Mengapa Kita Kerap Melanggar Norma-norma Kehidupan

in Rehal by

Judul Buku: Kejujuran Seorang Maling

Penulis: Fyodor Dostoyevsky

Penerbit: Basabasi

Cetak: Oktober, 2017

Tebal: 232 Halaman

ISBN: 978-602-6651-43-3

Terkadang ketika melanggar suatu etika dalam hidup bersama, kita melakukannya secara sadar dan sengaja seperti: tidak beritikad baik, mengingkari janji, mencuri, dan korupsi. Kita kerap kali menoleransi diri untuk mendamaikan diri sendiri dengan dalih bahwa tujuan yang akan kita gapai lebih mulia dan besar ketimbang aturan dasar yang berlaku dalam masyarakat. Mulanya kita hanya melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil saja, tapi seiring berlalunya waktu, kita mulai terbiasa mendobrak batasan-batasan yang bahkan mampu menyakiti hati orang lain. Kebiasaan itu pulalah yang menjadikan diri kita menganggap bahwa kelakuan menembus batas itu adalah sesuatu yang wajar dan bukan merupakan sebuah dosa. Padahal tidak sedikit pihak yang dirugikan atas pelanggaran tersebut.

Gambaran yang demikian itulah yang dikomentari oleh Fyodor Dostoyevsky, penulis Rusia yang menitikberatkan karya-karyanya pada masalah kondisi kejiwaan seseorang. Ia adalah seorang ahli dalam mengeksplorasi sisi terdalam manusia. Sering kali kita menemukan keresahan-keresahan para tokoh yang ada di dalam cerita-ceritanya terkait masalah sehari-hari seperti politik, sosial, maupun spiritualitas. Dan hal itu terlihat dalam cerita-cerita yang terhimpun di dalam buku ini.

Dalam cerpen pembuka berjudul “Sebuah Kisah Dalam Sembilan Surat”, gagasan utama yang ingin disampaikan oleh sang penulis adalah ihwal untuk beritikad baik dan menepati janji. Kisah dua orang sahabat yang saling berbalas surat karena masalah yang ditimbulkan oleh salah seorang kenalan mereka berdua membuka petualangan kita menyelami buku ini. Orang pertama, Pyotr Ivanitch, mengajukan keluhan tentang seseorang yang dikenalkan sahabatnya, Ivan Petrovitch,  hingga akhirnya ia pun mengajak untuk bertemu. Namun, Pyor Ivanitch selalu tidak ada di tempat yang selalu dijanjikan dalam surat-suratnya. Padahal sahabatnya sudah beritikad baik untuk bertemu, tapi selalu berujung pada kegagalan. Hingga akhirnya Ivan Petrovitch merasa kesal kepada sahabatnya karena selalu menghindarinya dengan alasan-alasan yang, ketika telah dicari kebenarannya, ternyata bohong dan tidak sesuai dengan fakta. Ivan Petrovitch akhirnya merasa kecewa karena sahabat yang paling dipercayainya tidak beritikad baik dan justru mengingkari semua janji temu. Hatinya begitu hancur mendapati kelakuan sahabatnya yang seperti itu. Sebuah persahabatan pun hancur akibat karena tidak beritikad baik dan ingkar janji.

Gagasan untuk selalu berperilaku jujur tampak pada cerpen yang menjadi judul buku ini, “Kejujuran Seorang Maling”. Dikisahkan bahwa sebelum menjadi seorang tukang jahit di rumah tuannya yang sekarang, Astafy Ivanovitch pernah memiliki seorang gelandangan pemabuk di rumahnya. Suatu hari, celana berkuda bermotif kotak-kotak dengan kualitas terbaik yang dimiliki Astafy Ivanovitch raib entah ke mana. Ia pun menuduh gelandangan pemabuk itu yang mencuri celananya, tapi lelaki yang diurusnya tidak mengakui tuduhan itu hingga akhirnya ia pergi dari rumah karena melihat gelagat sang tuan rumah yang tidak senang melihatnya. Selang beberapa waktu kemudian, si pemabuk kembali mengetuk pintu rumah Astafy Ivanovitch, tapi dalam keadaan sekarat. Dalam keadaan itulah, si penjahit mengakui kejahatannya. Bahwa ia yang telah mencuri celananya. Perasaan bersalah karena telah mencuri celana tuannya menghantui malam-malam si penjahit setelah ia keluar dari rumah itu. Perasaan bersalah itu pulalah yang membawanya kembali ke rumah itu. Dari sini bisa disimpulkan bahwa betapa mengerikannya efek yang ditimbulkan dari sebuah pencurian.

