Mempermainkan Problematika Keseharian secara Kontemporer

in Rehal by

buku-dea-anugrah

Judul Buku: Bakat Menggonggong

Penulis: Dea Anugrah

Penerbit: Buku Mojok

Cetakan: September 2016

Tebal: 112 halaman

ISBN: 978-602-1318-38-6

Bagi Dea Anugrah, bercerita tidak ubahnya seperti menggonggong. Menggonggong dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh anjing sekalipun. Akan tetapi, menggonggong yang baik (baca: bercerita secara baik), tidak dapat semata-mata hanya mengandalkan suara yang nyaring, tenaga dalam, atau bakat alamiah. Diperlukan teknik naratif yang unik dan penyampaian cerita secara segar demi mencapai sebuah bentuk karya fiksi yang apik.

Dalam buku kumpulan cerita pendek pertamanya, Bakat Menggonggong, Dea Anugrah mengeksplorasi berbagai teknik penceritaan. Meninggalkan gaya bertutur konvensional dan lebih memilih bermain-main dengan cerita berbingkai, ia seolah bertindak menjadi seorang juru dongeng yang memberondong pendengarnya dengan aneka arus cerita. Teknik cerita berbingkai sendiri bukan tanpa risiko. Dengan penggarapan yang salah, gaya ini berpotensi menghadirkan kesan ruwet dan berbelit-belit di benak pembaca. Namun di tangan Dea, lapis-lapis cerita berbingkai dalam Bakat Menggonggong menjelma menjadi rajutan cerita yang rapi, mengejutkan, sekaligus menggelikan dengan nuansa kelakar dalam diksinya.

Didapuk sebagai cerpen pembuka, “Kemurkaan Pemuda E” langsung memperlihatkan kecenderungan gaya demikian. Di cerpen ini, narator berlagak sebagai seorang pemandu tur cerita, yang tengah mengisahkan cerita bertajuk “Kemurkaan Pemuda E”.

Kita tahu Pemuda E sedang gelisah. Sama gelisahnya dengan seekor coro yang tergelincir ketika melakukan pendaratan darurat dan mendapati dirinya dalam posisi terbalik. Ia sedang marah. Sama marahnya dengan seorang taipan Arab yang diberitahu bahwa seluruh penghuni haremnya sedang haid, kecuali seorang saja, yang sedang menopause dan bahkan tidak akan membangkitkan birahi seekor keledai. (hal. 2)

Mengetengahkan tema kegelisahan penulis muda yang tengah merintis karier dalam cerpen tersebut, Dea tidak terpancing untuk membangun cerita secara melankolis. Pahit getir kehidupan Pemuda E tidak dipotret sebagai sebuah tragedi yang patut diratapi secara cengeng. Ia justru mengemas cerita dengan sentuhan humor sinis. Ada kesan bahwa justru dalam kelakar dan sinisme itulah, individu dapat bertahan, atau bahkan berbalik unggul melawan tragedi yang menimpanya.

Kisah Sedih dan Kematian yang Tidak Lagi Sentimentil

Sebagai prosais muda (lahir pada 1991), Dea Anugrah tidak ketinggalan untuk menggarap tema yang akrab dengan keseharian anak muda: jatuh cinta dan patah hati. Dengan caranya yang khas, kisah-kisah sedih seputar percintaan muda-mudi dipermak sejalan dengan realitas temporer masa kini.

Garapan tersebut tampak pada dua cerpen dengan judul yang sama, “Kisah Sedih Kontemporer” (dibedakan melalui penanda angka [XII] [IX]). Pada dua cerpen tersebut, Dea memasukkan internet dan media sosial, dua hal yang tidak terpisahkan dengan realitas Generasi Z, sebagai faktor penentu cerita, bahkan medium cerita itu sendiri. Terkesan sepele dan bermain-main, tetapi melalui medium dunia maya itulah, Dea secara jitu memediasi segala hasrat, memori, rasa depresi, dan gejala psikologis generasi Z.

Eksplorasi tema romansa dengan tendensi lebih “dewasa” tampak pada cerpen “Masalah Rumah Tangga”, “Kisah Sedih Kontemporer IV”, “Perbedaan antara Baik dan Buruk”, dan “Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada”. Dua cerpen pertama mengangkat problematika sehari-hari dalam kehidupan pernikahan. Sedangkan dua cerpen berikutnya menggarap sisi-sisi gelap dalam hubungan percintaan antarmanusia.

