Menemukan Empat Alasan Menulis Ala Orwell

in Rehal by

Orwell

Judul               : Bagaimana Si Miskin Mati?

Penulis            : George Orwell

Penerbit          : OAK, Yogyakarta

Cetakan 1        : Maret 2016

Tebal               : 199 hlm

Judul buku ini menggunakan sebuah pertanyaan, Bagaimana Si Miskin Mati? yang juga merupakan salah satu esai dalam buku itu. Ada 20 esai George Orwell yang dihimpun. Penulis yang nama sebenarnya adalah Eric Arthur Blair namun pada akhirnya lebih dikenal dengan nama penanya, George Orwell. Salah satu karya Orwell yang terkenal adalah Animal Farm (1945). Di dalam buku ini, ia secara jauh lebih terbuka memperlihatkan pandangan politik dan sosial Orwell. Saya merasa irisan cerita atau peristiwa dalam novel Animal Farm lahir dari bentuk buah pikiran Orwell dalam memandang situasi pada saat itu.

Namun, saya tidak akan terlalu banyak mengomentari sisi itu. Saya melihat sisi lain yang menarik dan kiranya mampu saya tuliskan. Buku ini telah memberikan berbagai poin penjelas terkait kepenulisan Orwell sendiri. Ada beberapa esai yang menyinggung hal tersebut. Misalnya, “Mengapa Saya Menulis”, “Kenangan di Toko Buku”, “Pengakuan Seorang Pengulas Buku”, “Puisi dan Mikrofon”, “Politik dan Bahasa Inggirs”. Melalui lima esai itu, Orwell sedang mengajak kita untuk menyelami sisi kepenulisan yang telah dijalani.

Di musim panas tahun 1946, majalah sastra Gangrel di Inggris menerbitkan tulisannya yang berjudul “Mengapa Saya Menulis”. Meskipun esai itu dituliskan oleh seorang Orwell, saya rasa apa yang menjadi alasannya telah dimiliki oleh seluruh penulis. Esai ini menunjukkan bagaimana kematangan Orwell dalam menghasilkan karya-karyanya dan memandang sebuah peristiwa.

Salah satu potongan dalam esai itu, Orwell menyebutkan empat alasan menulis. Pertama, egoisme. Bahwa setiap penulis memiliki keinginan terlihat cerdas, untuk dibicarakan, dikenang setelah mati, dan lain-lain. Alasan kedua, antusiasme estetik. Konon, ini alasan yang paling sulit ditemukan atau lemah. Bahwa setiap menulis sedang berniat menciptakan hasil atau efek yang luar biasa. Karya yang indah serta alur yang menarik. Alasan ketiga, dorongan historis. Berupa keinginan untuk memandang berbagai hal dengan netral. Hingga pada suatu saat nanti akan digunakan oleh generasi selanjutnya. Alasan keempat, tujuan politik. Pendapat jika seni itu tidak hubungan dengan politik sebenarnya adalah bentuk sikap politik itu sendiri. Alasan inilah yang diterangkan Orwell bahwa tidak ada buku yang benar-benar bebas dari bias politik.

Empat alasan itu kemungkinan ada pada diri setiap penulis. Meskipun akan ada kemungkinan lain, jika ada alasan di luar penjelasan Orwell. Secara garis besar, empat itu akan menyentuh alasan seorang penulis. Setiap karya yang kita baca, barangkali akan menarik jika kita bermain dengan memikirkan alasan penulis terlebih dahulu. Ini mungkin bukan saran yang menyenangkan, tapi tidak ada salahnya dicoba.

Dan jika kita tiba pada esai “Bagaimana Si Miskin Mati?” ada sebuah puisi yang berjudul “The Children’s Hospital” karya Tennyson. Konon, puisi itu hadir di masa kecilnya dan membuat ia melihat bayangan kesedihan paling panjang. Namun setelah tumbuh dewasa, ia melihatnya melalui pengalaman dalam ruang remang-remang penderitaan di bangsal Hospital X. Suasana yang mengingatkannya pada rumah sakit abad ke-19. Di mana orang-orang mati begitu saja, kematian hadir setiap hari di tengah orang-orang yang tak dikenal. Ranjang-ranjang yang berdekatan satu sama lain, serta pasien yang tak diperlakukan dengan baik, seolah telah ditakdirkan lebih dekat dengan kematian.

Suara-suara tidak berdaya dalam masyarakat di sekitar Orwell dituliskan dengan upaya perlawanan serta protes terhadap pengambil kebijakan. Semangat Orwell tentu saja tidak mati, jika meminjam semangat itu, Indonesia sendiri semestinya mampu melahirkan penulis serupa Orwell dengan latar yang tak jauh beda. Ada banyak relung kehidupan sosial yang bisa jadi dapat kita tuliskan seperti halnya yang telah Orwell lakukan.

Seperti salah satu esai dalam buku ini, yang berjudul “Pengakuan Seorang Pengulas Buku”,  bagaimana seorang pengulas buku tidak selamanya menemukan buku yang berkualitas namun harus mengatakan bahwa buku ini layak untuk dibaca. Esai itu bercerita tentang seorang yang muak dengan pengakuannya sendiri, ulasannya sendiri. Ketika harus mengatakan yang tidak sesungguhnya ada. Berbeda dengan pengulas buku di esai Orwell, saya tentu saja sebaliknya. Saya muak dengan ulasan ini yang sebenarnya tak mampu jauh lebih baik meyakinkan Anda atau siapa saja untuk membaca tulisan-tulisan Orwell. Bahwa karya-karya Orwell adalah bacaan yang punya alasan kuat untuk selalu dibaca, dipahami, dan dinikmati.

Wawan Kurn

Wawan Kurn

Sering menggunakan nama Wawan Kurn, lahir di Pinrang, namun kini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya di antaranya pernah dimuat Koran Tempo Makassar, Harian Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Tribun Timur Makassar, Republika, Serambi Indonesia.
Wawan Kurn

Latest posts by Wawan Kurn (see all)