Dalam cerita berjudul “Bobok; Berdasarkan Buku Harian Seseorang”, ketika Ivan Ivanovitch mulai dianggap gila, ia mulai bisa mendengar hal-hal aneh di luar kepala seperti ada seseorang yang berteriak di telinganya. Suatu hari, upayanya mencari hiburan berakhir dengan menghadiri sebuah pemakaman. Secara tidak sengaja ia mendengar suara percakapan dari dalam kuburan. Dengan khusyuk Ivan Ivanovitch mendengarkan obrolan mengenai skandal politik dari alam kubur; sebuah kasus korupsi uang yatim piatu dan janda-janda yang dilakukan oleh Tarasevitch, Sang Penasihat Jendral Pervoyedov. Para arwah yang saling berbicara itu merasa malu atas semua kesalahan yang telah mereka perbuat selama mereka masih hidup. Gagasan untuk tidak melakukan korupsi terasa begitu kental di dalam kisah ini. Pelaku korupsi akan tetap merasakan dampak dari perbuatannya meski mereka telah mati.

Tidak beritikad baik, mengingkari janji, mencuri, dan korupsi adalah contoh dari pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi di sekitar kita. Mengapa pelanggaran-pelanggaran itu bisa terjadi? Dostoyevsky menjawab pertanyaan itu melalui cerpen terakhir dalam buku ini, “Mimpi Seorang Lelaki Aneh”. Dikisahkan bahwa seorang pria ingin bunuh diri karena merasa tidak menemukan alasan lebih lama untuk hidup. Namun, tiba-tiba keraguan untuk menembak kepalanya mulai timbul setelah pertemuannya dengan seorang anak kecil yang tengah putus asa. Anak kecil itu menghidupkan sisi kemanusiaan si pria aneh dan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bertanya-tanya kepada diri sendiri tentang keputusannya untuk bunuh diri. Hingga akhirnya ia tertidur ketika sedang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala dan mulai masuk ke dalam mimpi yang aneh.

Di dalam tidurnya, ia bermimpi menembak jantungnya. Setelah kematiannya, tiba-tiba ada sesosok makhluk yang membopongnya. Makhluk tersebut mengajak si pria aneh mengunjungi matahari, melihat bintang-bintang, serta mengamati bumi dari kejauhan. Ketika si pria aneh sampai di sebuah pulau yang indah, wujud yang membopongnya telah tiada. Di pulau tersebut ia melihat berbagai pemandangan yang menyejukkan mata. Anak-anak pulau itu langsung menyambutnya, mengitarinya, dan menciuminya; suatu jenis keindahan dan kebaikan yang belum pernah ditemuinya di dunia tempatnya tinggal. Kemudian anak-anak itu mengajaknya melihat seisi pulau. Ia melihat anak-anak itu menatap pepohonan, hewan-hewan, dan bintang-bintang di langit dengan penuh kelembutan seolah-olah mereka saling mengerti satu sama lain. Betapa hatinya terenyuh melihat semua itu.

Ketika ia tersadar kembali, pengalaman di dalam mimpi itu terasa begitu nyata dan meninggalkan bekas yang begitu mendalam. Kemudian ia membandingkan dunia di dalam mimpinya dengan dunia tempatnya hidup. Ia tidak mendapati kesamaan sedikit pun. Dunia di mana ia hidup adalah sebuah dunia rusak yang dipenuhi dengan perusakan alam, peperangan, serta orang-orang yang bernafsu ingin mengalahkan sesamanya. Setelah pemikiran yang panjang, ia pun menemukan sebuah pemikiran yang mampu menjawab kegelisahannya. Akar permasalahan semua kekacauan itu adalah karena para manusia tidak mencintai orang atau hal lain sebanyak mereka mencintai diri mereka sendiri.

Konsep dasarnya adalah mencintai yang lain sebagaimana kau mencintai dirimu sendiri, itulah yang paling penting, dan itulah segalanya; tak ada yang lebih penting. Sesederhana itulah kesimpulan si lelaki aneh atas berbagai kerusuhan yang berlangsung di atas muka bumi. Andaikan semua orang menyadari hal ini, niscaya bumi ini akan diliputi kedamaian dan tidak akan ada orang yang melanggar norma-norma yang telah ditetapkan.

Pada akhirnya, membaca karya-karya Dostoyevsky akan memunculkan perenungan-perenungan yang sering kali membuat hati kita merasa sedih dan bersalah. Tidak mudah memang memahami gagasan-gagasan yang ingin disampaikannya, tapi kita membutuhkan tulisan-tulisan yang mampu menggali sisi terdalam jiwa yang jarang kita sentuh seperti yang senantiasa dilakukan oleh Dostoyevsky.

Ariza Fahlaivi

Ariza Fahlaivi

Alumnus Kampus Fiksi Diva Press.
Ariza Fahlaivi

Latest posts by Ariza Fahlaivi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.