Muhammad, Seni Beragama, dan Nalar Galilean

in Esai by
khilafaharts.net

Islam lahir disambut dua kerajaan besar; Byzantine dan Persia. Islam tumbuh di tengah-tengah dua sistem dunia; monarki dan demokrasi. Yang terakhir berkembang di Athena empat abad sebelum Masehi. Namun, Muhammad bin Abdullah alaihis shalatu was salam seorang seniman, terlepas dari aspek risalah dan nubuwahnya. Membawakan Islam dalam rupa kombinatif, meramu Islam dengan cita rasa seni tinggi, mengajarkan Islam melalui penguasaan akal universal zaman itu terlebih dahulu.

Mahakarya dan sumbangsih besar Muhammad Saw. pada peradaban dunia adalah Negara Islam Madinah. Di sana ada demokrasi seperti diceritakan dalam hadits, “Jika kalian berdua bersepakat dalam satu hasil permufakatan maka aku tidak akan bertentangan dengan kalian.” (HR. Ahmad). Dalam Negara Islam Madinah juga ditemukan elemen pemegang otoritas tertinggi seperti ditemukan dalam Pasal 23 Shahifah Madinah (Piagam Madinah) berbunyi: wa innakum mahma ikhtalaftum fihi min syaiin fa inna maraddahu ilallahi azza wa jalla wa ila muhammadin shallallahu alaihi wa sallam (Apabila kamu berselisih tentang suatu perkara, penyelesaiannya menurut ketentuan Allah Azza wa Jalla dan keputusan Muhammad Saw.).

Meminjam bahasa analisa disiplin fenomenologi, Muhammad Saw. menangkap penampakan (appearance) realitas baru yang memadukan monarki dan demokrasi, yang berbeda dari Byzantine, Persia, maupun Athena. Dengan Negara Islam Madinah, Muhammad Saw. ingin menjelaskan eksistensi probabilitas akal universal, yang kelak menjadi warisan umat muslim. Pusaka paling berharga yang jangan sampai dirusak.

Gelileo Galilei (1564-1642) adalah seorang astronom, filsuf, fisikawan Italia. Sumbangan terbesar Gelileo pada dunia adalah revolusi ilmiah, ujar Stephen Hawking. Yang mengantarkan dia dikenal sepanjang sejarah sebagai penentang paling berani terhadap otoritas Gereja Katolik Roma. Namun begitu, Galileo juga penanda awal reduksi pemahaman akan realitas dunia (Michel Henry, Barbarism, The Continuum International Publishing Group Ltd., 2012).

Sebagai pencetus fenomenologi kehidupan (phénoménologie de la vie), Michel Henry mengkritik appearance realitas dunia kepada Gelileo, yang secara umum karakternya sangat geometris dan matematis. Dunia yang seakan-akan hanya bisa dipahami dengan pengukuran yang positifistik dan pasti. Dunia yang hanya menyediakan univocal knowledge, kata Henry, yaitu, satu bahasa penjelas dan satu-satunya penjelasan, dengan menutup kemungkinan lain. Univocal knowledge yang tidak menyadari kandungan subjektivitas dan relativitas dalam dirinya sendiri.

Walaupun Galileo Galilei lahir 1000 tahun setelah Muhammad Saw. wafat, nalar Galilean sangat tepat menggambarkan umat muslim pasca Rasulullah. Bahkan hingga sekarang, 15 abad lamanya, umat muslim berkutat dalam kubangan lumpur yang sama. Bermula sejak peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, peristiwa politik yang hampir memecah Muhajirin dan Anshar, namun berhasil menciptakan kubu pendukung Abu Bakar cs. dan kubu pendukung Ali bin Abi Thalib. Dalam bahasa ideologisnya, golongan Ahlu as-Sahabah dan Ahlu al-Bayt.

Sebagai turunannya, terjadilah peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah; perang melawan ingkarus zakat dan nabi-nabi palsu, Perang Jamal, terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Perang Shiffin, Tahkim di Daumatul Jandal yang melahirkan kubu baru bernama Khawarij, terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, peralihan dari sistem khilafah ke dinasti di tangan Bani Umayah, dan Perang Karbala yang memakan korban cucu Rasulullah, Husein bin Ali.

 Nalar umat muslim generasi awal, apalagi selanjutnya, sangat parsial dan Galilean. Realitas kebenaran yang tampak (appear) di mata kognitif satu kelompok “dianggap” sebagai satu-satunya representasi tentang dunia. Pola mempertahankan nalar yang univocal-knowledge inilah pemicu perang berkepanjangan. Umat muslim sejak generasi awal telah merusak satu-satunya warisan Muhammad Saw. yang paling berharga, yaitu seni mehamami realitas untuk meraih akal universal. Islam yang semula sangat kreatif dan kombinatif kini tangannya diborgol dan lehernya dipancung.

