MENGURAI TRAGEDI KOSMOS DAN ESTETIKA SPIRITUAL

in Rehal by

Judul               : Biografi Tubuh Nabi

Penulis             : Royyan Julian

Penyunting      : Tia Setiadi

Ketebalan        : 176 halaman

Tahun Terbit    : Desember, 2017

Penerbit           : Basabasi

ISBN               : 978-602-6651-63-1

Manusia sebagai subjek kehidupan tidak pernah lepas dari berbagai persoalan, baik persoalan pribadi, antarmanusia yang satu dengan yang lain, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Manusia selalu dihadapkan pada sebuah pilihan yang akan mendatangkan konsekuensi. Kompleksitas problematika ini terangkum dalam buku puisi Biografi Tubuh Nabi yang ditulis oleh Royyan Julian.

Puisi ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu “Altar Bumi” yang mengusung fenomena dan isu-isu ekologi beserta asosiasinya, dan “Altar Langit” yang lebih banyak membangun wacana religiositas agama-agama Abrahamik. Namun secara keseluruhan, baik Altar Bumi maupun Altar Langit sama-sama mengandung daya spiritual yang secara tidak langsung dapat menarasikan hubungan manusia secara holistik, yaitu horizontal dan vertikal. Bahkan dua bagian ini terlihat saling bersinergi satu sama lain.

Mengacu pada konsentrasi puitika lingkungan (ecopuitic) dunia sastra, puisi-puisi dalam buku ini bisa dilihat sebagai artikulasi dan tanggapan atas fenomena kehancuran ekosistem akibat cara pandang dan praktik antroposentrik, lebih tepatnya keserakahan budaya konsumtif manusia yang mendegradasi keseimbangan kosmos. Manusia menjadi makhluk superior yang menggunakan otoritasnya untuk mengeksploitasi bumi.

 

Iman Manusia Pada Alam

Aku menjarah, aku menjajah, maka aku ada.

Begitulah kira-kira semboyan atas budaya destruktif yang sudah menjadikan manusia memisahkan diri dengan alam. Pada akhirnya, sebuah sinergi yang harusnya saling bermutualisasi berubah menjadi keserakahan yang tak terbendung. Pada tahun 1970, Focault dalam sebuah adagiumnya “culture without nature”, dan Rachel Carson dalam The Silent Spring menunjukkan pada kita bahwa betapa manusia dilanda nestapa karena menganggap alam bukan sebagai makhluk dan bagian dari diri kita, melainkan objek eksploitasi.

Royyan berusaha menarasikan sebuah fenomena faktual dalam bentuk puisi dengan melibatkan subjek yang kompleks. Dalam puisi yang berjudul “Efek Rumah Kaca” terdapat interaksi tiga arah yang meliputi Tuhan, manusia, dan alam (berupa unsur bumi, hewan, dan tumbuhan) itu sendiri:

Ikan-ikan terbang, burung-burung berjatuhan. Di mata masa depan, sauh kapal-kapal takkan pernah dilempar. Banjir tak surut dalam seratus lima puluh hari. Selimut bumi adalah air yang menggenang abadi. Lalu Tuhan mencuci tangan dan bersabda: “Bukanlah aku yang melanggar sumpah, tetapi kau yang mengkhianati janji dengan hayatmu sendiri.

Sebuah chaos besar dinarasikan lewat sebuah situasi alam yang abnormal. Ikan-ikan terbang adalah representasi gejala efek rumah kaca yang salah satunya adalah meningkatnya permukaan air laut dan intensitas terjadinya badai. Habitat laut menjadi sebuah malapetaka bagi populasi ikan. Mereka terombang-ambing arus lautan yang tidak seimbang dan terganggu oleh hempasan angin kencang. Akhirnya, pundi-pundi udara pada burung pun tidak bisa mengantisipasi kondisi alam yang tercerai-berai. Pada akhirnya, penulis mengeksekusinya dengan sebuah bencana banjir yang dikatakannya sebagai selimut bumi yang menggenang abadi.

