Mengenal Nazim Hikmet, Si Komunis Romantis dari Turki

in Celoteh by
univerlist.com

“Saya seorang Marksis, seorang penyair Marksis. Ada dua jalan dalam Marksisme: sosialisme dan komunisme.”

(Pengakuan Nazim Hikmet di depan pengadilan)

Ia sempurna menjalani hidup sebagai pesakitan lebih dari 15 tahun, dengan sebelas dakwaan di pengadilan-pengadilan beberapa kota di Turki. Itu artinya sepertiga hidupnya nyaris tertatih-tatih di balik tempok dingin penjara, karena usianya tak lebih dari 61 tahun: lahir di Selanik (Thessaloniki dalam Yunani modern) pada 17 Januari 1902 dan meninggal di Moskow 3 Juni 1963. Masa kecilnya kurang beruntung karena ia harus menyaksikan akhir sebuah era kejayaan Kesultanan Osmani, di mana serentetan perang harus dihadapi bangsa Turki dan masyarakat Osmani demi mempertahankan tanah mereka di Anatolia. Sementara kekuasaan Osmani yang luas itu sudah dicaplok di sana-sini baik oleh Rusia maupun Sekutu sebelum akhirnya kesultanan Islam terakhir itu terhenti pada tahun 1923.

Ia memang bukan seperti Orhan Pamuk yang melihat akhir Osmani sebagai kehancuran, keburaman, dan ketidakpastian yang, pada titik kulminasi, melahirkan ratapan berupa hüzün (melankolia). Tetapi ejekan si mantan Perdana Menteri Britania John Russell sick man of Europe tidak bisa terhindarkan, membayangi masa-masa awal ia tumbuh di tengah keterpecahan yang nyata.

Meskipun lahir dari keturunan birokrat, dimulai dari sang kakek bernama Nazım Pasha yang mempunyai jabatan penting pada masa Osmani sebagai valilik (setara gubernur utusan dari pemerintahan Osmani), ia tetap memilih jalan hidupnya sendiri, tidak mendompleng nama besar seorang Pasha yang jika dimanfaatkan dengan baik dan cerdik sudah pasti mendapatkan posisi bagus di masa itu. Ia juga tidak mengikuti jejak sang ayah Hikmet Bey menjadi pejabat Osmani yang pindah dari satu kota ke kota lain. Ia pernah mendaftar di sekolah militer bagian armada laut untuk persiapan perang, tetapi dikeluarkan dengan alasan kesehatan. Pada Januari tahun 1921, di tengah kecamuk Perang Dunia I yang baru saja meluluhlantakkan negeri Osmani, ia pergi ke Anatolia demi berpartisipasi dalam Milli Mücedele (Perjuangan Nasional), sebuah gerakan yang dikobarkan oleh pasukan nasionalis Turki untuk membangun pagar betis menjaga sisa tanah terakhir mereka. Karena lagi-lagi tidak jadi diutus ke garis tempur satuan pasukan, ia akhirnya berprofesi menjadi guru di Bolu untuk beberapa waktu.

Tapi ada versi lain, khususnya dari mereka yang membencinya di kemudian hari, bahwa ia tidak benar-benar berniat mendaftar Milli Mücedele. Datang ke Anatolia hanya sebentuk bahane (alasan) agar ia bisa mandiri dan bebas pergi ke mana pun. Dari pandangan ini, ia ditengarai sebagai sosok pengecut!

Pada usianya yang ke-19, tepat bulan September 1921 momen bersejarah terjadi dalam hidupnya ketika ia memutuskan untuk pergi ke Rusia bersama teman sejawatnya Vâlâ Nureddin (1901-1967). Ia menulis sebuah sajak panjang yang menggambarkan tantangan dan lika-liku pilihan hidup di usianya yang ke-19 dengan judul 19 Yaşım (Usiaku 19): … //Masa kanak pertamaku, guru pertamaku, yoldaş pertamaku / usia 19//. Usia 19 tahun disadarinya sebagai turning point, “masa kanak” sekaligus “guru perdana”-nya. Lebih lanjut ia seperti hendak memperjelas dan menegaskan jalan yang akan ditempuhnya kelak, begitu benderang:

Caucasia:

matahari.

Siberia:

salju.

Bersuaralah

sekuat suaramu

dalam 24 jam

24 jam Lenin

24 jam Marx,

24 jam Engels,

Seratus dirham roti busuk,

20 ton buku

dan 20 menit sesuatu!

