Menimang-nimang Religiositas Puisi Masjid

in Esai by
artslant.com

Neoplatonisme yang Menghilangkan Eksoterisme Arsitektur Masjid

1/

Indonesia itu negeri sekian ratus ribu masjid. Hampir setiap kampung dan desa, tingkat terbawah sistem sosial-politik di Indonesia, pasti punya masjid. Memang tidak sebanyak televisi atau al-Qur’an di rumah atau masjid, namun jumlah masjid hampir dapat dipastikan adalah yang terbanyak di seluruh dunia ini jika dibandingkan dengan negeri lain yang berpenduduk mayoritas muslim.

Namun, jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah puisi-puisi bertema masjid. Tentunya menarik untuk menelisik topik masjid dalam puisi-puisi modern Indonesia. Secara kasar dapat dikatakan bahwa rupanya masjid tak banyak menggugah kemunculan puisi dan memberikan persentuhan estetik ruhaniah bagi para penyair muslim Indonesia.

Sekadar sebagai kerangka berpikir dalam konteks ini, kita bisa menggunakan pemikiran Fritjof Schuon yang berusaha mencari titik temu transendentalitas agama tanpa melupakan bentuk formal yang juga menjadi ciri khas tiap agama. Gagasan kemasjidan, mengikuti teori ini, bisa juga diklasifikasikan sebagai perwujudan bentuk formal agama bahkan sebagai medium menuju titik transendental ilahiah. Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Mencari Titik Temu Agama-Agama (The Transcendence Unity of Religions), penyair dan filosof perenial Schuon (2003: 77) mengatakan, “Dalam analisis terakhir, hubungan antara eksoterisme dan esoterisme sama dengan hubungan antara ‘bentuk’ dan ‘jiwa’ yang terdapat dalam semua ungkapan simbolis.” Dalam terma Islam, hal ini sama dengan hubungan “syariah” dan “makrifat” yang harus saling memanifestasikan.

Hubungan eksoterisme dan esoterisme tidak bisa dihilangkan, meskipun barangkali manusia memberi nilai lebih. Pada bab keempat buku tersebut, Mengenai Bentuk dalam Seni, Schuon menggunakan dua istilah kunci itu untuk menganalisis dan menunjukkan inti esoterisme yang mewujud atau termanifestasi dalam bentuk-bentuk eksoterisme, baik dalam arsitektur bangunan, lukisan, atau patung religius. Suatu pemahaman atau pencerahan melalui bentuk-bentuk material, menurut Schuon (2003: 113-114), justru “dapat ditangkap secara inderawi…yang langsung berkaitan dengan intelek, berkat analogi terbalik yang menghubungkan tatanan asas dan perwujudan.” Yang lahir membimbing dan menunjukkan yang batin. Dalam beberapa hal, pemikiran ini hampir sama dengan gagasan dasar strukturalisme.

Memang dalam analisis puisi-puisi masjid ada semacam peningkatan dari eksoterisme yang berwujud benda kepada puisi berwujud kata. Tentu saja kata-kata juga bisa digunakan untuk menunjuk, mewakili, bahkan mewujudkan benda-benda itu sendiri. Maka, dua kata kunci yang dipakai Schuon tetap bisa valid dan relevan untuk digunakan.

2/

Historisitas puisi masjid di kawasan kepulauan nusantara yang kemudian dinamai Indonesia—juga Malaysia dan Brunei Darussalam, Singapura, dan seterusnya—memiliki jejak yang panjang, bersamaan dengan berkembangnya agama Islam. Salah satu kawasan yang secara khusus membentuk dan mempunyai tradisi penulisan puisi masjid adalah Jawa.

Tanah Jawa, setidaknya sejak Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17 dan ke-18, memiliki sejarah panjang penulisan puisi masjid yang sebagian besar berinduk pada proses (legenda) pembangunan Masjid Demak yang termasyhur itu.[1] Pembangunan Masjid Agung Demak mempunyai sisi simbolik politis yang terus dijadikan sebagai “pusaka” kekuasaan keraton Mataram Islam.[2]

