Menggugat Walmiki

in Esai by

Selama ini saya mendudukkan Walmiki sebagai salah satu penulis versi kisah Rama. C. Rajagopachari menuliskan mitos Rama-Sinta berdasarkan versi Walmiki, yang tak menyertakan bagian akhir kisah, Uttarakanda, yakni pengasingan Sinta ke hutan, dan menggantikan dengan upacara api suci Sinta. Saya sepaham dengan pendapat bahwa Walmiki sekadar mewadahi sebuah kisah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ramayana karya Walmiki diyakini akan dikenang dalam semua bangsa yang beradab, apa pun yang terjadi pada bangsa India dan politiknya. Walmiki menulis kisah besar itu tidak mengarang sendiri. Ia merangkai jalinan-jalinan ingatan bangsa yang telah ada jauh sebelumnya.
Dalam kitab Uttarakanda, dikisahkan Rama memerintahkan Laksmana menemani Sinta ke pertapaan Walmiki. Setiba mereka di sana, Laksmana memberitahukan kepada Sinta bahwa permaisuri itu tak boleh pulang ke Ayodya. Sinta melahirkan putra kembar, Lawa dan Kusa. Dalam upacara Aswamedha, muncullah Walmiki yang disertai kedua muridnya, Lawa dan Kusa. Rama meyakini bahwa mereka anak-anaknya sendiri. Rama meminta Walmiki untuk membawa Sinta ke hadapannya. Sinta memohon pada dewi bumi, Pertiwi, untuk menelannya bila selama ia berada di Alengka tidak goyah kesetiaannya kepada Rama. Dewi Pertiwi menampakkan diri, dan Sinta turun ke perut bumi. Saya tak lagi menemukan kisah kehidupan Walmiki.
Dalam novel Kitab Omong Kosong, saya dihadapkan dengan tokoh Walmiki yang merawat Sinta yang sedang hamil dan terusir dari Ayodya. Tujuh bulan dalam perawatan Walmiki, Sinta melahirkan Lawa dan Kusa, putra kembar Rama. Walmiki menempa kedua anak kembar itu menjadi ksatria perkasa. Lawa dan Kusa bertemu Rama dan kembali ke Ayodya, tetapi Sinta ditelan Dewi Bumi untuk membuktikan kesuciannya. Walmiki mengembara seorang diri sebagai tukang cerita. Saya terpukau dengan kemunculan tokoh Maneka dan Satya yang mengembara untuk menemukan Walmiki. Maneka yang di punggungnya tergambar rajah kuda persembahan Aswamedha yang dilakukan Rama, bernasib terlunta-lunta, ingin menggugat Walmiki yang menuliskan kodrat hidupnya.

/2/
Sungguh menarik, Walmiki dikisahkan Seno Gumira Ajidarma terlibat dengan kehidupan tokoh-tokoh yang tak dapat dilacak dalam Ramayana. Tokoh Maneka dan Satya yang melacak pengembaraan Walmiki, merupakan orang kebanyakan, yang menjadi korban hegemoni kekuasaan Rama, akibat upacara persembahan kuda. Seno Gumira Ajidarma mencitrakan rakyat kebanyakan sebagai tokoh novelnya, yang menggambarkan korban-korban hegemoni kekuasaan Rama atau bahkan hegemoni kekuasaan Walmiki. Walmiki memiliki hegemoni kekuasaan mutlak, sebagai penulis kisah Ramayana yang menyebabkan tokoh-tokohnya menderita. Maneka dan Satya tak tercatat sebagai tokoh dalam kisah Ramayana dan Uttarakanda, tetapi merupakan tokoh-tokoh yang dicipta Seno Gumira Ajidarma.