Sajak di atas menunjukkan siapa ia saat usianya masih 19 tahun. Di usia segitu ia memilih kuliah di salah satu universitas pelatihan kader-kader revolusioner bernama The Communist University of the Toilers of the East (KUTV). Pilihannya pergi kuliah ke Rusia tentu saja bukan pelarian, tapi ia sudah mempersiapkannya sebagai jalan perjuangan yang kelak akibat-akibatnya harus dihadapi. Selesai kuliah tahun 1924, ia kembali ke Turki dan bekerja di beberapa harian dan majalah untuk mencurahkan kreativitasnya dalam bentuk tulisan-tulisan. Karena tulisan-tulisannya dirasa mengganggu rezim di negara baru bernama Republik Turki itu, ia mulai menghadapi ancaman-ancaman karena latar belakang gerakannya yang tersimpul dalam: komunisme! Satu tahun kemudian ia kembali ke Moskow dan tinggal di Negeri Tirai Besi itu hingga 1928.

Sejak kembali ke Turki tahun 1928, serangkaian takdir hidup yang pahit benar-benar menimpa dirinya, berupa interogasi dan pemenjaraan dari rezim Mustafa Kemal dan aktor-aktor penguasa pelanjutnya hingga 1951, tahun di mana Turki mulai menjadi negara demokrasi dengan sistem politik yang lebih terbuka. Dengan perubahan undang-undang internal pemerintahan, ia dilepaskan dari penjara dengan tanpa syarat, karena sebenarnya ia juga tidak menjalani proses pengadilan yang layak. Tapi, bagaimanapun, ia harus mengikuti separuh jalan takdirnya yang ditulis oleh tangan penguasa di negara yang dicintainya, dari satu penjara ke penjara lain di Turki: İstanbul, Ankara, Çankırı, dan Bursa.

Itulah sekelumit nasib rumit Nâzım Hikmet. Nasib yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya harus menyekap dirinya. Tuduhan sebagai agitator gerakan komunisme di Turki merupakan judul paling tebal di halaman hidup seorang bernama lengkap Nâzım Hikmet Ran itu. Pengalaman keras seperti itu telah mengajarkan kehidupan—yang tentu saja bukan narasi kebahagiaan di tengah keterbatasan hidupnya karena tembok penjara—untuk selalu berharap dan menatap matahari agar bisa bangkit. Salah satu yang dilakukannya adalah menulis sajak-sajak dari dalam penjara. Meski tubuhnya terkekang tembok dan kawat berduri, imajinasi dan hasrat menulis tetap tak terbendung, karena itulah satu-satunya terapi yang bisa dilakukan Hikmet—untuk menyebarkan pemikiran dan pengalaman hidupnya yang pahit.

Hikmet menulis sajak sejak usianya belum genap 11 tahun, pada tahun 1329 H (1913 M). Sajak itu berjudul Feryâd-i Vatan (Panggilan Negeri), semacam refleksi untuk membela negerinya yang mengalami nasib sekarat karena kecamuk perang. Meksi tidak pernah terlibat pertempuran, karena alasan kesehatan dan yang lainnya, Hikmet remaja sudah menunjukkan sikap cinta kepada negerinya lewat puisi-puisi yang ditulisnya. Sekali lagi, meski tidak bisa seperti anak-anak berusia belasan tahun yang ikut pasukan tempur dalam Perang Dunia I di Çanakkale (1915-1916), puisi ini menunjukkan kedalaman emosi dan perasaan sedih dari seorang anak remaja.

Sebelum pagi turun berasap

Kabut sudah menutupi sekitar

Dari jauh terdengar “ayo bantu”

Camkan, ini panggilan negeri

Dengarkan, bertindaklah demi hati

Panggilan dari negeri yang pecah

Ia menunggu harapan darimu

[20 Juni 1329/1913]

Sajak di atas adalah salah satu sajak dari masa remajanya yang sudah terdokumentasikan dengan baik di Turki. Saya menemukannya di sebuah buku kompilasi yang berisi lengkap karya-karya Hikmet, baik puisi, prosa, maupun naskah drama. Sajak di atas termasuk salah satu karya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku. Para peneliti mengumpulkan ulang dari buku-buku catatan dan majalah-majalah yang memuat sajak-sajak Hikmet remaja. Tapi sebagian besar karya masa remajanya sudah terkumpul dalam buku puisi perdana yang diterbitkan dalam bahasa Osmani berjudul Dağların Havası (Udara Gunung-Gunung, 1925). Meski usianya masih belia, sajak-sajak Hikmet sudah menunjukkan karakter pertarung yang kuat dengan visi kebangsaan dan kesadaran membela negeri, seperti sastrawan-sastrawan Turki lainnya yang hidup di era awal republik. Selain sajak di atas, sajak lain berjudul Mehmet Çavuşa! (Untuk Pahlawan) yang ditulis pada 1914 juga menunjukkan gelora dukungan seorang Hikmet remaja terhadap para pejuang di negerinya tercinta:

O, pahlawan untuk negeri

Engkau mengorbankan hidup

Berperang seperti singa

Sajak-sajak bertemakan cinta tanah air dan dukungan kepada para pejuang perang sangat mewarnai masa-masa awal kepenyairan Hikmet, termasuk beebrapa sajak yang ditulis bersama teman sejawatnya Vâlâ Nureddin. Vatana (Kepada Negeri), Şehit Dayıma (Kepada Paman yang Syahid), Benim Dayım (Pamanku), dan Çanakkale Masalı (Dongeng Çanakkale) adalah sedikit dari banyak judul puisi yang menggambarkan, meminjam istilah Şerif Hulûsi dan Asım Bezirci (1977), situasi pahit negeri (memleketin acıklı durumu), perasaan balas dendam (öç alma duygusu), harapan menyelamatkan negeri yang pecah (parçalanan imparatorluğu kurtarma dileği) dengan ekspresi kemarahan dan iman.

Tema-tema lain yang sudah ditulis Hikmet remaja adalah pencarian cinta dan asmara, kerinduan dan perasaan-perasaan kesepian seperi dalam sajak Beklerken (Ketika Menunggu), Yalnız (Kesepian), Bir Hatıra (Sebuah Kenangan), Ona (Kepadanya), Bir Kış (Musim Dingin), Öldükten Sonra (Setelah Mati), Arkadan (Dari Belakang), dan Rüya (Mimpi). Lebih kelam dari itu, misalnya tentang aroma milankolik (melankolik hava), terekam dalam puisi Ölümün Sırrı (Rahasia Kematian), Gecelerimden (Dari Malam-Malamku), dan Küçük Düşüncelerimden (Dari Pikiran-Pikiran Mungilku). Sajak-sajak awal yang rata-rata ditulis sebelum tahun 1920 itu sudah menunjukkan kemampuan dirinya dalam menulis puisi dengan cakupan tema yang beragam. Tema-tema yang diangkat dalam karya awal Hikmet tidak berbeda dengan para penulis lain semasanya seperti Yahya Kemal, Kemal Tahir, dan Orhan Kemal dengan mengangkat perjuangan negeri, cinta, dan termasuk aspek-aspek spiritual.

Hikmet termasuk penyair yang sangat produktif meski hidupnya banyak mendekam di penjara. Karya-karyanya berjumlah lebih dari 20 buku berupa puisi, pidato, naskah drama, dan prosa. Karya-karya Hikmet yang paling terkenal di antaranya Güneşi İçenlerin Türküsü (Balada Mereka Peminum Matahari, 1929), Sesini Kaybeden Şehir (Kota yang Kehilangan Suara, 1931), Kurtuluş Savaşı Destanı (Epik Perang Pembebasan, 1937), Yaşamak Güzel Şey Be Kardeşim (Hidup Itu Indah, Saudaraku, 1966), Memleketimden İnsan Manzaraları (Potret-Potret Manusia dari Negeriku, 1966-1967) Allah Rahatlık Versin (Semoga Allah Mencurahkan Kedamaian, 1967), İnsanlık Ölmedi Ya (Kemanusiaan Tidak Mati, 1967), dan Kadınların İsyanı (Pemberontakan Para Wanita, 1990), dan Ne Güzel Şey Hatırlamak Seni (Betapa İndah Mengingatmu, 2012).

Nazim dan Komunisme

Nazim Hikmet harus mendekam di penjara karena ganjaran atas tulisan-tulisannya yang dituduh mengandung propaganda komunisme. Tuduhan demikian memang beralasan karena Hikmet sendiri sudah memilih jalur kiri sejak memutuskan pergi ke Rusia pada usia 19 tahun, berkuliah di kampus yang saat itu baru didirikan (tahun 1921). Kampus itu dikenal dengan Stalin School, di mana dasar-dasar pemikiran Karl Max yang diadaptasi oleh Stalin ditancapkan secara kokoh kepada anak didik yang sekolah di sana. Hikmet banyak dipengaruhi tokoh-tokoh seperti Vladimir Mayakovsky dan Vsevolod Meyerhold yang kemudian membentuk karakternya, khususnya dalam memilih jalur berkesenian dengan visi ideologi Leninisme. Di negara Turki sendiri ia terdaftar sebagai anggota Partai Komunis Turki (TKP). Tetapi, apakah Hikmet merupakan sosok yang membahayakan Turki sebagai tokoh komunisme tidak bisa dibuktikan karena dirinya belum menunjukkan gerakan-gerakan masif selain lewat tulisan-tulisannya, lebih-lebih karena pengadilan terhadap dirinya terlacur begitu saja.

