Menyaksikan Sepak Bola Indonesia Tersungkur di Asian Games 1962

in Celoteh by

Luis Milla, pelatih tim nasional sepak bola U-23 Indonesia asal Spanyol, semringah kegirangan kala umpan manis Saddil Ramdani dimanfaatkan bek Hansamu Yama, yang berhasil menanduk bola ke gawang Korea Selatan U-23. Gol ini terjadi di menit 92, sebagai balasan gol Korea Selatan di babak pertama.

Namun, asa hanya sekejap. Wajah Milla kembali murung, penonton di stadion Pakansari, Kabupaten Bogor membisu, saat pemain Korea Selatan U-23, Han Seunggyu, melumatkan harapan Indonesia. Di menit ke-94, dia berhasil menembak dengan keras gawang Indonesia yang dijaga Awan Setho.

Dalam laga uji coba yang dijalani sebagai persiapan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang nanti, timnas sepak bola U-23 Indonesia memang belum memberikan hasil yang maksimal. Sebelumnya, Indonesia harus bermain imbang 1-1 dan kalah 1-2 saat uji coba dengan Thailand U-23.

Sepak bola adalah olahraga paling digemari di Indonesia. Maka tak heran, dari setiap event olahraga yang diikuti kesebelasan Indonesia, para pecandu si kulit bundar di tanah air menaruh harapan setinggi langit.

Pada gelaran Asian Games ke-4 tahun 1962 di Jakarta, sepak bola pun diharapkan meraih medali. Saat itu, kesebelasan Indonesia mendapat polesan dari pelatih berkebangsaan Yugoslavia, Antun Pogacnik. Di bawah asuhannya, Indonesia menjadi “macan Asia”.

Pogacnik dipilih sebagai pelatih tim nasional sepak bola Indonesia menggantikan posisi pelatih asal Malaya (sekarang Malaysia) Choo Seng Quee, jelang Asian Games II 1954 di Manila, Filipina. Menurut Mingguan Djaja edisi 21 Januari 1967, Choo telah berjasa meletakkan dasar pembinaan modern sepak bola negara yang belum lama merdeka ini. Pogacnik kemudian memperluas pembinaan dan membangun lebih lanjut apa yang sudah ditinggalkan Choo.

Dalam Asian Games I di New Delhi, India, kesebelasan Indonesia tak jelek-jelek amat. Mereka masuk kotak setelah kalah 3-1 dari India. Pertandingan tersebut merupakan laga internasional pertama bagi kesebelasan Indonesia.

Pogacnik dipilih untuk lebih membuat timnas lebih garang di lapangan hijau. Menurut catatan Mingguan Djaja, 21 Januari 1967, Indonesia memang tampil trengginas di Asian Games II 1954 di Manila, Filipina. Tim asuhan Pogacnik itu juara ke-4, usai kalah 4-5 dari Birma (sekarang Myanmar). Namun, mereka mampu mengalahkan Jepang 5-3 dan India 4-0.

Dalam Asian Games III tahun 1958 di Tokyo, Jepang, Indonesia malah makin hebat. Tim Garuda mampu menembus semifinal dan mendapatkan juara ke-3, setelah membantai India dengan skor 4-1.

Di bawah Pogacnik, prestasi timnas Indonesia bukan hanya itu. Dalam Olimpiade di Melbourne, Australia, kesebelasan Indonesia tampil menakjubkan. Mereka berhasil memaksa tim kuat Uni Soviet dengan skor 0-0. Namun, akhirnya dibantai 4-0 dalam pertandingan ulang keesokan harinya. Pada 1960, Indonesia mampu keluar menjadi juara ke-3 di turnamen Merdeka Games, Kualalumpur, Malaya.

Persiapan Pemain dan Skandal Senayan

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sebagai induk sepak bola nasional mengambil inisiatif untuk membentuk kesebelasan yang mumpuni. Menurut majalah Aneka edisi 20 September 1960, pada November 1960, PSSI mempersiapkan pemain untuk menghadapi dua turnamen penting. Pertama, tim junior untuk Kejuaraan Junior Asia di Bangkok pada 1961, dan yang tak kalah penting, Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta.

Saat itu, PSSI mengadakan pertemuan dengan perwakilan komisaris PSSI daerah di stadion Ikada. Federasi akan mencari bakat-bakat hebat lapangan hijau, dengan cara mengadakan turnamen segi tiga kesebelasan perwakilan dari Jawa Barat, Tengah, dan Timur pada akhir 1960.

