Mengenal dan Memikirkan Njoto

in Rehal by

Judul               : Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965

Penulis                        : Fadrik Aziz Firdausi

Penerbit          : Marjin Kiri

Cetakan           : Pertama, Februari 2017

Tebal               : xii + 283 hlm; 14 x 20,3 cm

ISBN               : 978-979-1260-66-4

Biografi, dalam arti yang paling sederhana, bermaksud mengenalkan. Biografi, di taraf yang lebih tinggi, bukan sekadar mengenalkan, namun juga mendedah pemikiran. Biografi setaraf ini digarap lalu dihadirkan Fadrik Aziz Firdausi sebagai buku berjudul Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965 (2017). Njoto adalah nama yang lazim terlewat. Khalayak lebih sering menyebut D.N. Aidit atau Musso saat memperbincangkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal, Njoto bukannya anak bawang dalam kiprah PKI. Ia malah dianggap yang paling “berbahaya” oleh Iwan Simatupang. Dalam surat-suratnya yang terhimpun dalam Surat-Surat Politik 1964-1966 (1986), Iwan menyiratkan Njoto sebagai sosok karismatik dan berpengaruh di PKI.

Tertanggal 1 Februari 1965, Iwan menulis surat kepada B. Soelarto, “kukira, Aidit dan Lukman tidak begitu berbahaya, tapi Njoto, yang tampangnya sok intelek dan sok filosofis itu, bisa memperdaya inteligensi kita. Lihat sejarahnya: Rivai Apin, Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dll semuanya kena rayu palu arit Indonesia, gara-gara Njoto-lah! bukan karena Aidit atau Lukman. Malah, besok lusa kau jangan kaget bila kau dengar hantu horas yang bernama SS terang-terangan minta kartu anggota PKI berkat indoktrinasi dan coaching terus-terusan dari Njoto….” Meski sentimental, Iwan mengakui karisma Njoto sebagai kekuatan intelektual partai politik yang dibencinya itu.

Njoto barangkali sosok lelaki ideal pada masanya. Secara akademis, Njoto cakap. Selepas menamatkan pendidikan HIS di Jember, ia dikirim ayahnya ke MULO di kota yang sama, sebelum akhirnya pindah bersekolah ke Surakarta. Selain cakap di bidang akademis, Njoto pandai berkesenian. Ia gemar memetik gitar dan mengarang beberapa lagu. Njoto bahkan membentuk grup musik Suara Putri. Ia berperan memetik gitar dan vokal digawangi empat remaja putri. Njoto juga kerap menulis puisi. Sutarni, istrinya, adalah saksi kepunjanggaan Njoto. Kecakapan terpenting Njoto bagi PKI, atau secara umum: revolusi, adalah di bidang publisistik.

Njoto hadir ketika pers Indonesia “bisa dikatakan masih dalam taraf membangun dasar-dasar pers Indonesia” (hlm. 69). Prinsip liberalisme menjadi acuan pemberitaan pers Indonesia tatkala itu. Dalam liberalisme, tentu saja manajemen dan kapital menjadi ihwal yang menentukan. Karenanya, secara ekonomis penerbitan milik pribumi belum semapan penerbitan Belanda atau Tionghoa. Namun, Njoto nekat bergerak di bidang itu. Kiprah publisis Njoto sendiri ada di tiga penerbitan: menjadi pemimpin dewan redaksi Harian Rakjat, wartawan Suara Ibu Kota, dan kolumnis Bintang Merah. Pers berperan penting dalam pergerakan. Di Harian Rakjat (25 Februari 1954), Njoto menulis, “aksi2 massa jang dilakukan tidak dengan kampanje di dalam pers, mengalami kegagalan, atau tidak mentjapai tudjuannja dengan sepenuhnja.”

Njoto adalah seorang intelektual, seniman, sekaligus publisis. Kendati demikian, Fadrik memandang identitas utama Njoto tetap sebagai seorang politikus. “Pemikiran-pemikirannya dalam ranah kebudayaan dan pers diarahkan untuk menunjang tujuan-tujuan politik. Hal itu terlihat dari idenya tentang bagaimana seniman atau budayawan mengabdikan kekaryaan mereka bagi tujuan gerakan kerakyatan. Pun demikian dengan pemikirannya dalam bidang publisistik yang memang sejak awal dipandang sebagai media penyokong gerakan,” tulis Fadrik (hlm. 114). Njoto merupakan personifikasi dari jargonnya yang terkenal, “politik adalah panglima.”

Buku Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965 tidak ingin berhenti semata sebagai pengenalan. Buku ini ingin menjembatani pemikiran Njoto yang berusia lebih dari 50 tahun lampau kepada kita, para pembaca. Maka, buku tak menjadikan penulisnya, Fadrik Aziz Firdausi, sebagai satu-satunya yang berhak menyampaikan Njoto. Pemikiran Njoto juga disampaikan oleh Njoto sendiri, lewat penyertaan sepilihan artikel dan pidatonya dalam buku. Dalam melampirkan tulisan Njoto, redaksi Marjin Kiri memberi catatan, “ratusan artikel telah ditulis oleh Njoto baik yang terbit dengan namanya sendiri maupun dengan nama pena Iramani… Maksud lampiran ini lebih sederhana: memuat sepilihan tulisan Njoto untuk memperjelas uraian utama buku ini” (hlm. 124).

Lampiran sepilihan karya Njoto berjumlah 22 tulisan, dan lebih tebal ketimbang uraian Fadrik sendiri yang hanya sepanjang 122 halaman. Kita tak usah menuduh upaya penyertaan sepilihan karya Njoto sebagai akal-akalan supaya buku menjadi lebih tebal. Lampiran itu berkepentingan, sebagaimana dikatakan redaksi, untuk memberi gambaran lebih jelas ihwal pemikiran Njoto: entah keluasan, perhatian, mungkin pula kekurangan. Lebih dari itu, pelampiran sepilihan karya Njoto bisa dijadikan data mentah bagi penulis atau peneliti lain yang sulit mendapatkan teks aslinya. Njoto adalah politikus sekaligus penulis. Pelampiran artikel dan pidato memberi kesempatan bagi kita menjumpa Njoto sebagaimana mestinya.

Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Sarjana rumah tangga alias pengangguran tersertifikasi.
Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Latest posts by Udji Kayang Aditya Supriyanto (see all)