Mengenang Marx dan Komunisme

in Celoteh by
gambar karl marx
Sumber gambar oliverburkeman.com

Tan Malaka yang mewariskan Madilog benar-benar sedih melihat teman-teman ideologisnya tidak mengindahkan peringatannya di tahun 1926-1927 bahwa melawan Hindia Belanda dalam kondisi sekarang sama dengan bunuh diri. Dan, kun fayakun! Gerakan komunis Indonesia yang dicetuskan di Surabaya itu hangus berangus dilibas tentara penjajah.

Itulah salah satu kesalahan terbesar kaum komunis di masa prakemerdekaan, yang jelas memiliki visi nasionalisme yang sama dengan kelompok-kelompok pergerakan lainnya untuk merdeka, termasuk Serikat Islam (SI).

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pascakemerdekaan, Presiden Soekarno yang memilih sikap politik merapat ke Blok Timur (Uni Soviet) membawa angin segar bagi kejayaan komunisme Indonesia. Melesatlah Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai salah satu kekuatan politik besar yang sangat berpengaruh.

Well, sejarah telah menguntai, PKI pun menjadi martir bangsa. Mereka yang selamat dari pembunuhan massal atau lulus ujian pengasingan Pulau Buru dan penjara-penjara bacin pekat lainnya harus rela untuk terus dipecundangi sampai kini. Label “eks” yang udah kayak stempel kafir terus lempeng diwariskan sampai generasi gejet ini.

Mari sejenak nyoba menjadi manusia yang polos, lalu bayangkan, Kawan, bagaimana perasaanmu ditolak pakdhe dari calon istrimu gara-gara kebetulan kamu cicit Semaun yang tak pernah pinta, seputih apa pun cintamu pada juwitamu?

Angankan, Sobat, bagaimana remuknya hatimu dinista keturunan PKI yang sontak diateiskan hanya gara-gara kamu anak seorang petani yang dulu ikutan tetangga sekampung nyoblos PKI tanpa pernah tahu apa itu komunisme, kendati kamu rajin Jum’atan dan hafal Alfiyah Ibnu Malik?

Kita ini sungguh sering menutup mata untuk sekadar bisa adil pada hal-hal yang given, bukan taken. Saya ndak pernah bisa minta pada Tuhan agar tak dilahirkan dari seorang abah berdarah Madura (given), misal, sebagaimana mereka yang hari ini dipaksa memikul stempel “eks” tanpa pernah punya pilihan memintanya (given). Bagaimana kalau dibalik, kamu berada di posisi cucu “eks” itu?

Ya kamu, kamu yang sampai hari ini terpanggil banget untuk terus nge-share klaim bahaya pada anak cucu “eks”, padahal kamu sangat shock begitu diberi tahu bahwa dulu ada Serikat Islam Merah akibat tahumu tentang sejarah komunisme kita seukuran Purwaceng dan mie ongklok.

Karl Marx!

Dia ini biangnya Komunisme. Andai Tuhan tak pernah menayangkan sosok Marx di muka bumi ini, niscaya komunisme tak bakal pernah mengganggu kesehatanmu.

Tetapi mau dibiang-biangin gimana juga, Marx ya kalem saja. Dia mah memang begitu orangnya; seperti kuah rawon sisa lebaran kemarin. Maklum, dia kan aslinya filsuf belaka. Ndak ada bedanya sama filsuf-filsuf lain macam Habermas dan Derrida. Namanya filsuf yang berpikir, menginversi, ya wajar Marx lalu mewariskan pemikiran yang ndilalahnya begitu mengganggu kesehatan sebagian Anda akibat tahu yang sekaliber mie ongklok tadi plus sindrom sejarah yang terus menyandera akal waras.

Sindrom ini kian pelik kala Marx yang menentang kapitalisme karena ketidakadilan sosial-ekonomi bagi kaum proletar ini kok ya selo nyeplos “Agama itu candu”. Selonya Marx ini meluas ke mana-mana setelah digugu oleh Lenin dan Stallin, yang pada gilirannya melahirkan Leninisme dan Stallinisme.

Lalu seiring laju sejarah yang dikuasai episteme Barat akibat runtuhnya Uni Soviet, pemikiran Sosialisme Marx yang memihaki kaum jelata (ya buruh, pelajar, marginal) ditahbiskan sedemikian haramnya. Marx pun dinista sebagai Bapak Ateisme lantaran nyeplos “Agama itu Candu” itu tadi, kendati kita tahu Fir’aun telah jauh-jauh milenium lebih ngeri dengan mendaku Tuhan.

