Menemukan Ruang Kosong

in Celoteh by
clipartfest.com

Apa guna cerita-cerita di zaman saat segala yang nyata lebih absurd ketimbang fiksi itu sendiri? Saya akan menuturkan dua kisah berikut untuk menjawabnya.

Kisah pertama.

Belasan tahun lalu, saat saya (Maya Lestari Gf) masih remaja yang suka menulisi kertas dengan cerita-cerita, seseorang pernah berkata, “Jangan lagi membaca cerita.” Dia mengharapkan saya hanya membaca tulisan-tulisan serius yang dihasilkan pemikir-pemikir hebat seperti Imam Al Ghazali atau M. Iqbal, atau mungkin Ibn Khaldun dan bisa jadi Noam Chomsky. Saya tidak bertanya mengapa. Saya tahu maksudnya. Bagi dia, cerita-cerita bukanlah tulisan yang patut disejajarkan dengan pemikiran-pemikiran bernas para filsuf dunia. Kalimat karakter seorang lelaki ada pada keyakinannya yang dihasilkan Heraclitus agaknya lebih tinggi derajatnya ketimbang kalimat Jane Austen semisal imajinasi seorang perempuan berubah cepat seperti kilat. Dari kekaguman ke cinta, dari cinta ke pernikahan, hanya dalam sekejap. Kalimat J.K. Rowling semisal pilihan kitalah—dan bukan kemampuan—yang menentukan siapa diri kita kalah tarung dari kalimat Stephen Hawking inteligensi adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Seolah, otak hanya bekerja untuk menyerap sesuatu yang bersifat nonfiksi, dan menolak berfungsi ketika mencerna imajinasi.

 

Kisah kedua.

Sungguh sulit melangkah setapak demi setapak melintasi debu yang bertebaran di atas gundukan di bawah tapak kaki. Sulit, tetapi ia terbiasa dengan kesulitan, bukan? Pikirannya terhanyut dalam cerita yang dibacanya—sobekan Anna Karenina. Ia berpikir, ia mirip denganku, mengenakan ikat kepala putih, dan merawat anak-anaknya juga. Aku bisa menjadi perempuan Rusia itu. Dan lelaki itu mencintainya dan akan meminangnya. Ya, pikirnya, seorang laki-laki akan datang padaku, dan membawaku menjauh dari semua ini, membawaku dan semua anak-anakku, ya, ia akan mencintaiku dan merawatku.

Ia terus melangkah. Memanggul wadah air yang berat di pundaknya. Ia terus berjalan. Anak-anak dapat mendengar air berkecipak. Ia berhenti separuh jalan dan menurunkan wadah air. Anak-anak berkitaran sambil menangis, dan kerongkongan mereka penuh debu.

Seorang pejabat tinggi, kebetulan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, membeli salinan novel Anna Karenina karya Leo Tolstoy dari toko buku sebelum berangkat melintasi sejumlah samudra dan lautan. Di atas pesawat, duduk di kelas bisnis, ia menyobek buku itu menjadi tiga bagian. Ia memandang kawan seperjalanan di sebelahnya sambil melakukan hal itu, karena tahu ia akan menjumpai pandangan terkejut dan ingin tahu dan juga rasa heran. Setelah selesai, dengan sabuk pengaman terikat kencang, ia berkata dengan suara keras kepada siapa pun yang mendengar, “Saya selalu melakukan ini kalau dalam perjalanan panjang. Anda kan tidak ingin memegangi buku besar yang berat.” Novel itu edisi paperback, tetapi memang panjang. Orang ini terbiasa dengan orang yang menyimak ketika ia berbicara. “Saya selalu melakukan ini kalau dalam perjalanan,” ia bercerita. “Perjalanan pada zaman ini cukup sulit.” Dan setelah orang-orang mengerti, ia membuka salah satu bagian Anna Karenina-nya, dan membaca. Ketika orang-orang memandang ke arahnya, entah penasaran entah tidak, ia berkata lagi. “Sungguh, hanya beginilah cara yang baik sepanjang perjalanan.” Ia kenal novel ini, menyukainya, dan cara orisinal dalam membaca ini menambahkan apa yang memang merupakan sebuah buku terkenal.