Bisa dikata, terjerumusnya Hikmet ke penjara sebenarnya karena faktor otoritariasnie Turki baik di bawah Mustafa Kemal ataupun para penerusnya yang tidak ingin kekuasaanya terganggu oleh berbagai faksi gerakan, termasuk kelompok kiri. Padahal, karya-karya Hizmet secara umum—jika ditelisik secara saksama—tidak menunjukkan aspek-aspek propaganda atau mengajak gerakan masif seperti yang dituduhkan. Sajak-sajaknya berbeda misalnya dengan sajak-sajak yang ditulis oleh penyair Indonesia Wiji Thukul yang membuat dirinya dihilangkan secara paksa. Ia ibaratnya bertugas menuliskan suara kemanusiaan yang dihimpit oleh kesewenang-wenangan, mirip seperti puisi-puisi W.S. Rendra. Dari berbagai proses hukum dan pengadilan yang dijalankan terhadap Hikmet, komünistliği tahrik (provokasi komunisme) dan gizli komünist cemiyet kurma (membangun organisasi komunis rahasia) menjadi dua narasi yang pasti muncul di balik namanya.

Hikmet dikenal dengan sebutan penyair komunis romantis oleh publik internasional kerena kemampuannya dalam meracik unsur-unsur nostalgia—berupa kerinduan terhadap negeri, rakyat Turki, orang-orang seperjuangan, dan kepada perempuan—begitu kuat terekam dalam sajak-sajaknya. Juga, sajak-sajak romantikanya yang mengangkat kekuatan aspek naturalisme terasa sangat dominan. Tulisan-tulisannya kaya dengan catatan-catatan reflektif tentang sejarah baik sebagai saksi hidup ataupun rekaman atas peristiwa-peristiwa sebelumnya, termasuk sejarah pemberontakan misalnya tercermin dalam serangkaian sajak berjudul Epik Tentang Syaikh Badruddin (Sımavne Kadısı Oğlu Şeyh Bedreddin Destanı dan Şeyh Bedreddin Destanı’na Zeyl). Sajak-sajak tersebut bisa dipandang mengandung unsur-unsur kampanye gerakan sosialisme, yang diambilnya dari sejarah pemberontakan Şeyh Bedreddin tahun 1416 di Anatolia. Tetapi, sajak-sajak dengan tema seperti ini tidak dominan dalam keseluruhan karya Hikmet. Bahkan secara jumlah kuantitas sajak-sajak yang bertemakan cinta dan asmara bisa dibilang mengalahkan sajak-sajak berbau protes sosial. Atau, lebih tepatnya, Hikmet mengemas sajak-sajak protesnya dengan lampiran-lampiran tema romantika—kepada negeri, wanita, dan para yoldaş (tema atau kelompok sealiran kiri).

Di Turki sendiri, meski sudah jelas riwayat komunisme dan sosialisme di baik namanya, sosok Hikmet terus diperdebatkan tentang “kadar” komunismenya. Para akademisi dan sejumlah peneliti sastra tetap menempatkan Hikmet sebagai tokoh komunis, tetapi karya-karya bernapaskan agama yang ditulisnya dipandang sebagai khazanah luas dunia Nazim Hikmet itu sendiri. Pada dirinya terbentang cakrawala karya berlabel before and after (Rusia) di mana secara benderang terlihat perubahan dalam sajak-sajak Hikmet. Istilah “before Rusia” sejalan dengan apa yang dikategorikan Mustafa Kara (2000) dengan menyebutnya sebagai tasavvufî şiirin gücü Nazim Hikmet (Kekuatan puisi tasawuf Nazim Hikmet). Kara menyuplik beberapa contoh puisi Hikmet yang dinilai bernapas tasawuf, salah satunya berjudul Ya Rab Bahtımız Ne Kadar Kara (Ya Tuhan Betapa Gelap Bahtera Ini):