Dalam gerakan ekofeminisme, kepedulian terhadap eksistensi alam ini berangkat dari sebuah asumsi bahwa eksploitasi dan hegemonis-ekspansif atas alam berparalel dengan kasus yang terjadi pada kaum perempuan. Perempuan mengalami subordinasi dalam struktur kehidupannya, baik secara sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Menurut Farancoise (1947), ada hubungan antara opresi yang terjadi pada perempuan dan opresi yang terjadi pada alam. Ada kesamaan dampak dan perilaku pada dua objek tersebut. Sebagimana puisi-puisi dalam buku ini beberapa dia antaranya mengiaskan tubuh alam sebagai tubuh perempuan:

Telur-telur ikan dieram

Dalam rahim danau beku

Kelak mereka terlahir

Dengan insang yang tak mampu

Meresapi cinta-Mu

(Hujan Asam, hal 19)

Jenazah perempuan itu menyisakan sekarat;

Menyulut puntung kiamat.

Surga tak lagi mengiringi bumi

Sebab sungai-sungai berhulu

Dari kelenjar payudaranya.

(Rencana Pembunuhan Hutan Malabar, hal 53)

Pada puisi “Rencana Pembunuhan Hutan Malabar” ini, subjek Hutan Malabar justru dianalogikan sebagai seorang perempuan terakhir yang mandul dan liar di kota Malang. Daun-daunya adalah rambut yang digunduli. Batang pohonnya adalah kulit yang dikelupas , akarnya yang menopang adalah gigi yang tercerabut dari gusi yang berupa tanah. Dalam hal ini, konsep dualisem Karren J. Warren juga dapat diterapkan, yaitu dengan melakukan penilaian moral dalam kerangka dualistis. Laki-laki vs perempuan dan manusia vs alam.

 

 

Kehidupan dan Cakrawala Spiritual

“Altar Langit” sebagai bagian kedua dalam buku puisi ini membawa kita pada nuansa keberagamaan dan perjalanan spiritual sejak zaman Adam, pasca air bah, dan nubuat-nubuat terdahulu. Kisah-kisah dalam tradisi agama-agama Abrahamik dalam puisi ini telah melahirkan sebuah  langgam spiritual dalam gaya puitika. Senada dengan Robert McDowell yang mengatakan bahwa manusia dapat memasukkan puisi ke dalam kehidupan sehari-hari kita dan praktik spiritualitas. Manusia yang mencari spiritualitas berpikir bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi dibanding dirinya sendiri. Maka lewat proses pencariannya, puisi menjadi salah satu aset yang bisa menjembatani manusia menuju ruang kontemplasi dan spiritual itu sendiri.

Glenen Hughes (2011: 2) mengungkapkan, pada saat ini, cukup beralasan disebut sebagai periode ketegangan spiritual. Ketegangan ini menyebabkan banyak akibat dan manifestasi. Selama lebih satu abad, perhatian banyak mengarah kepada “krisis agama”. Itu terjadi secara global pada dunia yang telah terpengaruh oleh paham sekuler dan materi. Namun, sejarah tetap mencatat kalau gerakan spiritualitas tetap hidup. Petikan puisi dengan judul “Penyembelihan Ishak” adalah salah satu reinterpretasi yang mencoba menghidupkan spirit keberagamaan.

Diusapnyaura hayat anak itu.

Tetapi di atas langit

Suara malaikat bergema.

“Takkan ada darah manusia.

Tahulah aku atas kesetiaanmu.

Tak ada allah selain Aku.

Tak ada ilah lain di dalam nadimu.”

