Menelisik Sejarah Pesisir Selatan Jawa Timur melalui Upacara Petik Laut

in Celoteh by
technewshitz.info

Di wilayah-wilayah pesisir biasanya masyarakat nelayan tiap tahun merayakan ritual petik laut.  Di wilayah pesisir selatan Jawa bagian timur salah satunya ada Larung Sembonyo. Saat Larung Sembonyo—nama upacara petik laut di pesisir Prigi, Trenggalek—digelar, kita melihat tumpeng agung setinggi kurang lebih 2 meter diarak disertai sesaji. Bunyi-bunyian gamelan mengiringi gending. Disusul rangkaian sambutan pejabat desa dan kecamatan. Dan berjubel manusia turut antri menyaksikan prosesi tersebut: sebagian memang ingin berebut tumpeng yang dilarung, sebagian yang lain sekadar menyaksikan ritual ini dari jauh.

Larung Sembonyo adalah siklus tahunan, (up)acara bersih desa yang digelar setiap Bulan Selo (dalam penanggalan Jawa) di bibir pantai. Upacara labuh laut ini sebetulnya juga mengandung babad pesisiran, khususnya babad desa-desa di pesisir Teluk Prigi. Babad ini dilakukan menggunakan ritus melarung sesajen ke tengah laut (petik laut). Dan, karena ritus petik laut ini sekarang juga digagas menjadi salah satu ikon (pari)wisata daerah, mau tidak mau—selain kekhidmatan prosesinya—ritual ini juga dituntut untuk memanjakan mata wisatawan: di antaranya, dengan bungkus sajian-sajian “artistik”, sebagai bagian dari budaya pop(ular).

Dalam tradisi oral (folklore) setempat, terselip narasi: “Kala semanten Kraton Mataram bade nggelar panguwaosipun ingkang langkung jembar. Utamanipun laladan in Pesisir Kidul, ingkang wiwitan saking Teluk Pacitan ing pangangkah dumugi ing Banyuwangi… sak sampunipun sedaya uborampe cekap, lajeng bidal lan miwiti babad laladan enggal… Wonten mriku angsal rahmatipun ingkang Moho Wikan saget mbika wono damel padusunan enggal… (Sardjuningsih, 2013: hlm 185).” Ada seorang tokoh dari Mataram, menurut babad tersebut, yang membuka dusun-dusun baru di pesisir Trenggalek, termasuk di Teluk Prigi. Tokoh itu adalah seorang pejabat dari Mataram bernama Raden Kramadipa (kelak bergelar Tumenggung Yuda Negara) beserta saudara-saudaranya: Raden Yaudi, Raden Yauda, Raden Pringgo Jayeng dan Raden Prawira Kusuma.

Mereka ini membuka hutan-hutan di pesisir guna membuat permukiman baru. Dari Pacitan hingga ujung Banyuwangi. Setelah membuka Pacitan, ketika rombongan ini sampai di Trenggalek, mereka membuka tiga daerah di pesisir mulai dari Kecamatan Panggul, Munjungan, dan Prigi (Watulimo). Namun sebelum memasuki Lembah Prigi—setelah membuka Sumbreng (Munjungan)—mereka terlebih dulu membuka permukiman di Demuk, sekitar Sine (daerah Kalidawir, Tulungagung) dan baru kembali mem-babad Prigi dari utara (Gunung Kambe). Karena di Lembah Prigi saat itu ada penguasa—yang dalam narasi oral tadi—dari jenis lelembut (makhluk ghaib): kerajaan Andong Biru.

Kisah yang termuat dari babad ini adalah pembukaan tiga wilayah di pesisir selatan Trenggalek, namun babad lisan yang saya cuplik di atas, lebih dikenal masyarakat dengan Babad Sumbreng, yang pola cerita dan pokok-pokok ritual upacaranya, sama persis dengan labuh laut Longkangan di Munjungan (Teluk Sumbreng), sebuah teluk di sebelah barat Teluk Prigi.

Menurut Babad Sumbreng, dalam tradisi Larung Sembonyo ini, Lembah Prigi punya wilayah kosmologi unik, yang dibagi menjadi tiga bagian: pertama adalah daerah pinggir, lalu daerah tengahan dan yang terakhir adalah daerah selatan. Pinggir adalah tempat-tempat tinggi atau dataran tinggi seperti pegunungan dan perbukitan; wilayah tengahan adalah wilayah Prigi bagian daratan rendah atau lembah-lembah yang telah dihuni oleh penduduk berdekatan dengan jalan; sementara wilayah selatan adalah wilayah yang diukur dari titik di tepi pantai hingga ke tengah laut selatan sejauh mata memandang (Sardjuningsih, 2013: hlm 207-208).

Membaca kisah Babad Sumbreng (atau tentang asal-usul Sembonyo, juga Longkangan, yang diselimuti mitologi ini), saya mengidentifikasinya sebagai bagian dari kisah invasi Mataram Islam (kerajaan pedalaman itu) ke Pesisir Selatan Jawa Timur. Kita tahu Mataram pada sekitar awal abad 17 juga menginvasi Surabaya (sekitar tahun 1620-1625) dan wilayah-wilayah di sekitar Surabaya, baik sebelum ataupun sesudah tahun-tahun tadi, seperti Tuban, Gresik, Pasuruan, Malang, Lumajang, Madura, hingga daerah-daerah di wilayah ujung Timur Pulau Jawa (Blambangan) yang tak pernah berhasil dimasuki.