Untuk pemain senior guna Asian Games IV, dibentuk dua kesebelasan. Komisaris PSSI diperintahkan untuk membentuk satu kesebelasan, yang terdiri dari 13 pemain berposisi dua kiper, tiga bek, dan delapan pemain depan. Para pemain yang diseleksi usianya dibatasi di bawah usia 23 tahun per tanggal 1 September 1960 dan tinggi minimal 1,60 meter.

Usai para komisaris memilih pemain, diadakan setengah kompetisi setiap tiga komisaris tadi. Kemudian, mereka diperas menjadi 24 pemain calon timnas, ditambah sejumlah pemain di atas 23 tahun yang masih menunjukkan performa oke. Setelah ada 40 pemain terpilih, mereka diundang  pemusatan latihan di Jakarta selama dua bulan, dan dilakukan seleksi final.

Seleksi yang dilakukan PSSI menghasilkan muka-muka lama dan baru. Menurut Aneka edisi 10 Februari 1961, ada tiga nama yang sudah makan asam garam di timnas, yakni Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw, dan Phwa Sian Liong. Selain itu, ada nama-nama yang sudah pernah menjadi pemain timnas untuk turnamen Merdeka Games, Olimpiade, dan Asian Games, yakni Omo, Rasjid, Rukma, Paidjo, dan Fatah Hidajat. Lalu, ada Azis Tandjung yang come back ke timnas, setelah dua tahun absen. Nama-nama lainnya, antara lain Kwee Tik Liong, Dirhamsjah, Piet Timisela, Henk Timisela, Siang Soei, Sunarto, Iljas, Ishak Udin, Suhendar, Manan, dan Jus Etek.

Namun, sangat disayangkan, beberapa bulan menjelang Asian Games IV, terjadi apa yang disebut sebagai “skandal Senayan.” Tempo volume 18 tahun 1988 menyebut, beberapa anggota timnas yang dipersiapkan untuk menghadapi Asian Games IV bersama tiga orang wasit diketahui telah “dibeli” cukong suap.

Mereka dituding mengatur skor saat pertandingan timnas melawan klub Swedia, Malmoe, Thailang, Yugo Selection, dan Tjeko Combined. Pogacnik kehilangan 10 pemain andalannya, di antaranya Iljas, Piet Timisela, Omo, Rukma, Sunarto, dan Rasjid. Mereka terkena skorsing dan mendekam dalam penjara.

Tentu saja hati Pogacnik terpukul. Dia minta menyingkir dari timnas, tapi tak disetujui PSSI.

“Kalau saja tidak terjadi suap-suapan, tim itu dapat mencapai standar internasional,” kata Pogacnik, seperti dikutip dari buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia.

 

Lunglai di Asian Games IV

Alih-alih maju terus menghadapi kenyataan pahit, Pogacnik akhirnya membentuk timnas yang seadanya, tanpa bintang-bintang tadi. Sudah pasti timnas ini pincang. Namun, harapan dan rasa percaya diri masih menyembul.

Asisten pelatih Pogacnik di timnas, Djamiat Dalhar, bahkan sangat yakin timnas ini mampu mengatasi lawan-lawan mereka di Asian Games IV. Negara yang menjadi kekhawatiran publik pencinta bola kala itu adalah Israel. Dua belas negara direncanakan akan adu gengsi merebut medali emas. Indonesia masuk grup maut, bersama India dan Israel.

“Tiap kesebelasan akan kita hadapi dengan penuh semangat dan kemampuan tidak peduli apakah kesebelasan itu terkenal kuat atau lemah,” kata Djamiat, yang pernah mengambil kursus kepelatihan di Jerman, seperti dikutip dari Perdamaian edisi 22 Agustus 1962.

Begitu pula dengan pers tanah air. Mereka begitu percaya diri dengan kekuatan timnas.

“Tanpa berbicara besar. Sesungguhnya regu Indonesia berada sedikit di atas taraf regu-regu lainnya,” sebut Perdamaian, 24 Agustus 1962.

Ada dua faktor yang membuat timnas mustahil tak meraih medali emas. Pertama, mereka bermain di kandang dan bakal didukung ribuan suporter. Kedua, pemain-pemain yang dibawa adalah pemain muda yang sudah dibina dan semangat menunjukkan kemampuan mereka.

Perdamaian edisi 24 Agustus 1962 menyebut, hanya ada delapan tim yang punya kesempatan besar merebut medali emas, yakni Indonesia, India, Israel, Korea Selatan, Burma (kini Myanmar), Malaya, Muangthai (kini Thailand), dan Taiwan.