Dalam roman Ramayana, Walmiki berperan sebagai penulis salah satu versi kisah Rama-Sinta pada masa Ramachandra, tinggal di asrama, melakukan meditasi, bertemu Brahma, sebelum menulis Ramayana. Walmiki tak pernah melakukan pengembaraan, apalagi berperan sebagai juru cerita untuk memperoleh nafkah hidup. Pengembaraan Walmiki membentuk alur novel Kitab Omong Kosong. Berbulan-bulan Walmiki melakukan pengembaraan, mengarungi anak benua, menyandang tongkat dengan gantungan buntalan di punggungnya. Sekali waktu Walmiki berhenti melakukan pengembaraan untuk bercerita. Walmiki, sebagai mitos yang dianggap suci dalam kitab Ramayana gubahan C. Rajagopalaachari, saya nikmati kisahnya dalam Kitab Omong Kosong sebagai manusia kebanyakan: juru cerita yang melakukan pengembaraan untuk memperoleh nafkah hidup.
Tokoh Walmiki dalam novel ini membebaskan segala hegemoni kekuasaannya sebagai seorang penulis cerita. Walmiki membebaskan diri dari perannya sebagai penulis Ramayana, dan meninjau kembali kekuasaannya dalam menentukan nasib tokoh-tokoh yang diciptakannya. Ramayana yang ditulis Walmiki telah menimbulkan pertempuran-pertempuran berdarah, bumi hangus negeri-negeri makmur. Walmiki menandai bahwa tokoh-tokoh rakyat yang diciptakannya tertindas dan menderita. Ia telah menciptakan cerita tentang hegemoni kekuasaan raja yang menyebabkan pertempuran, dan rakyatlah yang mengalami penderitaan. Saya menikmati kisah unik ketika Seno Gumira Ajidarma mempertemukan penulis cerita dengan tokoh yang diciptakannya.
Yang lebih mengasyikkan, tokoh yang diciptakan Walmiki tidak hanya bertemu dengannya, tetapi melakukan gugatan. Tokoh Maneka yang mencari jejak Walmiki dan menggugat peran kehidupannya yang teraniaya. Maneka bersama Satya, dua tokoh rakyat jelata yang tak ditemukan dalam roman Ramayana gubahan C. Rajagopalachari, menggugat kekuasaan Walmiki, sebagai penulis cerita, untuk dibebaskan dari penderitaan yang mereka alami. Terutama Maneka, yang lahir dengan rajah kuda di punggungnya, menyandang kutukan sebagai perempuan yang diperkosa lelaki seisi kota, menjadi sasaran pembunuhan sekelompok manusia, menggugat perannya pada Walmiki.
/3/
Saya memilah hubungan Walmiki dengan tokoh-tokoh yang diciptakannya dalam tiga kategori: (1) tokoh yang tak dapat membebaskan diri dari suratan Walmiki, dan tak sanggup mengubah jalan cerita bagi diri mereka, (2) tokoh yang mampu membebaskan dirinya dari peran cerita Walmiki, dan menulis riwayat hidupnya sendiri, (3) tokoh-tokoh yang menggugat Walmiki untuk dibebaskan dari jalan cerita yang ditentukan Walmiki. Maneka merupakan salah seorang tokoh yang menggugat untuk dibebaskan dari jalan cerita yang sudah diciptakan Walmiki.
Tokoh yang saya catat tak dapat membebaskan diri dari suratan Walmiki dan mengubah jalan cerita bagi diri mereka adalah Rama dan Sinta. Di tangan Seno Gumira Ajidarma, tokoh Sinta sebatas melakukan pembebasan ideologi patriarkhi dalam melawan hegemoni kekuasaan Rama. Tokoh Rama juga menyimpang dari alur roman Ramayana maupun Uttarakanda. Rama mengalami penyimpangan hegemoni kekuasaan sebagai raja yang haus kekuasaan, kejam, dan melakukan pembantaian-pembantaian dalam upacara Aswamedha. Tokoh Hanoman dinarasikan mampu membebaskan diri dari kekuasaan Walmiki, untuk menentukan nasibnya sendiri. Tokoh Maneka yang mempertanyakan nasibnya pada juru cerita Walmiki, sepenuhnya merupakan tokoh ciptaan Seno Gumira Ajidarma, yang digambarkan sebagai korban-korban pertempuran Rama.