Dalam fragmen proses pembangunan Masjid Agung Demak ini, jika kita memakainya sebagai tonggak puisi masjid, kita bisa mendapati bentuk-bentuk puisi yang sangat arsitektural simbolik-politis. Dalam kajian yang ekstensif terhadap Serat Jaka Tingkir (konon) karya Mangkurat III (bertahta 1703-1708 M), Nancy K. Florida (2003) mengulas dengan tangkas dan menawan penghadiran bentuk-bentuk arsitektural simbolik. Dalam Serat Jaka Tingkir, pembangunan masjid menjadi semacam gugusan pemikiran politik yang diandaikan dan disusun secara strategis, hierarkis, dan sosiologis yang melibatkan seluruh kelas sosial seseorang. Kita simak terjemahan pembagian tugas yang disimbolisasikan dalam material arsitektural masjid:

Saka guru yang empat

Itulah bagian untuk

Para wali yang sembilan

Para zahid dan ngabid yang taat

para ahli mistik mungabid dan ahli iman

Mukmin yang terpilih dan orang-orang saleh

Saka pinggiranlah untuk mereka

Sedangkan gelagar yang utama

Yang menjadi alas puncak dan usuk pangkal

Dengan gelagar penopang utama.

Pembagian beban material masjid yang sangat hierarkis-politis ini berakhir pada:

Adapun semua usuk

Dan yang menjadi pagar pembatasnya

Telah ditugaskan kepada

Para mantri hulubalang

Punggawa mantri terkemuka

Adapun segenap sirap

Yang akan menjadi atap

Semua menyumbangkan saja.[3]

Dalam larik-larik puisi itu, kita menyaksikan masjid seutuhnya secara arsitektural, mulai dari pembagian beban penyumbang material tiap kelompok satuan “birokrasi” kerajaan dari pemangku supremasi agama, militer, pamong praja, sampai pada pegawai tingkat terendah. Tiang utama (saka guru), tiang pembantu/pinggiran (saka pangendhit), usuk pangkal, gelagar yang utama, gelagar pelat, gelagar penopang, pelipit, bubungan, usuk, pagar, sirap untuk atap: semua ini disebutkan dengan jelas dan, yang sangat menarik dari puisi masjid ini, sekaligus menjadi tata simbolik arsitektur politik. Pembangunan masjid yang monumental “ini tersusun sebagai struktur hierarkies yang agaknya sempurna, suatu struktur ideal yang diharapkan akan mencerminkan konfigurasi sosiopolitik negeri yang sedang dibangun. Pengidaman ini mengungkapkan hasrat para arsiteknya, suatu hasrat yang mereka proyeksikan ke masa depan dalam wujud bentuk bendawi-rohani pusaka ini,” kata Nancy K. Florida (2003: 359).

“Bentuk bendawi-rohani” dalam puisi Masjid Demak bukan hanya menjadi sebentuk maujud gagasan politik teokrasi para wali itu, dengan mengambil bentuk gaya bangunan tradisi Jawa bukan ala Timur Tengah, namun juga berhasil membentuk suatu puisi artisektural yang begitu kuat mengadopsi bahasa bendawi masjid sebagai bahasa puisi. Bisa dikatakan bahwa bentuk eksoterisme arsitektural masjid sangat diperhatikan oleh para pujangga Jawa, tanpa menghilangkan nilai esoterisme masjid sebagai ruang pertemuan transendental manusia dengan Tuhannya.

3/

Eksoterisme yang ditampilkan puisi-puisi Jawa pada zaman Kerajaan Mataram memang lebih bersifat politis dan simbolik. Sesuatu yang dihadirkan untuk memenuhi tuntutan gagasan politik simbolik kekuasaan para raja. Namun, kita tetap bisa mengatakan bahwa puisi-puisi sangat berhasil untuk memadukan eksoterisme dan esoterisme kemasjidan sebagai ruang material-transendental keislaman. Ada nuansa bahwa setiap orang bisa hadir dan terwakili di sana, meski sangat hierarkies, yang sebenarnya dirombak secara radikal dalam ketauhidan Islam. Perpaduan ini sayangnya tidak tampak begitu dihadirkan dalam puisi-puisi modern keislaman Indonesia. Hampir semua puisi masjid tak memberikan deskripsi materialitas arsitektural masjid. Mata estetik penyair Indonesia tak menyentuh masjid.