Ya Rabbim bahtımız ne kadar kara

Biraz da nurunu yak bu diyâra

Bir ışık bu sonsuz karanlıklara

Ya Rabbî bahtımız ne kadar kara

Ya Tuhanku, betapa gelap bahtera kami

Pancarkan cahayamu untuk tempat ini

Sebuah cahaya untuk kegelapan abadi

Ya Tuhanku, betapa gelap bahtera kami

Bahkan sajak berjudul Ağa Camii karya Hikmet sempat dibahas oleh politisi konservatif Bülent Arınç—meski dengan gaya bercanda—tentang kebenaran penulisnya. “Saya ingin kepastian, minta jawaban dari saudara-saudara, apakah betul puisi ini ditulis oleh orang itu? (Gerçekten bu şiirin yazarı o kişi midir?),” tanya Arınç ketika peresmian restorasi masjid bersangkutan di jalan istiklal, Beyoğlu itu. Pertanyaan Arınç tentu saja tidak mengejutkan karena secara umum, di mata rakyat awam, Hikmet dikenal sebagai penyair komunis, tetapi mereka yang coba arif membaca sejarah pergerakan  komunis awal republik dan apalagi menyukai puisi-puisi Turki akan berbeda dalam melihat Hikmet.

Sampai hari ini, Nazim Hikmet menjadi sosok paradoks khususnya bagi kelompok sekuler dan Kemalis. Satu sisi mereka harus menerima fakta sejarah bahwa Hikmet tidak diberikan ruang gerak dan dipenjara secara brutal justru di masa kejayaan Partai Rakyat Demokratik (CHP); periode pemenjaraan Hikmet dari tahun 1928 hingga 1951 terjadi di bawah pemerintahan partai berhaluan sekuler itu. Tetapi di sisi lain, tidak sedikit dari para Kemali menunjukkan sikap empati kepada Hikmet dan bahkan menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting bagi mereka. Dalam internal komunitas para Kemalis misalnya Asosiasi Pemikiran Kemalis (ADD), Hikmet mendapatkan tempat khusus sebagai salah satu sosok yang disegani, tokoh yang menjadi penyambung lidah rakyat dan berjuang di jalur kemanusiaan.

Begitulah potret pengalaman politik dan sejarah kekuasaan yang pernah terjadi di Negeri Dua Benua itu. Padahal, jika mau jujur kepada yang namanya “jalan ideologi”, Mustafa Kemal sangat dekat dengan gerakan kiri. Gerakan Sol Kemalizm (Kemalisme Kiri), seperti ditunjukkan oleh para pengikutnya dan berkembang sejak dekade 1930-an, adalah bukti bahwa ideologi Kemalisme (seperti tercatat dalam Kemalizm Yolu) sudah meletakkan dasar-dasar sosialisme lewat negara republik. Bukankah so-called ideologi sangat mungkin dikesampingkan jika ada perlawanan terhadap tokohnya? Ya, Hikmet pernah menulis sebuah puisi yang dinilai menghina Mustafa Kemal. Puisi yang sebenarnya multitafsir tersebut akhirnya menelan ongkos begitu mahal bagi penyairnya, yaitu penjara! Potongan sajak tersebut:

Sebuah motor keluar dari Trabzon

Ke-ra-mai-an di pan-tai!

Mereka melempari motor itu

Menuju pertunjukan terakhir!

Borjuis menaiki pundak Kemal

Kemal tunduk di kaki komandan.

Apakah nama Kemal di sini adalah Mustafa Kemal? Tidak ada siapa pun yang bisa menjawabnya selain penyairnya sendiri. Tetapi penguasa tentu saja mempunyai tafsir sendiri atas karya ataupun gerakan rakyatnya yang dianggap mengancam. “Dalam puisi-puisi ini ada bom yang ditunjukan kepada rakyat Turki,” komentar Mustafa Kemal. Akhirnya, nasib Nazim Hikmet sebagai musuh pemerintah semakin tidak terhindarkan dan penjara menjadi ganjarannya hingga tahun 1951. Meski sama-sama sebagai alumni Stalin School, Hikmet berbeda nasib dengan Vâlâ Nureddin yang nyaris tidak mempunyai masalah dengan kekuasaan selama masa hidupnya.

Setelah keluar dari penjara, pada 17 Juni 1951 Hikmet memutuskan untuk meninggalkan Turki dan menjadi eksil di Rusia hingga akhir hayatnya. Meskipun ia menghempaskan napas terakhirnya sebagai eksil di Rusia, kecintaannya yang besar kepada tanah kelahirannya Turki tidak bisa disembunyikan. Puisi-puisi cinta kepada negeri bernama Turki dari penyair komunis romantis ini dikenang oleh rakyat Turki sebagai epik dan romantika yang tak akan pernah mati. Seberapa pun kelam kematian, Hikmet tak pernah surut sedikit pun.