Ketika ia mencapai sebuah bagian buku, ia memanggil pramugari, dan mengirimkan bab-bab itu kepada sekretarisnya, yang duduk di kursi yang lebih murah. Ini menimbulkan banyak perhatian, kutukan, dan tentu juga rasa penasaran, tiap sebuah bagian dari novel revolusi Rusia itu tiba, yang telah dimutilasi namun tetap terbaca, di bagian belakang pesawat. Cara membaca Anna Karenina yang ganjil ini sungguh mengesankan, dan mungkin tidak ada yang akan melupakannya.

Itu cerita Doris Lessing. Hingga kini pun saya (Doris Lessing) memperoleh surat dari orang-orang yang tinggal di sebuah desa yang mungkin tidak memiliki listrik atau air bersih, sama seperti keluarga kami di gubuk berdinding lumpur yang panjang itu. “Aku juga akan menjadi penulis,” kata mereka, “karena aku juga tinggal di rumah yang sama dengan tempat kau tinggal.”

Tetapi di sinilah letak kesulitannya. Menulis, penulis, tidak muncul dari rumah yang tak punya buku. Ada celah. Ada kesulitan.

Saya telah memeriksa pidato-pidato para pemenang penghargaan. Ambil contoh Orhan Pamuk yang luar biasa. Ia bercerita bahwa ayahnya memiliki 500 buku. Bakatnya tidak muncul begitu saja dari udara hampa, ia terhubung dengan tradisi agung. V.S. Naipaul juga menyebutkan bahwa Kitab Weda India sangat dekat dengan ingatan keluarganya. Ayahnya mendorongnya untuk menulis, dan ketika ia tiba di Inggris, ia akan mengunjungi British Library. Jadi ia dekat dengan tradisi agung. John Coetzee, bukan hanya dekat dengan tradisi agung, ia adalah tradisi itu sendiri: ia mengajar kesusastraan di Cape Town.

Akhirnya, untuk menulis, untuk menciptakan kesusastraan, harus ada hubungan yang erat dengan perpustakaan, buku, dan tradisi.

****

Maafkan saya, menukil semua narasi di atas dengan cukup panjang. Ada nama Maya Lestari Gf di bagian pertama (saya kutip dari buku kumpulan cerpennya, Pada Suatu Senja, Aku Jatuh Cinta) dan selebihnya adalah pidato Doris Lessing saat menerima Hadiah Nobel Sastra 2007 (saya kutip dari buku Tentang Kucing).

Mengapa selalu harus ada yang menulis dan membaca?

Saya tak mengerti—bukan tak bisa menjawabnya. Tetapi mari pikirkan dengan cara begini.

Pertama, bagaimana mungkin ada orang yang menganggap Thales lebih terbelakang dibandingkan Rene Descartes? Atau Ludwig Wittgenstein ketimbang Roland Barthes dan Ferdinand de Saussure? Toni Lesmana ketimbang Seno Gumira Ajidarma? Dan sebagainya.

Saya membayangkan betapa senyapnya dunia Ernest Hemingway ketika duduk seorang diri di jendela sebuah kafe tua di Old Havana yang berkemelesir. Tentu saja, suasana senyap Hemingway tidaklah sama dengan suasana senyap nan kerontang di sekitar dunia perempuan Zimbabwe yang dikisahkan Lessing sebagai pembaca sobekan novel Anna Karenina sambil antre air di sebuah toko milik orang India itu.

Kedua, bagaimana mungkin ada orang yang berpikir bahwa setiap karya (termasuk aktivitas kehidupan) tidak membutuhkan “ruang kosong” pada jiwa dan pikiran manusia? Bahkan, bukankah, seorang koruptor pun harus merencanakan sebuah strategi konspirasi untuk memuluskan aksinya?

Manusia, saya percaya, adalah “ruang kosong” itu sendiri. Tanpa hal itu, ia bukanlah manusia; ia sekadar makhluk hidup, yang datang untuk mati, bahkan tak lebih berarti ketimbang binatang yang daging-dagingnya masih bisa kita makan.

Bagaimana ruang kosong itu bekerja?

Imajinasi, ini saya kira kata kuncinya. Dzauq, dalam istilah Imam Ghazali. Socrates dan Plato juga menggunakannya dengan sangat baik, sesuai zamannya. Lalu Descartes juga sesuai zamannya. Berikutnya kaum postmodernis, sesuai zamannya. Dan seterusnya.

