Menyelami Lapisan Riak-riak Kafkaesque

in Rehal by

Judul               : Kesialan Orang Lajang

Penulis             : Franz Kafka

Penerjemah      : An Ismanto

Editor              : Tia Setiadi

Tebal               : 164 halaman

Penerbit           : Basabasi

Terbit               : Cetakan I, Juni 2017

ISBN               : 978-602-6651-06-8

Harga              : Rp 55.000,00

Barangkali kau sudah mengenal Kafka lewat karya-karyanya yang menguarkan atmosfer muram, absurd, terasa riil tapi sureal; seperti mimpi buruk. Sering, Kafka membuat tokohnya menderita tanpa diketahui penyebabnya, dan sampai akhir, kau akan tetap tidak mendapat penjelasan apa pun. Ia seperti mengajakmu terjun ke dalam lubang hitam yang tak diketahui bagaimana bisa ada di situ, dan tidak diketahui ada apa di dalam kegelapannya; pun setelah kau terjun ke dalamnya, kau hanya akan mendapati kegelapan itu. Karakteristik ini begitu kuatnya hingga muncul adjektiva “kafkaesque” dalam bahasa Inggris.

Barangkali karyanya yang paling terkenal adalah Metamorfosis, yang mengandung elemen autobiografi, terutama seputar relasi Kafka dengan Hermann, sang ayah yang opresif. Beberapa analisis mengaitkannya dengan fenomena Oedipus complex a la Freudian. Gregor Samsa, tokoh utama dalam Metamorfosis, memiliki hubungan yang buruk dengan sang ayah yang tirani. Jika Freud diminta untuk menganalisis kisah ini, ia akan mengatakan bahwa penderitaan yang dialami Gregor disebabkan oleh hasrat seksual terpendam terhadap sang ibu, sehingga hubungannya dengan sang ayah merupakan rivalitas. Dengan terpaksa, Gregor harus menekan hasratnya itu dan bersikap tunduk pada sang ayah. Dalam buku Kesialan Orang Lajang, sosok ayah yang tidak pernah puas akan putra-putranya—seperti ketidakpuasan Hermann terhadap Franz Kafka—muncul dalam “Sebelas Orang Putra”.

Diterjemahkan dari Kafka: The Complete Stories, buku kumpulan fiksi mini Kafka terbitan Basabasi ini mencoba mengenalkanmu pada karya-karya pendeknya, yang mungkin belum terlalu kaukenal tapi tidak kurang menarik dibanding karya-karyanya yang lebih panjang. Kelima puluh empat cerita pendek dan sangat pendek dalam buku ini bila diselami, akan menenggelamkanmu dalam ketenangan riak-riak kafkaesque.

Salah satu riak tersebut berupa ketidakberdayaan seseorang terhadap kekuasaan yang lebih tinggi, seperti yang dialami narator dalam “Ketukan di Gerbang Puri”. Hanya oleh karena sebuah ketukan yang mungkin dibuat oleh adik perempuan narator di gerbang sebuah puri, sang narator dijebloskan ke dalam penjara. Bagimu ini mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi begitulah karya Kafka. “Masih mampukah aku menanggung udara selain dari udara penjara? Itulah pertanyaan besarnya, atau lebih tepatnya itulah pertanyaannya—jika memang aku masih mungkin untuk bebas.” (hlm. 82)

Sebagai seseorang yang familier dengan bidang hukum, tak heran, Kafka menggulirkan kritikan bernada pesimis terhadap hukum melalui “Masalah tentang Hukum Kita”. Ia mengetengahkan ketidakberdayaan rakyat jelata di bawah hukum—yang adalah milik para bangsawan. “Satu-satunya hukum yang pasti ditimpakan kepada kita adalah kaum bangsawan, jadi apakah kita sendiri harus membuang hukum yang satu itu?” (hlm. 122) Kritik sosial dari sudut pandang rakyat jelata terapung kembali di perairan realisme magis dalam “Penunggang Ember”. Si narator, yang tidak punya uang dan kehabisan stok batu bara untuk menghangatkan ruangan, mendatangi penjual batu bara dengan mengendarai ember, memohon-mohon agar diberi barang “satu sekop batu bara paling buruk” (hlm. 73), tapi nihil. Ia tak digubris. Jelas saja tak digubris, lantaran si narator kemungkinan sudah mati kedinginan sebelumnya, dan yang mendatangi penjual batu bara itu adalah arwahnya.