Meski predikat vatan haini (pengkhianat negara) pernah disematkan kepada dirinya, Hikmet dengan sangat kentara menunjukkan siapa sebenarnya dirinya—tentang seberapa kadar penghkianat yang dikandung tubuhnya. Sikap tegas seorang Hikmet tentang “pengakuannya” sebagai pengkhianat negara bisa dibaca dalam sajaknya berjudul Pengkhianat Negara:

….aku pengkhianat negara.

Jika negara adalah lahan-lahan pertanian kalian,

jika negara adalah kertas cek dan akun bank kalian,

jika negara adalah tumpukan orang-orang

kelaparan di sepanjang jalan,

jika negara membiarkan mereka menggigil

di tengah dingin seperti anjing

Predikat vatan haini yang dituduhkan kepada Hikmet akhirnya menjadi ironi tersendiri bagi bangsa dan negara Turki. Seperti diketahui, tuduhan Nazım Hikmet sebagai vatan haini murni hasil produksi rezim masa lalu di mana rakyat banyak justru berpandangan berbeda. Karena status vatan haini, sang penyair harus menerima hadiah pahit berupa pengucilan dan eksil di Rusia, dan di waktu bersamaan hak sebagai warga negara Turki pun dicabut. Tetapi, secara umum rakyat Turki yang memahami sejarah dengan baik menaruh hormat kepada Hikmet. Terbukti, setelah status kewarganegaraan dirinya dicabut oleh pemerintah Turki pada 25 Juli 1951, tahun 2009 di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Recep Tayyib Erdoğan pemerintah Turki kembali memberikan kewarganegaraan Turki dengan nomor identitas 20753206252 kepadanya. Nazım yang kuburannya ada di Rusia itu telah resmi menjadi warga negara Turki kembali tepat 43 tahun setelah kemartiannya!

Pemberian ulang warga negara kepada Hikmet oleh Erdoğan menghadirkan makna yang kuat dan tersurat. Saya mencermati satu fakta menarik di balik sosok Hikmet yang sebenarnya menyelamatkan dirinya dari sosok pengkhianat: bahwa dirinya tidak pernah menjelek-jelekkan negeri dan bangsa Turki, yang menurut hukum legal dianggap sebagai tindakan melawan hukum seperti sudah tertera dalam undang-undang mereka nomor 301 (insulting Turkish nation). Bahwa Nazim Hikmet adalah musuh bagi pemerintahan yang dianggapnya tidak berada di jalur kemanusiaan yang diyakininya, semua orang tentu mengiyakan. Di situlah jalan perjuangan di mana spirit Hikmet bisa ditemukan.

Nazim dan Agama

Selain keluarga birokrat, ayah Hikmet adalah seorang pengikut Mawlawi (tarikat yang disandarkan kepada ulama dan tokoh sufi Jalaluddin Rumi) dengan pemikiran yang terbuka. Masa kecil Hikmet sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan ayahnya, termasuk dalam aspek agama. Sebelum Hikmet pergi ke Rusia dan belajar komunisme, sajak-sajak yang ditulisnya bernapaskan tema-tema umum seperti biasa ditulis oleh banyak penyair semasanya, tentang membela negeri, cinta, dan termasuk agama. Sajak-sajaknya yang terkumpul dalam Dağların Havası (1925) menjelaskan secara gamblang diri Hikmet remaja sebagai penyair yang seperti kebanyakan.

Hikmet memang tidak mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang tarikat, tetapi ia mempunyai beberapa sajak yang menyebutkan nama Jaluluddin Rumi. Sajak tersebut misalnya bisa dibaca berjudul Maulâna Jalaluddin Rumi. Selain itu, dengan bentuk puisi klasik bernama rubaiyat (jenis puisi dari tradisi kesusastraan Persia yang juga banyak ditemukan dalam karya Jalaluddin Rumi), Hikmet menulis nama sang master di dalamnya. Sajak-sajak berbentuk rubaiyat yang ditulis Hikmet menunjukkan pertalian pengaruh sajak-sajak sufi, wawasan keislaman pada dirinya, khususnya dalam aspek-aspek spiritual.

Semesta yang kau lihat, wahai Rumi, bukanlah bayangan,

tanpa batas dan tak terciptakan, bukan pula karya pelukis.

