Menemukan Absurditas Khas Kafka

in Rehal by

dsc_0807

Judul               : Seorang Dokter Desa

Penulis             : Franz Kafka

Penerjemah     : Widya Mahardika P

Cetakan           : Pertama, September 2016

Penerbit          : OAK, Yogyakarta

Tebal               : 116 hlm

ISBN               : 9788027253874

Membaca Kafka akan mengajak kita untuk memecahkan lautan beku di dalam diri. Buku bagi seorang Kafka tidak akan berguna jika tak mampu menjadi kapak pemecah segala yang beku dalam dirinya. Dalam suratnya ia pernah menuliskan pesan, “Kita perlu buku-buku yang membuat kita seperti terkena bencana, rasa duka yang mendalam, seperti kematian seseorang yang kita cintai lebih dari diri kita sendiri, seperti dibuang ke hutan yang jauh dari semua orang, seperti bunuh diri.” Surat itu ditujukan kepada teman kecilnya yang bernama Oskar Pollak. Kumpulan surat-surat Kafka pada masa itu kemudian dikumpulkan lalu disatukan dalam buku yang berjudul Letters to Friends, Family, and Editors.

Bagaimana dengan kumpulan cerpen Kafka kali ini? Keyakinan Kafka tentang buku jelas berpengaruh pada caranya menuliskan sejumlah cerita. Di dalam buku Seorang Dokter Desa terdapat 14 cerpen yang memperlihatkan usaha seorang Kafka untuk melemparkan bencana ke dalam jiwa para pembaca. Cerpen paling singkat “Desa Sebelah” memperlihatkan cara Kafka memandang hidup dan kebahagiaan. Dengan singkatnya cerpen itu, Kafka berusaha membuat kepadatan yang kiranya dapat mengantar pembaca tiba pada titik yang berbeda. Meskipun singkat, saya merasa pemaknaan yang akan diterima oleh pembaca akan beragam.

Lalu mari mencoba mengamati cerpen yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen Kafka, “Seorang Dokter Desa”. Di kalimat awal, seperti biasa Kafka selalu membuka dengan kejutannya yang khas. “Aku sedang berada dalam kesulitan besar; aku harus melakukan perjalanan darurat; seorang pasien menungguku di desa yang berjarak sekitar sepuluh mil dari sini; badai salju memisahkanku dari pasien; aku punya kereta kuda yang ringan bobotnya dan besar rodanya, yang hanya cocok untuk jalan desa kami; dengan memakai mantel kulit, dengan tas berisi peralatan medis di tangan, aku berdiri di halaman rumahku; tapi belum ada kuda yang bisa kutunggangi.” Masalah pelik di awal cerita yang dialami dokter desa menjadi gerbang yang akan membawa pembaca menuju kemalangan demi kemalangan yang harus dilalui tokoh utama. Pada akhirnya, dokter desa itu akan menemukan hal-hal yang tak semestinya ia dapatkan dalam usahanya untuk menyembuhkan pasien.

Beberapa cerpen lainnya memberikan kita kesempatan untuk melihat absurditas seorang Kafka. Cerpen yang berjudul “Kekhawatiran Seorang Kepala Keluarga” dan “Pidato di Hadapan Sebuah Akademi” menjadi dua cerpen favorit saya dalam buku ini. Cerpen pertama itu bercerita tentang sebuah makhluk yang mungkin saja Kafka ciptakan untuk mengganggu pikiran para pembaca. Odradek, makhluk yang mengisi cerpen Kafka ini akan tergambar begitu jelas bagi pembaca. Bagaimana takdir dari Odradek itu pun masuk ke relung hati hingga membuat tokoh utama bertanya-tanya. Lalu, cerpen kedua serupa pengakuan seorang manusia yang dulunya pernah menjadi seekor kera. Di hadapan orang-orang akademi, ia jelaskan kisah serta pengalaman yang ia temukan selama menjalani hidup di luar yang manusia jalani.

Setelah lima tahun berlalu saat ia berubah dari kera menjadi manusia, ia merasa waktu itu begitu panjang. Berbagai pengalaman ia lalui beserta dengan masalah-masalah yang dihadapi saat beradaptasi menjadi manusia. Di sisi lain, ada juga kritik terhadap manusia yang juga menyimpan sifat kera. Barangkali manusia suatu saat nanti akan berubah menjadi kera atau setidaknya terlihat lebih berbahaya dari kera. Apa yang Kafka berikan bukan sekadar absurditas yang sederhana, namun jelas mampu memecah kebekuan dalam diri kita.

Jika membaca surat panjang Kafka kepada ayahnya, buku ini adalah sebuah persembahan yang ingin ia berikan kepada ayahnya. Namun sang ayah, tidak menyambut serta memperlihatkan apa yang sebenarnya Kafka harapkan selama ini. Pengalaman bersama ayahnya membuat Kafka melahirkan cerpen yang begitu dekat dengan kesehariannya. Dalam buku kumpulan cerpen ini, terdapat “Sebelas Anak” dengan gambaran seorang ayah yang tak jauh beda dengan ayah seorang Kafka. Dalam potongan kalimat surat untuk Pollak, Kafka mengatakan bahwa, “Beberapa buku menjadi kunci untuk membuka ruang rahasia di dalam istana kita sendiri.” Kumpulan cerpen Kafka ini bagi saya pribadi mampu menjadi kunci yang mampu membuka ruang rahasia yang semestinya kita kenali lebih baik. Dan, semoga lautan beku di dalam diri kita pecah setelah karya Kafka kita tuntaskan segera.

Wawan Kurn

Wawan Kurn

Sering menggunakan nama Wawan Kurn, lahir di Pinrang, namun kini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya di antaranya pernah dimuat Koran Tempo Makassar, Harian Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Tribun Timur Makassar, Republika, Serambi Indonesia.
Wawan Kurn

Latest posts by Wawan Kurn (see all)