Kita bisa memulainya dari puisi Chairil Anwar yang sering dianggap sebagai pembaharu perpuisian Indonesia modern. Pada 1943, Chairil Anwar menggubah puisi yang cukup terkenal berjudul “Di Masjid”. Dalam puisi ini, kita tidak akan mendapatkan penggambaran masjid atau simbolisasi masjid yang mengikutsertakan arsitektural masjid. Kuseru saja Dia/ Sehingga datang juga, kata Chairil pada bait pertama puisi. Jelas sekali bahwa aku-lirik sangat mendominasi seluruh struktur puisi Chairil. Pada dua stanza terakhir, kita baru diberi tahu bahwa Ini ruang/ Gelanggang kami berperang// Binasa-membinasa/ Satu menista lain gila. Masjid berubah menjadi “ruang” yang abstrak, sangat bersifat personal, batiniah. Dan secara keseluruhan, arsitektural terkesampingkan bahkan dihilangkan.

Dalam puisi berjudul “Di Mesjid Sumenep”, D. Zawawi Imron (1983: 26) langsung mengajak pembaca puisinya memasuki pergulatan religius manusia berpuasa yang sedang berada di masjid: tiba-tiba ada hidangan semangka/ tidak, tidak!/ aku tidak dahaga/ beri saja aku gairah/ semerah daging semangka/ biar aku jadi dahaga. Pembaca atau pendengar puisi ini tak mungkin mendapatkan eksoterisme masjid yang termanifestasi dalam ragawi masjid. Malah, secara sengaja, penyair mengalihkan pembaca atau pendengarnya keluar dari masjid itu sendiri menuju: kembang karang mengasuh/ rindu/ sunyi bangkit/ Keharuan.

Dalam puisi Zawawi ini, dengan pembukaan mendadak seperti puisi Chairil Anwar, masjid hanya sebagai latar tempat, atau sekadar judul, tidak mengesankan sebagai latar religiusitas manusia-yang-berada-di-masjid, dengan segala persentuhan ragawinya bersama masjid, yang tampaknya tidak bisa digantikan dengan tempat lain untuk mendapatkan momentum religiositas. Kita lebih banyak menelusup dalam pengalaman personal religius manusia, tanpa pertautan ragawi dengan masjid itu sendiri.

Begitu juga yang kita dapatkan dari penyair Jawa Barat Acep Zamzam Noor (2004: 6), dalam puisi berjudul “Di Masjid Salman”—di ITB yang termasyhur pada masa Orde Baru dan pada masa kepemimpinan Bang Imad itu? Puisi yang dipersembahkan untuk Anne Rufaida ini dimulai dengan stanza romantis nan religius: Pertemuan tercipta dari kata/ Malam putih berlantai sabda/ Di rumah Tuhan yang sunyi, sukma kita/ Berbenih: berjabatan dalam sanubari. Stanza ini bisa dengan agak sedikit bebas ditempatkan di selain masjid, mengingat “rumah Tuhan” itu bermuara pada “sukma kita” yang “berjabatan dalam sanubari”. Pengalaman persentuhan masih tetap sangat individual, seakan antara individu dengan individu, meski biasanya hal-hal yang bersifat romantisme pasti mengekalkan momentum tempat seakan menjadi monumen.

Namun, sekali lagi, pembaca atau pendengar puisi Acep ini pasti bakal susah untuk mendapatkan kesan pertautan antara sang penyair (atau “kita” pembaca) melalui eksterioritas masjid yang bersifat material. Pertautan religiusitas masih ditekankaan pada pengalaman yang mengabaikan materialitas masjid. Malah, pada stanza terakhir, kita diajak melampaui masjid: Sejenak kita pun mengukir pesona semesta/ Dalam pesta cahaya: bulan dan bintang dan sasmita. Di sini, jika Zawawi mengajak keluar masjid, Acep malah mengajak mengimajinasikan semesta alam raya. Masjid adalah semesta alam raya, yang sedikit banyak termanifestasikan dalam hati manusia.

4/

Pada masa puncak kebangkitan ekspresi budaya Islam Indonesia di masa senjakala Orde Baru, setelah sekian lama ekspresi keislaman politis ditekan, diadakanlah Festival Istiqlal untuk pertama kalinya pada 15 Oktober sampai 15 November 1991. Dalam buku dokumentasi Nafas Islam Kebudayaan Indonesia, penyair Taufik Ismail menyumbangkan puisi “Mencari Sebuah Masjid”. Dalam puisi yang rapi dan liris ini, pembaca diajak mengikuti aku-lirik yang diberi tahu eksterioritas masjid yang begitu menawan nan megah tapi sudah menghilang sehingga dirindukan dan ingin dicari.

