Mendengarkan Album Baru Alex Turner… eh, Arctic Monkeys

in Hibernasi by

Tak mudah menjadi penggemar Arctic Monkeys. Kita harus bersiap dengan hal baru yang mereka tawarkan dari album ke album. Selepas album kedua, Favorite Worst Nightmare (2007), band asal Sheffield ini mulai mengubah style­. Album Humbug (2009) terdengar lebih agresif, berat, juga “gelap” dari segi liriknya. Di album Suck It and See (2011), sulit sekali rasanya menemukan genre heavy garage-rock. Tak cukup sampai di situ, lagi-lagi perubahan masif dapat kita dengarkan di album AM (2013). Riff gitar yang catchy bertebaran, gaya bernyanyi Alex Turner yang berubah total—suaranya, juga sikapnya yang tak lagi malu-malu—nuansa pop rock terdengar jelas di album ini.

Pada dasarnya menjadi penggemar Arctic Monkeys bisa sedikit mudah apabila kita fokus pada album barunya. Pada 11 Mei 2018, album Tranquility Base Hotel + Casino (TBHC) dirilis. Segala hal baru di sana tidak begitu mengejutkan jika kita mengikuti jejak karier Alex Turner selepas album AM. Ia terlibat dalam proyek The Last Shadow Puppets bersama Miles Kane dengan album kedua mereka, Everything You’ve Come to Expect (2017) yang sama sekali berbeda dengan musik-musik Arctic Monkeys namun begitu familier terdengar di album TBHC. Seakan-akan TLSP adalah sarana pelampiasan ego Alex Turner—yang terlihat seperti kerasukan arwah David Bowie.

Trek pertama berjudul Star Treatment. Nihil suara gitar, namun bassline-nya begitu asyik. Alih-alih bernyanyi, Alex Turner lebih terdengar seperti meracau—tetap dengan metafor yang khas nan unik. I just wanted to be one of The Strokes / Now look at the mess you made me make.

Lama sekali rasanya tak mendengar lirik pembuka sebuah album semenarik ini. Kita akan disuguhkan impresi sebuah band jazz di atas panggung dan sang vokalis menatap lurus ke penonton.

One Point Perspective dan American Sport. Dua lagu yang berhubungan, terdengar dari akhir trek kedua yang langsung menyambung ke trek berikutnya. Mengingatkan saya pada lagu-lagu Alexandra Savior dengan nuansa misterius, yang dalam proses pembuatan album Belladonna of Sadness (2017) juga dibantu oleh Alex Turner dan James Ford. Alunan piano konstan, ketukan drum yang begitu-begitu saja hingga akhir lagu, riff gitar yang hanya muncul sekali, seakan-akan menyuruh kita untuk fokus pada apa yang dinyanyikan (atau dikatakan?) oleh Alex Turner.

Trek keempat berjudul Tranquility Base Hotel and Casino. Mendengar liriknya, dahi saya mengernyit. Jesus in the day spa, filling out the information form / Mama got her hair done, just popping out to sing a protest song. Terlepas dari liriknya yang menurut saya terabsurd di album ini, terdengar begitu intim dengan suara Alex Turner yang terkesan dalam dan berbeda dibandingkan tiga trek sebelumnya, juga trek-trek berikutnya.

Golden Trunks diawali dengan suara gitar beserta distorsinya yang terkesan “kotor” bahkan sedikit out of tune. Pendengar yang tak biasa dengan suara macam ini akan merasa terganggu. Namun bersabarlah sejenak dan tunggu Alex Turner mulai menyanyikan liriknya. Dari segi vokal, menurut saya Golden Trunks adalah pencapaian terbaik dalam album ini. Harmoni antara vokal utama dan backing-nya terdengar begitu rapi dan memanjakan telinga. Trek kelima ini sekilas mirip dengan trek ketujuh The World’s First Ever Monster Truck Front Flip. Alex Turner seakan-akan merapalkan sebuah mantra: “You push the button and we’ll do the rest”—yang ternyata adalah slogan Kodak di tahun 1800-an.