Publik penggemar bola di Indonesia bisa bernapas lega sejenak. Israel menolak datang ke Asian Games IV dan Taiwan tak diberi fasilitas masuk ke Indonesia, karena sebelumnya dituding berusaha masuk secara ilegal. Selain itu, Birma dan Singapura menyatakan mundur.

Menurut laporan Perdamaian edisi 25 Agustus 1962, pada 24 Agustus 1962 malam, diadakan undian ulang cabang sepak bola. Hanya ada delapan negara yang akan bertanding. Usai undian, Indonesia berada di grup A bersama Vietnam Selatan (kini Vietnam), Malaya, dan Filipina. Sedangkan grup B diisi Muangthai, Jepang, India, dan Korea Selatan.

Pertandingan pun tiba. Pada 26 Agustus 1962 malam, Indonesia bentrok dengan Vietnam Selatan di stadion utama Senayan (namanya belum disahkan menjadi stadion Gelora Bung Karno). Menurut Perdamaian edisi 27 Agustus 1962, di hadapan lebih dari 75 ribu penonton, Indonesia mampu menaklukan Vietnam Selatan 1-0. Gol dicetak Solong pada menit ke-35, menerima umpan Januar Pribadi.

Harapan melambung tinggi. Selang sehari, tepatnya pada 27 Agustus 1962 malam di stadion yang sama, menurut laporan Perdamaian edisi 28 Agustus 1962, Indonesia mampu membungkam Filipina 6-0. Gol-golnya diciptakan oleh Maurits dan Henky Timisela masing-masing dua gol, serta Solong dan Januar Pribadi masing-masing satu gol. Pertandingan dilaporkan sangat berat sebelah.

Ada kejadian unik dalam pertandingan yang tak seimbang ini. Pada babak kedua, kiper Indonesia, Judo, cedera parah karena diterjang pemain Filipina. Karena tak ada lagi pergantian pemain, selama perawatan di luar lapangan, pemain tengah Januar Pribadi menggantikan posisi Judo sebagai kiper selama seperempat jam. Di menit ke-30 babak kedua, Judo masuk kembali.

Petaka terjadi pada 28 Agustus 1962 sore di lapangan Ikada. Timnas Indonesia yang berformasi 3-3-4 ditaklukkan Malaya dengan skor tipis 3-2. Saat itu, Indonesia menurunkan Tjongdoren (kiper), Isak (bek), Udin (bek), Sjahruna (bek), Fatah Hidajat (gelandang), Ipong (gelandang), Spil L.H. Tanoto (gelandang), Solong (penyerang), Henki Timisela (penyerang), Januar Pribadi (penyerang), dan Djadjang Maurits (penyerang). Perdamaian edisi 29 Agustus 1962 menyebut, permainan Indonesia tidak berkembang dan gugup.

Sebaliknya, Vietnam Selatan malah bermain bagus setelah kalah dari Indonesia. Akhirnya, Indonesia harus rela berada di posisi ketiga grup A, usai kalah selisih gol dari Malaya dan Vietnam Selatan yang menjadi juara grup. Medali emas diraih India setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor 2-1 di partai final.

Pogacnik masih memimpin timnas Indonesia usai kegagalan di Asian Games IV. Pada 1963, dia mendapatkan cedera di lututnya, saat memimpin timnas ke Tiongkok. Pada 1964, dia pensiun dan tinggal di Bali. Pada 1978, selang seminggu setelah mendapatkan kewarganegaraan Indonesia, Pogacnik wafat.

Kini, harapan diemban Luis Milla dengan penggawa-penggawa mudanya. Pogacnik terbukti sudah memberikan dedikasinya untuk timnas Indonesia. Semoga saja, Luis Milla tak menjadi bulan-bulanan cabang sepak bola di Asian Games, yang diadakan pada 14 Agustus 2018 mendatang.

Meski masih ada polemik soal akan diadakannya undian ulang, toh timnas berada di grup yang lumayan mudah, usai undian pada 5 Juli 2018 lalu. Indonesia berada di grup A bersama Taiwan, Laos, dan Hongkong.

Semoga saja, kejadian skandal memalukan yang terjadi pada 1962 lalu tak terjadi lagi. Dan, semoga kita tak meremehkan lawan. Salam.

Fandy Hutari

Fandy Hutari

Penulis lepas, wartawan, dan periset sejarah hiburan. Tinggal di Jakarta.
Fandy Hutari