Dalam ranah pemikiran, pencapaian-pencapaian filosofis—sesederhana apa pun kini posturnya—meniscayakan kerangka berpikir yang berkorelasi intim dengan ruang kosong itu. Jurgen Habermas, misal, ketika memfatwakan “public sphere” sebagai titik tolak lahirnya civil society—sebutlah demikian—yang beranjak dari kaum menengah yang gemar nongkrong di Inggris dan Prancis niscaya juga melibatkan “ruang kosong” itu. Imajinasi itu.

Dalam ranah keberagamaan pun, posisi ruang kosong ini sama vitalnya. Orang muslim, umpama, yang melazimkan dirinya menjalankan syariat yang praktikal-ritualistik niscaya menemukan ruang-ruang imajiner antara diri dan Tuhannya. Mereka menyebutnya kekhusyukan—dan bagaimana mungkin kekhusyukan itu lahir tanpa imajinasi tentang diri sebagai hamba di hadapan Tuhan sebagai Tuan?

Boleh jadi khusyuk dipicu oleh kegentaran pada golak api neraka ataupun kerinduan pada ayunya para bidadari surga. Apa pun medianya, semua itu adalah bagian dari dzauq, imajinasi, yang melampaui hal-hal praktikal-ritualistik. Ruang kosong itulah ternyata yang mengisi bingkai-bingkai formalistiknya, menjadikannya bernyawa, bergerak, hidup, dan menjiwai kehidupannya.

Bila ilustrasi ini ditarik ke ranah-ranah lain, sebutlah kreativitas menulis, kita mafhum bahwa tulisan apa pun, apalagi sastra, bukan hanya melibatkan kedalaman berpikir. Jika berhenti di situ, ia hanya akan menjelma patung. Bentuknya ada, wujudnya aja, plotnya ada, tetapi ruhnya tak berdenyut. Maka memasukkan ruh ke dalamnya, sehingga di ingatan pembaca—apalagi penulisnya—terus menyalakan makna-makna, merupakan elemen mendasar yang seyogianya dipastikan hadir melalui kedalaman imajinasi itu.

Bagaimana menghidupkan imajinasi, menemukan ruang kosong itu?

Dorris tidak salah sama sekali ketika mengatakan bahwa diperlukan “tradisi” untuk menjelmakan diri sebagai sesuatu. Seorang penulis tidaklah mungkin menjadi sesuatu bila tidak bertradisi menulis. Begitu pun pelukis. Pula pencari Ilahi. Ataupun pemikir sosial. Dorris tidak sedang menegasi “orang yang tidak punya tradisi” tersebut. Tidak. Tetapi memang demikianlah khittah-nya.

Senantiasa diperlukan weltanschauung bagi siapa pun yang hendak menggapai sesuatu dalam hidupnya. Dibutuhkan world view yang menyokong pengibaran ruang kosongnya perihal sesuatu itu.

Mustahillah seorang yang pengerja syariat murni akan menapak jauh ke jenjang dzauq Imam Ghazali. Kalaupun ada sesekali ruang kosong yang berhasil dimasukinya, ia sekadar berbatas “air mata khusyuk”. Tetapi imajinasi, dzauq, yang mengantarnya pada kasyful wujud muhallah tergenggam.

Begitu pun penulis. Begitu pun pelukis. Begitu pun pemikir sosial. Begitu pun seorang suami. Begitu pun seorang istri. Dan semua kita.

Maka, saya kira, menemukan ruang kosong pada diri, dalam pengertiannya yang melampaui sekat-sekat nalar dan lahiriah, agar melesatkan diri ke semesta yang berkelimpahan pandangan dan pengertian batin, semutlaknya haruslah dibangun sejak dini, dilazimkan, ditradisikan. Ia tidak turun dari langit—kendati langit bisa saja menurunkan hujan.

Inilah problem utama gaya hidup kita hari ini, baik di jagat sosial, ekonomi, pula agama. Gaya hidup kita makin terasa fakir ruang kosong akibat mampatnya anugerah imajinasi.

 Blandongan, Jogja, 21 Januari 2017

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu

Latest posts by Edi AH Iyubenu (see all)