Dari semua peran tokoh dalam mitos Ramayana hanya Hanoman yang mampu membebaskan diri dari cerita Walmiki. Saya menduga, tokoh Hanoman dapat membebaskan diri dari kisah ini karena ia tidak menjadi pusat kesakralan mitos, melainkan berperan sebagai panglima perang yang datang dari bangsa wanara. Melalui tokoh Walmiki, Seno Gumira Ajidarma memberi kesadaran pada setiap orang untuk membebaskan diri dari hegemoni kekuasaan siapa pun. “Setiap orang bisa menjadi juru cerita, setidaknya untuk dirinya sendiri, dengan begitu ia berkuasa atas nasibnya, tidak ditentukan oleh seorang juru cerita lain.” Kisah Hanoman pun lepas dari bingkai mitos, dan menjelma sebagai kisah pembebasan dari suratan Walmiki, dengan ruang transendensinya sendiri.
Seno Gumira Ajidarma mengembangkan ceritanya dimulai dari gugatan terhadap kekuasaan Walmiki sebagai penulis dan juru cerita Ramayana. Walmiki berhadapan dengan tokoh-tokoh yang menderita dalam lakon yang ditulisnya. Ia dihadapkan pada tokoh-tokoh yang menjadi korban pertempuran Rama dan Rahwana. Tokoh-tokoh itu tak pernah diperhitungkan Walmiki, dan menggugatnya. Kisah yang ditulis Walmiki tak lagi bersentuhan dengan narasi besar tokoh Rama, Sinta dan Rahwana. Tokoh-tokoh yang bermunculan dalam cerita Seno Gumira Ajidarma adalah korban-korban pertempuran Rama dan Rahwana, yang kemudian menggugat Walmiki.
Seno Gumira Ajidarma menyulap peran Walmiki dengan efek mengasingkan dan melepaskannya dari peran sebagai penulis Ramayana. Proses penyulapan Seno Gumira Ajidarma ini merupakan teknik membuat teks menjadi aneh dan asing. Proses itu mengubah tanggapan saya terhadap peran Walmiki sebagai penulis salah satu versi Ramayana. Teknik yang diterapkan Seno Gumira Ajidarma dengan cara menunda, menyisipi, memperlambat, memperpanjang, atau mengulur-ulur suatu kisah Walmiki, sehingga menarik perhatian karena tidak dapat ditanggapi secara otomatis.
Rupanya Seno Gumira Ajidarma sengaja mencipta novel sebagai karya sastra yang membuat saya terusik dan membawa saya keluar dari cara kita melihat mitos yang biasa dan rutin. Hal ini dilakukan dengan cara membelokkan dan mengubah alur, sehingga kita tidak bisa menggunakannya sebagaimana biasanya guna memfasilitasi pemahaman yang lazimnya muncul ketika memandang dunia dengan cara yang biasa kita lakukan sehari-hari. Kisah Walmiki sebagai penulis Ramayana yang berulang-ulang kita dengar telah menumpulkan indra dan membuat dunia menjadi terlalu lazim. Dengan membelokkan peran Walmiki sebagai narasi yang menyimpang dengan cara pandang yang menyimpang, maka novel Kitab Omong Kosong menggugah kembali indra kita dan membuat dunia menjadi tidak lazim. Penemuan sarana dan teknik tentang kisah Walmiki yang memberikan kebebasan bagi tokoh-tokoh yang diciptakannya untuk menentukan jalan ceritanya sendiri memungkinkan munculnya muatan menyimpang dalam alur novel.
Kisah Walmiki yang melakukan pengembaraan dengan berlayar, menemukan realitas yang menyimpang dari mitos Ramayana. Kisah Walmiki mencapai puncak penyingkapan-penyingkapan yang dibenturkan dengan realitas. Ketika perjalanan pelayaran Walmiki telah mencapai Lanka—yang dikenal sebagai Alengka dalam Ramayana—orang-orang yang turun dari kapal sama seperti manusia kebanyakan, bukan berwujud raksasa. Seno Gumira Ajidarma menyingkap mitos Ramayana dengan mengisahkan Rahwana dan rakyat negerinya sebagai raksasa, karena mereka bangsa asura, musuh para dewa. Akan tetapi, pada bagian lain novelnya, ia mengisahkan, melalui kesaksian Walmiki, bahwa penduduk Alengka berupa manusia yang sempurna dengan kebudayaannya.