Trek keenam, Four Out of Five, adalah satu-satunya yang melibatkan riff gitar catchy seperti kebanyakan lagu di album AM. Dan menurut saya, masuk dalam selera pasar sehingga dipakai sebagai materi teaser album TBHC. Pengulangan lirik dari pertengahan hingga akhir lagu diiringi semakin intensnya alat musik yang terlibat membuatnya sebagai sebuah paket lengkap—instrumen atraktif, juga lirik yang memukau.

Beralih ke trek kedelapan, Science Fiction, mengingatkan saya pada gaya bermusik Alex Turner dan Miles Kane dalam album pertama The Last Shadow Puppets, The Age of Understatement (2008), yang menurut saya—juga banyak pendengar lainnya—merasa album tersebut layak dan seharusnya menjadi soundtrack film James Bond. Nuansa horor dan sarat misteri macam Alexandra Savior juga kental terasa.

Setelah dua trek yang adem-ayem, album ini mengentak lagi di trek kesembilan, She Looks Like Fun. Secara cerdas Alex Turner menyindir perihal perkembangan teknologi. Sekadar informasi, Alex Turner adalah seseorang yang anti dengan media sosial. Dalam wawancara bersama Pitchfork, ia mengatakan bahwa lagu ini adalah tentang karakter yang diciptakan oleh orang-orang dalam media sosial. Seperti fenomena di mana kita memberi label seseorang menyenangkan dilihat dari tweet-nya, feed Instagram-nya, atau dinding Facebook-nya: (She looks like fun) Good morning / (She looks like fun) Cheeseburger / (She looks like fun) Snowboarding—penggalan-penggalan kata yang familier bukan?

Isu yang sama juga kita temui di trek Batphone. Have I told you all about the time that I got sucked into a hole / Through a handheld device? Alex Turner seakan-akan membuat sebuah refleksi atas begitu menyeramkannya teknologi sampai-sampai penggunanya sucked into a hole, hanyut dalam dunia yang maya. Kemampuan Alex Turner yang andal dalam menciptakan lirik-lirik absurd juga satire menjadi nyawa tersendiri dan bagian terpenting dalam album terbaru Arctic Monkeys.

Tak ada yang lebih sempurna rasanya menutup sebuah album dengan sebuah balad. The Ultracheese. Melihat judulnya, saya mengira trek ini akan terdengar begitu cheesy dan sarat akan gombalan-gombalan maut. Namun, The Ultracheese justru menampilkan sisi melankolis dan sentimental Alex Turner yang merindukan sosok teman lama. Still got pictures of friends on the wall / I suppose we aren’t really friends anymore. Diiringi nuansa jazz dengan alunan piano yang mendominasi, trek ditutup dengan sepenggal kalimat yang sukses membuat saya berkaca-kaca: But I haven’t stopped loving you once ~

Menyukai atau Membencinya

TBHC akan memunculkan dua opsi: pendengar akan menyukainya atau membencinya. Jika seseorang mendengarkan Arctic Monkeys hanya dari album AM dengan Do I Wanna Know sebagai lagu favorit, maka album ini kemungkinan besar akan dibencinya.

Lain halnya jika mengikuti jejak karier Alex Turner sebagai seorang musisi (terlepas dari Arctic Monkeys) dengan cara mendengarkan lantas menyukai gaya bermusik The Last Shadow Puppets, juga Alexandra Savior, maka album ini bisa jadi adalah pencapaian terbaik Arctic Monkeys, terlebih Alex Turner. Atau bisa juga album ini disukai oleh seseorang yang sebelumnya sama sekali tak pernah mendengarkan Arctic Monkeys dan memilih TBHC sebagai album pertama yang didengarnya. Album ini menandakan sebuah tempat baru untuk Alex Turner melampiaskan egonya—Arctic Monkeys.

So, who the f*ck are Arctic Monkeys?

Iqbal Rifqi H

Iqbal Rifqi H

Pernah mendapatkan beberapa penghargaan di festival-festival film skala nasional, seperti film pendek terbaik kategori pelajar Malang Film Festival 2014 untuk film “Banyu! (2013)”, dan nominasi film terbaik kategori mahasiswa Festival Film Surabaya 2015 untuk film “Potret (2014)”.
Iqbal Rifqi H

Leave a Reply

Your email address will not be published.