Sebab sindrom demikian, mau gimanapun juga, sia-sialah esensi pemikiran Marx di balik slogan “Agama itu Candu”, yang secara filosofis “sejatinya” dihasratkan sebagai spirit pemberontakan atas penggunaan doktrin agama oleh kaum kapitalis yang menyumpal kaum proletar dengan iming-iming kehidupan bahagia setelah mati. “Melarat di dunia ndak apa-apa, kelak Sampeyan akan bahagia di akhirat berkat agama,” beginilah state of capitalism yang diberontaki Marx. Anda bisa mengulik Etika Protestan-nya Max Weber, misal, untuk meyakinkan diri atas perselingkuhan agama-kapitalisme ini.

Kemalangan Marx memuncak pada penisbatannya sebagai bapak Materialisme-Dialektika dan Materialisme-Historis, selanjutnya Komunisme, dengan wajah reduktif; materialis, anti-spiritualis, dan tentu karenanya ateis. Agama pun memakannya dengan lahap di sini kayak PcMan.

Saya sering bersedih setiap teringat Marx yang keceplosan membawa-bawa agama segala itu, meski memang di jagat filsafat, ia tidak sendirian. Ada Nieztsche, Kant, Sartre, hingga Foucault yang mengawaninya.

Saya membayangkan andai Marx tidak bawa-bawa agama, niscaya kini kita akan menyejajarkannya dengan para santo pengubah wajah dunia, atau disebut mujaddid bahkan. Boleh jadi lalu kita mendudukkannya sejajar dengan Mahatma Ghandi, Bunda Theresa, hingga Malala sebagai pembela kaum marginal.

Tetapi akibat keceplosan itu, Marx dialienasikan. Berikutnya, mudah diterka, di negeri kita yang suangaaattt alim dan santun karena religius ini, Marx pun dibahaya-bahayakan tanpa kecuali, beserta seluruh WNI masa kini yang dituding keturunan, antek, dan termasuk pelajar filsafat Marxisme (juga Komunisme) oleh mereka yang harus tahu bahwa Marx memiliki jenggot yang sangat lebat.

Saya yakin benar umpama Marx ndak nyikut-nyikut agama, niscaya akan bejibun orang kita yang berbondong mendaku Marxis. Kenapa? Sebab, secara epistemologis, Marxis itu memperjuangkan keadilan untuk kaum marginal-jelata! Kaum jomblo pun haqqul yaqin bakal memekik sebagai Marxis demi keadilan yang-yangan.

Apa daya.

Mau sebenyek apa pun Indomie di panci akibat sibuk menyemangati Rossi mengejar Lorenzo, kita ndak bakalan membuka pintu sedikit pun pada Marxisme, kendati praktiknya kita doyan melakukan komodifikasi agama yang notabene bertujuan “mencandukan konsumen” dengan impian-impian surgaloka. Hei, bukankah itu secara epistemologi adalah gaya perjuangan Marxis?

Maka, pesan moralnya di sini, jangan pernah keceplosan kayak Marx bila Anda ndak ingin dinista-nista kayak bukan manusia oleh bangsa yang religius ini, dituding-tuding komunis yang sesat dan berbahaya, sekalipun Anda fasih sekali dalam mentarkib fa’ala yaf’ulu fa’lan….

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu
  • Kekurangan masyarakat ‘awam’ ada pada sikap kritis termasuk pada sejarah dan yang tertulis di sana. Kebanyakan melihat keburukan yang dilakukan oleh PKI/siapa pun tanpa melihat sisi alasan, faktor, hingga ‘aktor yang tidak terlihat’. Kurangnya kekritisan dalam melihat suatu masalah itu diawali dengan kurangnya asupan bacaan, menelaah, memikirkan, dan mengkritisi. Tulisan Pak Edy ini menyentil untuk melihat esensi ajaran Marx, pemikirannya tentang kaum proletar (buruh, orang miskin) sebenarnya ‘tidak seburuk’ yang ditanamkan di benak masyarakat awam mengenai komunisme (tahu sejarah kelam tapi tidak tahu esensinya). Mengenai ucapan ‘agama itu candu’, harus ditilik dulu mengapa ia mengatakan hal seperti itu. Kita bisa memilih untuk menerima pemikiran-pemikiran yang ‘baik’ tanpa mengikuti kehidupan pribadi sang pemikir (contohnya Foucault dengan konsep wacana-kekuasaan-seksualitas dan karya-karya lainnya, kita bisa ambil pemikirannya sementara sisi ‘berbedanya’ di dunia nyata tidak diambil).