Dalam “Masalah Rumah Tangga” dan “Kisah Sedih Kontemporer IV”, Dea cenderung menempatkan tokohnya bukan sebagai pahlawan atau Ubermansch, orang kuat dalam konsep Nietzschean, yang senantiasa mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Ia menghidupkan tokohnya sebagai pecundang yang takut dan akhirnya lari dari masalah. Dalam “Masalah Rumah Tangga”, tokoh Nur Aziz lari dari kelemahan biologis yang dialaminya serta lantas bersembunyi di balik sekelumit alasan pekerjaan untuk membohongi Linda, istrinya. Sedangkan dalam “Kisah Sedih Kontemporer IV”, gagalnya rumah tangga tidak serta-merta membuat sepasang suami istri bertumbuh dewasa. Mengenai urusan penentuan hak asuh anak pascaperpisahan, mereka justru menyerahkannya pada cara penyelesaian yang terkesan kurang bertanggung jawab: melempar koin.

“Perbedaan antara Baik dan Buruk” dan “Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada” sama-sama mendedah sisi kelam dalam hubungan percintaan: dendam, pengkhianatan, kekerasan, dan efek dari masing-masing tersebut. Gustaf, seorang laki-laki yang tidak bahagia dalam “Perbedaan antara Baik dan Buruk”, terlibat percintaan dengan Wanda, seorang waria. Suatu kali, Gustaf mengkhianati Wanda dengan meniduri seorang perempuan tulen. Kejadian tersebut memicu kehancuran keduanya: Gustaf terpuruk dan kehabisan uang, Wanda menjadi penjaja seks. Ketika keduanya bertemu kembali, hasrat berkasih-kasihan dan bayang-bayang dendam menjadi berkelindan. Perbedaan antara yang baik dan yang buruk pada akhirnya menjadi samar. Sedangkan dalam “Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada”, Dea dengan nuansa menyentak menggambarkan kekerasan sebagai sisi lain dari kisah percintaan, yang senantiasa memberikan efek traumatis pada pihak tersakiti.

Beberapa cerpen lainnya menampilkan permenungan Dea Anugrah pada tema kematian, sebut saja “Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu” dan “Kisah Sedih Kontemporer (XXIV)”. Pat dan Rik, dua tokoh di masing-masing cerpen, adalah orang yang potensial dalam dunianya, seni rupa dan kepenulisan. Alih-alih berhasil, kematian yang menghantam mereka menyelesaikan segalanya. Tidak ada sentimentalisme yang berarti, atau rasa kehilangan yang mendalam. Yang muncul kemudian justru sinisme, di mana kematian para tokoh tidak mengubah apa pun, tidak berarti apa pun. Waktu kembali berjalan normal, baik dengan tokoh maupun tanpa tokoh. Kematian digambarkan sebagai hal wajar dan biasa saja, seperti hari-hari yang berlalu.

Cerpen-cerpen lain, “Kisah dan Pedoman”, “Kisah Afonso”, “Penembak Jitu”, “Tamasya Pencegah Bunuh Diri”, dan “Acara Tengah Malam” secara umum menggarap tema keganjilan psikologis, dekonstruksi terhadap permasalahan sosial, atau interpretasi Dea terhadap peristiwa masa lalu.

Membaca Bakat Menggonggong sejatinya membaca kisah-kisah sedih dalam keseharian hidup manusia kontemporer. Akan tetapi, melalui rangkaian “tur cerita” yang Dea pandu dalam buku ini, pembaca tidak akan dibawa pada suasana penuh hujan tangis ala film “Ratapan Anak Tiri”. Mungkin bagi Dea, air mata pembaca lebih patut dipersiapkan untuk menghadapi problematika nyata kehidupan sehari-hari: susahnya mencari uang, sakitnya bertepuk sebelah tangan kala jatuh cinta, kemerosotan moral generasi muda bangsa Indonesia, atau perihnya menghadapi bully ketika klub bola pujaan keok. Sedangkan fiksi, ialah tempat bermain-main.

Kekuatan buku ini terletak pada kelincahan sang penulis menggarap teknik penceritaan secara rancak. Cerita yang mengambil tema-tema umum dan keseharian disusun menjadi cerita yang unik dan segar. Kunci utamanya ialah pada diksi. Dea Anugrah secara lihai menempatkan pilihan kata yang sering kali tidak terduga, terkesan seenaknya sendiri, namun justru memperkuat cerita dan menjadi daya pikat. Bukan tidak mungkin, buku ini akan menjadi kuda hitam, atau bahkan unggulan kuat penghargaan sastra di waktu-waktu mendatang.

Dea Anugrah, dengan kemampuan “menggonggong” di usia muda, jelas-jelas membuktikan bahwa Sastra Indonesia belum perlu khawatir untuk kekurangan bakat-bakat baru.

Puri Bakthawar

Puri Bakthawar

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Puri Bakthawar

Latest posts by Puri Bakthawar (see all)