Mengeksplorasi Kenakalan Eko Triono dalam Berkarya

in Hibernasi by

“Saya selalu kagum kepada pohon-pohon. Mereka bisa tumbuh bersama tanpa saling berusaha menggugurkan daun satu sama lain. Pohon mangga, pohon pisang, dan pohon-pohon lainnya bisa tumbuh bersama-sama. Manusia juga berbeda-beda sebagaimana pohon-pohon, tetapi kenapa kita saling menjatuhkan satu sama lain, tidak seperti pepohonan?” Demikian Eko Triono membuka diskusi sekaligus menjawab pertanyaan tentang judul kumcernya yang unik. Siang itu, Selasa tanggal 17 Juli 2018, memang sedang dilangsungkan acara bedah buku Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?.

Bertempat di Balai Bahasa Yogyakarta, Jalan I Dewa Nyoman Oka no. 34 Kota Baru, Yogyakarta; acara bedah buku ini ramai dihadiri oleh para pencinta sastra. Magnet utama acara ini, selain sang penulis, adalah kehadiran Profesor Dr. Suminto A. Sayuti yang merupakan guru besar sastra dari Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pembedah. Uniknya, beliau ini juga merupakan dosen pembimbing Eko Triono saat merampungkan gelar S1 di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UNY. Bisa dibilang, perjalanan kreatif seorang Eko Triono tidak bisa dipisahkan dari mantan dosennya ini. Eko sendiri sudah memendam keinginan untuk bisa menjadi mahasiswa dari Profesor Dr. Suminto sejak dia kelas 1 SMA.

Pertanyaan favorit setiap pembaca kepada penulis favoritnya adalah bagaimana cara untuk bisa menulis sebuah karya yang baik. Eko cukup tanggap dan mengangkatnya sebagai tema pembuka diskusi. Sebuah tulisan yang selesai menurutnya adalah tulisan yang terus menimbulkan pertanyaan dalam benak para pembacanya. Buku kumcer terbarunya, Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (Basabasi, 2018) menggambarkan kecenderungan kreatif Eko sebagaimana yang juga bisa kita temui dalam Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?.

Untuk mengawali menulis, Eko menyarankan agar para penulis pemula tidak takut untuk menuliskan atau mengungkapkan apa pun yang ingin Anda tulis atau ungkapkan. Jangan takut menulis, begitu mungkin yang hendak Eko sampaikan. “Kegagalan berkarya lebih sering disebabkan adanya rasa takut berkarya, dan bukan karena ketidakmampuan,” jelasnya. Sebagaimana para ahli motivasi yang menyerukan peserta seminar untuk bertindak, ia meminta penulis pemula untuk menulis saja dulu. Latihan terbaik seorang penulis adalah dengan menulis itu sendiri.

Anjuran Eko Triono ini diamini oleh Profesor Suminto A. Sayuti. Beliau mengatakan, “Tidak ada teori menulis di dunia ini. Yang ada hanyalah tiga tahap menulis: pertama, menulis; kedua, menulis, dan ketiga, menulis.”

Tetapi, menulis saja tidak cukup untuk menjadi penulis yang baik. Baik Eko Triono maupun Prof. Suminto menyebut bahwa sebuah tulisan yang bagus tidak berasal dari kekosongan. Ada proses membaca, mengalami, serta merenungkan yang harus dijalani sebelum bisa menghasilkan tulisan yang berbobot. “Sesuatu yang baru selalu dibangun oleh sesuatu yang sudah pernah ada sebelumnya.”

Tentang pentingnya membaca ini, Eko menyebut bahwa modal utama seorang penulis adalah membaca. “Mustahil bisa jadi penulis yang baik jika kita tidak mau membaca,” ujarnya. Jika kita menyempatkan membaca cerpen-cerpennya, Eko memang tidak memulai dari sesuatu yang kosong.

Dalam salah cerpen, Eko mengibaratkan hati sebagaimana lemari es yang mengawetkan segala sesuatu yang masuk di dalamnya, termasuk kenangan (hlm. 155). Kepiawaian memadukan dua benda berbeda seperti ini tentu saja merupakan hasil eksplorasi si penulis setelah membaca banyak buku dan merenungkan banyak hal.

Sebagai pembedah utama, Profesor Suminto menyebut Eko sebagai penulis yang nakal. Bagi seorang penulis, kenakalan itu penting, kata beliau. Namun, nakal di sini adalah nakal yang kreatif sehingga menghasilkan suatu jenis hiburan dan bukan nakal yang semata reproduktif. Eko melakukannya dengan baik, misalnya, membuat banyak kalimat rumpang. Tulisan Eko mungkin keliru secara aturan tata bahasa, tetapi ternyata kekeliruan itu indah. “Salah tapi bikin gumun, salah tetapi ternyata indah,” demikian salah satu karakter karya Eko menurut beliau.

Menutup diskusi di lantai tiga gedung Balai Bahasa Yogyakarta yang begitu penuh peserta siang itu, Eko membagikan satu tips penting tentang menulis kepada para peserta. “Seorang pembaca selalu ingin merasakan dirinya berada di dalam apa yang ia baca. Jika penulis bisa membangun hal ini dalam benak pembacanya, maka ia telah berhasil.”

Dion Yulianto

Dion Yulianto

Penulis dan penerjemah yang karena masih single sering menggenggam buku dengan kucing bergulung di kakinya.
Dion Yulianto

Leave a Reply

Your email address will not be published.