Rubaiyatmu paling istimewa lahir dari didihan darahmu:

bukan yang dimulai “Semua ciptaan adalah bayangan…”

Selain itu, Hikmet juga menulis beberapa sajak dengan memunculkan simbol agama Islam seperti ilahi, masjid, dan iman. Kedalaman renungan spiritual juga bisa dilacak dari sajak-sajak yang ditulis pada masa-masa awal kepenyairannya. seperti dalam O Gece Deniz (Laut Malam Itu):

Tiba-tiba angin bertiup seperti kehidupan

Kegelapan membentang begitu dahsyat

Malam ini nyeri  hidup mengerami lautan

Kematian abadi begitu dalam menyayat

 

Napas ini adalah keagungan ilahi

Mengisi lorong-korong labirin tanpa akhir

Mengingatkan puncak suara kehidupan ini

Di pantai ombak-ombak menampar getir

Sajak yang kental dengan aroma iman dan agama (inançlı, dinsel bir hava) bisa ditemukan dalam sajak Dergahın Kuyusu (Mata Air Dergah) dan Çocuklarımıza Masal (Dongeng untuk Anak-anak Kami), yang dinilai mempunyai cipratan spirit sajak-sajak religius dari Mehmet Akif, penulis lagu kebangsaan Turki. Selain itu, ada sebuah sajak yang sangat kuat dalam menyampaikan pesan-pesan agama dan nilai-nilai spiritual sebagai ajakan untuk perjuangan membela negeri. Lihat misalnya dalam potongan sajak berjudul Siz de mi Satıldınız? (Apakah Kalian Juga Dijual?) berikut ini:

Datanglah wahai pemuda beriman,

Datanglah wahai pemuda harapan,

Datanglah ke Anatolia, semangat bajamu

yang tidak bisa dibengkokkan itu

Ada harapan yang bertumpu pada keimanan

 

Nazim dan Lagu Turki

Sejarah telah menciptakan Nazim Hikmet menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Turki modern. Seberapa pun aroma kontroversi yang telah mengepungnya, ia tetap menjadi sosok yang puisi-puisinya digemari oleh rakyat Turki. sementara mereka yang tidak menyukainya rata-rata datang dari kelompok ideologi Islam-konservatif, tetapi nama dan karya Hikmet tetap tidak bisa dihapus sebagai bagian penting dari sejarah pergerakan dan kebudayaan Turki modern secara umum. Sajak-sajaknya juga terus dicetak ulang dalam bentuk buku, dipentaskan di berbagai acara dan, yang paling menarik adalah, dinyanyikan oleh artis-astis papan atas mereka. Berikut ini saya ingin menyertakan daftar sajak-sajak Hikmet yang sudah dijadikan lagu oleh para artis dan kita bisa menikmatinya di channel Youtube.

  1. Karlı Kayın Ormanı (Zülfü Livaneli)
  2. Bulut Mu Olsam (Zülfü Livaneli)
  3. Kız Çocuğu (Zülfü Livaneli)
  4. Hoşçakal Kardeşim Deniz (Zülfü Livaneli)
  5. Saat Dört Yoksun (Zülfü Livaneli)
  6. Vapur (Zülfü Livaneli)
  7. Memetçik Memet (Zülfü Livaneli)
  8. Aynı Daldaydık (Ahmet Kaya)
  9. Şeyh Bedrettin (Ahmet Kaya)
  10. Masalların Masalı (Ruhi Su)
  11. Onlar Ki (Ruhi Su)
  12. Kadınlarımız (Ruhi Su)
  13. Şeyh Bedrettin Destanı (Cem Karaca)
  14. Çok Yorgunum (sajak aslinya Mavi Liman, Cem Karaca)
  15. Ceviz Ağacı (Cem Karaca)
  16. Herkes Gibisin (Cem Karaca)
  17. Hoşgeldin Kadınım (Cem Karaca)
  18. Memleketim (Cem Karaca)
  19. Hasret (sajak aslinya Davet, Cem Karaca)
  20. Kerem Gibi (Cem Karaca)
  21. Tahir ile Zühre Meselesi (Esin Afşar)
  22. Seviyorum Seni (Onur Akın)
  23. Sev Bakalım (Onur Akın)
  24. Güzel Günler Göreceğiz (Edip Akbayram)
  25. Korkuyorlar (Edip Akbayram)
  26. Gidenlerin Türküsü (Edip Akbayram)
  27. Beyazıt Meydanı (İlkay Akkaya)
  28. Kanatları Gümüş Yavru Bir Kuş (Mesud Cemil)
  29. Seni Düşünmek Güzel Şey (Ezginin Günlüğü)
  30. Japon Balıkçısı (Ezginin Günlüğü)
  31. Mapushane Kapısı (Yeni Türkü)
  32. Sen (Yeni Türkü)
  33. Öldükten Sonra (Grup Yorum)
  34. Bu Memleket Bizim (Grup Yorum)
  35. Ben Bir Asker Kaçağıyam (Grup Yorum)
  36. İnsanların İçindeyim (Grup Yorum)
  37. Veda (Grup Yorum)
  38. Salkım Söğüt (Grup Baran)
  39. Güneşi İçenlerin Türküsü (Grup Baran)
  40. Hoşgeldin Kadınım (İlhan İrem)
  41. Piraye (Hakan Yeşilyurt)
  42. Bor Oteli (Hüsnü Arkan)
  43. Hürriyet Kavgası (Sümeyra Çakır)
  44. Geberiyorum (Ahmet Aslan)
  45. Akın Var (Fikret Kızılok)