Aku diberitahu tentang sebuah masjid

yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan

fondasinya batu karang dan pualam pilihan

atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan

dan kubahnya tembus pandang, berkilauan

digosok topan kutup utara dan selatan

 

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Dalam larik yang sangat bernuansa alam ini, kita diberi citraan masjid yang begitu teduh, sejuk, damai, sekaligus tidak melupakan arsitektural masjid seperti tiang, fondasi, atap, dan kubah masjid—kubah termasuk sesuatu yang baru dalam tradisi arsitektur masjid di Indonesia. Semua bagian bangunan masjid itu menyatu dengan alam bahkan menjadi bagian yang sangat penting. Kita seakan diajak membayangkan masjid kuno yang sebagian besar materialnya berasal dari alam. Masjid itu tetap bertahan, tetap dipelihara keaslian arsitektur awal, tapi sekaligus mendapatkan sentuhan teknologi modern dalam perbaikan dan penambahan ruang masjid tersebut.

Secara umum, kita mendapatkan kesan bahwa unsur-unsur material-alami masjid sama dengan material bangunan Masjid Agung Demak yang dibangun para wali. Tentu, tanpa simbolisasi politik yang melingkupi imaji masjid Taufik Ismail. Dan jikapun ada yang politis, maka masjid seharusnya menjadi ruang bermusyawarah dalam simpul persaudaraan sejati/ dalam hangat sajadah.

Pada larik-larik selanjutnya, kita mendapatkan pengembangan dari tiap sisi bagian ruang masjid: mulai dari dinding masjid yang dipenuhi kaligrafi al-Quran dengan nuansa dedaunan, menara yang terus menyerukan panggilan shalat dengan merdu, sampai pada ruangan di sisi mihrab masjid yang digunakan sebagai perpustakaan. Bisa dikatakan bahwa perpustakaan masjid di Indonesia merupakan sesuatu yang barangkali agak tidak lazim. Sangat sedikit sekali masjid (atau surau) di Indonesia yang begitu memperhatikan dengan seksama perihal perpustakaan apalagi sampai mempunyai koleksi yang lengkap.

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya

yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya

dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya

di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian

yang menyimpan cahaya matahari

kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan

ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu berguna

di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta

terletak di sebelah menyebelah masjid kita

Barangkali bisa dikatakan bahwa puisi “Mencari Sebuah Masjid” adalah sedikit banyak berbeda dengan “tradisi” puisi masjid yang tak begitu mau berurusan dengan eksoterisme arsitektural masjid. Taufik Ismail mencoba mengajak kita membayangkan masjid yang cukup megah, besar, menawan, dan sekaligus indah di hati sanubari. Namun, seperti yang diulang-ulang setelah setiap stanza, semua itu adalah suatu kehilangan dan dengan itu dirindukan. Aku rindu dan mengembara mencarinya. Baru pada dua stanza sebelum terakhir yang mengungkapkan si aku-lirik yang sudah lelah, putus asa, seakan sudah sampai puncak pencariannya tapi tak juga ditemukannya sang masjid. Tumpas aku dalam rindu/ Mengembara mencarinya/ Di manakah dia gerangan letaknya.

Dan pada stanza berikutnya, kita kemudian mendapatkan “masjid” sesungguhnya yang selama ini dirindukan dan dicari si aku-lirik. Ironisnya, semua bentuk material arsitektural masjid yang dihadirkan Taufik Ismail pada stanza-stanza sebelumnya ternyata “bukan” masjid yang dirindukannya. Tibalah si aku-lirik yang berkelana begitu merindukan masjid pada suatu tempat. Pada saat itu, terdengar merdunya azdan di pegunungan/ dan akupun melayangkan pandangan/ mencari masjid ke kiri dan ke kanan/ ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan/ dia berkata, “Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan.” Ternyata, masjid yang begitu dirindukannya adalah “secarik tikar pandan” yang dihamparkan di atas tanah ladang.

