Menakar Potensi Boom Sastra Asia Tenggara Macam El Boom Sastra Amerika Latin

in Esai by
tuttartpitturasculturapoesiamusica.com

Dari Spanyol, Carmen Ballcels memantik fenomena yang kita sebut boom sastra Amerika Latin pada 1960-1970-an. Ia menemukan potensi menakjubkan sastra(wan) Amerika Latin yang belum dibaca dunia. Kerja penerjemahan yang masif ke bahasa-bahasa utama ini mengubah jagat sastra. Dari sini, muncul nama-nama yang merangsek ke atas panggung utama sastra dunia. Sebut saja Garcia Márquez, Carlos Fuentes, Vargas Llosa, Julio Cortázar, bahkan pendahulu generasi ini semacam Jorge Luis Borges.

Sosok yang dipanggil Garcia Márquez “Mamá Grande” ini dikenal mati-matian dalam membela hak pengarang. Ia getol menentang sistem kontrak seumur hidup yang merugikan pengarang. Bak Maxwell Perkins dalam film “Genius”, Carmen Ballcels, sebagai agen, dikenal mempunyai hubungan intim dengan para pengarangnya. Ia tak ubahnya semacam ibu tiri yang penyayang, peduli, dan membantu para pengarangnya dalam masa-masa sulit. Pribadi Ballcels yang hangat membuat sastrawan Amerika Latin betah dalam naungannya.

Carmen Ballcels tak kesulitan memahami bahasa sekaligus pengarangnya. Sebagai orang Spanyol, ia tentu memahami bahasa Spanyol varian Amerika Latin. Sebagai mantan jajahan, kebanyakan negara di Amerika Latin berbahasa Spanyol. Selain pengarang berbahasa Spanyol, ada pula pengarang berbahasa Portugis semisal Jorge Amado dalam agensinya. Kedua bahasa itu, bisa dikatakan punya identitas yang mirip.

Ballcels, dengan kegigihannya, menjembatani potensi luar biasa sastra(wan) Amerika Latin ke jagat sastra dunia. Dan jadilah, apa yang kita kenal sebagai “El Boom” yang berdampak permanen dalam dunia sastra.

Dapatkah hal serupa terjadi pada Asia Tenggara? Suatu kawasan di mana lingua franca negara-negaranya sangatlah bervariasi. Belum lagi tiap-tiap negara memiliki demografi etnik yang sangat beragam. Ada puluhan bahkan ratusan bahasa daerah di tiap negara. Mungkin amat mustahil mengharapkan sosok “pahlawan super” seperti Carmen Ballcels, orang yang menguasai lingua franca seluruh Asia Tenggara pun makhluk langka.

Orang bilang bahwa bahasa merupakan gerbang kebudayaan. Tanpa menguasai bahasa, amatlah sulit (kalau bukan mustahil) memahami kebudayaan dan masyarakatnya. Dalam kasus ini, perlu penguasaan berapa bahasa untuk mengenali dan menyatukan sastra(wan) Asia Tenggara dalam satu ruang? Dengan satu tujuan untuk mempromosikannya ke dunia. Kerja penerjemahan ke bahasa-bahasa utama.

Jika ditilik dari aspek kekerabatan bahasa antarnegara di kawasan Asia Tenggara, nyatanya amatlah renggang saking banyaknya bahasa di kawasan ini. Menurut Ethnologue, tercatat setidaknya ada 5 rumpun bahasa di Asia Tenggara: Austronesia, Austroasiatik, Sino-Tibetan, Tai-Kadai, dan Hmong-Mien. Di Filipina, bahasa resmi negara adalah Tagalog, selain itu terdapat bahasa daerah Ilokano dan Cebuano yang memiliki jutaan penutur. Malaysia menggunakan bahasa Melayu dan Indonesia memiliki pengembangan yang khas. Di Asia Tenggara Daratan, bahasa yang dituturkan lebih bermacam pula.

Selain faktor bahasa, perlu direnungkan kembali apakah jumlah karya sastra berkualitas di Asia Tenggara sudah cukup banyak. Memang telah ada karya sastra(wan) Asia Tenggara yang mampu menggaet perhatian penerjemah dan publik sastra dunia. Kualitasnya tak kalah dengan sastra Eropa atau Amerika. Sebut saja Pram di Indonesia, kemudian belakangan Eka Kurniawan, Viet Thanh Nguyen di Vietnam (tahun lalu menang Pulitzer), dan José Rizal (dunia menghormatinya) dari Filipina. Tapi soal kuantitas, apakah telah sebanyak Amerika Latin?

Asia Tenggara adalah kawasan yang sangat majemuk. Kawasan ini dijajah oleh imperium yang berbeda-beda selama ratusan tahun: Spanyol di Filipina, Prancis di Vietnam, Inggris di Malaysia dan Singapura, dan Belanda di Indonesia. Kolonial yang beragam itu membentuk masyarakat jajahan yang beragam pula. Pada era kemerdekaan, nyaris tak ada revolusioner transnasional seperti Bolivar atau Che di kawasan ini, kecuali Tan Malaka.

