Menjelajahi Ruang Baru Bersama Bus dan Kecoa Milik Ziggy

in Rehal by

Judul               : Semua Ikan di Langit

Penulis             : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit           : Grasindo

Terbit               : I, Februari 2017

Tebal               : 259 halaman

ISBN               : 9786023758067

Sebuah bus dengan trayek baru: luar angkasa serta melintasi ruang dan waktu akan membawamu menuju dunia yang belum pernah kau kunjungi sama sekali. Kau tidak akan sendiri, seekor ibu kecoa beserta anak-anaknya dan seorang anak lelaki akan menjadi temanmu dan sejumlah pohon yang pandai berbicara dan bercerita akan membuatmu melewati hari-hari yang menyenangkan. Juga ketika kau bertemu dengan seorang lelaki, mengapung di tengah lautan, bernama “Membingungkan”. Saya tak hendak membuat Anda kebingungan. Tapi terkadang, hidup kita memang dipenuhi kebingungan-kebingungan. Dan jika Anda merasa butuh ruang baru, barangkali Semua Ikan di Langit bisa jadi pilihan.

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam buku terbarunya di tahun 2017, Semua Ikan di Langit, adalah kejutan awal tahun bagi para pembaca di Indonesia. Sebelum terbit sebagai buku, Dewan Kesenian Jakarta pada tanggal 14 Desember 2016 menetapkan naskah Ziggy sebagai satu-satunya juara untuk Sayembara Novel DKJ tahun 2016. Bahkan naskah itu mengalahkan lebih dari tiga ratus karya lain yang terkumpul dan harus membuat juri mengambil keputusan meniadakan juara II dan III, lantaran naskah Ziggy memang berbeda dengan yang lainnya. Meskipun pada sayembara sebelumnya, Ziggy juga pernah menang dengan novelnya yang bercerita tentang anak perempuan yang selalu membawa kamus.

Secara sederhana, pada novel terbarunya, Ziggy tengah menceritakan perjalanan bus di luar angkasa. Buku yang dianggap memiliki kemiripan dengan The Little Prince, namun sebenarnya buku ini cukup berbeda. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah pilihan Ziggy untuk memilih narator dalam novelnya. Ia memilih bus yang kemudian bertemu dengan seorang anak lelaki yang ia panggil “Beliau” ditambah lagi dengan usaha Ziggy menghadirkan seekor kecoa dalam kisahnya. Ada pula ikan julung-julung yang selalu ada di sekitar Beliau.

Kecoa yang bernama Nad menjadi teman cerita dari bus yang terus mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya. Bus juga mencoba untuk memahami Beliau. Namun semakin ia berusaha, semakin ia merasa jika Beliau dan dirinya meski dekat tapi tetap memiliki jarak yang tak bisa ia mengerti. Pada bagian awal, dikisahkan cerita tentang Beliau. Bagaimana seorang Beliau jika ia tengah bahagia, sedih, dan marah. Dugaan yang diberikan si Bus yang awalnya memiliki trayek Dipatiukur–Leuwipanjang jadi sesuatu yang menarik kala si Bus tetap merasa dirinya adalah sesuatu yang tidak tahu apa-apa. Hanya sebuah bus.

Secara tidak langsung, narator Bus mengajak saya untuk tetap menyadari jika ada banyak hal di luar sana yang belum kita pahami. Di tengah banyaknya orang yang merasa ia punya segalanya, barangkali ia perlu memikirkan cara berpikir dari seorang Bus yang ada dalam novel Ziggy ini. Keberhasilan Ziggy terlihat dengan konsep cerita yang dibangun dari kemampuan tokoh-tokoh yang ada di dalam novelnya. Si Bus yang mampu memahami sejumlah hal dari penumpangnya dengan bantuan setiap kaki yang menyentuh tubuhnya. Beliau juga punya ikan julung-julung yang tak habis-habisnya, juga kemampuannya untuk menjahit yang menarik. Menjahit mata dan juga menjahit hati yang patah atau terluka.

Pembaca juga punya kesempatan untuk menjadikan novel ini sebagai ruang imajinasi yang luas, baru, dan segar. Ziggy juga sempat menyampaikan pesan tentang pikir berpikir. Semoga makin banyak orang yang berpikir dan menemukan hal menarik di dunia ini. Saya bahkan berharap, novel-novel di Indonesia akan punya narator unik seperti Semua Ikan di Langit. Menemukan buku The Book Thief dari Markus Zusak yang menjadikan kematian sebagai narator adalah sesuatu yang menarik bagi pembaca. Atau The Art of Racing in the Rain dari Garth Stei yang menjadikan anjing sebagai narator. The Fur Person dari May Sarton yang menggunakan kucing sebagai narator. Namun masalah selanjutnya dari harapan saya tadi adalah, masih banyak penulis Indonesia yang sama sekali tidak peduli dengan narator dalam ceritanya. Dan saya rasa, pada poin ini juga Ziggy benar-benar menang telak dari lawan-lawannya di Sayembara DKJ 2016.

Wawan Kurn

Wawan Kurn

Sering menggunakan nama Wawan Kurn, lahir di Pinrang, namun kini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya di antaranya pernah dimuat Koran Tempo Makassar, Harian Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Tribun Timur Makassar, Republika, Serambi Indonesia.
Wawan Kurn