Bagaimana Michel Henry mengkritik nalar Galilean yang dominatif itu? Pertama, alam sudah givens ditakdirkan dalam keadaan terus berubah dan berkembang. Bukan saja alam di luar seperti tumbuhan, binatang, bumi, dan langit, melainkan juga alam di dalam seperti pikiran, perasaan, dan jiwa. Perubahan yang konstan ini tidak bisa dihentikan, sehingga penampakan (appearances) berbeda-beda. Satu objek yang sama, misal tubuh manusia dan binatang, berbicara dalam bahasa berbeda kepada biolog, psikolog, kimiawan, fisikawan, etc.

Kedua, bagi Henry, mempertimbangkan relativitas dan subjektivitas dalam apa yang disebut positif dan objektif sangatlah penting. Appearances yang ditangkap oleh tangan kognitif seseorang belum tentu sama dengan hasil tangkapan orang lain. Menyadari kesadaran di dalam diri sendiri menolong untuk menyadari adanya kesadaran di luar diri. Kesadaran atas kesadaran membantu seseorang mencegah dirinya terjebak dan terjerumus oleh rayuan egosentris.

Negara Islam Madinah bukti konkret Muhammad Saw. memiliki kesadaran di atas kesadaran-kesadaran dunia kala itu. Tidak terjebak pada monarki dan kerajaan seperti Persia dan Byzantine, juga tidak terperangkap demokrasi dan suara bising kelompok-kelompok berbeda seperti Athena. Muhammad Saw. mampu menangkap momen-momen puitis, meminjam diksi D. Zawawi Imran, dan menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Muhammad Saw. tahu kapan harus memerankan diri seperti dalam riwayat Ahmad di atas, kapan pula harus menjalankan Pasal 23 Shahifah Madinah.

Kegagalan umat muslim mengamalkan seni beragama ala Muhammad Saw. berbuah pahit. Ketidakmampuan bangkit dari kubangan nalar Galilean mendorong lahirnya kelompok-kelompok; Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Salafiyah, Wahhabiyah. Padahal, semua golongan mengaku sebagai Ahlus Sunnah, pencinta agama Rasul, Islam yang rahmatan lil alamin, namun sudah paradoks sejak awal dengan menonjolkan diri dan mengabaikan yang lain. Ironisnya, muslim kontemporer juga belum mampu menjalankan seni beragama gaya Muhammad Saw. itu.

 

Seni Beragama

Seni adalah produk manusia, karenanya tidak perlu dijadikan agama. Tetapi, seni sebagai esensi dari kreativitas adalah medium paling penting dalam beragama. Muhammad Saw. dalam membangun Negara Islam Madinah menggunakan medium seni sebagai kreativitas, sehingga mampu melepaskan diri dari appearances yang mapan seperti Byzantine dan Persia; monarki juga demokrasi. Dengan memaksimalkan kreativitas yang paling subjektif, maka terbentuklah Negara Islam Madinah. Dalam kategori Michel Henry, inilah yang disebut living subjectivity, subjektivitas yang mengantarkan seseorang melampaui semua appearances.

Seni beragama ala Muhammad Saw. membutuhkan kecerdasan kognitif tinggi, setidaknya untuk keluar dari penjara nalar Galilean, yang mereduksi realitas menjadi sesuatu yang stabil dan mendorongnya bisa dipahami dengan cara-cara yang pasti. Cara berpikir positifistik sainstifik bukan cara kerja berkesenian, yang mengedepankan rasa terdalam dari jiwa dan pikiran manusia. Beragama dengan cara hitam-putih, univocal-knowledge, yang kering, gersang, kerontang, jauh dari manisnya batin, bukan perilaku yang diajarkan Muhammad Saw.

Bukan monarki, bukan teokrasi, bukan demokrasi, bukan Khilafah, bukan Imamah, bukan Ahlul Bayt, bukan Ahlus Sahabah, bukan Khawarij, bukan Mu’tazilah, bukan Asy’ariah, bukan Wahhabiyah, bukan tradisionalis, bukan modernis, bukan liberalis, bukan konservatif, bukan tekstualis, bukan kontekstualis. Intinya, seni beragama ala Muhammad Saw. adalah cara-cara beragama yang beyond all appearances, dalam istilah Michel Henry. Lantas, siapakah di antara kita, yang mampu merangkul perbedaan, tidak terkungkung oleh parsialitas, namun menemukan tali simpul persatuan dalam keragaman?

Imam Nawawi

Imam Nawawi

Pembaca buku, penerjemah.
Imam Nawawi

Latest posts by Imam Nawawi (see all)