Mencecap yang Tak Terucap oleh Aruna dan Lidahnya (2018)

in Hibernasi by

Daging sapi empuk itu masih menempel pada tulang buntut berwarna kecokelatan, diangkat dari dalam panci berisi kaldu yang mendidih. Aruna berkata bahwa daging yang bisa dilepas dari tulang dengan mudah adalah tanda kematangan. Ia lalu mencicip rasa sop buntut buatannya, lalu memakannya sendirian. “…Ada juga yang bilang kalau makan itu enak tergantung dengan siapa kita makan, tapi gue rasa itu cuma romantisme ah.”

Sama, Run, saya juga sempat berpikir itu akal-akalan romantis orang aja, eh tapi… mangan ra mangan sakjane sing penting ngumpul! Itu juga yang kemudian dilakukan Aruna. Ia bersama Bono merencanakan sebuah wisata kuliner—yang pada akhirnya menunggangi kerja investigasi Aruna sebagai epidemiologis untuk sebuah lembaga. Bono kemudian mengajak gebetannya, Nadezhda, untuk ikut. Tanpa disangka, Aruna juga diikuti oleh mantan gebetannya, Farish, yang kemudian menjadi rekan investigasinya. Di empat kota, mereka tidak hanya memperlihatkan nikmatnya makan sambil kerja, tapi juga dunia penuh rahasia yang enggan diungkapkan.

 Sejak adegan awal, penonton sudah dibuat jatuh cinta dengan karakter Aruna, apalagi ketika Aruna melakukan breaking the fourth wall. Penonton dibuat merasa menjadi teman Aruna yang sama-sama hendak melakukan perjalanan. Strategi sinematik ini membuat lelucon yang ditawarkan jadi lebih mengena, seakan kita kenal betul siapa Aruna di dunia nyata. Saya sempat berpikir apa ini karena Dian Sastrowardoyo yang memainkannya, tapi lebih dari itu. Jiwa Aruna juga Dian bahkan menyatu baik dengan Bono, Farish, dan Nad.

Awalnya saya sempat takut bahwa film ini akan didominasi pesona akting satu atau dua pelakon saja, tetapi semua aktor tampak bermain imbang. Timbal balik aksi reaksi antartokoh terasa sangat alami. Chemistry yang terbangun membuat saya  merasa bahwa dalam kehidupan nyata para aktor ini sudah cukup sering nongkrong bareng. Pendalaman karakter dilakukan dengan matang oleh aktor yang sudah kawakan pula—istilahnya “matang di pohon” sebelum disajikan ke penonton. Penonton sangat responsif terhadap setiap aksi reaksi antarkarakter—yang saya akui saking kuatnya mudah membuat saya baper. Naksir-naksir sebel, gemes-gemes sayang. Emosi yang disajikan dalam spektrum yang luas disajikan oleh hubungan antarkarakter.

Terasa ada lompatan motif dan perasaan pada beberapa karakter menuju akhir film. Nad dari awal menjelaskan bahwa ia merasa Bono kurang menantang sebagai laki-laki, tetapi ia kemudian membuka hati. Saya merasa belum ada alasan kuat Nad untuk tidak melihat Bono lebih dari teman. Sama seperti motif Nad, Farish yang sedari awal kita tangkap hanya ingin bekerja ternyata memiliki tujuan lain yang saya rasa kurang kuat alasannya—terkesan agar film ini memiliki akhiran segera, namun malah jadi pengantar yang kurang segar. Mungkin aspek alasan terdalam para karakter ini hanya bisa dieksplor di bukunya saja.

Dian yang memerankan Aruna mampu membuat para penonton percaya pada setiap emosi yang ia rasakan, bahkan sesederhana membelalakkan mata ke penonton untuk mengontrol girang ketika Farish mengatakan sesuatu yang menghangatkan hati. Saat ia menikmati setiap unsur masakan yang ia makan, saya pribadi jadi ikut membayangkan rasa yang ia cecap, percampuran rasa yang begitu meledak setiap kali Aruna makan. Ketika Aruna memasukkan suapan makanan apa pun ke mulutnya, saya jadi ikut ngiler. Dalamnya karakter yang dibangun Dian membuat saya ikut membayangkan aroma dan rasa. Ternyata, sebuah refleksi emosi dalam akting yang matang akan membangunkan pengalaman sensoris bagi penonton.

Bicara soal pengalaman indrawi, film semestinya memang mengutamakan kepuasan penikmatnya dalam penglihatan, dan Amalia TS sebagai sinematografer dapat memberikan kepuasan itu. Amalia membangunkan imajinasi sensoris bagi para penontonnya dengan visual yang kuat. Sampai-sampai setiap kali close up berpindah ke makanan, membuat saya benar-benar bersorak kegirangan di bioskop. Tidak hanya saya, sorakan itu semakin banyak dan ramai menjelang akhir film. Rasanya ingin segera merengkuh makanan yang saya lihat dan menyantapnya seketika.