Setelah menguasai Surabaya dan sekitarnya—saat itu Surabaya dipimpin oleh Raja/Adipati Jayalengkara—kita tahu Sultan Agung baru menyerang Batavia (1628-29) dengan pasukan yang besar, sebagai jalan masuk menguasai Banten, kendati invasi beberapa kali ke wilayah barat ini gagal. Penyerangan Mataram atas timur (Surabaya) itu juga menjadi tanda kemunduran perdagangan laut di pesisir utara Jawa, yang telah terbangun sejak ratusan tahun, dari masa Singhasari dan Majapahit, bahkan dari masa Kediri. Invasi Mataram ke berbagai wilayah di Jawa Timur ini, secara simbolis adalah bagian dari cengkeraman kebudayaan agraris terhadap kebudayaan dan tradisi pesisir (maritim) di bagian utara dan selatan Pulau Jawa bagian timur.

Dalam kisah di Babad Sumbreng atau Larung Sembonyo, yang menjadi babad daerah-daerah pesisir Trenggalek ini (mulai dari Teluk Panggul, Munjungan, Prigi—yang di lembah Prigi sendiri diperingati di tiga desa: Karanggandu, Tasikmadu [Pantai Prigi] dan Karanggongso) juga terselip-tersirat, kisah-kisah hegemoni kerajaan pedalaman agraris (Mataram) terhadap masyarakat yang berdiam di wilayah pesisir selatan Jawa Timur. Kalau kita membaca kisah Babad Sumbreng (Larung Sembonyo), maka kita akan bertemu dengan sosok lokal, seperti tokoh Adhipati dari kerajaan Andong Biru (wilayah tengahan) dan putrinya, Gambar Inten, yang takluk pada Adhipati Yudha Negara (Mataram) melalui pernikahan.

Kadang-kadang ketika musuh sulit ditaklukkan, Mataram memang kerap membuat strategi, seperti dengan mengawini anak musuh atau musuhnya itu sendiri. Sebagaimana dulu Pangeran Pekik (putra raja Surabaya yang dikalahkan Mataram) dinikahkan dengan anggota keluarga keraton Mataram (adik Sultan Agung) oleh Sultan Agung sebagai lem perekat Mataram-Surabaya, pasca ditaklukkannya Surabaya. Bahwa perjodohan bisa meredam konflik dan menangkal peperangan, di samping juga bisa mempersaudarakan musuh itu sudah merupakan strategi masyhur, yang sudah dikenal semenjak masa-masa kerajaan Hindu-Budha. Karena itu, selain kisah babad, yang menonjol dari Larung Sembonyo adalah peringatan pernikahan Yudha Negara (Mataram) dengan Gambar Inten (Andong Biru), melalui sedekah laut (larung sesaji).

Lama-lama, kisah ini, yang sekaligus cerita tentang kedatangan orang-orang yang menjadi penghuni Lembah Prigi dan pesisir selatan Trenggalek lainnya, sebagai kisah orang-orang yang membuka permukiman-permukiman baru di pesisir Trenggalek yang ber-alur dari arah barat (Mataram) melalui Pacitan, di sepanjang pesisir selatan. Bisa jadi, sebelum kedatangan orang-orang Mataram ini, di pesisir Trenggalek sudah dihuni, yang salah satunya adalah keluarga dari Adhipati Andong Biru (kerajaan Andong Biru).

Bersama dengan berlalunya waktu, kisah ini kemudian menjadi bercampur mitos (sebagaimana banyak cerita lisan [folklore] lainnya), dan tokoh-tokoh lampau yang pernah hidup di daerah ini pun—sebagaimana pola-polanya dapat kita temui di banyak tempat—menjadi danyang. Maka, Larung Sembonyo sejatinya berfungsi, salah satunya, sebagai media pengingat perjalanan leluhur manusia-manusia di wilayah pesisir: mereka yang awal mula, dan gelombang-gelombang selanjutnya yang menyusul, menghuni dan menetap di pesisir (teluk-teluk) selatan Trenggalek, termasuk di Teluk Prigi ini.

Itulah alur masyarakat pesisir selatan Trenggalek mulai dari Kecamatan Panggul, Munjungan hingga Watulimo (Teluk Prigi) yang secara kultural adalah campuran masyarakat pesisir (nelayan) dan masyarakat agraris (petani). Dan yang secara kebudayaan dekat dengan Mataram(an). Berbeda dengan wilayah Trenggalek bagian utara yang secara kultur lebih tua, karena selain dipengaruhi Mataram Islam, Trenggalek bagian utara ini juga terhubung dengan Demak melalui keberadaan Minak Sraba (pendatang dari Demak Bintoro), ayah Minak Sopal (tokoh bersejarah yang sangat dikenal di Trenggalek), dan pengaruh kultur akhir Majapahit melalui ibu Minak Sopal, yakni Dewi Rara Amiswati, seorang perempuan berasal dari keraton Majapahit yang bertetirah ke Trenggalek.