Dalam tradisi sufistik, kita bisa mengatakan bahwa sekian jauh dan sekian lama pencarian itu toh akhirnya hanya kembali pada penemuan kembali diri sendiri. Inilah ironi yang akhirnya ditampilkan dalam puisi masjid Taufik Ismail yang sejak awal seakan menjanjikan masjid yang begitu megah secara arsitektural, tapi akhirnya hanya menemukan secarik tikar daun pandan di atas tanah persawahan. Praktis, semua kemegahan itu hanya semacam ilusi, masjid itu sendiri hadir dalam hati. Kita pun tahu, bahwa kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran/ airnya bening dan dingin mengalir beraturan/ tanpa kata dia berwudhu duluan/ akupun dibawa air itu menampungkan tangan/ ketika kuusap mukaku, kali ketika secara perlahan/ hangat air terasa, bukan dingin kiranya/ demikianlah air pancuran/ bercampur dengan air mataku/ yang bercucuran.

Apa yang ditampilkan Taufik Ismail juga dihadirkan jauh lebih mendalam dalam puisi Emha Ainun Nadjib. Bahkan, tak ada contoh yang lebih memukau untuk menggambarkan hilangnya eksoterisme masjid daripada puisi-puisi masjid yang ditulis Emha Ainun Nadjib khususnya yang terkumpul dalam buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya Tahajjud Cinta Seorang Hamba (1997). Salah satu puisinya dibuka dengan sama sekali mengingkari material arsitektural masjid: Aku masjid/ Tak berpintu/ Dindingku ruang/ Lantaiku waktu. Secara teologis, inilah puisi yang paling ekspresif menggambarkan tempat ibadah dalam Islam.

Masjid bukan lagi bangunan, tempat, material, atau apa pun yang bisa didefinisikan melalui kaidah fikih (eksoterisme) atau kaidah arsitektur yang sekuler. Masjid itu sendiri menjadi ruang wahdatul wujud antara manusia dan Tuhan, manusia dan dirinya, manusia dan manusia yang lain. Simak stanza puisi Emha yang penuh ajakan ini: Aku masjid. Ayolah/ Mulai hari baru dariku/ Cinta kasih dan masa depan/ Politik dan kebudayaan.

Dalam stanza ini, sebenarnya ada paradoks penyatuan antara masjid yang bisa hadir dalam tiap diri muslim dengan masjid material yang mencerminkan kehadiran kebudayaan. Masjid kebudayaan adalah suatu tema pengembangan dan pengembalian fungsi-fungsi masjid yang banyak dikembangkan cendekiwan muslim pada masa Orde Baru, dan sesekali sebagai bentuk gerakan developmentalisme. Namun, puisi-puisi Emha Ainun Nadjib tetap tak menghadirkan wujud materialitas dan arsitektur masjid. Tak ada ornamen, tak ada arsitektur, tak ada perubahan bentuk gaya bangunan yang tertangkap dalam mata kata para penyair muslim Indonesia.

Pendefinisian masjid lalu mengerucut pada satu hal: hati, yang akhirnya berfungsi sebagai pemantik kebudayaan. Bahkan, masjid itu sendiri berbegerak menjangkau atau memutarbalik aku-lirik-manusia menjadi aku-lirik-masjid. Di sini, saat masjid menjadi aku, segala arsitektur berubah menjadi satuan subjektivitas abstrak yang bisa dengan mudah masuk dalam aku-lirik-manusia. Masjid dibutuhkan, sekaligus diaktifkan dengan gerak aktif manusia.

Maka, bisa dikatakan bahwa sejak kemunculan puisi modern, ada semacam ketidakbutuhan atau pelampauan pemaknaan masjid yang bersifat material arsitektural dalam tiap puisi bertema masjid. Masjid yang dibangun dengan basis material ternyata harus ditiadakan atau dihilangkan untuk dicari sampai pada puncak rasa transendental religiositas psikologis manusia. Mata para penyair Indonesia seakan berubah menjadi mata batin. Puisi-puisi masjid tak pantas dilihat dengan mata kepala, meski kita sering begitu berhasrat membangun masjid yang semakin megah.

5/

Tiap arsitektur diejawantahkan dari dasar suatu keimanan. Dalam Islam, pengertian masjid secara teologis memang tidak mematok pada suatu bangunan arsitektural yang diwujudkan di atas tanah. Tiap bagian bumi adalah masjid, sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan. Namun, bukan berarti teologi masjid tak mengindikasikan konsep ruang-teologis, yang menjadi dasar arsitektural masjid.