Melalui tokoh Walmiki, Seno Gumira Ajidarma melakukan penyingkapan-penyingkapan fantasi sebagai penulis Ramayana. Tokoh Walmiki yang mengembara menyingkap fantasi, mitos, pendahsyatan peran, atau sebaliknya, membongkar penistaan terhadap kaum atau bangsa yang berlawanan dengan pusat hegemoni kekuasaan Rama yang disakralkan sebagai awatara Wisnu. Bahkan tokoh Walmiki memiliih untuk membebaskan diri dari perannya sebagai empu. Ia menjalani hidup sebagai manusia kebanyakan. Ia memberikan kesadaran akan realitas yang telah difantasikan dalam mitos Ramayana. Ia menjadi pribadi yang bebas dengan struktur cerita yang tak lagi selaras dengan mitos Ramayana—sebuah pembebasan ruang dan waktu.
Tokoh Walmiki yang memasuki dunia mitos dan melihat realitas inilah yang tak terdapat dalam karya sastrawan lain. Melalui tokoh Walmiki, Seno Gumira Ajidarma memberi kesadaran kepada pembaca bahwa Rahwana dan para raksasa Alengka pada hakikatnya merupakan manusia pada tataran realitas. Tokoh Walmiki dalam novel Seno Gumira Ajidarma menyingkap realitas di balik mitos Ramayana bahwa sesungguhnya lukisan bangsa raksasa Alengka merupakan simbol manusia-manusia yang menentang ajaran Weda yang diagungkan bangsa dewa (Ayodya). Tokoh Walmiki memberi kesadaran dan kekayaan tafsir saya akan berbagai pusat hegemoni kekuasaan yang mencipta narasi besar mitos.

/4/
Tokoh Walmiki yang menyimpang dari mitos sebagai salah satu penulis Ramayana, dalam perjalanan hidupnya menjalin kisah yang membuka banyak tafsir. Pertama, Walmiki berhadapan dengan tokoh-tokoh yang membebaskan diri dari suratan nasib yang dituliskan dalam Ramayana. Mereka yang membebaskan diri dari suratan nasib yang ditulis Walmiki itu terutama tokoh pendukung seperti Hanoman.
Kedua, kisah tentang Walmiki mewakili pandangan Seno Gumira Ajidarma dalam mengekspresikan daya ciptanya. Dalam novel ini Seno Gumira Ajidarma mengisahkan pembebasan kisah Walmiki, yang mengisahkan cerita yang “sama sekali menyimpang” dengan Ramayana. Kisah Walmiki yang ditulis Seno Gumira Ajidarma menyimpang dari kesakralan Ramayana yang diawali dengan cerita Batara Narada mengenai Rama. Dalam meditasinya, Walmiki melihat Brahma yang memintanya menulis kisah Rama. Brahma memberi petunjuk dengan penampakan para tokoh, mengetahui pikiran mereka, dan mendaraskan syair itu demi kebaikan seluruh dunia. Dalam novel ini terjadi pergeseran transendensi kisah Walmiki, yang menemukan kesadaran untuk melakukan pengembaraan, dengan alur yang masih terhubung dengan kesakralan mitos Rama-Sinta, tetapi kemudian mencipta alurnya sendiri.
Ketiga, kehadiran tokoh Walmiki dalam novel ini menandai “sudut pandang” Seno Gumira Ajidarma yang menyatakan bahwa Ramayana merupakan kisah yang agung. Akan tetapi, penulisan ulang Walmiki menjadi lebih menarik, dengan penyisipan realitas, fantasi, transendensi, dan anakronisme.

S. Prasetyo Utomo

Dosen Universitas PGRI Semarang, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)