Pola interaksi masyarakat jajahan di masa lalu niscaya berpengaruh terhadap hubungan masyarakat antarnegara sekarang ini. Masyarakat Asia Tenggara saling asing satu sama lain. Pengarang dan sastranya pun begitu. Selama ini kita asing dengan kesusastraan dan kebudayaan tetangga sendiri.

Tak diragukan lagi kalau masyarakat sastra di kawasan ini tidak saling membaca. Ada berapa karya sastra Vietnam atau Filipina atau negara lain di kawasan ini yang telah kita baca? Sangat sedikit niscaya. Karya sastra dari negeri-negeri tetangga, yang kanon sekalipun, luput dari perbincangan di ruang-ruang diskusi kita. Mungkin forum langka seperti ASEAN Literary Festival menjadi perkecualian. Namun apa yang ada di forum itu belum berhasil keluar menuju ruang yang lebih umum dan luas.

Mengapa kita tidak saling membaca? Ini adalah pertanyaan besar. Akibat faktor bahasa mungkin salah satunya. Bahasa yang sangat bervariasi mengganjal dialog dalam masyarakat kawasan. Meski begitu, mengapa perasaan senasib (yang juga menyebabkan berdirinya ASEAN) tidak mampu menembus sekat bahasa?

Prosa dan puisi-puisi di kawasan ini (pernah atau masih) memiliki kesamaan tematik: kolonialisme. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara pernah senasib. Merasakan kejamnya kolonialisme selama ratusan tahun. Ini tercermin dalam sastra. Kolonialisme adalah tema yang mereka alami sendiri. Atau kini niscaya setalian dengan tema pasca kolonialisme. Dari bangsa-bangsa yang senasib, ditulislah karya-karya dengan suara yang semacam.

Amerika Latin pun memiliki kasus yang sama. Sub-benua ini terjajah selama ratusan tahun. Spanyol adalah penjajah yang paling mempengaruhi mayoritas negara di kawasan ini. Kondisi sebagai bangsa yang senasib membuat Amerika Latin merasa memiliki identitas yang sama, dan identitas ini menemukan momentumnya saat Revolusi Kuba.

 Keberhasilan Fidel Castro dkk. menjungkalkan rezim Batista membuat rakyat Amerika Latin bercermin dan merangkul tetangganya. Sejak itu, para pengarang—yang simpatik pada Revolusi Kuba—mulai berkenalan dan saling membaca, untuk kemudian menemukan identitas mereka sebagai “satu Amerika Latin”.

Perjalanan sejarah Amerika Latin memiliki kemiripan dengan Asia Tenggara. Sama-sama sebagai “Dunia Ketiga”, sama-sama pernah dijajah kolonial, mengalami rezim diktator-militer, kena imbas Perang Dingin—semua itu mewarnai perjalanan sejarah penuh pergolakan politik yang berdarah. Namun, bedanya, hingga kini Asia Tenggara belum menemukan momentum untuk “bersatu”.

Kesadaran politis inilah yang menyebabkan sastra(wan) Amerika Latin mudah “disatukan”, kemudian Ballcels mempromosikannya kepada dunia. Masa sebelum “El Boom”, tak ada orang yang menyebut “sastra Amerika Latin”; publik hanya mengenal sastra Kolombia, sastra Argentina, dan sebagainya, dan seterusnya. Setelah “El Boom”, istilah “sastra Amerika Latin” terasa sangat lazim di telinga.

Sedang di kawasan kita, rasanya terlalu naif untuk menyebut istilah “sastra Asia Tenggara”. Kenyataannya, kita tidak saling membaca, dan tak memiliki kesadaran politis sebagai “masyarakat yang senasib”. Meski ada lembaga seperti Mastera, forum ASEAN Literary Festival, dan S.E.A Write Award, interaksi budaya antarnegara dalam kawasan ini amatlah kurang. Tak seperti Amerika Latin, di mana Revolusi Kuba dan gagasan Simón Bolivar tentang Kolombia Raya “mempersatukan” sub-benua itu. Amerika Latin merasa memiliki identitas yang sama, dengan dialog intim antarpenulis yang menembus batas negara. Merasa diri sebagai satu “bangsa”, satu identitas.

Asia Tenggara sebaliknya, keberagaman membuat mereka asing satu sama lain, meski bertetangga. Sebelum memimpikan boom versi Asia Tenggara, yang diperlukan adalah saling membaca dahulu—saling mengenal. Sebab proyek literasi sedahsyat “El Boom” hanya bisa terjadi jika masyarakat kawasan menyadari identitasnya. Jangankan kesadaran politis yang sama, di Asia Tenggara, kebudayaan tetangga serasa asing.

Sejauh ini, sependek ingatan saya, tak ada usaha untuk saling menerjemahkan karya sastra di Asia Tenggara. Promosi ke dunia internasional dilakukan sendiri-sendiri, dengan cara masing-masing. Hasilnya, sebagian kecil karya sastra di kawasan ini sampai ke pembaca dunia. Ya, hanya sebagian kecil.

Demikianlah. Agaknya, mengharapkan proyek sastra sedahsyat “El Boom” belumlah mungkin bagi Asia Tenggara. Selama kita saling asing, saling tak membaca, kita tetap akan terasing saja.

Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Kini menempuh pendidikan S-1 Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta.
Ikhsan Abdul Hakim

Latest posts by Ikhsan Abdul Hakim (see all)