Kau akan berjumpa lagi dengan tokoh-tokoh yang tidak berdaya menghadapi situasi yang absurd dalam “Burung Bangkai” dan “Mimpi”. Dalam kisah yang pertama, Kafka mencemplungkan begitu saja si narator dalam terkaman paruh seekor burung bangkai, tanpa diketahui dari mana asalnya, hingga membuat ia tak berdaya. Dalam kisah yang kedua, pensil ajaib sang seniman dalam mimpi Josef K. sedang mengukir kematiannya lewat tulisan emas di sebuah batu nisan. Proses penulisan itu, yang sempat terhenti, tapi berhasil dilanjutkan sampai selesai, barangkali menggambarkan proses penerimaan K. atas kematiannya sendiri.[1]

Riak lain kafkaesque menemuimu lewat “kesendirian dan kesepian” yang sudah dikoar-koarkan buku ini sejak dari judulnya, “Kesialan Orang Lajang”. Salah satu contoh kesialan itu, adalah “harus mengagumi anak-anak orang lain dan bahkan tak diizinkan untuk kemudian mengatakan: ‘Aku sendiri tak punya anak‘.” (hlm. 35). Kafka juga akan membuatmu membayangkan bagaimana pedihnya mudik bagi seorang lajang yang sendirian. “Aku telah tiba. Siapa yang akan menyambutku?” (hlm. 138). Fiksi mini “Jendela Sepanjang Jalan” menunjukkan bagaimana jendela bisa menyelamatkan seseorang yang sedang ditelan kesendirian. “Melihat keluar jendela” merupakan alegori dari hasrat seseorang yang kesepian untuk keluar dari kesendirian yang mengurungnya, tapi tidak bisa. Ia hanya bisa “melihat” saja, tanpa mengalami sendiri bagaimana hidup “di luar jendela”.

“Keturunan Silang” memantik riak absurditas yang lebih rimbun dengan menghadirkan di depanmu sesosok hewan persilangan antara kucing dan domba, yang merupakan warisan dari sang ayah kepada si narator. Hewan yang merupakan silangan dari dua karakter yang berkebalikan ini (kucing yang predator dan domba yang biasanya diburu) menyimbolkan krisis identitas. Ia bertingkah bak kucing, bak domba, bahkan ingin menjadi anjing juga, tapi dia bukan ketiganya! Hanya sang pemilik yang mampu menangkap kesedihan (“dan kebetulan aku menunduk dan melihat air mata merembes turun dari cambangnya yang lebat”—hlm. 97) dan kegelisahannya. Mungkin binatang itu bertanya-tanya, untuk apakah dia hidup di dunia.

Absurditas itu makin menjadi dalam “Perhatian Seorang Pria Berkeluarga”, mewujud melalui Odradek, suatu makhluk absurd yang tidak berguna. Melalui hewan silangan dan Odradek, Kafka menekankan ketidakbermaknaan hidup subjek-subjeknya. Selanjutnya, mungkin kau mendapati adanya intertekstualitas antara “Advokat Baru” dengan Metamorfosis. Jika dalam Metamorfosis terjadi perubahan sosok manusia menjadi binatang, maka di “Advokat Baru”, terjadi perubahan sosok binatang, yaitu Bucephalus—kuda perang legendaris Iskandar Agung—“menjadi” manusia, seorang pengacara baru.

Di beberapa bagian, terjemahan buku ini terasa kurang enak dinikmati dan dipahami. Salah satu faktor penting barangkali adalah karena buku ini diterjemahkan dari bahasa Inggris, tidak langsung dari bahasa Jerman, sehingga pasti paralaks makna yang terjadi lebih besar ketimbang jika diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman. Sementara itu, gambar kover buku ini sungguh mewakili isi dan berpadanan dengan judulnya. Sesosok lelaki yang berbaring sendirian dengan kepala terperam dalam rumah itu seperti menggambarkan kesendirian yang berusaha disangkal. Kau tidak tahu apakah dia tidur atau terjaga. Jika yang pertama, ia bisa saja menyangkal kesendirian lewat mimpi. Jika yang kedua, ia bisa saja menyangkalnya dengan berpura-pura memiliki jendela untuknya bisa melihat ke luar. Terlepas dari itu semua, usaha penerbit indie ini patut diapresiasi, untuk mengenalkan karya-karya Kafka yang belum terlalu dikenal ini kepadamu dan kepada para pembaca Indonesia lainnya. []

[1] Apostolakou, Lito. 2015. Franz Kafka’s Pencil in Dream. http://www.thepalimpsest.co.uk/2015/06/franz-kafkas-pencil-in-dream.html.

Frida Kurniawati

Frida Kurniawati

Alumnus Kampus Fiksi 12 ini sedang melewati masa-masa menyenangkan menjadi pengangguran banyak kesibukan yang dibikin-bikin sendiri. Eh, apakah saya yang pengangguran ini benar-benar pengangguran? Ah, tidak juga. Pencitraan saya bisa dikepoin di @kimfricung (Twitter dan Instagram).
Frida Kurniawati