(Penyembelihan Ishak, hal 136)

Interpretasi inilah yang membuat penulis akhirnya membuat sebuh formula puisi tentang narasi dalam trilogi agama semitik yang dikombinasikan menjadi sebuah lisensi puitika bernafas spiritual. McDowell (2008: 6) mengatakan bahwa puisi sebagai praktik spiritual bagi siapa pun, tanpa memandang agama dan latar belakang spiritual seseorang. Karena spiritualitas merupakan hubungan interaktif manusia dengan Sang Pencipta. Dengan begitu, etika siapa saja mampu menganggap puisi sebagai praktik spiritual, maka mereka akan menemukan bahwasanya puisi merupakan sebuah bahasa agama.

Spiritual dipandang dari sisi yang lebih universal dapat menyentuh banyak aspek dalam kehidupan manusia. Tidak hanya dalam peribadatan semata. Karena secara psikologi, sipiritual tidak hanya mengarah pada hal-hal metafisis saja, namun juga berkorelasi dengan tubuh, pikiran, hati, dan jiwa. Thor Johansen (2010: 18) mengungkapkan, bagi mereka yang memiliki nilai-nilai agama dan spiritual dalam kehidupan mereka, spiritualitas dapat menjadi aspek utama dalam pekerjaan, cinta, ataupun persahabatan. Puisi sebagai media spiritual juga memiliki kaitan psikologis yang kuat. Puisi Royyan Julian yang menggambarkan psikologi kehidupan dengan melibatkan aspek spiritual ini dapat disimak lewat beberapa nukilan puisinya.

Kalau cinta hanya sebatas

Asap bakaran daging domba

Marilah kita kawin lari

Semoga Allah tak mengejar kita.

(Ode Buat Iklima, hal 21)

Jiwa yang suci

Bersemayam pada langit getsemani

Dia natara debu bintang-bintang.

Pada itulah kita mengusir

Tegut, beelzebul, dan kejahatan malam

Dengan kekhusukan sebatang lilin.

(Yahuza Iskanin, hal 126)

Puisi-puisi di “Altar Langit” ini merupakan manifestasi dari ketegangan yang disebutkan tadi. Sebagai penulis, Royyan memiliki pandangan yang cukup luas dalam merangkum semua jejak nubuat dan kisah-kisah terdahulu dalam tradisi Semit. Di luar otentisitas materi yang diusung, daya puitikanya mampu menyediakan ruang kontemplasi dan estetika spiritual. Kalau Royyan memberi pengakuan bahwa dalam bukunya tidak sedang mengusung sebuah misi profetik, maka sesungguhnya puisi-puisinya sudah memberi celah katarsis yang berkorelasi dengan profetika itu sendiri.

Tragedi kosmos yang semakin mendekati collapse ini begitu banyak dipotret oleh penulis dalam puisinya, seolah-olah penulis ingin mengatakan bahwa dunia sudah tak lagi indah. Sudah tidak lagi aman. Banyak bencana menanti di masa depan. Banyak karma yang kita tanggung, dan kita tidak mempersiapkan apa pun, minimal kesadaran diri. Hal inilah coba dijadikan celah untuk menggiring pembaca pada kesadaran itu.

Manusia memang kadang perlu diperingatkan tentang apa saja yang akan menimpa dirinya. Walaupun itu akan membuat mereka ketakutan, setidaknya mereka akan lebih bisa bersiap-siap untuk ke depan. Seperti halnya seorang pepatah yang mengatakan, bahwa hanya dalam ambang kehancuran manusia mau berubah. Royyan telah berupaya keras mengurai atensi ini dalam puisi-puisinya yang sarat dengan istilah dan metafora yang kompleks.

Ajun Nimbara

Ajun Nimbara

Lahir di Sumenep, 16 Juli 1995. Bergiat di Komunitas Pelangi Sastra Malang. Cerpen-cerpennya tergabung dalam antologi Secangkir Kontradiksi (2015), Orang-orang dalam Menggelar Upacara (2015).
Ajun Nimbara

Latest posts by Ajun Nimbara (see all)