga yang sedikit. Banyak gelar yang kita miliki, namun kita kurang pengertian. Meski banyak pengetahuan yang kita miliki, kita semakin kurang adil. Kita semakin ahli tetapi semakin banyak ada masalah. Makin banyak  obat yang ditemukan, tapi makin banyak pula penyakit. Kita minum terlalu banyak, menghabiskan secara serampangan, terlalu sedikit tertawa, mengendarai terlalu ngebut, tidur terlalu larut, malas bangun pagi, terlalu sering nonton TV, sulit move on, mudah galau, terlalu banyak bicara tapi jarang mencintai, terlalu sering mengupdate statu facebook dan BBM tapi sulit menjadi pendengar yang baik. Sinisme ini muncul bukan karena tidak ada refleksi kritis dan mendalam yang lahir dari momentum peralihan tahun tersebut. Namun ketika orang merayakan Tahun Baru sambil tetap terjebak dalam rutinitas ajek, tampak bagi saya seperti seseorang yang berusaha menggigit untuk melawan rasa sakit pada gigi. Tahun yang baru menjelang, lalu dirayakan secara meriah, dan selanjutnya orang kembali didera oleh persoalan yang sama: hidupnya mustahil tak dikekang oleh waktu.

Hidup yang dikontrol oleh waktu bukan sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Toh siapa pun di dunia ini tidak dapat menghindar dari cengkeraman waktu. Namun, hemat saya hal yang paling penting di sini yakni mencari tahu seperti apa sistem yang mengontrol waktu setiap orang. Jawaban yang paling mudah diberikan adalah sistem penanggalan di kalender. Tentu saja tidak ada yang salah dengan jawaban demikian. Kegamangan lain justru muncul ketika di balik penanggalan tersebut, tersirat kekuasaan yang diam-diam bersemayam dan mengontrol kehidupan setiap orang mulai dari bangun sampai kembali tidur. Dibahasakan secara lain, dengan memanfaatkan kalender, kekuasaan bekerja secara kokoh baik itu di dunia kerja, pendidikan, agama, adat istiadat, dan keluarga, maupun di tempat tidur. Berbagai perilaku manusia diarahkan untuk tunduk pada kekuasaan yang tersirat di balik mitos kalender. Mengapa demikian? Jawaban paling sederhana yakni berbagai sistem pengawasan yang didukung oleh kecanggihan teknologi itu berdalih menciptakan keamanan dan ketenteraman bersama.

Menurut Michel Foucault, sistem pengawasan dan kontrol menggambarkan proses kekuasaan bekerja melalui wacana. Arti paling luas dari wacana menurut Foucault adalah sesuatu yang ditulis atau dikatakan atau dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda dan menandai hubungan yang lain dengan strukturalisme dan fokus dominannya pada bahasa. Gagasan yang dominan itu bisa dilihat misalnya dalam bidang-bidang teknis di mana para psikiater, psikolog, pekerja sosial, dan pakar lainnya mendefinisikan peranan-peranan kegilaan dan dengan demikian juga peranan-peranan kenormalan yang ada dalam diri manusia. Lalu, apa hubungannya dengan waktu?

Pierre Bourdie dalam bukunya The Logic of Practice (1990) mengajak pembacanya membayangkan perbedaan antara dua kalimat ini: “The train is regularly two minutes late” dan “As a rule, the train is two minutes late.” Ilustrasi itu mau menggambarkan bahwa ada kecenderungan umum di mana manusia abad ini suka menilai keterlambatan dalam hubungannya dengan aturan dan rencana hidup. Artinya, aturan dianggap berkaitan dengan rencana atau kebijakan tertentu sedangkan keseringan tidak. Sering terlambat misalnya, secara denotatif merupakan hal yang dinilai berdasarkan frekuensi keseringan alamiah di satu pihak namun kini secara konotatif dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap konsensus di lain pihak. Dengan kata lain, wacana mengenai pentingnya disiplin merupakan definisi yang diciptakan oleh kekuasaan tertentu melalui praktik bahasa untuk membedakan antara orang yang selalu tepat waktu dan orang yang terlambat masuk ruangan kelas, atau kantor, atau pabrik. Wacana itu berkembang menjadi mitos yang tersurat dalam pernyataan bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai melalui kedisiplinan yang kemudian dihubungkan dengan tepat waktu yang berarti tidak terlambat. Di sini, menjadi jelaslah bagaimana kekuasaan bekerja melalui berbagai wacana termasuk pengetahuan. Pada level selanjutnya, hal tersebut dianggap wajar karena masyarakat telah menginternalisasikan dalam dirinya bahwa pengawasan dan pengontrolan merupakan sesuatu yang baik untuk keamanan bersama. Orang lalu abai bahwa ternyata perkembangan teknologi pengetahuan dan berbagai media merupakan saluran wacana untuk memapankan kekuasaan tertentu, dalam hal ini kelas kapital.

Menururt Antonio Gramsci, wacana tersebut bekerja melalui proses hegemoni, sebuah proses tak terlihat. Teori hegemoni Gramsci menegaskan bahwa kecenderungan kelompok berkuasa mengandalkan kekuasaan koersif untuk menjaga kekuasaannya hanya menunjukkan kelemahan ideologis maupun kulturalnya. Oleh karena itu, proses hegemoni dilakukan untuk mendapatkan legitimasi masyarakat mengenai kekuasaannya tanpa melalui cara-cara kekerasan. Seperti dalam film In Time, masyarakat tidak mempu melakukan pemberontakan karena ideologi, kultur, nilai-nilai, norma, dan politiknya telah diinternalisasi sebagai kepunyaan sendiri oleh kelompok-kelompok subordinasi. Pedagang angkringan, kaum pekerja di pabrik, petani, para guru, dan sebagainya tidak berani melakukan sebuah revolusi besar yang pada akhirnya bisa mengubah struktur atau sistem tertentu karena telah dihegemoni oleh kekuasaan baik itu politik, agama, kesehatan, dan seterusnya. Orang berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlambat masuk kantor tanpa pernah bertanya lebih lanjut mengapa hal seperti itu terjadi. Orang berupaya tidak terjebak kemacetan di jalanan tanpa bertanya mengapa mesti menghindarinya. Meskipun masih dalam keadaan mengantuk, orang memaksakan dirinya bangun pagi pada pukul 06.00 tanpa pernah memprotes mengapa demikian. Akhirnya, tidak jarang orang merayakan Tahun Baru tanpa disertai adanya pertanyaan reflektif dan kritis mengapa perayaan semacam itu perlu dalam sebuah peradaban saat ini. Mungkin saja, untuk merayakan datangnya tahun 2018, orang toh tetap masih membutuhkan Marx dan Foucault.

Yohanes W. Hayon

Yohanes W. Hayon

Lahir di Hokeng, 26 Juni 1990. Kini sedang menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan opini di beberapa koran lokal, seperti Pos Kupang dan Flores Pos. Ia juga pernah menulis naskah teater yang telah dipentaskan di Maumere. Sekarang, ia sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Hujan di Biara, yang akan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero.
Yohanes W. Hayon

Latest posts by Yohanes W. Hayon (see all)

2 Comments

  1. tapi bagaimana bila kita coba memandang pekerjaan “tambahan” seperti agnkringan sebagai pekerjaan yang memanjakan pejualnya, setelah penat bekerja siang hari, sebagai bentuk menikmati waktu, dan menjadi tuan bagi dirinya sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published.