Sebanyak 45 puisi dari seorang penyair yang dinyanyikan dalam bentuk dan genre musik masing-masing adalah sebuah prestasi yang luar biasa dari rakyat Turki dalam mengapresiasi karya-karya penyair yang dilahirkan oleh negeri mereka. Puisi-puisi yang kerap kali dianggap rumit dan tidak bisa dipahami oleh orang banyak telah berubah menjadi konsumsi keseharian setalah direproduksi oleh kebudayaan suatu masyarakat. Selain puisi-puisi Hikmet, para seniman musik Turki sudah sangat terbiasa membuat lagu dari lirik puisi penyair kebanggaan mereka. Nama-nama sastrawan Sabahattin Ali, Murathan Mungan, Attila Ilhan, Ahmed Arif, Hasan Hüseyin Korkmazgil, Orhan Veli Kanik, dan Yahya Kemal Beyatlı adalah sedikiti dari banyak penyair Turrki yang puisis-puisinya sudah menjadi konsumsi publik lewat lagu-lagu mereka.

Yogyakarta, 2018

 

Daftar Bacaan

 

Hikmet, Nazim. 2002. Poems of Nazim HikmetRevised and Expanded Edition (Terj. Randy Blasing, Mutlu Konuk). New York: Persea Books.

——, Nazim. 2008. Bütün Şiirleri. Istanbul: YKY.

——, Nazim. 1993. Hikayeler. Istanbul: Adam Yayınları.

——, Nazim. 1993. Kadınların İsyanı. Istanbul: Adam Yayınları.

——, Nazim. 1977. Tüm Eserleri I, Şiirler 1. Istanbul: Cem Yayınevi.

Kadir, A. 1967. 1938 Harp Okulu Olayı ve Nazim Hikmet (Cet. 2). Istanbul: Can Yayınları

Kara, Mustafa . 2000. ‘Tasavvufî Şiirin Gücü Nazım Hikmet, Sabahattin Ali, Samih Rifat, Hasan Ali Yücel Tekke Şâiri midir?’ dalam T.C. Uludağ Üniversitesi İlâhiyat Fakültesi Sayı: 9, cilt: 9, 2000.

Kardas, Zekai. 2015. ‘Nazım Hikmet And Concept of Humanıty ın His Works’, dalam Quarterly Research Journal Vol-I, Issue-2 October-December 2015

Caymaz, Onur (28.03. 2010). Nazım ve Atatütk, https://www.google.co.id/amp/s/www.birgun.net/amp/haber-detay/nazim-ve-ataturk-17265.html [diakses 10 September 2018)

Coşkun, Atilla. Nazım Hikmet Davaları Üzerine Genel bir Değerlendirme, www http://www.nazimhikmet.org.tr/nazim-hikmet/davalari/ [diakses 10 September 2018)

Fuat, Memet (02 Juni 2001). Nazım Hikmetin Yaşam Öyküsü, dalam http://m.bianet.org/biamag/kultur/2642-nazim-hikmetin-yasam-oykusu [diakses 10 September 2018)

Hurriyet.com (14.02.2014). Bülent Arınç Ağa Camii’ni Nazım Hikmet’in şiiriyle açtı, dalam http://www.hurriyet.com.tr/gundem/bulent-arinc-aga-camiini-nazim-hikmetin-siiriyle-acti-25811387 [diakses 10 September 2018)

Ocaktan, Mehmet (1 Agustus 2003). Nazım komünist miydi, yoksa İslamcı mı?, https://www.yenisafak.com/arsiv/2003/agustos/01/mocaktan.html  [diakses 19 Agusus 2018)

Bernando J. Sujibto

Bernando J. Sujibto

Alumni pascasarjana Sosiologi Selcuk University, Turki. Selain mengajar juga tekun meneliti isu-isu sosial politik Turki dan menerjemahkan karya sastra Turki.
Bernando J. Sujibto

Latest posts by Bernando J. Sujibto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.