Naik Sleeper Train, Deg-degannya Kayak di Film Lion

in Hibernasi by

Taksi prabayar yang mengantarkan saya dari Bandara Internasional Jaipur berhenti tepat di depan pintu masuk kompleks Stasiun Kereta Api Jaipur. Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun, suasana begitu ramai, bahkan cenderung sesak. Sebagian orang duduk sambil ngobrol, sebagian lagi berdiri seraya mengisap rokok, dan sebagian besar berbaring di sepanjang trotoar dan halaman stasiun. Mereka berbantal ransel, beralaskan koran, tikar, atau tanpa alas sama sekali.

Tidak, Jaipur tidak sedang dilanda bencana alam sehingga penduduknya harus mengungsi dan tidur di trotoar. Mereka adalah orang-orang yang sedang menunggu kereta, entah untuk tujuan mana.

Di India yang penduduknya lebih dari 1 miliar jiwa, pemandangan seperti ini adalah hal biasa. Bahkan hingga lewat tengah malam, antrean di loket pembelian tiket masih saja mengular. Ruang tunggu di dalam stasiun pun tak kalah sesak. Kipas angin superbesar yang tergantung di langit-langitnya tak cukup mampu mendinginkan udara.

Saya beruntung karena tak perlu berdesakan dalam antrean panjang untuk membeli tiket yang entah masih tersedia atau tidak. Sebelum berangkat ke India, saya telah memesan tiket secara online untuk transportasi antarkota. Beruntungnya lagi, semua tiket yang saya pesan berstatus confirmed, bukan waiting list yang masih belum pasti.

Meski ini bukan kedatangan saya pertama kali ke India, namun ini kali pertama saya akan naik sleeper train. Seperti namanya, di sleeper train ini, penumpang bisa berbaring untuk tidur.

Ada sedikit rasa cemas, penasaran, sekaligus excited. Kepada seorang petugas stasiun, saya bertanya sembari memperlihatkan screenshot tiket yang telah dikirim via surel, apakah saya bisa langsung masuk ke ruang tunggu atau harus mencetak tiket terlebih dahulu. Si petugas menjawab dalam bahasa Hindi, yang tentu saja saya tak mengerti.

English please…,” pinta saya.

Alih-alih mengulang ucapannya dalam bahasa Inggris, dia terus berkata dalam bahasanya, nyaris tanpa jeda. Saya bertanya kepada petugas lain yang ternyata mampu berbahasa Inggris. Dia mempersilakan saya masuk ke ruang tunggu tanpa perlu mencetak tiket.

Di ruang tunggu, jadwal keberangkatan memperlihatkan status kereta api yang akan membawa saya ke Agra ternyata delayed 30 menit. Perkara kereta yang delayed ini sudah menjadi hal yang biasa di India. Beberapa kereta lain yang tertulis di jadwal bahkan delayed hingga 2 jam. Namun syukurlah, 1 jam sebelum kereta tiba, statusnya telah berubah on time. Artinya, saya tidak perlu duduk lebih lama di ruang tunggu yang panas ini sambil bersandar pada carrier 35L. Saya akan segera bisa berbaring meluruskan punggung di sleeper train.

Jam 04.10 dini hari, kereta Adi AF SF Express dari Ahmedabad tiba tepat waktu. Saya harus berdesakan dengan penumpang lain untuk menemukan gerbong bertuliskan S4 di antara rangkaian kereta yang panjang dan terdiri dari beberapa kelas. Tak ada petugas yang standby di tepi jalur untuk mengarahkan penumpang seperti yang biasa kita lihat di Indonesia.

Setelah berdesakan dan nyaris salah masuk kereta, akhirnya saya bisa berbaring. Satu kompartemen dalam sleeper train terdiri dari 6 tempat tidur yang tersusun ke atas dan bersebelahan. Saya dapat tempat tidur paling atas, dekat dengan kipas angin.

Berbantal carrier dan berselimut jaket, saya tidur lelap. Bukan karena sleeper train ini terlalu nyaman, tapi karena kecapekan setelah perjalanan panjang. Saya terjaga saat seseorang mencolek kaki saya, yang ternyata adalah petugas pemeriksa tiket. Dengan kesadaran yang tak sepenuhnya, saya tunjukkan screenshot email tiket di ponsel, lalu saya kembali lelap.

Saat terjaga untuk kedua kalinya, suasana di luar sudah terang. Deretan rumah, gang-gang sempit yang becek, dan jalanan yang padat menjadi pemandangan pagi itu. Dari penduduk lokal, saya tahu bahwa tak lama lagi kereta akan sampai di stasiun terakhir, yaitu Stasiun Agra Fort, tujuan saya. Akhirnya, perjalanan pertama dengan kereta api di India saya tempuh dengan lancar, meski dibumbui sedikit drama.

***

Setelah melewatkan dua hari dan satu malam di Agra, saya melanjutkan perjalanan ke sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 696 km dari Agra. Perjalanan kedua ini akan memakan waktu kurang lebih 15 jam.

Haldighati Pass adalah nama kereta api yang akan mengantar saya ke Chittorgarh. Berdasarkan jadwal yang tertera di tiket, Haldighati Pass akan tiba di Stasiun Agra pada pukul 18.50 dan langsung berangkat pada pukul 18.55. Statusnya pun on time. Maka, setengah jam sebelum kereta tiba, saya sudah menunggu di platform 3.