Secara sederhana, kita bisa mengatakan bahwa ruang-teologis arsitektur masjid di seluruh dunia mengahadap satu titik tauhid: Ka’bah, yang sangat sederhana itu. Tentu sepantasnya sederhana, termasuk dengan hilangnya arah-kiblat karena pada Ka’bahlah semua arah kiblat menjuru. Dengan demikian, seluruh bangunan masjid di bumi mengarah-menuju secara teologis pada satu ketauhidan Tuhan. Inilah dasar ruang-teologis monoteis masjid.[4] Namun, seperti cukup banyak diulas para cendekiawan muslim, bukan berarti Ka’bah tanpa kesadaran arsitektural: sejenis kotak sederhana.

Meskipun demikian, tak banyak penyair muslim yang hendak menulis puisi dengan sentuhan arsitektural kesederhanaan semacam Ka’bah atau mengikuti bahkan membangkitkan kembali estetika simbolisme puisi klasik Jawa untuk sang Masjid Agung Demak. Para penyair muslim modern Indonesia tampaknya memang lebih banyak terpesona oleh sentuhan ruhani batinnya sendiri-sendiri daripada wujud arsitektur suatu masjid betapapun megah atau sederhana atau simboliknya. Di sini kita bisa menduga bahwa pengaruh filsafat Neoplatonisme begitu mendominasi pemikiran para penyair muslim Indonesia. Kita tahu filsafat Neoplatonisme banyak mempengaruhi aliran tasawuf di dunia muslim sejak beberapa abad lalu. Termasuk di Indonesia yang begitu dikuasai aliran teologis Sunni, yang sedikit banyak menggunakan nalar epsitemologis Neoplatonisme.

Yang terjadi dalam puisi jelas: eksoterisme menjadi tidak begitu penting dibandingkan esoterisme. Kita mendapati puisi-puisi masjid yang begitu terbuai oleh Idea, mengalahkan atau bahkan menyingkirkan tubuh. Esoterisme adalah puncak kemasjidan-masjid dalam diri seorang muslim. Bukan masjid yang dibangun dan berdiri di atas bumi Tuhan. Ini berbeda sekali dengan ambisi umat Islam membangun masjid sebanyak-banyaknya di negeri ini, dengan berbagai corak arsitekur yang semakin mewah mencolok mata—bahkan beberapa kali pembangunan masjid sering harus berseteru dengan beberapa golongan umat Islam dan umat non-Islam.

Efek dari dominasi esoterisme yang tak terpancar dalam wujud eksoterisme bukan hanya hilangnya nuansa simbolisme yang bisa menjadi ruang-antara bagi manusia dan Tuhannya, tapi juga hilangnya alat persentuhan kita melalui perwujudan masjid itu sendiri. Ini sama dengan gaya ibadah semata batiniah, yang tak hendak mewujudkannya dalam tataran syariat. Dan dengan hanya memfokuskan pada batiniah seseorang, ini sama dengan mengatakan bahwa masjid itu sendiri sebenarnya sama sekali tak mengandung daya religiositas ilahiah. Masjid itu sendiri sudah kehilangan atau dihilangkan dengan sengaja roh religiositasnya. Tak ada getaran atau pancaran keimanan yang bisa diharapkan dari ribuan masjid yang telah dibangun di negeri ini.[]

[1] Lihat ulasan secara historis de Graaf dan Pigeaud (1986: 32-36) dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa.

[2] Ulasan yang menarik perihal kekuasaan Jawa yang termanifestasi dalam masjid pusaka adalah karya Soemarsaid Moertono (1985: 39): Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI Sampai XIX.

[3] Saya sengaja mengutip yang edisi terjemahan (khususnya dari halaman 174-175) bukan yang bahasa Jawa, demi memudahkan pemahaman masyarakat Indonesia secara umum, tentu puisi ini dalam bahasa Jawa bisa jauh lebih memikat dan lebih sesuai dengan pakem perpuisi Jawa (klasik).

[4] Bandingkan dengan penjelasan Isma’il Raji Al-Faruqi dalam buku Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam (1999).

M. Fauzi Sukri

M. Fauzi Sukri

koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo,
menulis Guru dan Berguru (2015)
M. Fauzi Sukri

Latest posts by M. Fauzi Sukri (see all)