Visual yang disajikan bukan semata berkat kelihaian penataan gambar tetapi juga di bagian artistik dan kostum. Pemilihan tone warna mulai dari poster dan gradasi dalam film tampak dikonsep dengan matang. Dominasi warna merah dan kuning menampilkan kesan kehangatan dan mampu menguak gairah. Melalui warna-warna hangat ini, psikologi penonton digiring untuk merasakan cinta serta kerinduan akan sesuatu yang nyaman di jiwa dan raga. Berkat kuatnya visual secara konsep dan eksekusi, membuat beberapa kekurangan teknis jadi termaafkan. Saya merasa desain suara, khususnya pada bagian percakapan karakter di ruang terbuka, kurang enak dinikmati. Terasa juga ketidakhalusan penyuntingan di bagian mimpi-mimpi Aruna tentang masalah pada lidahnya—walau saya tetap menangkap ada usaha variasi peralihan adegan untuk membedakan mimpi dan nyata.

“Aruna dan Lidahnya” bisa menempatkan sebuah standar baru dalam kancah film Indonesia. Sebuah karya dengan statement kuat, yang saya rasa akan cukup sulit disusul. Pasalnya, mungkin film ini akan menjadi film fiksi Indonesia pertama dengan tema makanan yang akan sukses di pasaran maupun di festival film internasional. Film ini juga membangunkan kembali harapan kualitas film genre komedi romantis di Indonesia—yang belakangan terkesan hanya diwarnai dengan komedi yang dipaksakan dengan rasa drama televisi.

Di antara maraknya (meminjam istilah Bang Joko Anwar) fisudilu atau film syuting di luar negeri, Aruna dengan bangganya menonjolkan kekuatan kota-kota yang para tokoh sambangi. Kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, tanpa harus ngoyo mencari romantisme negeri asing. Selain makanannya, kita juga didekatkan dengan budaya keseharian di empat kota. Misalnya di Surabaya yang memang familier dengan dangdut koplo, selipan comic relief berupa perpaduan lagu Soimah dan Kill The DJ dengan Nad dan Bono yang rasanya tak cocok berada di acara dangdutan, menjadi penyegar yang tak disangka-sangka buat film ini.

Beberapa unsur yang tampaknya hanya seperti menunjukkan budaya setempat, bisa jadi memberikan simbolisme tertentu terkait perkembangan penokohan dalam film. Saya melihat Liang Liong ketika Aruna dan kawan-kawan berada di Singkawang. Penempatan Tari Naga tersebut agaknya menjadi simbol energi konstruktif terpendam dalam komunikasi antara Farish dan Aruna. Saat Farish yang awalnya berada di dalam pusaran naga, ia kemudian melampaui boneka naga lalu menuju ke Aruna yang berada di luar pusaran tersebut. Farish yang keluar dari pusaran naga agaknya melambangkan bahwa ia dapat keluar dari gairah dan kekuasaan besar demi bersama dengan Aruna.

Di antara konflik yang disajikan dalam film, semuanya kembali diredamkan dengan kehadiran makanan. Selain menjadi pendamai segala huru-hara, makanan membawa kita ke pengungkapan sesuatu yang tak bisa sembunyikan—dengan kata lain, makanan tak pernah bohong. Kita tentu sering merasa bahwa makan bersama adalah salah satu bentuk sosialisasi yang bahkan sudah ada sejak manusia hidup berkelompok. Saat membagi waktu dengan orang yang kita pilih, kita jadi mengenal mereka lebih dekat, kita jadi lebih santai dalam bercakap-cakap karena makan bersama melelehkan segala macam kekakuan. Masing-masing empat karakter memiliki rahasia—hal yang kemudian saling memperkuat motif satu sama lain. Rahasia yang disingkap oleh para tokoh seiring waktu terkuak pelan tapi pasti, berkat obrolan ketika mereka bersantap bersama.

Aruna dan Lidahnya semacam memberi pesan tersirat bahwa betapapun dunia menjadi semakin gila dan menghilangkan kepercayaan kita, menghadapinya bersama-sama akan meringankan segala beban. Bahwa, kebersamaan adalah hal yang selamanya menghangatkan, ditambah makanan, mereka memberi kehidupan dan harapan.

Gladhys Elliona

Gladhys Elliona

Penulis lepas dan penampil paruh waktu di Jakarta. Anggota Teater Koma dan pernah dinominasikan sebagai Pemeran Pembantu Wanita dalam Film Pendek terbaik di ajang Madrid International Film Festival 2017.
Gladhys Elliona