Jam 18.30, sebuah kereta api tiba. Saya masih duduk santai sambil ngobrol dengan Mbak Ika, teman perjalanan saya.

“Ini kereta kita bukan, ya?” gumam Mbak Ika.

“Bukan, ini masih jam setengah 7, kok,” ujar saya, yakin.

“Bentar ya, aku tanya ke mereka.”

Lalu Mbak Ika mendekat ke jendela kereta, bertanya kepada penumpang yang telah duduk di dalam.

“Bukan kereta kita, kok. Tujuannya beda.”

Dua puluh menit kemudian, kami masih asyik ngobrol, namun mulai bertanya-tanya karena Haldighati Pass tak kunjung tiba. Hmm…, jangan-jangan delayed, batin saya mulai khawatir.

Jam di ponsel menunjukkan pukul 19.00 saat tiba-tiba Mbak Ika menyadari sesuatu. “Kok ini kayak nomor kereta kita.”

Saya mengecek tiket di ponsel dan mencocokkan dengan nomor yang tertera di bodi kereta. 59812. Benar. Cocok. Artinya, kereta yang sejak tadi tiba adalah kereta yang kami tunggu-tunggu. Sontak kami berlari sambil menenteng ransel. Agak kelabakan kami mencari gerbong sesuai nomor yang tertera pada tiket, karena khawatir kereta akan segera berangkat.

Begitu sampai di dalam gerbong dan menemukan tempat duduk sesuai nomor pada tiket, rasanya lega sekali. Ternyata tadi Mbak Ika bertanya apakah kereta ini tujuan Udaipur, pantas orang yang ditanya bilang bukan. Hehehe….

Untuk memastikan sekali lagi, saya juga bertanya ke beberapa penduduk lokal bahwa kami tidak salah naik kereta. Sangat jarang petugas kereta api yang lalu-lalang dan bisa ditanyai. Seorang bapak-bapak mengecek lewat aplikasi di ponsel pintarnya. Ternyata benar, kami tidak salah kereta. Ah, leganya!

Namun, kelegaan itu tidak bertahan hingga keesokan harinya karena kami masih harus bersiaga untuk turun di stasiun yang benar. Rute Haldighati Pass melewati 66 stasiun, dan Chittorgarh Junction bukanlah stasiun terakhir, sehingga kami cukup waswas. Pasalnya, di dalam kereta tidak ada pengumuman untuk mengingatkan penumpang agar bersiap jika akan turun di stasiun selanjutnya. Berbeda dengan kereta api di Indonesia yang krunya rajin mengingatkan penumpang dengan pengumuman dalam dua bahasa, bahkan ada nomor customer service on train di setiap gerbong.

Sambil menatap pemandangan di luar jendela, scene-scene dalam film “Lion” seolah diputar ulang di benak saya. Seorang bocah di India terpisah dari keluarganya hingga puluhan tahun karena terbawa kereta yang tidak dia ketahui tujuannya, lalu tersesat, dan hilang tanpa kabar.

Lamunan saya buyar bersama datangnya sekelompok ibu-ibu yang baru naik. Mereka tersenyum ramah dan menyapa kami dalam bahasa Hindi. Saya berusaha bertanya kepada mereka apakah Chittorgarh Junction masih jauh, namun mereka tak paham bahasa Inggris. Mereka terus berbicara kepada kami dalam bahasa Hindi. Sedangkan kami hanya tersenyum membalas sapaan mereka. Tersenyum walaupun tak tahu saat ini kami berada di mana.

Di ujung kebingungan, seorang pemuda melintas di lorong kereta. Saya menanyakan kira-kira berapa stasiun lagi yang akan dilewati untuk sampai ke Chittorgarh Junction. Dengan bahasa Inggris yang tak begitu lancar, dia menjelaskan bahwa perjalanan masih cukup lama, masih 8 stasiun lagi atau sekitar 2 jam. Sayangnya, dia turun di salah satu stasiun sebelum Chittorgarh Junction, jadi saya kehilangan “guide”.

Namun, keberuntungan masih berpihak pada saya ketika seorang perempuan muda mendatangi sekelompok ibu-ibu yang duduk di satu kompartemen bersama saya. Dia melempar senyum, lalu kami memulai obrolan. Begitu tahu dia juga akan turun di Chittorgarh Junction, saya pun tak lagi khawatir salah stasiun.

Sistem perkeretaapian di India memang belum sebaik Indonesia. Perbandingannya sangat jauh. Alih-alih menerapkan sistem boarding, penumpang bisa naik kereta dengan mudah tanpa tiket, dan tanpa khawatir ketahuan karena jarang dilakukan pemeriksaan. Dalam perjalanan selama 15 jam, hanya satu kali saya melihat pemeriksaan tiket. Selebihnya, tak tampak petugas yang rutin memeriksa tiket setiap kali melewati stasiun yang biasanya ada penumpang baru.

Dengan segala drama dan keruwetannya, naik kereta di India memberi warna pada perjalanan saya. Ada keramahan penduduk lokal yang menyambut di setiap gerbongnya. Mereka tak segan menyapa orang asing dan berbagi makanan. Ada hal-hal tak terduga yang kadang menjengkelkan atau malah membuat tertawa. Namun yang jelas, ada rasa syukur dan bangga pada PT. Kereta Api Indonesia.

Ayun Qee
Follow Me

Ayun Qee

Be nice, I might be your book editor someday.
Ocehannya bisa dibaca di www.ayuniverse.com
Ayun Qee
Follow Me